Sunday, June 29, 2014

“AWAS” Ramadhan


Ahlan WA Sahlan ya Ramadhan,
Bulan suci umat Islam telah tiba, kehadirannya memberikan semangat islami yang baru. Ikhwan dan Akhwat yang sebelumnya disibukkan oleh aktivitas kantor maupun sekolah kini menghentikannya sejenak untuk beribadah intensif dalam sebulan penuh, ini dilakukan hanya semata-mata ingin mencapai fitrahnya.  Betapa harunya kita melihat saudara seiman kita sampai saat ini masih memperlihatkan jati dirinya sebagai seorang muslim dan Insya Allah di hadapannya nampak seorang Al Mukminun.

Hati terasa sejuk saat berada di sekitar mereka yang berlomba-lomba mengisi saf terdepan shalat berjamaah di masjid. Jiwa terasa bergetar saat saudara kita yang kurang mampu menginfaqkan hartanya demi meraih pahala, sedang ia sendiri tak tahu harus berbuka apa. Mata terasa ingin menitihkan airnya saat melihat seorang bapak yang dari paginya bekerja mencari sebotol air mineral bekas hingga waktu buka tiba hanya karena ingin membelikan anaknya segelas es buah segar. Mereka dengan segala keterbatasan ekonomi masih memiliki semangat untuk beribadah, mereka masih mewarisi semangat dalam berlomba-lomba dalam kebaikan “Fastabiqul Khoirat”. Sedang kita yang sehari-harinya disejukkan dengan dinginnya ruangan yang ber-AC, nikmatnya makanan dan minuman saat perut terasa lapar – dahaga dan berlimpahnya harta yang terisi penuh di brankas, apakah kita masih bisu akan beribadah dan meraih amalan-amalanNya?

Sampai kapankah kita ingin menjadi umat duniawi, hingga memalingkan muka akan kehidupan akhirat nanti? Akankah bulan suci Ramadhan ini menjadi pengubah hidup kita kedepannya? Menjadikan kita hamba rabbani bukan hamba Ramadhani,  menjadikan kita hamba yang ingin beribadah semata-mata karena Allah dan bukan karena ingin terlihat religius di mata hambaNya. Syukron, jazakallahu khairan katsiran wa jazakumullah ahsanul jaza.

Kutulis dalam menangis, semoga menjadi pengingat yang terwaris
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..


Tuesday, June 24, 2014

Keterhijaban dan Baik Sangka

Oleh Salim A Fillah

SEORANG KAWAN bertanya dengan nada mengeluh. “Di mana keadilan Alloh?”, ujarnya. “Telah lama aku memohon dan meminta pada-Nya satu hal saja. Kuiringi semua itu dengan segala ketaatan pada-Nya. Kujauhi segala larangannya. Kutegakkan yang wajib. Kutekuni yang sunnah. Kutebarkan shodaqoh. Aku berdiri di waktu malam. Aku bersujud di kala dhuha. Aku baca kalam-Nya. Aku upayakan sepenuh kemampuan mengikut jejak Rosul-Nya. Tapi hingga kini Alloh belum mewujudkan harapanku itu. Sama sekali.”

Saya menatapnya iba. Lalu tertunduk sedih.

“Padahal,” lanjutnya sambil kini berkaca-kaca, “Ada teman yang aku tahu ibadahnya berantakan. Wajibnya tak utuh. Sunnahnya tak tersentuh. Akhlaknya kacau. Otaknya kotor. Bicaranya bocor. Tapi begitu dia berkata bahwa dia menginginkan sesuatu, hari berikutnya segalanya telah tersaji. Semua yang dia minta didapatkannya. Di mana keadilan Alloh?”

Rasanya saya punya banyak kata-kata untuk menghakiminya. Saya bisa saja mengatakan, “Kamu sombong. Kamu bangga diri dengan ibadahmu. Kamu menganggap hina orang lain. Kamu tertipu oleh kebaikanmu sebagaimana Iblis telah terlena! Jangan heran kalau do’amu tidak diijabah. Kesombonganmu telah menghapus segala kebaikan. Nilai dirimu hanya anai-anai beterbangan. Mungkin kawan yang kau rendahkan jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Alloh karena dia merahasiakan amal sholihnya!”

Saya bisa mengucapkan itu semua. Atau banyak kalimat kebenaran lainnya.

Tapi saya sadar. Ini ujian dalam dekapan ukhuwah. Maka saya memilih sudut pandang lain yang saya harap lebih bermakna baginya daripada sekedar terinsyafkan tapi sekaligus terluka. Saya khawatir, luka akan bertahan jauh lebih lama daripada kesadarannya.

Maka saya katakan padanya, “Pernahkah engkau didatangi pengamen?”
“Maksudmu?”
“Ya, pengamen,” lanjut saya seiring senyum. “Pernah?”
“Iya. Pernah.” Wajahnya serius. Matanya menatap saya lekat- lekat.

“Bayangkan jika pengamennya adalah seorang yang berpenam- pilan seram, bertato, bertindik, dan wajahnya garang mengerikan. Nyanyiannya lebih mirip teriakan yang memekakkan telinga. Suaranya kacau, balau, sengau, parau, sumbang, dan cemprang. Lagunya malah menyakitkan ulu hati, sama sekali tak dapat dinikmati. Apa yang akan kau lakukan?”

“Segera kuberi uang,” jawabnya, “Agar segera berhenti menyanyi dan cepat-cepat pergi.
“Lalu bagaimana jika pengamen itu bersuara emas, mirip sempurna dengan Ebiet G. Ade atau Sam Bimbo yang kau suka, menyanyi dengan sopan dan penampilannya rapi lagi wangi, apa yang kau lakukan?”

“Ku dengarkan, kunikmati hingga akhir lagu,” dia menjawab sambil memejamkan mata, mungkin membayangkan kemerduan yang dicanduinya itu. “Lalu kuminta dia menyanyikan lagu yang lain lagi. Tambah lagi. Dan lagi.”

Saya tertawa.
Dia tertawa.

“Kau mengerti kan?” tanya saya. “Bisa saja Alloh juga berlaku begitu pada kita, para hamba-Nya. Jika ada manusia yang fasik, keji, munkar, banyak dosa, dan dibenci-Nya berdo’a memohon pada-Nya, mungkin akan Dia firmankan pada malaikat: “Cepat berikan apa yang dia minta. Aku muak dengan mendengar ocehannya. Aku benci menyimak suaranya. Aku risi mendengar pintanya!”

“Tapi,” saya melanjutkan sambil memastikan dia mencerna setiap kata, “Bila yang menadahkan tangan adalah hamba yang dicintai-Nya, yang giat beribadah, yang rajin bersedekah, yang menyempurnakan wajib dan menegakkan sunnah; maka mungkin saja Alloh akan berfirman pada malaikat-Nya: ‘Tunggu! Tunda dulu apa yang menjadi hajatnya. Sungguh Aku bahagia bila diminta. Dan biarlah hamba-Ku ini terus meminta, terus berdo’a, terus menghiba. Aku menyukai do’a-do’anya. Aku menyukai kata-kata dan tangis isaknya. Aku menyukai khusyu’ dan tunduknya. Aku menyukai puja dan puji yang dilantunkannya. Aku tak ingin dia menjauh dari-Ku setelah mendapat apa yang dia pinta. Aku mencintainya.”

“Oh ya?” matanya berbinar. “Betul demikiankah yang terjadi padaku?”
“Hm… Pastinya, aku tidak tahu,” jawab saya sambil tersenyum. Dia agak terkejut. Segera saya sambung sambil menepuk pundaknya, “Aku hanya ingin kau berbaik sangka.”

Dan dia tersenyum. Alhamdulillah.

Friday, June 20, 2014

Istimewanya Bahasa Arab


Pantaslah apa yang dikatakan oleh Umar bin al-Khattab r.a, "Pelajarilah bahasa Arab, karena ia adalah kunci agama". Tidaklah kosong kata-kata Ali bin Abi Thalib ra. yang memerintahkan Abul Aswad ad-Dualiy untuk mengajarkan bahasa Arab kepada orang-orang muslim Ajam. Bukanlah pula tanpa hikmah Allah turunkan al-Qur'an dengan bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa yang banyak diserap oleh berbagai bangsa. Sepertiga bahasa Melayu dan bahasa Indonesia adalah serapan dari bahasa Arab. Menjadi aneh bila ada orang yang malah anti bahasa Arab.

Bi iznillah, izinkan saya untuk memperlihatkan keindahan bahasa Arab dari segi perubahan katanya. Contohnya, kata "Islam". Islam secara istilah adalah menyembah Allah dengan mengikuti petunjuk Muhammad shalallahu 'alaihi wasalam, baik dalam berilmu, ibadah, bermuamalah, adab, dan sabagainya.
 
Islam secara bahasa berarti submision yakni penyerahan diri sepenuhnya. Akar kata "Islam" terdiri dari 3 huruf, sin, lam dan mim. Kata "sa - la - ma" menduduki 2 jenis kata yakni Fi'il (kata kerja) dan Isim (kata benda / kata sifat). 
 
Dari sisi kata kerja. Kata "sa-la-ma" adalah fi'il maadhi dengan arti "dia menyerahkan". Perubahannya berdasarkan jenis dan waktu yaitu "salama", "yusalimu", "aslamu". Isim fa'il-nya menjadi "Saalim" yang artinya penyelamat. Dan kata “Muslim” berarti “yang berserah diri” atau “orang yang diselamatkan”. Kata “sa-la-ma” juga merupakan isim yang berarti selamat. Bila ia ditempatkan dalam isim tafdhil maka kata "Islam" berarti "Paling Selamat". 
 
Ketika Islam datang, kata Islam mendapat tambahan makna secara istilah (terminologi). Tambahan itu jelas pada hadits ahad (hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan kurang dari 10 sahabat, beberapa Ulama menolak hujjah dengan hadits ahad, yang lain menerimanya karena maknanya yang penuh hikmah), hadits panjang, yang diriwayatkan oleh Umar bin al-Khattab r.a , dalam Shahih Muslim dan merupakan hadits kedua di kitab Arba'in Nawawi. Dalam hadits ini, Islam berarti seseorang yang bersyahadat yang 2, menegakkan Shalat, menunaikan Zakat, menjalankan puasa dan berangkat haji bila mampu.
 
Contoh penggunaan. Nabi shalallahu 'alaihi wa salam pernah mengirimi surat ke Heraklius dan Kisra dengan kata-kata gabungan dua jenis kata dan dua makna sekaligus. Kalimat itu adalah "Aslamu Taslimu". 
 
Lisan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam memang menakjubkan. Kalimat "Aslamu Taslimu" dapat berarti "Menyerahlah, kau akan selamat", dapat pula berarti "Masuklah Islam, kau akan selamat". Dalam sejarah diriwayatkan, setelah membacanya Kisra merobek-robek surat Nabi itu. Dan Nabi menyumpahi si Kisra akan kehancuran kerajaannya. Do'a itu dikabulkan Allah ta'ala, Persia tamat riwayatnya dimulai dari perang Qadisiya hingga pengejaran Kisra terakhir ke pegunungan di sekitar Azerbajian. 
 
Contoh penggunaan berikutnya adalah ucapan yang diberikan kepada Khalilullah 'alaihi shalatu wa salam oleh dua malaikat utusan. Mereka berkata, "Salama" dan Ibrahim 'alaihi salam menjawab, "Salamun". Kedua kata ini adalah kalimat tidak lengkap bermakna luas, seperti halnya dalam bahasa kata "Nggon" dalam bahasa Jawa. “Nggon” bisa berarti kepunyaan, suatu tempat atau bisa pula berarti  tempat tinggal. Ini tergantung dari susunan kata lain yang melengkapinya.
 
Kata "salama" bila dilengkapi menjadi "Allahu salama 'alaika", yang berarti Allah memberikan selamat bagimu. Ibrahim 'alaihi salam menjawab, "Salamun", kata itu mengandung arti maka selamatlah dia. Maksud kata “Salamun” yaitu, bila Allah memberikan selamat kepada seseorang maka selamatlah dia. Disini kita lihat bahwa sang Bapak para nabi bersikap tawadhu dihadapan Allah lalu dihadapan kedua utusan.
 
Terakhir penggunaan kata “sa-la-ma” sebagai greetings. Bila kita memenangkan perlombaan atau berhasil dalam suatu pekerjaan, terkadang orang akan memberi ucapan "Congratulation, you done your job very well".  Di al-Qur'an Allah azza wa jala memberitakan bahwa ucapan sambutan bagi orang yang masuk surga adalah "Salam". Dan sapaan dalam pertemuan diantara penghuni surga adalam "Salam". (QS. Yunus : 10, al-Ahzab : 33, Maryam : 19)
 
Ucapan salam itu berlaku bagi semua penduduk surga. Baik manusia kepada manusia, manusia kepada Jin, Jin kepada manusia, Jin kepada Jin, malaikat kepada manusia dan sebaliknya, atau malaikat kepada jin dan sebaliknya. 
 
Jadi mengapa ketika memasuki pintu surga, malaikat menyambut penghuni surga dengan kata "Salam". Seperti kita kenal sebelumnya ucapan, "Congratulation, you done your job very well". Kata ini termasuk greetings yang disingkat. Allah subhanahu wata'ala pun memberitahukan kalimat sempurna dari singkatan ini. Yakni di surat ar-Ra'd : 24, "salamun 'alaikum bimaa shabartum" yang berarti "Selamat padamu sekalian, kalian telah berhasil, kalian telah berhasil masuk surga karena kesabaran kalian menghadapi semua ujian dan cobaan di Dunia".
 
Kita masih dalam kata "Salam" belum ke kata-kata lain dalam bahasa Arab. Sungguh agung hikmah yang diberikan oleh Yang maha agung. Dan arti kosa-kata - kosa-kata bahasa Arab hampir semuanya telah disusun oleh Ibnu al-Manzur. Semoga Allah merahmatinya. Dalam lisanul arab, karya monumental Ibnu al-Manzur, setiap kosa kata rata-rata dijelaskan dari segi perubahan kata, arti, istilah, dan penggunaan. Menakjubkan.
 
Sayyid Muhammad Naquib al-Attas, filsuf muslim terkemuka, pernah berkomentar tentang Lisanul Arab. Dia berkata kurang lebih, "No one can do like he did now, we have to respect him". Itulah Ibnu al-Manzhur dan Lisanul Arab-nya yang tidak tertandingi, sekalipun oleh Oxford English Dictionary ataupun oleh KBBI. Ini rahmat luar biasa yang Allah berikan kepada Ibnu al-Manzhur. Bahkan bahasa latin yang digadang-gadang dapat menyaingi Bahasa Arab dari segi akar dan perubahan kata. Pun tidak mampu mengalahkan kekayaan jumlah kosa-kata bahasa Arab.
 
Tidak ada yang bisa membuka brankas dengan sempurna tanpa kunci. Salah satu kunci harta karun dunia-akhirat adalah Bahasa Arab. 
 
Wallahu a'lam bishawab

Source: Suara Islam

Sunday, June 15, 2014

Keharusan Bersabar untuk Sampai ke Tujuan

Penyebab ketidaknyamanan hidup adalah kegagalan mendapatkan keinginan-keinginan duniawi dan di dunia tak ada kenyamanan yang permanen kecuali buat orang arif yang hanya disibukkan oleh ridha kekasihnya dan menghadap perbekalan untuk menghadap kepada-Nya. Karena, jika memperoleh kelapangan ia akan menggunakannya untuk mewujudkan tujuan akhiratnya dan bila menemui kesempitan ia akan bersabar menghadapinya agar mendapatkan pahalanya. Orang arif seperti ini akan ridha pada seluruh apa yang terjadi, dan ia meyakininya sebagai ketetapan Pencipta dan sesuatu yang dikehendaki-Nya, seperti yang dikatakan seorang penyair:
Jika kepuasanmu terletak pada begadangku, Maka selamat tinggal kuucapkan pada kantukku.”
Orang yang memburu ambisi duniawinya akan selalu resah dan gelisah karena kegagalan cita-cita dan jauhnya sesuatu yang diidam-idamkannya.
Bila miskin ia akan bersedih dan jika kaya ia akan gelisah. Penyebabnya adalah ia terkangkangi oleh tujuan hidupnya dan hawa nafsunya.
Alangkah indah pertanyaan al-Hashri, “Apa yang mesti menyedihkanku? Dan apa yang kumiliki?” Ini adalah perkataan seorang arif, karena jika ia merenungkan hakikat kepemilikan, ia akan melihat dirinya sebagai seorang hamba yang digerakkan oleh Majikannya. Karena itu, protesnya tidak berdasar sama sekali dan ambisinya pada hal lain yang tidak dikehendaki Tuhannya adalah sebuah bentuk kelancangan.
Siapakah kita hingga kita berani mengatakan sesuatu terhadap-Nya? Terlebih lagi Dia telah berjanji kepada kita untuk memberi kita pahala yang berlimpah serta keabadian dalam kenikmatan yang tidak bertepi.
Walaupun demikian, untuk sampai ke tujuan seseorang wajib bersabar dan keletihan karena perjalanan akan langsung lenyap saat kota tujuan telah ada di depan mata. Oleh sebab itu, sabar dan sabarlah, wahai kaki para pemula, karena tempat istirahat di tengah jalan telah terlihat! Gembiralah dan gembiralah, wahai orang-orang yang telah tiba di tengah perjalanan, karena tenda-tenda telah dipasang! Bahagialah dan bahagialah, wahai orang-orang arif, karena kalian telah mendapatkan apa yang kalian cita-citakan!
Demi Allah, seluruh beban yang memberatkan telah lenyap dari diri kalian dan pengetahuan kalian sang Pemberi cobaan telah melahirkan kelezatan yang diiringi dengan segarnya air kebahagiaan dan rasa pahit pun telah hilang dari mulut kalian. Khayalkanlah dekatnya masa berdialog langsung dengan Rabb, kesenangan karena ada dihadapan-Nya serta beredarnya cawan-cawan rida di tangan kalian, karena matahari dunia tak lama lagi akan terbenam.



Sunday, May 11, 2014

10 Kriteria Pemimpin Menurut Islam

Setiap manusia yang terlahir dibumi dari yang pertama hingga yang terakhir adalah seorang pemimpin, setidaknya ia adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Bagus tidaknya seorang pemimpin pasti berimbas kepada apa yang dipimpin olehnya. Karena itu menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu. Dalam Islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan tentang pemimpin yang baik diantaranya :
1. Beriman dan Beramal Shaleh
Ini sudah pasti tentunya. Kita harus memilih pemimpin orang yang beriman, bertaqwa, selalu menjalankan perintah Allah dan rasulnya. Karena ini merupakan jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang damai, tentram, dan bahagia dunia maupun akherat. Disamping itu juga harus yang mengamalkan keimanannya itu yaitu dalam bentuk amal soleh.
2. Niat yang Lurus
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”
Karena itu hendaklah menjadi seorang pemimpin hanya karena mencari keridhoan ALLAH saja dan sesungguhnya kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.
3. Laki-Laki
Dalam Al-qur'an surat An nisaa' (4) :34 telah diterangkan bahwa laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”(Hadits Riwayat Al-Bukhari dari Hadits Abdur Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).
4. Tidak Meminta Jabatan
Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,
”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
5. Berpegang pada Hukum Allah
Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.
Allah berfirman,
”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).
6. Memutuskan Perkara Dengan Adil
Rasulullah bersabda,
”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).
7. Menasehati rakyat
Rasulullah bersabda,
”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”
8. Tidak Menerima Hadiah
Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya. Rasulullah bersabda,
” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).
9. Tegas
ini merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu di idam-idamkan oleh rakyatnya. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan Allah, SWT dan rasulnya.
10. Lemah Lembut
Doa Rasullullah :
"Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya"
Selain poin- poin yang ada di atas seorang pemimpin dapat dikatakan baik bila ia memiliki STAF. STAF disini bukanlah staf dari pemimpin, melainkan sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut. STAF yang dimaksud di sini adalah Sidiq(jujur), Tablig(menyampaikan), amanah(dapat dipercaya), fatonah(cerdas)
Sidiq itu berarti jujur.
Bila seorang pemimpin itu jujur maka tidak adalagi KPK karena tidak adalagi korupsi yang terjadi dan jujur itu membawa ketenangan, kitapun diperintahkan jujur walaupun itu menyakitkan.Tablig adalah menyampaikan, menyampaikan disini dapat berupa informasi juga yang lain. Selain menyampaikan seorang pemimpin juga tidak boleh menutup diri saat diperlukan rakyatnya karena Rasulullah bersabda,
”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
Amanah berarti dapat dipercaya. Rasulullah bersabda,
” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim).
Karena itu seorang pemimpin harus ahli sehingga dapat dipercaya.Fatonah ialah cerdas. Seorang pemimpin tidak hanya perlu jujur, dapat dipercaya, dan dapat menyampaikan tetapi juga cerdas. Karena jika seorang pemimpin tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia tidak dapat memajukan apa yang dipimpinnya.
Setelah kita mengetahui sebagian ciri- ciri pemimpin menurut islam. Marilah kita memilih dan membuat diri kita mendekati bahkan jika bisa menjadi seperti ciri- ciri pemimpin diatas karena kita merupakan Mahasiswa dan sebagai penerus bangsa.
Diambil dari https://www.facebook.com/permalink.php?id=324429024317976&story_fbid=448948651866012