Saturday, January 5, 2019

Pembangunan Infrastruktur Satu-satunya Solusi?


Sumber gambar: https://rmol.co/images/berita/normal/2018/01/418277_10372331012018_infra.jpg

Apakah pembangunan infrastrukur menjadi satu-satunya jalan dalam mencapai kesejahteraan? Apakah infrastrukur memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat atau tidak? Sebelumnya kita harus menjawab jujur jika memang pembangunan infrastrukur akan memberikan pengaruh secara langsung terhadap kesejahteraan rakyat.

Berbicara tentang infrastrukur, kita mesti paham logika awalnya, bahwa infrastrukur memiliki fungsi untuk menghubungkan atau memberi koneksi antara sumber daya, produksi, dan distribusi. Tidak bisa struktur dasar infrastruktur itu dibangun dengan modal komersial, karena ia tidak akan berujung pada level competiveness. Jadi jika ada perkataan misalnya, “Jika itu tidak berhasil maka swastanisasi saja”, ini sudah termasuk dalam agenda komersial. Implikasinya adalah upaya tersebut tidak akan bisa membuat daya saing bangsa membaik.

Paradigma penyediaan barang publik seperti infrastruktur telah bergeser secara mendasar, yang sebelumnya merupakan tanggung jawab negara menjadi tanggung jawab sektor swasta. Infrastruktur yang seharusnya dibiayai dengan pajak yang dibayarkan oleh rakyat  akan diserahkan kepada investor swasta dan melibatkan investasi publik. Infrastruktur akan dijadikan sebagai stretegi untuk memobilisasi dana massa ke dalam pasar keuangan melalui bank-bank investasi dan bursa saham.

Suatu negara pasti akan berhadapan dengan yang namanya pangan, energi, dan finansial (PEF). Maka dalam melakukan pembangunan, tidak bisa hanya terfokus pada infrastruktur pangan atau energi saja. Logikanya seperti ini, terdapat keterkaitan antara krisis pangan, energi dan finansial.  Krisis pangan diawali oleh krisis energi (kenaikan harga minyak dan pengembangan bioenergi) yang memicu kelangkaan pangan dan kenaikan harga pangan. Penurunan harga minyak dan krisis finansial yang diikuti dengan penurunan pertumbuhan ekonomi global telah mendorong kenaikan harga pangan, sehingga memunculkan fenomena baru yaitu krisis harga pangan. Krisis pangan dan finansial secara simultan berdampak terhadap ketahanan pangan, ketahanan politik, dan stabilitas finansial/ekonomi nasional dan kawasan. Dalam konteks krisis saat ini, sedikitnya dibutuhkan tiga elemen program aksi yang bersifat komplemen, yaitu promosi pertumbuhan pertanian pro-kemiskinan, penurunan volatilitas harga pangan, dan perluasan jaring pengaman sosial bagi kelompok miskin (Von Braun, 2008).

Sehingga jika ditanya apakah pembangunan infrastrukur (baca: pembangunan jalan tol, kereta cepat, pembangkit listrik, dll) menjadi satu-satunya cara dalam meningkatkan kesejahteraan tentu tidak. Sebab itu belum menjamin hadirnya kondisi finansial yang membaik dan akan menjadi kompleks lagi jika memaksakan pembangunan (yang berarti pengeluaran) tanpa melihat potensi pemasukan negara. Dan apabila cara pemerintah dalam memasifkan pembangunan adalah dengan menghadirkan investor, maka timbul persoalan baru, siapa yang mengelola infrastruktur itu dan pemasukannya akan mengalir kemana?

Referensi:
2.       Rusatra, I Wayan dkk. 2010. Krisis Global Pangan-Energi-Finansial: Dampak dan Respon Kebijakan Ketahanan Pangan dan Pengentasan Kemiskinan. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian: Bogor.

Friday, January 4, 2019

Pembangunan


Sumber gambar: https://disnaker.makassar.go.id/wp-content/uploads/2017/11/343899_DSC1580.jpg

Tentang Sulsel dan pembangunannya, putra daerah mana yang tidak bangga melihat daerahnya mengalami perkembangan yang pesat. Perekonomian Sulsel kuartal kedua 2018 tumbuh 7,38% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Nasional 5,27% (yoy). Kondisi kesejahteraan di Sulsel juga membaik. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel per Februari 2018 tercatat 5,39%, lebih rendah dibandingkan periode Agustus 2017 sebesar 5,61%. Jumlah penduduk miskin di Sulsel pada Maret 2018 sebesar 792,63 ribu jiwa, jumlah ini mengalami penurunan sebesar 20,44 ribu jiwa jika dibandingkan dengan kondisi pada Maret 2017. Ketimpangan Sulsel juga membaik pada Maret 2018, dengan gini ratio sebesar 0,397 dibandingkan September 2017 sebesar 0,429.

Di sektor infrastruktur, tercatat ada 17 mega proyek yang pada tahun 2018 kini tengah digarap beberapa diantaranya bahkan dipercepat pengerjaannya. Warga Sulsel tentu sudah menanti-nanti kapan stadion Barombong resmi beroperasi dan kelak menjadi homebase PSM Makassar dalam mengikuti kompetisi sepakbola tingkat nasional bahkan internasional. Setelah bulan juli lalu PLTB terbesar di Indonesia yang berada di Kab. Sidrap secara resmi beroperasi, akhir tahun ini juga di Kab. Jeneponto akan beroperasi PLTB terbesar kedua di Indonesia. Sulsel yang selama ini dikenal sebagai sentra pangan nasional tentu membutuhkan pasokan air yang tidak sedikit, pembangunan tiga bendungan yakni Bendungan Paselloreng di Kabupaten Wajo, Karalloe di Kabupaten Gowa, dan bendungan Pamukkulu di Kabupaten Takalar adalah salah satu upaya untuk meningkatkan tampungan air sebesar 261,23 juta meter kubik (m3), tujuannya untuk meningkatkan suplai air irigasi di Sulsel. Proyek lain ada pembangunan rel kereta api trans Sulawesi sepanjang 2000 km yang menghubungkan Makassar-Manado, pembangunan jalan tol layang Pettarani Makassar, pembangunan jembatan layang Maros-Bone, pembangunan Center Point of Indonesia dimana disana ada Masjid 99 Kubah yang akan menjadi ikon baru, ada pembangunan Middle Ring Road Makassar.

Pembangunan identik dengan perubahan, Adanya pembangunan meniscayakan adanya perubahan sosial. Karena tujuan dari pembangunan itu sendiri adalah mengarahkan perubahan sosial ke arah yang lebih baik atau bersifat progresif. Menurut Koentjaraningrat (1997), pembangunan adalah upaya yang direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintah, badan-badan atau lembaga internasional, nasional atau lokal yang terwujud dalam bentuk-bentuk kebijaksanaan, program, atau proyek yang secara terencana mengubah cara-cara hidup atau budaya dari suatu masyarakat sehingga mereka dapat hidup lebih baik atau lebih sejahtera dari pada sebelum adanya pembangunan tersebut.

Terkadang di tengah pesatnya pembangunan, ada satu hal yang mungkin terlewatkan, bahwa membangun SDM tidak jauh kalah penting. Ambil contoh kembali di Sulsel, banyak tantangan pendidikan yang dihadapi disana terutama dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas ke depannya. Mantan Rektor Universitas Negeri Makassar dan Pakar Pendidikan Sulsel, Prof. Dr. Arismunandar (2016) memperlihatkan rendahnya kualitas guru ini berdasarkan nilai Uji Kompetensi Guru 2015, yaitu rata-rata guru Sulsel nilainya hanya 52,55 dari angka maksimal 100. Masih banyak guru yang mengajar di sekolah hanya tamatan Sekolah Pendidikan Guru (SPG), yang berkualifikasi S1 juga kadang mengajar pada bidang yang lain yang tidak sesuai dengan kompetensinya, sehingga mempengaruhi kualitas siswa.

Pada tahun 1961, David McClelland menulis buku terkenal yang berjudul Achieving Society. Di buku itu McClelland mengingatkan, suatu bangsa akan jatuh bila mengandalkan pemimpin-pemimpinya (baca: menteri atau CEO) berdasarkan motif-motif afiliasi (baca: persekongkolan, kekerabatan, afiliasi politik) atau motif kekuasan (bagi-bagi kuasa). Sebagai gantinya, bangsa-bangsa harus mulai berorientasi pada achievement (hasil/kinerja). Dan pastinya achievement akan terwujud jika orang yang berperan dibalik itu juga unggul.

Rhenald Kasali dalam bukunya Let’s Change (2017) mengatakan tak dapat disangkal bahwa negeri ini masih perlu banyak tokoh perubahan. Namun, perubahan selalu datang bersama sahabat-sahabatnya, yaitu resistensi, penyangkalan, dan kemarahan. Hasil yang dicapai para achiever selalu ditertawakan dan mereka diadili, dipersalahkan secara hukum, seperti yang dialami Nicolaus Copernicus di abad ke-16, Giordano Bruno (1600), dan Galileo Galilei (1633) saat memperjuangkan kebenaran. Sebagian besar change maker diadili oleh bangsanya, dipenjarakan, dirajam, dan dibunuh, seperti Marthin Luther King, Abraham Lincoln, Gandhi, dan Munir. Yang lagi hangat beberapa tahun ini adalah mobil listrik buatan Ricky Elson yang tidak diakui di negeri sendiri padahal beliau susah payah dibujuk oleh pak Dahlan Iskan agar kembali ke Indonesia untuk mengembangkan mobil listrik, di saat beliau mencapai puncak karirnya sebagai kepala divisi penelitian dan pengembangan teknologi permanen magnet motor dan generator NIDEC Corporation, Kyoto, Minamiku-kuzetonoshiro cho388, Jepang.

Inilah saatnya bagi para politisi Indonesia untuk belajar menerima change maker dan achiever untuk meneruskan karya-karyanya dengan berhenti mengumpat dan mengadili apalagi mengedepankan motif-motif afiliasi dan kekuasaan. Manusia ingin perubahan namun ia sendiri tidak mau diubah, inilah mirisnya kita. Harapan akan perubahan hidup yang lebih baik harus dimulai dari diri masing-masing, buang jauh-jauh ego. Pesatnya pembangunan harus beriringan dengan pembangunan Sumber Daya Manusia itu sendiri.

Indonesia butuh life skills, yakni keterampilan melihat multiperspektif untuk menjaga persatuan dalam keberagaman, assertiveness untuk buang sifat agresif, dan asal omong dalam berdemokrasi. Indonesia butuh mental yang tumbuh, jiwa positif memulai cara-cara baru, keterampilan berpikir kritis melawan mitos, dan metode pengajaran yang menyemangati, bukan budaya menghukum dan bikin bingung.


Referensi:


Kasali, Rhenald, “Let’s Change!”, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2017.

https://www.jpnn.com/news/kurang-dihargai-di-indonesia-pembuat-mobil-listrik-pilih-pulang-ke-jepang?page=5, diakses pada 4 Januari 2019

https://makassar.terkini.id/kualitas-guru-masih-jadi-tantangan-pendidikan-sulsel/, diakses pada 4 Januari 2019


Tuesday, November 6, 2018

Politik Kotor



Banyak orang  menilai politik di Indonesia ini amburadul, hampir setiap bulan ada saja kasus korupsi yang dilakukan oleh wakil rakyat. Dari hilir ke hulu, mulai dari tingkat kabupaten hingga pusat. Dalam beberapa survei DPR, DPD, MPR, dan partai politik selalu menjadi lembaga negara yang berada di urutan terbawah atas tingkat kepercayaan masyarakat terhadapnya. Survei Charta Politika (2018) menyatakan DPR dipercaya sebanyak 49,5 persen dan tidak dipercaya sebesar 42,5 persen oleh responden, DPD dipercaya 42,0 persen dan tidak dipercaya 39,3 persen, partai politik dipercaya 39,0 persen dan tidak dipercaya 47,17 persen. Survei lain yang dilakukan oleh Alvara Research Center (2018) menyatakan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja DPR mencapai 51,8 persen, kinerja MPR mencapai 57,0 persen, dan Partai politik mencapai 64,3 persen.

Kondisi perpolitikan di Indonesia saat ini mungkin ibarat sungai yang tercemari, kotor dan tak terawat. Orang selalu nyinyir tentangnya, orang jijik untuk datang kesana, bahkan sebisa mungkin jaga jarak dengannya. Namun sungai tetaplah sungai, menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan jika diperlakukan dengan bijak. Saat ini sungainya mungkin kotor, namun bukan berarti sungai itu tidak akan bersih, justru kehadiran orang-orang yang punya itikad baik dan berani mengambil tindakanlah yang dinantikan.

Saya mengutip pernyataan Prof. Syarif Hidayat (2018) peneliti bidang politik LIPI yang menggarisbawahi tentang kinerja partai politik yang masih buruk. Menurutnya, kinerja partai politik yang demikian terjadi karena partai politik gagal menjalankan fungsi partai politik yang seharusnya melekat kepadanya, baik itu fungsi rekrutmen politik yang di dalamnya terdapat mekanisme kaderisasi partai, komunikasi politik, sosialisasi dan pendidikan politik, serta pengatur konflik. Temuan kinerja parpol yang demikian sekaligus mengonfirmasi bahwa demokrasi di Indonesia masih sebatas pada demokrasi simbolik atau demokrasi prosedural yang menghadirkan lembaga demokrasi secara fisik, namun masih lemah secara fungsi. Problematika partai politik yang demikian ditengarai disebabkan oleh belum adanya demokrasi internal partai yang ditandai dengan sentralisasi partai dan oligarki dalam partai.

Salah satu cara instan yang digunakan partai politik dalam mendongkrak suaranya dan juga sebagai upaya agar lolos parliamentary threshold 4 persen adalah dengan merekrut public figure atau artis untuk menjadi calon anggota legislatif, pemilu 2019 tahun depan akan ada 82 orang artis yang maju. Dari 14 partai politik peserta pemilu 2019, 11 diantaranya mengajukan artis sebagai calon anggota legislatifnya. Partai Nasdem setidaknya mencalonkan 28 orang artis, PDIP 17 orang, PAN 6 orang, PKB 7 orang, Partai Berkarya 5 orang, Golkar 4 orang, Demokrat 4 orang, Perindo 4 orang, Gerindra 5 orang, PPP 1 orang, serta PSI 1 orang. Saya tidak menganggap remeh kemampuan artis dalam ranah legislatif, karena bisa jadi beberapa orang diantaranya juga memiliki kapasitas untuk menjadi wakil rakyat di parlemen. Akan tetapi yang justru ingin saya tekankan adalah jangan sampai popularitas calon menjadi faktor tunggal masyarakat dalam menentukan pilihannya tanpa menilai poin intelektual serta integritas calon, berharap masyarakat saat ini mampu lebih cerdas dalam menentukan pilihannya.

Selain karena tuntutan memenuhi parliamentary threshold 4 persen agar bisa lolos ke parlemen, faktor lain yang tidak kalah heboh adalah adanya perubahan cara perhitungan peroleh kursi dewan. Perhitungan sebelumnya yang menggunakan Kuota Hare diubah menjadi Metode Sainte Lague Murni.

Ilustrasi:
Misal dalam Pemilu Legislatif 2019 di Dapil X perolehan suara:
1. Partai A: 220.000
2. Partai B: 100.000
3. Partai C: 30.000
4. Partai D: 25.000
5. Partai E: 3.000

Hitungan dengan Metode Kuota Hare (Pemilu 2014)
Misal jatah 4 kursi dengan harga 1 kursi 200.000 suara. Jadi Perolehan Kursi:
1 KURSI PERTAMA : UNTUK Partai 1
1. Partai A: 1 kursi sisa 20.000
2. Partai B: 0 kursi sisa 100.000
3. Partai C: 0 kursi sisa 30.000
4. Partai D: 0 kursi sisa 25.000
5. Partai E: 0 kursi sisa 3.000
Karena masih ada sisa 3 kursi, sisa kursi diberikan kepada perolehan terbanyak yaitu partai B, partai C, Partai D. Sehingga hasil akhirnya: Partai A, B, C dan D masing-masing satu kursi.

Hitungan dengan Metode Sainte Lague Murni:
1. Partai A meraih 220.000 suara.
2. Partai B meraih 100.000 suara.
3. Partai C meraih 30.000 suara.
4. Partai D meraih 25.000 suara.
5. Partai E 3.000 suara.

*Kursi Pertama*
Maka kursi pertama didapat dengan pembagian 1.
1. Partai A 220.000/1 = 220.000
2. Partai B 100.000/1 = 100.000
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000
Jadi kursi pertama adalah milik partai A dengan 220.000 suara.

*Kursi Kedua*
Untuk kursi ke-2, dikarenakan A tadi sudah menang di pembagian 1. Maka berikutnya, A akan dibagi 3, sedangkan yang lain masih dibagi 1. Perhitungan kursi ke-2 adalah:
1. Partai A 220.000/3 = 73.333
2. Partai B 100.000/1 = 100.000
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000
Maka kursi ke-2 adalah milik partai B dengan 100.000 suara.

*Kursi Ketiga*
Sekarang kursi ke-3, Partai A dan B telah mendapatkan kursi dengan pembagian 1, maka mereka tetap dengan pembagian 3, sedangkan suara partai lain masih dengan pembagian 1. Maka perhitungan kursi ke 3 adalah:
1. Partai A 220.000/3 = 73.333
2. Partai B 100.000/3 = 33.333
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000
Maka di sini kursi ke-3 milik partai A lagi dengan 73.333 suara.

*Kursi Keempat*
Perhitungan suara untuk kursi ke 4, A dan B telah mendapat kursi dengan pembagian 3, maka mereka akan masuk ke pembagian 5.
1. Partai A 220.000/5 = 44.000
2. Partai B 100.000/3 = 33.333
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000 Kursi ke-4, jatuh di Partai A lagi.

Hasil Akhir
1. Partai A = 3 kursi
2. Partai B = 1 kursi
3. Partai C = 0 kursi
4. Partai D = 0 kursi
5. Partai E = 0 kursi

Ya, kebijakan baru sekarang menjadi alasan kenapa partai politik begitu banyak mengusung public figure sebagai calon anggota legislatifnya. Ada 11 dari 14 partai yang mengusung public figure, artinya ada 3 partai yang tidak mengusung. Semoga saja pemilu 2019 menjadi momentum perubahan dan perbaikan bagi Indonesia, baik pejabat maupun masyarakatnya. Masyarakat jangan mudah terpengaruh oleh popularitas calon, tapi lihat track record dan gagasan yang dibawa. Karena membersihkan sungai hanya bisa dilakukan jika kita semua tergerak untuk membersihkannya, tidak sekedar menggantungkan orang lain untuk mengerjakan tapi kita sendiri tidak berusaha untuk melakukan tindakan, kalau belum bisa membersihkan minimal kita tidak menjadi bagian dalam mengotorinya.

Referensi:


Tuesday, October 23, 2018

Totalitas Hingga Akhir



Orang-orang mungkin tidak menyangka Liverpool bisa menang atas AC Milan pada pertandingan liga champions tahun 2005 silam, secara heroik Liverpool mampu mengejar ketertinggalan 3 gol tanpa balas di babak pertama pada paruh kedua sebelum akhirnya menang lewat drama adu penalti di Istanbul, Turki. Liverpool mampu membuktikannya, bahwa boleh jadi di awal kita tertinggal namun sebelum peluit tanda berakhirnya pertandingan belum ditiupkan, maka tidak ada yang mustahil untuk bisa membalikkan keadaan. Boleh jadi kehidupan kita dulu suram, tapi itu tidak berarti bahwa masa depan kita akan sama dengan masa lalu. Boleh jadi tantangan yang kita hadapi itu berat, bahkan orang lain menganggapnya mustahil untuk bisa dituntaskan, namun jika kita berikhtiar semaksimal mungkin insyaAllah akan ada kemudahan, allahu musta’an.

Jangan pernah berpikiran bahwa apa yang kita usahakan selama ini sia-sia, cara kita dalam memahami setiap satuan capaian akan sangat mempengaruhi persepsi kita tentang keseluruhan perjuangan yang dilakukan. Dalam konteks dakwah, capaian kita tentu menjadi harapan yang paling besar, namun untuk memastikan orang tersebut dapat menerima dakwah kita atau tidak, itu bukanlah ranah kita. Bahkan paman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Abu Thalib, yang membantu dan melindungi dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di Mekah pun meninggal tidak dalam kondisi sebagai seorang muslim. Apa artinya? Artinya bahwa perkara apa yang kita sampaikan diterima atau tidak itu bukanlah domain kita, meskipun orang tersebut kerabat dekat kita. Tugas kita hanya berikhtiar semaksimal mungkin dalam mengajak orang lain pada kebaikan, hasilnya? Itu adalah domain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Harun Al-Rasyid mengatakan bahwa, saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan, sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung segala usaha maksimal. Tentu, yang semestinya kita harapkan adalah keberhasilan yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kita atas usaha dan kerja-kerja maksimal kita. Tidak semata bagaimana capaian itu diperoleh, tapi juga bagaimana capaian itu dilanjutkan. Tidak semata bagaimana kemudahan itu didapat, tapi juga bagaimana gangguan dan rintangan yang menghambat mampu untuk kita lalui.

Pendiri salah satu e-commerce terbesar di dunia, Jack Ma, juga mengawali kesuksesannya dari titik nol. Ia bahkan menjadi satu-satunya orang yang lamaran pekerjaannya ditolak pada gerai makanan cepat saji, ditolak ketika mendaftar di kepolisian di saat ratusan pelamar lainnya diterima, sepuluh kali ditolak masuk Universitas Harvard, hingga tiga puluh kali ditolak perusahaan. Tapi apakah semua itu membuat dia berhenti dan tidak mencari jalan lain? Tidak, justru dari kegagalan itulah ia membuka jalan keberhasilannya sehingga Alibaba sekarang bisa bertengger sebagai e-commerce terbaik di dunia.

Cerita di atas menjadi bukti bahwa ketika kita tertinggal, ketika kita ditolak, maka tidak berarti pintu keberhasilan itu tertutup bagi kita.  Capaian-capaian yang kita peroleh adalah akumulasi dari setiap kerja yang kita lakukan, tugas kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin, mastato’thum, hingga kita tidak lagi merasakan luka, hingga perih tidak lagi menghentikan langkah kaki kita, bekerja keras sepenuhnya sampai habis energi kita. Serahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.


Monday, September 10, 2018

Bersaudara Meski Tak Sedarah



Keluarga Muslim Teknik, bahkan kita sudah menjadi keluarga jauh sebelum kita bertemu di kampus Teknik Universitas Gadjah Mada. Kita menjadi keluarga disebabkan oleh kesamaan ideologi, kita dipersatukan karenanya. Kesamaan ini tentu perlu kita jaga dan tumbuhkan agar menjadi produktif, ia ibarat benih yang kita tabur kemudian kita rawat hingga tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan yang kokoh dan memberikan manfaat.

Sejatinya bukan karena jasad ini yang menyatukan kita, akan tetapi yang menyatukan kita adalah ukhuwah Islamiyah, ikatan yang mempersatukan hati para mukmin. Kebersamaan jasad memang penting, akan tetapi jauh daripada itu kebersamaan hatilah yang mampu membuat kita bersatu dan kuat. Yadullahi ma’al jama’ah, Tangan Allah bersama jama’ah. Kebersamaan hadir karena adanya persamaan yang menjadi kekuatan kita, modal dalam melakukan amal-amal kebaikan bersama. Ukhuwah Islamiyah baru akan produktif dalam menjawab setiap permasalahan apabila kita telah menumbuhkan syakhsiyah Islamiyah di dalam segala amalan kita, tidak hanya amal individu namun juga sosial. Mengutip slogan KMT “bersama menuju keshalihan pribadi dan sosial.”

Ukhuwah Islamiyah, ia melampaui  batas-batas ruang dan waktu, ia tidak reaktif terhadap suatu kejadian, ukhuwah Islamiyah ini adalah ikatan ideologis (mabda’iyah). Cakupannya luas, tidak terbatas dalam satu wilayah tertentu saja (ukhuwah wathoniyah), tidak terbatas oleh suku/bangsa (ukhuwah ashobiyah), juga tidak muncul karena kesamaan minat atau kepentingan (ukhuwah maslahatiyah).

Kita datang dari segala penjuru nusantara dengan satu peran yang sama yakni sebagai pembelajar, berharap amanah yang diberikan oleh orang tua bisa kita jalankan dengan baik dan penuh bangga. Kuliah saja tentu tidak cukup sebab ada banyak kegiatan yang bisa kita ikuti di luar perkuliahan untuk meningkatkan kapasitas kita sebagai seorang individu, tidak hanya intelektual saja namun bagaimana dimensi emosional serta spiritual juga bisa kita tingkatkan, pesan ini juga sering ditekankan oleh pak Dr. Eng. Herianto selaku Kepala Unit Pendidikan dan Kemahasiswaan Fakultas Teknik UGM. Dengan memberikan partisipasi aktif dalam lembaga kampus, berdialektika bersama, berproses bersama, menjadi wasilah pembelajaran lain yang tidak kita dapatkan di dalam ruang kelas. Ini semua menjadi bekal kita ketika nanti lepas dari almamater dan akan turun ke masyarakat secara langsung.

Kita mesti sadar dan berpartisipasi, sebab ada orang yang sadar tapi enggan berpartisipasi dan ada orang yang berpartisipasi tapi tidak sadar, hanya sekedar ikut-ikutan saja. Ilmu tanpa amal bagai pohon tak berbuah, kita menanam pohon yang tidak menghasilkan buah, sekedar diberikan harapan akan tetapi buahnya nihil. Tapi juga kita jangan beramal tanpa dilandasi dengan ilmu, karena kata Ibnu Qayyim rahimahullah, “Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun, orang yang berjalan tanpa penuntun akan mendapatkan kesulitan dan sulit untuk selamat.” Ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak bisa kita pisahkan sebab ia saling menyokong satu sama lain. Dengan ilmu serta amal ini jugalah yang akan membuat hidup kita menjadi lebih produktif, terlebih dengan kita berkumpul dalam satu wadah yang sama, beramal secara berjama’ah. Seperti yang saya tuliskan di awal, Yadullahi ma’al jama’ah, Tangan Allah bersama jama’ah.

Referensi:
Abdullah Nashih Ulwan: Merajut Keping-keping Ukhuwah.  CV Ramadhani, 1989.