Thursday, January 28, 2021

Kebiasaan

Satu hal yang menarik perhatian saya di kampung Inggris Pare: bersepeda. Menjadi biasa karena pengaruh lingkungan dan aktivitas yang dominan di sekitarnya, orang-orang yang sebelumnya jarang bersepeda pun mau tidak mau akan membiasakan dirinya untuk bersepeda agar tetap linear dengan kebiasaan setempat (selain daripada memudahkan mobilitasnya tentunya), meskipun ada opsi lain yg juga praktis dan mudah diakses seperti Gojek dan Grab.  

Membentuk kebiasaan (habit) mungkin akan sulit jika tidak didukung oleh lingkungan yang sesuai, seseorang akan sulit tumbuh dan berkembang sebagai seorang yang jujur jika ia bergaul dengan orang-orang yang terbiasa berperilaku koruptif, sulit ya, bukan berarti tidak bisa. Mungkin ada yang berhasil, akan tetapi secara statistik itu adalah data outlier atau anomali.

Demikian juga jika ingin membentuk kebiasaan baru dalam suatu entitas, apakah perilaku koruptif bisa dicegah? Apakah kebiasaan merokok bisa dihentikan? Bisa jika didukung oleh kebiasaan dan kultur yang baik. Buktinya Desa Bone-bone, Kec. Baraka, Enrekang, Sulawesi Selatan mampu dalam memberantas kebiasaan merokok masyarakatnya dan menjadi Desa Teladan Nasional 2012. Yang dilakukan oleh kepala desanya di awal tahun 2000 adalah dengan pendekatan struktural lewat peraturan desa dan didukung lewat pendekatan kultural melalui komunikasi langsung hingga berkonfrontasi, ketegasan dan keteladanan pemimpinnya jadi kunci.


Monday, December 21, 2020

Tumpas Kemiskinan dengan Membangun Desa

 

Faktanya bahwa kemiskinan di Indonesia masih terkonsentrasi di desa yang notabene penduduknya sebagian besar bermatapencaharian petani. Menjadi satu hal yang memprihatinkan, sebab sektor pertanian merupakan sektor kedua terbesar penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi sebesar 13,45% setelah sektor industri sebesar 19,62% menurut data BPS (2020), akan tetapi dari segi kesejahteraan petaninya, masih jauh dari harapan. Melihat fakta ini, maka untuk menurunkan angka kemiskinan secara signifikan, opsi yang bisa dilakukan adalah dengan berkonsentrasi penuh dalam membangun desa, khususnya sektor pertanian.


Sudah banyak negara yang memberikan contoh, bahwa untuk meningkatkan produktivitas pertanian bisa dengan modernisasi pertanian, pemberian bantuan teknologi pengolahan tani yang didukung dengan pelatihan, pembinaan, dan pengawasan oleh pemerintah maupun stakeholder lain.


Ambil contoh Belanda, negara dengan lahan yang terbatas (17.960 km persegi) dibandingkan Indonesia (570.000 km persegi) mampu masuk dalam jajaran negara pengekspor barang-barang pertanian dengan komoditas pangan salah satu yang terbesar di dunia dan sekaligus menjadi penopang pangan di eropa. Belanda, yang secara geografis sepertiga wilayahnya berada di bawah permukaan laut dan hampir tidak ada ketersediaan lahan untuk pertanian skala besar, tapi mampu membangun pertaniannya dan menguntungkan secara industri.


Apa kunci keberhasilan Belanda? Kuncinya salah satunya karena ditopang oleh teknologi: teknologi green house dan pertanian presisi, mampu menanam dengan input yang efisien menghasilkan output yang lebih produktif. Sebagai contoh, disana mampu menghasilkan 20 ton (per acre) kentang, padahal rata-rata produktivitas global hanya 9 ton (per acre). Pengairannya juga sangat efisien, dengan pengairan 90% yang lebih rendah dari pertanian pada umumnya. Selain itu, Belanda juga tidak lagi menggunakan pestisida kimia.


Dari Belanda kita bisa belajar bagaimana menjadikan pertanian sebagai sektor unggulan di lahan yang terbatas dengan teknologi. Meningkatnya produktivitas pertanian maka tentu juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat di pedesaan, ekonomi yang terjamin akan membuat anak-anak muda menjadi tertarik untuk berkarier sebagai petani.

Wednesday, November 25, 2020

Guru: Pilar Peradaban Bangsa

Guru adalah pilar peradaban bangsa, tidak terhitung berapa jumlah anak bangsa yang tumbuh berkat jasa para guru. Harum namanya walau tidak sepopuler tokoh publik.

Ia terus mendidik dan mengajar walau tidak sedikit yang memberikan sikap buruk, cemoohan, tidur di kelas, hingga bolos. Mohon maaf karena banyak dari kami, yang dulu engkau ajar, tidak menunjukkan sopan santun dan terkesan acuh dalam pelajaran.

Perasaan bersalah yang masih teringat sampai sekarang adalah ketika berada di jenjang SMP, kelas Akselerasi SMPN 1 Sungguminasa. Kala itu, disaat harus persiapan ujian akhir, kami (para laki-laki) justru ikut pertandingan sepakbola padahal sudah ada guru yang menunggu di kelas. Mohon maaf bu Husnawati (Guru Matematika) atas kenakalan kami waktu itu.

Guru, adalah jalan pengabdian yang paling luar biasa. Darinya, orang-orang luar biasa di negeri ini dibentuk. Salam hormat kepada seluruh guru yang ada di Indonesia, khususnya di SMAN 2 Makassar, SMPN 1 Sungguminasa, dan SDN Centre Mangalli.

Monday, November 16, 2020

Mindset Pemenang

Dari sejarah kita bisa belajar, bagaimana para pemenang berhasil mengatasi setiap tantangan dan rintangan. Ambil contoh salah satu peristiwa yang terjadi pada tahun 1805, Inggris yang waktu itu berkekuatan 27 kapal mesti berhadapan dengan armada Prancis-Spanyol yang dipimpin oleh Napoleon dengan kekuatan 33 kapal.

Biasanya, taktik yang dilakukan adalah dengan bertempur berbaris berjajar lalu saling tembak. Akan tetapi, muncul ide out of the box oleh Admiral Inggris Lord Nelson, ia memecah armada Inggris menjadi dua barisan dan memajukan keduanya ke armada Prancis-Spanyol secara tegak lurus.

Risiko tentu ada, terutama bagi kapal Inggris yang berada paling depan. Namun Nelson menilai bahwa penembak Prancis-Spanyol belum cukup terlatih dan akan kesulitan menembak di tengah ombak yang besar waktu itu.

Singkat cerita, pada pertempuran Trafalgar, pihak Prancis-Spanyol kehilangan dua puluh kapal sedangkan Inggris hanya kehilangan satu kapal saja. Meski demikian, Nelson yang berada di kapal terdepan armada Inggris terluka parah. Dan dari lukanya itu ia gugur dan dikenang sebagai pahlawan bahari terbesar Inggris.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Bahwa faktor jumlah bukan berarti apa-apa, ide, pikiran dan kepemimpinan adalah kunci seorang pemenang. Pun juga menjadi seorang pemimpin harus berani berkorban, leiden is lijden.

Thursday, November 5, 2020

Negeri Bahari yang Tertidur


Indonesia terdiri dari 17.480 pulau, dengan garis pantai sekitar 95.181 km, luas wilayah lautan sekitar 5,8 juta km persegi. Dari luasan ini, data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2020 memperkirakan potensi perikanan bisa mencapai 19,6 triliun per tahun, belum ditambah kontribusi dari sektor pariwisata dan juga potensi laut sebagai penghasil daya energi.

Laut beserta isinya adalah anugerah yang dititipkan kepada kita, rakyat Indonesia, untuk diolah dan dipergunakan bagi rakyat Indonesia pula. Harusnya rakyat atau paling tidak nelayan sebagai pelaku utama cukup sejahtera. Akan tetapi, faktanya terbalik. Masih banyak nelayan tradisional terus hidup di bawah garis kemiskinan dan kondisi ini sudah terstruktur dan terpola sejak lama, kemiskinan struktural yang membuat masyarakat menjadi skeptis dengan hidupnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketertinggalan dan kemiskinan nelayan tradisional: (1) tidak meratanya prasarana umum di wilayah pesisir, (2) minimnya teknologi yang digunakan, (3) tidak ada akses terhadap pasar, (4) maraknya fenomena pencurian ikan (illegal fishing).

Sudah banyak riset yang dilakukan oleh para peneliti/akademisi dari berbagai universitas maupun instansi, tapi belum memberikan dampak yang signifikan hingga saat ini. Tidak sedikit juga contoh yang ditunjukkan oleh negara-negara kepulauan lain yang berhasil memanfaatkan potensi kelautan dan perikanannya untuk kesejahteraan rakyatnya.

Setiap tahun, cukup banyak anggaran yang dikeluarkan negara untuk keperluan wakil rakyatnya kunjungan ke negara lain. Studi banding katanya, agar bisa diadopsi di Indonesia. Tapi bagaimana hasilnya sekarang?

Tentunya, kita selalu berharap bahwa kelak akan hadir pemimpin di Indonesia yang memiliki karakter berani, tegas, dan cerdas. Sebab musuh negara ini bukan hanya dari luar Indonesia, tapi juga oleh orang-orang rakus yang mengaku dirinya sebagai warga negara Indonesia tapi diam-diam menghabisi saudara se tanah airnya.

Jangan pernah berhenti berdoa, semoga negeri bahari ini segera terbangun dari tidur panjangnya.