Thursday, January 28, 2021
Kebiasaan
Monday, December 21, 2020
Tumpas Kemiskinan dengan Membangun Desa
Faktanya bahwa kemiskinan di Indonesia masih terkonsentrasi di desa yang notabene penduduknya sebagian besar bermatapencaharian petani. Menjadi satu hal yang memprihatinkan, sebab sektor pertanian merupakan sektor kedua terbesar penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi sebesar 13,45% setelah sektor industri sebesar 19,62% menurut data BPS (2020), akan tetapi dari segi kesejahteraan petaninya, masih jauh dari harapan. Melihat fakta ini, maka untuk menurunkan angka kemiskinan secara signifikan, opsi yang bisa dilakukan adalah dengan berkonsentrasi penuh dalam membangun desa, khususnya sektor pertanian.
Sudah banyak negara yang memberikan contoh, bahwa untuk meningkatkan produktivitas pertanian bisa dengan modernisasi pertanian, pemberian bantuan teknologi pengolahan tani yang didukung dengan pelatihan, pembinaan, dan pengawasan oleh pemerintah maupun stakeholder lain.
Ambil contoh Belanda, negara dengan lahan yang terbatas (17.960 km persegi) dibandingkan Indonesia (570.000 km persegi) mampu masuk dalam jajaran negara pengekspor barang-barang pertanian dengan komoditas pangan salah satu yang terbesar di dunia dan sekaligus menjadi penopang pangan di eropa. Belanda, yang secara geografis sepertiga wilayahnya berada di bawah permukaan laut dan hampir tidak ada ketersediaan lahan untuk pertanian skala besar, tapi mampu membangun pertaniannya dan menguntungkan secara industri.
Apa kunci keberhasilan Belanda? Kuncinya salah satunya karena ditopang oleh teknologi: teknologi green house dan pertanian presisi, mampu menanam dengan input yang efisien menghasilkan output yang lebih produktif. Sebagai contoh, disana mampu menghasilkan 20 ton (per acre) kentang, padahal rata-rata produktivitas global hanya 9 ton (per acre). Pengairannya juga sangat efisien, dengan pengairan 90% yang lebih rendah dari pertanian pada umumnya. Selain itu, Belanda juga tidak lagi menggunakan pestisida kimia.
Dari Belanda kita bisa belajar bagaimana menjadikan pertanian
sebagai sektor unggulan di lahan yang terbatas dengan teknologi. Meningkatnya produktivitas
pertanian maka tentu juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat di pedesaan,
ekonomi yang terjamin akan membuat anak-anak muda menjadi tertarik untuk
berkarier sebagai petani.
Wednesday, November 25, 2020
Guru: Pilar Peradaban Bangsa
Monday, November 16, 2020
Mindset Pemenang
Thursday, November 5, 2020
Negeri Bahari yang Tertidur
Indonesia terdiri dari 17.480 pulau, dengan garis pantai sekitar 95.181 km, luas wilayah lautan sekitar 5,8 juta km persegi. Dari luasan ini, data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2020 memperkirakan potensi perikanan bisa mencapai 19,6 triliun per tahun, belum ditambah kontribusi dari sektor pariwisata dan juga potensi laut sebagai penghasil daya energi.
Laut beserta isinya adalah anugerah yang dititipkan kepada kita, rakyat Indonesia, untuk diolah dan dipergunakan bagi rakyat Indonesia pula. Harusnya rakyat atau paling tidak nelayan sebagai pelaku utama cukup sejahtera. Akan tetapi, faktanya terbalik. Masih banyak nelayan tradisional terus hidup di bawah garis kemiskinan dan kondisi ini sudah terstruktur dan terpola sejak lama, kemiskinan struktural yang membuat masyarakat menjadi skeptis dengan hidupnya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketertinggalan dan kemiskinan nelayan tradisional: (1) tidak meratanya prasarana umum di wilayah pesisir, (2) minimnya teknologi yang digunakan, (3) tidak ada akses terhadap pasar, (4) maraknya fenomena pencurian ikan (illegal fishing).
Sudah banyak riset yang dilakukan oleh para peneliti/akademisi dari berbagai universitas maupun instansi, tapi belum memberikan dampak yang signifikan hingga saat ini. Tidak sedikit juga contoh yang ditunjukkan oleh negara-negara kepulauan lain yang berhasil memanfaatkan potensi kelautan dan perikanannya untuk kesejahteraan rakyatnya.
Setiap tahun, cukup banyak anggaran yang dikeluarkan negara untuk keperluan wakil rakyatnya kunjungan ke negara lain. Studi banding katanya, agar bisa diadopsi di Indonesia. Tapi bagaimana hasilnya sekarang?
Tentunya, kita selalu berharap bahwa kelak akan hadir pemimpin di Indonesia yang memiliki karakter berani, tegas, dan cerdas. Sebab musuh negara ini bukan hanya dari luar Indonesia, tapi juga oleh orang-orang rakus yang mengaku dirinya sebagai warga negara Indonesia tapi diam-diam menghabisi saudara se tanah airnya.
Jangan pernah berhenti berdoa, semoga negeri bahari ini segera terbangun dari tidur panjangnya.

