Jumat, 11 Agustus 2017

Tentang Kesatria




Dua tahun lalu ketika menjadi mahasiswa baru di fakultas Teknik UGM, persis seperti posisi mereka saat ini, kecemasan/kekhawatiran/ketakutan adalah ungkapan perasaan yang terus terngiang-ngiang dan membayangi pikiran. Kegiatan ospek/mos yang selalu diindentikkan dengan ajang  ‘perpeloncoan’ menjadi potret pendidikan yang sampai saat ini masih sulit dihilangkan di negeri ini, terlebih fakultas Teknik yang selalu menjadi ikon dan sorotan ketika penyambutan mahasiswa baru di tiap universitas. Bukan rasa bahagia yang didapat karena menyambut ‘keluarga baru’, tapi ketakutan kepada senior yang ditanamkan kepada ‘keluarga baru’ itu.

                Saya baru bisa memahami, apa yang saya bayangkan saat itu sangat jauh berbeda dengan apa yang saya peroleh. Dari KESATRIA Teknik inilah keluarga baru itu bisa dipersatukan meski dengan waktu yang relatif singkat. Keluarga dengan latar belakang yang berbeda, datang dari wilayah yang juga berbeda, Laskar #28 Rote 2015 serta Armada #18 Labrador 2017. Kita memahami jika perbedaan itu adalah suatu keniscayaan. Tetapi, perbedaan tidak selalu mudah diterima. Akan tetapi, di Universitas Gadjah Mada inilah saya baru bisa menyadari, bahwa sebenarnya perbedaan inilah yang menyatukan kami sebagai anak bangsa untuk bisa menebar manfaat dimanapun kami mengabdi kelak.

Menjadi mahasiswa baru adalah awal dari proses pembelajaran untuk menjadi manusia yang bermanfaat, KESATRIA Teknik mengajarkan kita banyak hal: Mengabdi, berprestasi, hingga bermimpi untuk menggapai cita-cita. Pelajaran yang sangat berharga dan tidak akan terlupakan. Para kesatria tangguh adalah mereka yang berkhidmat kepada masyarakat meski harta bahkan nyawa taruhannya. Teruslah melanglang di jalan perjuangan untuk menebarkan kebajikan dan menghentikan kebiadaban, mereka yang dengan lisan maupun tulisannya mampu menggerakkan, dengan perilakunya mampu memberi tauladan, dan dengan tindakannya mampu memberi manfaat.

Teruntuk Armada #18 Labrador, ini hanyalah awal, masih ada lembaran-lembaran baru yang akan kalian isi esok hari, maka pastikan tinta yang digoreskan oleh kalian adalah sebaik-baik kisah. Kembali ingat apa yang kalian tuliskan dalam life mapping, segores tinta yang menambah serunya perjuangan kalian. Memang, cita dan tujuan selalu ada jauh di depan mata, akan tetapi gairah dan hasrat lah yang mendekatkannya, maka tapakilah kerasnya perjuangan itu meski berat perjalanan yang kalian tempuh. Terima kasih atas pengalaman berharganya, keseruannya, dan antusiasme kalian selama mengikuti semua rangkaian acara dari SG hingga hari terakhir PPSMB Kesatria. Mohon maaf bila ada kesalahan yang saya perbuat. Kini, ospek bukanlah hal yang perlu ditakuti, namun menjadi pengalaman yang paling berkesan dan tak terlupakan. 

*Tulisan kompilasi dari apa yang saya peroleh dua tahun lalu dan beberapa hari belakangan ini.

Senin, 10 Juli 2017

Mereduksi Kejahatan dengan Pembinaan di Lingkungan RT/RW



Kita tentu sudah begitu familiar dengan perkataan Buya Hamka, “Kalau hidup hanya sekedar hidup, kera di rimba juga hidup. Kalau kerja hanya sekedar kerja, kerbau di sawah juga bekerja”. Apa maknanya? Buya Hamka hendak memberitahu kita agar menjalankan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, manusia yang dibekali dengan akal sehat tentu mesti memiliki nilai lebih ketimbang kera yang merupakan binatang dan tidak memiliki akal sehat. Binatang hidup hanya dengan instingnya, mereka tidak mampu memilah antara yang benar dengan salah, sedangkan manusia semestinya bergerak atas dasar akal sehatnya, akan tetapi pada kenyataannya tidak sedikit juga dari kita yang bergerak tidak atas dasar akal sehat. Sebagai makhluk yang dibekali akal untuk berpikir tentu kita semua sepakat untuk menjunjung tinggi rasa kemanusiaan, saling menghargai satu sama lain. Terlebih kita tinggal di negara dengan ideologi pancasila, negara yang menghormati hak asasi tiap manusia, maka kita perlu untuk merawat ini bersama, gunakan akal kita sebelum bertindak.

Ada fakta menarik yang perlu kita ketahui bersama, jumlah kejahatan yang terjadi di Indonesia menurut Biro Pengendalian Operasi Mabes Polri (2015) mencapai 352.936 kasus meningkat 27.619 kasus dari tahun sebelumnya dengan selang waktu terjadinya kejahatan yakni 1 menit 29 detik. Jumlah yang tidak sedikit di negara dengan ideologi pancasila ini, “kemanusiaan yang adil dan beradab”, ini menandakan ada yang salah dari cara berpikir sebagian masyarakat kita. Dalam perspektif hukum kita mungkin ketahui bersama, bahwa perilaku kejahatan terkesan aktif, manusia melakukan kejahatan. Namun sebenarnya “tidak berperilaku” pun bisa menjadi suatu bentuk kejahatan, contohnya: penelantaran anak atau tidak melapor pada pihak berwenang ketika mengetahui terjadi tindakan kekerasan pada anak di sekitar kita.1 Dalam perspektif moral, perilaku dapat disebut sebagai kejahatan hanya jika memiliki 2 faktor: 1) mens rea (adanya niatan melakukan perilaku), dan 2) actus reus (perilaku terlaksana tanpa paksaan dari orang lain). Contohnya: pembunuhan disebut kejahatan ketika pelaku telah memiliki niat menghabisi nyawa orang lain, serta ide dan pelaksanaan perilaku pembunuhan dimiliki pelaku sendiri tanpa paksaan dari orang lain. Jika pelaku ternyata memiliki gangguan mental yang menyebabkan niatnya terjadi diluar kesadaran, contoh: perilaku kejahatan terjadi pada saat tidur atau tidak sadar, maka faktor mens rea-nya dianggap tidak utuh, atau tidak bisa secara gamblang dinyatakan sebagai kejahatan, karena orang dengan gangguan mental tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas perilakunya (Davies, Hollind, & Bull, 2008).

Memang, kita tidak bisa memungkiri bahwa setiap negara pasti ada tindak kejahatan di dalamnya, akan tetapi kita juga tentu tidak boleh menolerir tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum ini. Seminimal mungkin, masyarakat dan pemerintah bergerak bersama dalam melakukan langkah preventif di tengah-tengah masyarakat, pembekalan anak dari usia dini dengan mengajarkan dan membina mereka, tidak hanya Intelligence Quotient (IQ) namun juga Emotional Quotient (EQ) dan Spirituality Quotient (SQ), kombinasi dari ketiganya inilah yang bisa memberikan masa depan yang lebih baik. Emotional Quotient (EQ) ini yang menciptakan hasil positif dalam relasi kita dengan orang lain, kalau dalam Islam dikenal dengan istilah hablumminannas (Hubungan dengan sesama manusia)sedangkan Spirituality Quotient (SQ) merupakan pusat dan dasar dari segala macam kecerdasan, ia akan menjadi sumber penuntun, kunci kepenuhan personal dan performa seumur hidup, hablumminallah (hubungan dengan Allah) kalau diistilahkan dalam Islam. Tanpa spiritualitas kita mungkin jadi kurang bergembira dan tak nyaman dengan kehidupan kita. Seberapa kaya pun kita, seberapa banyak pun materi yang kita kumpulkan2.

Ada yang mengatakan jika kebahagiaan kita diukur dari jumlah harta yang dimiliki, akan tetapi kalau kita perhatikan, para artis nasional maupun internasional, kebanyakan dari mereka justru banyak juga yang bercerai dengan pasangannya karena tidak merasa bahagia meski harta yang mereka punya melimpah. Gubernur Maluku Said Assagaf (2016) dalam rapat Telaah Program Keluarga Berencana dan Pengembangan Keluarga (KKBPK) mengatakan jika provinsi Maluku urutan ke-4 termiskin di Indonesia, namun provinsi Maluku juga menjadi provinsi dengan indeks kebahagiaan ke-2 di Indonesia3. Ini mengindikasikan bahwa tidak selamanya hidup dengan bergelimang harta akan membuat kehidupan menjadi bahagia, tergantung dari prinsip hidup kita dan bagaimana komitmen kita terhadapnya.

Berbicara tentang prinsip hidup, sebagai seorang muslim adakalanya kita coba membaca penjelasan Dr. Fathi Yakan dalam bukunya yang berjudul “Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?”, beliau menerangkan bahwa keberadaan kita sebagai seorang muslim menuntut agar menjadikan Islam sebagai prinsip hidup dalam beraqidah, ibadah, dan akhlak (baik untuk diri sendiri, rumah, maupun keluarga), maka ini berarti bahwa kita juga dituntut agar mengabdikan diri untuk Islam, mengarahkan hidup kita untuk Islam, dan menggunakan segenap kemampuan serta potensi kita untuk memperkuat kedudukan Islam dan mengangkat pilarnya. Dengan menjalankan perintah agama dengan baik dan benar tentu akan berimplikasi kepada cara kita memahami kehidupan, tindakan-tindakan yang kita lakukan yang berlandaskan Al-Qur’an dan sunah tentunya tidak akan bertentangan dengan apa yang menjadi aturan negara. Dengan bekal ini kita sudah bisa membantu mengurangi tindak kejahatan yang ada di negeri ini, sebab orientasi hidup kita bukan sekedar harta, tahta dan wanita.

 Prinsip hidup yang telah dirumuskan dalam Islam setidaknya bukan hanya materi semata yang masuk di telinga kanan keluar di telinga kiri, akan tetapi pengaplikasiannya dalam setiap elemen kehidupanlah yang penting. Saya rasa, banyaknya jumlah kejahatan yang terjadi adalah dampak dari kurangnya pemahaman dalam menjalankan perintah agama secara baik dan benar, dan sudah menjadi tugas kitalah yang telah memperoleh ilmu untuk menyampaikan ke masyarakat, ikut andil dalam melakukan pembinaan, saya optimis jika satu RT/RW ada pembinaan yang dilakukan oleh satu saja mahasiswa, kelak akhlak masyarakat kita akan membaik. Ini seharusnya yang menjadi prinsip kita dalam mengarungi samudra kehidupan ini, senantiasa menjadi manusia yang bermanfaat.

Referensi


Sumber Gambar:
https://c1.staticflickr.com/3/2916/33789342256_da1e56614f_b.jpg

Kamis, 06 Juli 2017

Memahami Sesuatu yang Stable dan Alternative di Dunia Kampus


Alam di sekitar kita bergerak dan berubah. Waktu terus berjalan, dan bintang terus berputar sehingga perubahan-perubahan itu mewarnai kehidupan kita. Ada malam dan siang, musim panas dan musim dingin, anak-anak tumbuh besar, pemuda kian menua, dan kemajuan teknologi yang terus berubah telah mengubah wajah dunia ini dan jadilah dunia ini sebuah kampung kecil.1 Telah banyak perubahan yang terjadi dengan begitu cepat di abad ke-21 ini, dan terlebih lagi sejak zaman Rasulullah. Tak jarang, kita menemui perkara-perkara yang tidak ada di zaman Rasulullah, maka pertanyaannya ialah bagaimana kita menyikapi semua persoalan itu? Tentu kita harus senantiasa berpedoman kepada Al-Qur’an dan sunnah, adapun jika tidak ada dalilnya maka carilah fatwa ulama mujtahid, merekalah sebaik-baik tokoh yang dapat dipercaya pendapatnya. Akan tetapi dalam perkembangannya tentu tidak semua pendapat para ulama mujtahid itu sama, adakalanya mereka juga berbeda pendapat, maka sikap kita terhadap kedua pendapat maupun orang lain yang menjalankan pendapat yang berbeda dengan kita ialah dengan tidak saling mencela. Yahya Bin Sa’id mengatakan. “Orang yang berilmu adalah orang yang memiliki keleluasaan. Dan selagi para pemberi fatwa berbeda pendapat, yang satu menghalalkan ini dan yang lain mengharamkan itu, maka tidak boleh saling-mencela selama semua pihak berpegang pada tsawabit sedangkan ijtihad mereka terjadi dalam mutaghayyirat.”2
Sebelumnya kita perlu mengetahui arti dari tsawabit atau tsabit dan mutaghayyirat dari apa yang sempat disinggung oleh Yahya bin Sa’id, dan juga sebagai pembuka dari tulisan ini untuk memudahkan kita di pembahasan berikutnya. Tsawabit dan mutaghayyirat dalam bahasa inggris berarti stable dan alternative. Tsabit atau tsawabit adalah pokok dan sesuatu yang tetap, yang diciptakan Allah untuk diikuti, bukan dimodifikasi dan dikritisi, seperti Al-Qur’an dan sunah. Tsawabitlah yang menjaga eksistensi manusia dan tetap menjadikannya sebagai seorang manusia. Tsawabit itu berupa nilai-nilai yang mengatur kehidupan manusia. Ketika manusia hidup tanpa sebuah nilai, bagaimana jadinya kehidupannya? Apakah hanya menggunakan hukum rimba seperti yang ada di dunia politik dan ekonomi hari ini?3. Berbeda dengan mutaghayyirat yang selalu berubah, tidak ada dalil pastinya, dan condong pada perkara muamalah semisal sosial, ekonomi, budaya, pendidikan serta politik. Oleh karena itu Imam Syafi’I mengatakan bahwa mutaghayyirat adalah sesuatu yang bisa ditakwilkan atau dikiyaskan4. Dua pengertian ini mau tidak mau harus kita pahami, sebab realita kehidupan sekarang yang sangat jauh berbeda dengan zaman Rasulullah tentu membawa kita untuk bisa menempatkan dalil-dalil dalam ranah praktis kontemporer ini dengan tepat, sehingga kita tidak terjebak dalam realita dan juga tidak menutup diri dari kehidupan sekarang ini. Apalagi sebagai seorang aktivis dakwah, tentu sangat perlu untuk menanamkan syakhsiyah da’iyah wal Islamiyah (kepribadian da’I dan Islam) yang sifatnya tawazun (proporsional) dan tawassuth (moderat), sehingga menghindari diri dari sifat ghuluw (berlebih-lebihan dan ekstrem) dan tasahul (menggampangkan dan memudah-mudahkan).
Dalam lingkungan kampus, ambillah contoh aktivitas di perpolitikan kampus. Kita memahami bahwa memilih pemimpin secara langsung dalam hal ini mencontreng calon presiden mahasiswa adalah aktivitas yang tidak terjadi di zaman Rasulullah, begitu juga di zaman khulafaur-Rasyidin, apakah dengan begitu kita lantas menjustifikasi pemilihan secara langsung ini sebagai hal yang buruk? haram? Tentu kita juga mesti memahami kondisi yang ada sekarang ini, bahkan jika setiap mahasiswa muslim bersikukuh untuk tidak terlibat di dalam perpolitikan kampus maka dampaknya adalah kebijakan-kebijakan yang ditetapkan akan semakin jauh dari nilai-nilai Islam terlebih jika presiden mahasiswa yang terpilih beserta jajarannya adalah orang ammah atau paling buruk yakni mereka yang dalam tanda kutip memusuhi dakwah. Tsawabit Dalam konteks ini yang perlu kita ketahui ialah mencakup asas politik Islam, tujuannya, referensinya, dan prinsip-prinsipnya. Dan aktivitas yang dilakukan juga harus sesuai dengan prinsip-prinsip akhlak. Adapun mutaghayyirat disini ialah partisipasi politik (musyarakah siyasiyyah) yang kita lakukan, minimal partisipasi yang kita lakukan dengan memberi dukungan kepada calon presiden mahasiswa yang hanif, dan lebih bagus lagi jika kita bisa ikut berpartisipasi di dalam lembaga mahasiswa tersebut.
Sudah jelas bahwa setiap muslim mesti sadar dengan identitasnya, harus berpartisipasi dalam mengemban amanah dakwah ini. Bahkan kewajiban dalam menyeru kebaikan ini dijelaskan sendiri oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an, “Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” QS. Luqman: 17. Jangan kemudian kita menutup diri dari realita kehidupan sekarang, seorang aktivis dakwah mesti senantiasa berinteraksi tanpa terkontaminasi. Islam adalah agama yang syumul (menyeluruh), mencakup semua bidang kehidupan, jangan kemudian kita sekedar memahaminya sebagai ajaran yang hanya dilaksanakan di masjid saja. Ada kutipan yang cukup menarik "Umat Islam yang tidak peduli pada politik akan dipimpin oleh politikus yang tidak peduli terhadap kaum muslimin." Demikian perkataan Necmetin Erbakan, politikus Turki.


Referensi
1.         Ganiyyah An-Nanlawi, At-Tsabit wa Al-Mutaghayyir (Cet. 1: Dar Al-Fikr, Damaskus: 2008), h. 9.
3.         Muhammad Qutb, Haula At-Ta’shil Al-Islami lil ‘Ulum Al-Ijtima’iyyah (cet. 1; Kairo: Dar Asy-Syuruq, 1998), h. 109.

4.         Ibid. Dr. Shalah Shawi mengambilnya dari Ar-Risalah karya Imam Syari’I halaman 560.

Sabtu, 01 Juli 2017

Bumi Massenrempulu

Massenrempulu berarti menyusur gunung, karena bisa dikatakan hampir seluruh wilayahnya didominasi gunung maupun bukit.
Massenrempulu memiliki topografi yang khas di Sulawesi Selatan, sebab Massenrempulu atau sekarang dikenal sebagai Kabupaten Enrekang ini sama sekali tidak memiliki wilayah pantai. Mengapa khas? Karena hampir tiap daerah di Sulawesi Selatan memiliki pantai.
Kita kenal Sulawesi Selatan kaya akan hasil laut, tapi berbeda dengan Massenrempulu, makanan sehari-hari mereka bukan ikan tapi dangke.
Dangke menjadi kebanggaan masyarakat Massenrempulu, bahkan Indonesia. Sebab inilah keju yang berasal dari Indonesia.
Massenrempulu tidak sekedar dangke, tempat ini juga kaya akan hasil pertaniannya. Bawang merah yang dihasilkan oleh para petani Bumi Massenrempulu ini memiliki produksi yang tertinggi di Indonesia (Median Maret dan April 2017).
Hamparan sawah yang membentang luas, deretan gunung yang tak bosan dipandang oleh mata,  adalah panorama keindahan yang sulit kita temukan di perkotaan, menghilangkan rasa penat, jenuh, dan menyegarkan pikiran atas aktivitas kuliah yang padat dengan hawa lingkungannya yang sejuk.
Satu lagi yang saya ingat, di Bumi Massenrempulu ada satu desa yang juga cukup terkenal, desa Bone-bone, desa bebas rokok dalam 11 tahun terakhir, menjadi desa bebas rokok pertama di dunia.
Tidak usah khawatir jika ingin kesana, masyarakatnya murah senyum dan ramah. Satu hal yang paling berkesan dengan masyarakat disana adalah ikatan kekerabatannya yang begitu kuat, semangat kegotongroyongan inilah yang mempersatukan masyarakatnya.
Massenrempulu, tempat ini selalu menghadirkan rasa rindu untuk selalu mengunjunginya di masa liburan ramadhan tiap tahun. Singkat, namun penuh kesan.
Tidak ada alasan bagi kita untuk mengabaikan salah satu daerah dengan potensi alam yang melimpah ini J



Selasa, 23 Mei 2017

Apa yang Hilang Dari Kita?


Ada banyak orang yang muncul dan hilang, ada juga orang yang dilemparkan oleh takdir ke atas untuk dihempaskan ke bawah. Kita harus bertanya, ketika kita belum siap dan belum mampu untuk memimpin akan tetapi jabatan itu telah kita peroleh, jangan-jangan ini adalah takdir untuk menghempaskan kita ke bawah. Makanya, tidak ada salahnya kita coba merefleksikan kembali perkataan Umar bin Khattab kepada rakyatnya, beliau mengatakan: tafaqqahu qabla an tusawwadu, “Perdalamlah ilmu agama, sebelum kamu menjadi pemimpin”. Umar bin Khattab ketika mengatakan ini tentu ingin menekankan kepada umatnya, bahwa posisi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah dan perlu untuk dibangga-banggakan, sebab dibalik semua itu ada pertanggungjawaban yang begitu besar dihadapan sang pencipta, bahkan Umar bin Abdul Aziz ketika diawal-awal dipilih sebagai khalifah bani Umayyah menjelang pelantikan beliau mengucapkan suatu perkataan yang setidaknya bisa menjadi tamparan bagi kita juga dalam menjalankan peran, inni akhaufu naar, “saya takut kepada neraka”. Apa korelasinya kalimat itu dengan pencapaian orang dalam kepemimpinan? Itu artinya bahwa beliau memulai dari akhir, bahwa akhir dari semua ini pada akhirnya adalah kematian, dan hidup setelah kematian hanya mempunyai dua pilihan yaitu surga atau neraka.
Kalau kita mencermati kondisi sekarang ini, apa yang dihadapi adalah persoalan yang tidak bisa dipandang enteng, dan jika kita telusuri, sedikit sekali kalau kita hitung, mereka-mereka yang Allah Subhanahu wa ta’ala tugaskan serta diberikan amanah untuk memikul beban dakwah ini. Sungguh beruntung, setelah diberikan ni’matul iman wa Islam, Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kenikmatan sebagai da’iyah fi sabilillah (da’I di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala). Ikhwah sekalian, Kafilah ini akan tetap berjalan, jadi yang bergabung dalam kafilah dakwah, merekalah orang-orang yang beruntung. Qul Hadzihi Sabili Ad’u Illallah ala Bashirotin ana wamanit taba’ani, “Katakanlah wahai Muhammad ini adalah jalanku, yaitu mengajak orang kepada Allah, dengan hujjah yang nyata, aku dan pengikutku.” Begitu beruntung orang-orang yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk bergabung di kafilah dakwah ini, maka sudah menjadi kewajiban bagi diri ini untuk selalu bersyukur atas nikmat yang begitu banyak, bersyukur karena kita masih dikumpulkan dengan orang-orang sholih dan sholihat, lingkungan yang insyaAllah senantiasa mengingatkan kita atas kebaikan.
Tentu, setiap kita mempunyai sayyiat (perbuatan dosa), tapi dengan kita aktif bergerak terus, hasanat (mobilisasi kebaikan) kita, insyaAllah sayyiat kita menjadi marginal/tidak punya ruang gerak, innal hasanaati yudzhibinassayyiati, dzaalika dzikro lidzzaakiriin, artinya bahwa dengan mengkoordinasikan kebaikan (hasanat) kita untuk amal jama’I, untuk kebaikan bangsa, kebaikan umat, kebaikan dakwah dan kebaikan jama’ah, pada akhirnya akan mengeliminir sayyiat (perbuatan dosa) Kita. Jangan takut untuk mengubah hidup menjadi lebih baik hanya karena bayang-bayang masa lalu yang suram penuh dosa, ciptakan sikap optimisme dalam melangkah ke depan dan berikan senyuman kepada masa lalu yang kelam. Sekiranya jika sikap optimisme ini dihidupkan kembali, maka dorongan untuk selalu berbuat kebaikan itu akan terus ada, sebab pikiran ini dipenuhi dengan gagasan yang konstruktif. Tapi kita juga perlu ingat, aktivitas beramal kita harus dilandasi dengan keikhlasan, beramal tanpa merasa sok suci, kenapa bahasanya sok suci? Karena bahasa ini yang digunakan Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menegur kita, wala tuzakku anfusakum huwa a’lamu bimanittaqo, jangan menganggap diri ini suci, Allah lebih tahu siapa yang paling bertaqwa. Malu rasanya, kadang amal kita masih sedikit, tapi merasa banyak, amal kita pas-pasan, tapi merasa sudah cukup, celakanya lagi, tidak beramal tapi berasa beramal, itupun dilakukan dengan riya’, takabur, sum’ah.
Lebih bijak sepertinya kalau kita fokus dalam berfastabiqul khoirat ketimbang membanding-bandingkan amalan kita dengan orang lain, lebih arif ketika kita lebih peka dalam menebarkan manfaat ketimbang menuai pujian. Ibarat buih di lautan, di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa, Fa ammaz zabadu fayadzhabu jufaa’an, “Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya.” Ia hanya akan tampak di awal-awal, namun setelah itu hilang tanpa memberikan manfaat. Dan lanjutan dari ayat itu, Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa, wa ammaa maa yanfa’un naasa fayamkutsu fil ardli kadzaalika yadl-ribullaahul amtsaal “Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikanlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”. Pilihan ada kepada kita, sekedar menjadi buih atau menjadi orang yang meninggalkan manfaat? 

Yogyakarta, 23 Mei 2017.



Senin, 24 April 2017

Pesona Buku: Membuka Cakrawala Semesta


            Ketika buku pertama kali ditemukan sekitar tahun 2400 SM di Mesir, wujud aslinya tidaklah seperti apa yang biasa kita pegang saat ini, bentuk buku pada awalnya merupakan hieroglif yang ditulis pada kertas papirus yang digulung. Kalau kita membaca sejarah, buku yang ada pada waktu itu tidaklah sekecil buku yang ada pada zaman sekarang ini, sebab buku yang ada pada saat itu panjang gulungannya bisa mencapai puluhan meter dengan ketebalan kertas yang tidaklah setipis kertas yang ada sekarang ini. Coba kita pikirkan, kira-kira seperti apa aktivitas baca-tulis orang-orang terdahulu? Tidak mudah, bahkan bangsa Sumeria membuat tulisan dalam media yang dikenal sebagai clay tablet yang terbuat dari tanah liat yang berbentuk persegi dan kemudian ditulis dengan stylus, setelah clay tablet itu ditulis, proses yang dilakukan selanjutnya adalah mengeringkan tanah liat tadi dengan panas matahari ataupun dipanasi dengan api. Dari aktivitas ini, kalau kita bandingkan dengan proses yang ada sekarang, tentu sangat jauh berbeda. Perbedaannya bukan hanya dari segi proses pembuatannya, tapi juga dari efisiensi waktunya, orang-orang terdahulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa mencetak atau membuat satu buku saja.
Kita harus berterima kasih terhadap apa yang telah dilakukan orang-orang terdahulu, sebab karena aktivitas yang mereka lakukanlah sehingga orang-orang yang hidup setelahnya bisa mengembangkan dan memodifikasi bentuk buku itu menjadi lebih efisien. Tentu, peradaban yang berkembang seperti saat ini merupakan hasil akumulasi dari ide-ide orang terdahulu, yang kemudian diabadikan menjadi suatu karya yang kita sebut dengan buku (kitaabun), dan buku ini memberikan fungsi kepada manusia sebagai media dalam memberikan pemahaman, sebagai sarana pembelajaran. Itulah kenapa dikatakan bahwa buku merupakan jendela dunia, sebab dengan membaca bukulah kita dapat mengenal Sphinx meski belum pernah ke Mesir, mengenal tembok Cina, mengetahui apa yang ada di dasar laut meski belum pernah menyelam, hingga memahami segala yang ada di semesta ini. Coba bayangkan, jika ide-ide terdahulu itu tidak dibukukan, akan seperti apa dunia saat ini? Stagnan, ilmu pengetahuan tidak akan berkembang karena usia manusia yang terbatas, penyaluran hasil pemikiran itu akan terputus. Peran buku ini tentu sangat luas, ia mampu mengubah peradaban dan memberikan ibrah bagi generasi masa depan. Itulah sebabnya di dalam Islam, mengapa kitab Al-Qur’an diturunkan ke muka bumi ini tidak lain ialah untuk memberikan petunjuk bagi setiap manusia dalam menjalankan kehidupannya, kitabun anzalnahu ilaika mubaraku li yaddabbaru ayatihi wa li yatadzakara ulul albab, “Inilah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh berkah supaya mereka memikirkan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.”

Sekarang ini mungkin kita hidup pada era dimana teknologi itu berkembang dengan pesat, ada gadget yang senantiasa menemani kita dari tidur hingga bangun. Informasi bisa dengan mudah kita peroleh, akan tetapi di satu sisi juga banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari perangkat ini. Kebiasaan membaca buku ini tentu semakin sulit kita temukan saat ini, terlebih di daerah-daerah pelosok yang serba keterbatasan. Berada dalam era globalisasi, yang segala informasi mudah untuk diakses namun tingkat literasi malah semakin rendah, Indonesia dengan populasi sekitar 250 juta hanya memiliki tingkat minat baca 0,001 dan berada dalam ranking 60 dari 61 negara menurut survei yang dilakukan oleh UNESCO. menjadi tugas kita bersama untuk bisa mengembalikan kebiasaan para pendahulu ini ke tengah-tengah masyarakat, ada peribahasa Arab yang mengatakan, khoiru jalisin fi az-zamani kitabun, “Sebaik-baik teman duduk di setiap waktu adalah buku”.

Selasa, 21 Februari 2017

Membangun Kisah dalam Lingkaran Peradaban


Sudah hampir tujuh tahun perkenalan ini, selalu mendekatkan diri ketika kita menjauh, menjadi pengingat ketika lupa dan keliru, menjadi obat pelipur lara ketika dirundung masalah. Halaqah, memberikan kita tempat untuk melukiskan lembar kehidupan ini dengan goresan-goresan yang penuh makna, tidak hanya belajar memahami dunia, namun juga berusaha memaknai kehidupan ini. Halaqah memberikan kita ruang untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala juga kepada manusia, hablum minallah wa hablum minannas. Meramaikan dunia ini dengan halaqah-halaqah, saat di sudut kota lain mungkin masih banyak yang saling bercanda gurau di kafe, menikmati beraneka ragam produk baru di pusat perbelanjaan, atau bahkan sekedar menghabiskan waktu untuk tidur sepanjang hari di kosan. Dunia ini ibarat apa yang kita lihat di langit pada malam hari, hampa, gelap, dan tidak lagi seindah dulu. Bintang tak lagi menampakkan dirinya, tertutup oleh kilauan dunia, oleh lampu gedung-gedung pencakar langit. Kini, kita kesulitan lagi melihat masjid yang diisi oleh pemuda-pemuda yang berhalaqah, mereka yang menghiasi masjid dengan majelis ilmu, dengan lantunan Al-Qur’an.  Inilah yang menjadi kelemahan umat Islam saat ini, jauh dari masjid, jauh dari Al-Qur’an, semangat dalam mengkaji ilmu agama sangatlah kurang. Padahal, segores tinta yang kita ukir dalam lembaran kehidupan adalah catatan-catatan yang kemudian akan dinilai pada yaumil hisab kelak.
Iman itu bertambah dan berkurang, maka sepantasnya kita menjaga diri dengan terus berada di lingkungan yang baik, bersama dengan orang-orang yang sholih. Terlebih bagi kita sebagai mahasiswa yang mayoritas adalah perantau, jauh dari keluarga, aktivitas yang bebas ini tentu menjadi godaan besar. Saudaraku, kita tentu menginginkan untuk dapat membanggakan kedua orang tua, membuat mereka tersenyum ketika kita telah kembali ke tanah asal. Di tanah rantau ini kita datang sendirian, tersesat dalam dunia baru, maka untuk menjadi orang yang benar, kita mesti menjaga posisi agar tetap berada di jalur yang benar. Berhalaqah adalah tentang bagaimana kita menjadikan hidup ini dengan keberkahan bukan kehingarbingaran, tumbuh menjadi orang yang bermanfaat dan tidak termakan oleh perbuatan foya-foya, tidak berbahaya kita hidup di dunia yang menjadi masalah adalah ketika dunia hidup dalam hati seorang mukmin.
 Salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim yakni muwaajahatut tahriq, melawan semua langkah-langkah perusak dalam kehidupan manusia dan untuk menghadapinya kita perlu energi, pembentangan diri dengan pembinaan ruh (tarbiyah ruhiyah). Halaqah adalah salah satu solusinya. Ulama-ulama kita bahkan mengatakan, siapa yang disebut orang yang berakal ialah Al-Aqilu, andharun naasu fil awaaqid. Orang yang berakal itu adalah orang yang paling jauh pandangannya tentang akibat-akibat dari segala sesuatu. Jadi yang memikirkan dampak jangka panjang dari setiap tindakannya itu, itulah ciri orang yang berilmu, tidak hanya tentang otak namun juga akhlak.

Sumber gambar : http://www.sheilainspire.com/2016/04/halaqah-episod-9-orang-islam-akhir.html


Rabu, 15 Februari 2017

Membentuk Karakter Pemenang

Ada begitu banyak kisah dari para nabi yang bisa kita jadikan patron dalam menapaki kehidupan. Peradaban yang ada saat ini tentu merupakan akumulasi dari pemikiran visioner oleh sedikit orang yang ada di masa lalu, dari sedikit orang itulah yang kemudian mampu menggerakkan banyak orang untuk mendesain, merancang, mengelola dan menciptakan suatu peradaban yang bisa kita rasakan saat ini. Ketika Jazirah Arab belum dihuni oleh siapapun, kondisinya yang mungkin bisa dibilang tidak layak untuk dihuni dibandingkan negeri Syam ataupun Yaman pada saat itu, bahkan dilukiskan dalam Al-Qur’an sebagai biwadiin ghoiri dzi zar’in, pada suatu lembah yang tidak ada tumbuhannya. Nabi Ibrahim alaihis salam bersama dengan Hajar dan anaknya Ismail alaihis salam, mereka yang kemudian menjadi penghuni pertama di Jazirah Arab, bisa dibayangkan bagaimana mereka memulai usahanya membangun Ka’bah di daerah yang tak berpenghuni. Tapi bisa kita lihat saat ini, tempat itu kemudian bertransformasi, daerah yang sepi senyap sekarang menjadi daerah yang dikunjungi oleh sekitar 2 juta orang lebih tiap tahunnya, perubahan besar itu dilakukan oleh satu keluarga saja. Contoh lain di sekitar 3000an tahun setelah nabi Ibrahim alaihis salam, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mendirikan negara Madinah, yang ikut hijrah bersama beliau jumlahnya sekitar dua ratusan orang, dari jumlah umat manusia pada saat itu sekitar seratusan juta orang. Jadi kita bisa mengambil hikmah disini, bahwa sejarah lahirnya peradaban besar itu adalah ide dari sedikit orang, bukan oleh banyak orang.
Ukuran sedikit atau banyak nya orang bukan menjadi fokus kita disini, akan tetapi yang menjadi inti permasalahannya adalah apakah kita telah siap mencetak orang-orang dengan pemikiran visioner itu? Realita yang kita hadapi sekarang bahwa jumlah umat Islam dari tahun ke tahun semakin menurun, di Indonesia sendiri kita pernah berada dalam persentase total 95% umat Islam, namun sekarang dari 250an juta jiwa penduduk Indonesia, hanya 85% yang kemudian beragama Islam. Dari persentase itu, coba kita pikirkan, ada berapa persen yang ibadahnya terjaga? Kini kondisi yang kita hadapi ialah seolah-olah umat Islam sendiri tidak berdaya dalam menyikapi problematika yang terjadi di bangsa sendiri, bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Kita ambil contoh dalam konstelasi politik di Indonesia saat ini, ketika beberapa partai Islam akan membesar, ada kekuatan sistematis yang menghancurkannya. Beberapa partai Islam yang lain bahkan tidak terstruktur dan kaderisasi masif sehingga tidak berkembang dan tidak berdaya dalam persaingan politik.

Saya kira persoalan-persoalan ini muncul karena kita melupakan proses pembinaan di dalam internal itu sendiri, kita jauh dari proses pembentukan generasi. Sehingga sebagai  aktivis dakwah kita perlu untuk kembali mengangkat makna-makna dasar yakni ma’ani ikhlash wa shidq wal intima’ ilal fikrah wal manhaj. Sebab hanya dengan menanamkan makna tersebut secara terus menerus maka apa yang kita harapkan akan sampai kepada tashhihul-masar, yakni upaya meluruskan arah perjuangan secara terus menerus dari waktu ke waktu. Inilah yang menjadi langkah pertama untuk memperkokoh qaidah ruhiyah. Kita mesti kembali ke koridor pembentukan manusia-manusia, mencetak generasi yang mampu bersaing secara global, mereka yang memiliki pemikiran yang visioner. Semua ini dapat terlaksana dengan baik jika kita ikhlas dalam mendedikasikan diri di jalan dakwah ini.