Tuesday, March 4, 2014

Menunggu Di Sayup Rindu

Burung pun bernyanyi...
Melepas segala rindu
Yang terendam malu
Di balik qolbu..

Angin pun menari...
Mencari arti
Apakah ini fitrah
Ataukah hiasan nafsu

Di dalam sepi ia selalu hadir
Di dalam sendiri ia selalu menyindir
Kadang meronta bersama air mata
Seolah tak kuasa menahan duka

Biarlah semua mengalir
Berikanlah kepada ikhtiar dan sabar
untuk mengejar...

Sabarlah menunggu
Janji Allah kan pasti
Hadir untuk datang
menjemput hatimu

Sabarlah menanti
Tak usah lah ragu
Kekasih kan datang sesuai
Dengan iman di hati

Bila di dunia ia tiada
Semoga di Surga ia telah menanti
Bila di dunia ia tiada
Semoga di Surga ia telah menunggu

~Maidany

Sunday, March 2, 2014

Neraca Seorang Mukmin


Jangan pernah terkecoh oleh omongan, shalat, puasa, sedekah dan menyendiri yang dilakukan seseorang. Karena, seorang mukmin sejati adalah seseorang yang menghimpun dua hal: Pertama, mematuhi aturan Allah; kedua, ikhlas dalam beramal.
Kita sangat sering melihat seorang abid melanggar hukum Allah dengan menggunjing dan mengerjakan sesuatu yang terlarang karena menuruti keinginan hawa nafsunya. Dan kita sendiri tak jarang menuduh seseorang yang memegang teguh agamanya telah mengerjakan suatu amal bukan karena Allah Ta’ala.
Seorang mukmin sejati adalah seseorang yang melaksanakan perintah-perintah Allah, menolak menuruti keinginan hawa nafsu, mengikhlaskan niat ketika beramal dan berbicara serta tak menginginkan pujian makhluk.
Kadang seseorang memperlihatkan diri sebagai seseorang yang khusyuk agar disebut sebagai seorang abid, ada kalanya seseorang menampakkan diri sebagai seseorang yang diam supaya dijuluki sebagai seorang yang takut, dan tak jarang seseorang memperlihatkan diri sebagai seseorang yang menolak dunia agar disebut sebagai seorang zahid.
Tanda seorang yang ikhlas adalah samanya penampilan saat sendiri dan kala bersama orang lain.
Terkadang ia malah sengaja tersenyum dan tertawa di hadapan orang banyak agar tak dijuluki sebagai seorang zahid. Ibnu Sirin biasa tertawa di siang hari, namun bila malam menghampiri, ia seperti membunuh seluruh penduduk desanya karena tangisannya.
Allah ‘Azza wa Jalla tak menginginkan sekutu, karena itu seorang yang ikhlas hanya meniatkan-Nya, sedang seorang yang riya’ adalah orang melakukan penyekutuan demi memperoleh pujian manusia. Padahal, yang akan terjadi justru sebaliknya, karena hati mereka di tangan Dzat yang disekutukannya. Allah akan menjauhkan mereka darinya dan tak akan mendekatkan kepadanya. Karena itu, orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang menjalin hubungan batin dengan Allah dan mengikhlaskan amalnya hanya untuk-Nya. Orang seperti ini adalah orang yang dicintai orang banyak, sedang orang yang riya’ pasti dibenci oleh mereka sekalipun ia terus-menerus menambah ibadahnya.

Orang yang mendapatkan taufik seperti ini juga tak akan pernah berhenti mengejar kesempurnaan ilmu dan puncak amal. Ia akan selalu memenuhi waktunya dengan berbagai macam kebaikan yang pernah didengarnya, sementara hatinya terus-menerus beramal dengan amalan-amalan hati, hingga akhirnya ia hanya sibuk dengan Allah ‘Azza wa Jalla

Monday, February 17, 2014

Membangun Obsesi


Bismillahirrahmanirrahim..
Obsesi??
Satu kata yang sering didengar dan sering digunakan dalam mengharapkan sesuatu yang benar-benar ingin diraih. Banyak di antara kita memiliki obsesi namun tak tahu batas-batas obsesi itu sampai mana. Bahkan banyak yang mengartikan obsesi itu sekedar pengharapan dunia saja, tanpa berharap lebih jauh kepada akhirat-Nya.

Kita mulai dari awal, obsesi itu apa sih?
Obsesi dalam pengertian luasnya bisa diartikan sebagai cita-cita, “motivasi untuk melakukan suatu pekerjaan.” Sekiranya dengan motivasi lebih kita akan merasa lebih nyaman dengan pekerjaan kita dalam meraih sebuah impian. Namun masalahnya sekarang, masih banyak di antara kita yang ragu-ragu dalam menentukan cita-cita, masih takut dalam menentukan langkah pijakan selanjutnya. Perlu diketahui bahwa cita-cita ada yang bersifat tinggi atau rendah. Ada orang yang bercita-cita tinggi, setinggi langit dan ada juga yang bercita-cita sederhana, hina dan rendah hingga tingkatan yang paling buruk. Ibnu Qoyyim Rahimahullah memaknai hal tersebut dengan:
Cita-cita tinggi adalah (jiwa) yang tak akan pernah terhenti kecuali kepada Allah, tidak akan tergantikan dengan sesuatu apapun oleh selain-Nya, tidak rela ditukar oleh yang lain sebagai ganti-Nya, tidak akan menjual apa yang ia peroleh dari Allah berupa kedekatan, kelembutan, kesenangan dan kegembiraan dengan harga yang murah dan fana. Maka, cita-cita tinggi jika dibandingkan dengan cita-cita yang lainnya bagaikan burung yang terbang tinggi menjulang dengan burung-burung lain (yang ada di bawahnya). Ia tidak rela jatuh ke bawah, tidak akan mudah tersentuh oleh penyakit hingga sampai kepada mereka, karena semakin tinggi cita-cita semakin jauh dari penyakit (virus) dan semakin rendah cita-cita maka akan mudah diserang oleh berbagai penyakit dari setiap arah.”

Hal yang paling mendasari mereka yang bercita-cita rendah adalah karena rasa pesimis yang tertanam dalam dirinya, hal ini karena mereka menganggap dirinya tidaklah sebaik orang lain, tidaklah sepintar orang lain, tidaklah sehebat orang lain. Padahal sebenarnya kita semua sama, hanya usaha lah yang membedakan. Tentu akan ada hasil yang diraih jika usaha kita sungguh-sungguh adanya.

Bagaimana menanamkan sikap obsesi yang baik?
Perlu kita ketahui sebelumnya bahwa hidup akan lebih indah dengan obsesi!
Alangkah lebih indahnya jika obsesi itu ditanamkan dengan kemuliaan jiwa. Dengan merasakan nikmatnya dalam mengenal dan mencintai Allah, rindu bertemu dengan-Nya, menyenangi apa yang disukai dan diridhoi oleh-Nya. Dan bersikap positif terhadap pengharapan yang dicita-citakan.

Obsesi yang positif adalah dorongan terbesar yang akan membebaskan belenggu ketakutan yang anda rasakan selama ini. Membangun obsesi berarti menata rencana hidup menjadi lebih baik setiap hari juga senantiasa memelihara pengharapan dan cita-cita demi membangun kepribadian dan kehidupan yang lebih bermakna.
Tidaklah keinginan itu dapat diraih dengan angan-angan, tetapi dengan menjadikan dunia sebagai pengorbanannya.”

Dibalik obsesi tinggi terhadap dunia, perlu ada pengorbanan yang besar dalam meraih tujuan akhir yang hakiki yakni obsesi dalam meraih surga-Nya. Karena sungguh pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya.

                Wallahu A’lam Bishawab..
                Jazakallahu Khairan Katsiran..
                

Wednesday, February 12, 2014

Valentine Day? Denaturasi Akhlak Remaja

Valentine Day, lemahnya aqidah remaja
Perlu disadari bersama merayakan Valentine Day merupakan penyimpangan aqidah, karena lahirnya Valentine Day sangat erat hubungannya dengan agama hal ini dipertegas dengan sabda Rasul Sahallallahu ‘alaihi wasallam yang telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. at-Tirmidzi). Aqidah Islam telah sempurna memberikan aturan kehidupan bagi hamba-hambanya tentu saja aturan itu semata-mata Allah turunkan sebagai bentuk petunjuk hidup, namun pada kenyataannya Aqidah remaja kita masih dangkal pemikirannya, sehingga pola sikap yang dibentuknya pun cenderung dibiarkan bebas menuruti hawa nafsunya, tanpa menyadari akibat dari perbuatannya.

Valentine Day, buah negara sekuler
Negara seharusnya menjadi eksekutor pertama yang melindungi segenap umatnya dari bahaya pendangkalan aqidah, tapi kita paham betul Indonesia adalah negara sekuler yang menjauhkan manusia dari aturan agamanya , sehingga wajar kiranya apabila kita melihat negara malah memfasilitasi maksiat, seperti diperbolehkannya mall-mall merayakan Valenbtine Day, tontonan acara di layar kaca begitu kuat mengarahkan remaja kita untuk berperilaku hedonisme termasuk di dalamnya budaya pacaran yang ujung-ujungnya kepada seks bebas yang menghasilkan aborsi dan berbagai penyakit kelamin, di sisi lain semaraknya Velentine Day menguntungkan pihak kapitalis dalam meraup keuntungan. Telah tampak jelas kerusakan akibat diterapkan sistem sekulerisme di Indonesia, apakah kita masih mau berada dalam cengkramanya? Wallahu’Alam

Valentine Day Sebagai Hari Free Sex

Meski Valentines’ Day (14 Februari) masih beberapa hari lagi, remaja muslim dan muslimah sudah ada yang merencanakan dan memboking tempat untuk memperingati hari kasih sayang itu di hotel-hotel, café-café, di Puncak, dan berbagai tempat lainnya. Dari tahun ke tahun, perayaan Valentines’Day telah menelan banyak korban. Diantara mereka, ada yang mati konyol saat pesta miras, hamil di luar nikah, dan kecelakaan setelah menggunakan narkotika pada moment Valentines’ Day.

Siapa yang bisa mengelak, bahwa Valentine’s Day di kalangan remaja yang tumbuh di Kota Besar, identik dengan dunia gemerlap (dugem), pesta miras, perzinahan, dan mengkonsumsi barang-barang terlarang, seperti ekstasi, sabu-sabu dan sejenisnya.

Menurut keterangan saksi korban, peristiwa itu berawal ketika Mawar diajak jalan-jalan oleh pacarnya Her (17) ke daerah Ciater. Waktu itu Her berdalih ingin memanjakan korban pada hari kasih sayang. Selain membawa korban, Her juga mengajak sahabat-sahabat-nya yang lain yang rata-rata masih berusia 17 hingga 18 tahun. Setiba di Subang, mereka tiba-tiba mengurungkan niat untuk pergi ke Ciater, tetapi malah kembali ke Pagaden dan sepakat merayakan valentine dengan cara pesta minuman keras di sebuah gang sempit di Dusun Wanakersa, Pagaden.

Saat itu, korban terus didesak Her untuk mencicipi minuman keras. Beberapa menit setelah meminum minuman keras itu, korban merasakan pusing kepala. Kondisi seperti itu rupanya malah dimanfaatkan Her dan teman-temannya untuk melampiaskan nafsu. Setelah puas mereka langsung pergi dan membiarkan korban tergeletak di pinggir gang.

Di Banjarmasin, Perayaan "valentine`s day" juga  menelan korban. Dilaporkan, pada malam hari kasih sayang itu, seorang remaja tewas overdosis (OD) mengonsumsi ineks (ekstasi) di tempat hiburan malam.


Bukan Tradisi Islam
Patut diketahui, acara Valentine’s Day itu bukan berasal dari tradisi Islam. Dalam Islam, berkasih sayang itu tidak dikhususkan hanya pada tanggal 14 Februari saja. Dan kasih sayang itu tidak ditujukan kepada seorang kekasih, terkait asmara dan jalinan cinta sepasang kekasih yang belum menikah. Islam mengajarkan agar berkasih sayang setiap waktu. Kasih sayang itu bisa kepada ayah-ibu, kakak, adik, saudara, sahabat, kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan sekalipun.

Perlu juga diketahui, bahwa Valentines’Day adalah hari kematian seorang yang bernama Valentine. Adapun Valentine atau Valentinus itu sendiri sesungguhnya adalah seorang yang terbunuh mempertahankan ajaran agamanya. Bahkan, Valentine adalah seorang tokoh beragama Kristen, yang karena kedermawanannya diberi gelar Saint atau Santo. Saint itu sendiri kerap dihubungkan dengan nama seorang penganjur atau pemimpin besar agama Kristen. Disebabkan pertentangannya dengan penguasa Romawi ketika itu, ajal Valentine berakhir dengan pembunuhan atas dirinya pada abad ketiga masehi, tepatnya tanggal 14 Februari tahun 270 M.

Rupanya kematian Valentine tersebut tak dapat dilupakan oleh para pengikutnya. Valentine dijadikan simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan seorang Kristiani menghadapi kenyataan dalam hidupnya. Hari Valentine ini kemudian dihubungkan dengan pesta atau perjamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut Supercalia yang biasanya jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang Romawi itu masuk Kristen, maka pesta Supercalia itu secara religius dikaitkan dengan upacara kematian Santo Valentine. Namun, upacara peringatan yang semula bersifat religius mulai berubah dengan upacara non agamis.

Di Amerika, Valentine ini dipopulerkan dalam bentuk Greeting Card (kartu ucapan selamat), terutama sejak berakhirnya Perang Dunia I. Lama kelamaan, sepasang kekasih diwujudkan dengan saling tukar menukar kado. Ironisnya lagi , Valentines dirayakan dengan pesta miras dan narkoba, bahkan seorang gadis rela kehilangan keperawanannya demi merayakan Valentine yang justru merusak moral generasi muda. Perzinahan pun dianggap menjadi budaya. Jelas ini termasuk dosa besar.

Karena, hendaknya, umat Islam tidak merayakan Hari Valentine, yang notabene berasal dari agama Kristen. Islam sangat tegas melarang pesta miras dan perzinahan. Sebaiknya urungkan saja rencana untuk merayakan Valentines Day di hotel, kafe, villa, dan kost-kostan bahkan di gang sempit sekalipun. Valentine's Day terbukti begitu besar mudharatnya.

*Dari VOA ISLAM


Melahirkan Agen Perubah Melalui Tarbiyah

Bismillahirrahmanirrahim..
Tarbiyah, kata yang terdengar asing buat mereka seorang remaja yang jarang bahkan tidak pernah ikut dalam pengajian maupun halaqah-halaqah lainnya. Padahal tarbiyah sendiri merupakan sebuah fenomena yang berawal dari sekolah-sekolah, kampus dan terus berkembang menjadi arus besar yang ikut menentukan gerak perubahan di negeri ini.
Lalu timbul pertanyaan, tarbiyah itu apa sih? Tarbiyah dalam arti yang sederhana adalah memperbaiki sesuatu dan meluruskannya, atau bisa juga diartikan sebagai pembinaan jiwa, akal, dan jasad untuk memperbaiki diri dan menyucikan jiwa menurut pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.  
Tarbiyah dulunya dianggap hal yang tak biasa, dan jarang ada di tengah masyarakat. Namun 20 tahun terakhir ini, seiring dengan menjamurnya lembaga-lembaga dakwah maka halaqah-halaqah tarbiyah pun secara otomatis mulai menampakkan dirinya. Seakan menjawab tantangan akan perilaku generasi muda saat ini.
Beragam respon pun muncul, mulai dari kekaguman dan harapan-harapan besar yang digantungkan hingga kecemasan yang menggiring rasa ingin tahu banyak, “Akankah tarbiyah menjawab kecemasan masyarakat terhadap generasi muda kini, dan tetap menjadi semangat zaman?”
Tarbiyah sejak usia remaja akan membentuk kepribadian dan akhlak yaang baik. Dengan mengikuti tarbiyah secara rutin akan menjadikan kita sebagai pemuda rabbani, pemuda yang In sya Allah diridhoi-Nya.
Pemuda yang senantiasa rutin hadir dalam halaqah tarbiyah akan tahu tujuan hidup yang sebenarnya, berbeda dengan mereka yang jarang ikut tarbiyah, hidupnya tengah mengalami goncangan dahsyat, tanpa ada perencanaan pasti dan tak tahu apa tujuan hidupnya. Jika kita ibaratkan, seorang yang tumbuh tanpa tarbiyah yang terprogram ibarat pohon yang tumbuh liar, terlihat menjulang sendirian sesudah itu mati tanpa penerus. Maka dari itu, bersungguh-sungguhlah kalian yang ikut dalam halaqah tarbiyah dan janganlah bermalas-malasan karena sesungguhnya penyesalan itu hanya untuk orang yang bermalas-malasan.
Kemenangan hanya akan diraih oleh orang-orang yang sungguh-sungguh beramal dan berjihad di jalan-Nya. Bila tidak, tunggulah saat kehancuran. “Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanankan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi ini dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal:73).
Hidup adalah rangkaian peristiwa tarbiyah. Kita bermetamorfosis dari sebuah kondisi menuju kondisi lain yang selalu lebih baik. Alhamdulillah Allah membimbing kita di jalan-Nya yang lurus. Hidup dalam naungan tarbiyah adalah sebuah keindahan dan kesyukuran tiada hingga.
Imam Malik pernah berkata: ”Kondisi generasi akhir umat ini tidak akan membaik kecuali dengan mencontoh generasi awal (salafus shalih).” Di sinilah kita sebagai pemuda yang alhamdulillah mendapatkan ilmu dari halaqah tarbiyah untuk menyebarkan ajaran Islam, mensyiarkannya kepada masyarakat dan pemuda lainnya agar tetap berada di “Shiratal Mustaqim” – jalan-Nya yang lurus.
Karena, baik-buruknya negeri ini di masa yang akan datang ditentukan oleh sikap pemudanya saat ini, para pemuda yang terdidik adalah calon-calon pemimpin di masa depan. Sehingga, secara historis, apa yang ditanam sejak awal oleh tarbiyah adalah menginvestasikan calon-calon pemimpin bagi proses perubahan besar di negeri ini.
Merekalah kaum yang akan mewarisi sikap kritis Nabi Ibrahim, mewarisi keluasaan ilmu dan sikap penjagaan diri yang dimiliki Nabi Yusuf, dan mereka juga akan tampil sebagai sosok-sosok Musa baru yang kuat, berani dan bisa dipercaya. Mereka akan hadir sebagai anashirut taghyir atau agen perubah di tengah-tengah masyarakat.
Namun, jika kita lihat remaja sekarang ini, kebanyakan dari mereka lebih senang dan suka untuk menghabiskan aktivitasnya dengan kegiatan yang bersifat hedonisme atau berhura-hura. Ditambah dengan semakin canggihnya teknologi dan fasilitas-fasilitas lainnya yang diberikan oleh orang tuanya sendiri membuat mereka semakin asik dengan kehidupan dunia dan lalai dari kehidupan akhiratnya.
Tak bisa dipungkiri, semenjak era teknologi yang semakin canggih saat itu pula para remaja mulai mengalami krisis moral dan akhlak. Terlihat dengan semakin maraknya tindak kriminal yang pelakunya dari kalangan remaja.
Di sinilah kualitas dakwah kita diuji kehandalan (fauqiyah) dan imunitasnya (mana’ah), dan di sini pulalah tarbiyah memainkan peran-peran lanjutannya, yakinlah bahwa pemimpin tidak akan muncul kecuali dilahirkan oleh tarbiyah.
Peluang besar sedang terbuka, namun tantangan besar pun ikut mengemuka. Tetap Istiqamah di jalanNya, maka Allah akan memudahkannya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita dalam kebenaran dan dalam kesabaran. Amin.
Akhirnya, peluang dan tantangan dakwah sekarang ini akan mendekatkan kita kepada kemenangan manakala kekuatan dakwah tetap terpelihara dan terus berkembang. Artinya tarbiyah saat ini dituntut untuk menjawab tantangan zaman. Siapkah kita para mutarabbi menjalankannya di tengah masyarakat? Menjawab keraguan pemuda saat ini. Kitalah para Agent of Changes. Zadanallah Ilman wa Hirsha..
Wallahu A’lam Bishawab..
Wassalamu alaikum..