Wednesday, February 27, 2019

Risalah Da’awy Teknik UGM



Lembaga dakwah yang ada di Teknik terbagi atas dua, yakni di tingkat Fakultas ada Keluarga Muslim Teknik (KMT) dan di tataran Departemen ada lembaga dakwah yang disebut dengan Sentra Kerohanian Islam (SKI). Idealnya SKI ini berada dibawah naungan KMT, dimana KMT menjadi gerbong terdepan lembaga dakwah yang ada di Teknik. Sinergisasi antara SKI dan KMT dibutuhkan sebagai upaya dalam merapihkan pengelolaan kegiatan dakwah di lingkungan kampus Fakultas Teknik UGM, disamping tentunya perlu ada juga penguatan internal di masing-masing lembaga: tata kelola organisasi dan kaderisasi. Secara struktural tentunya diharapkan bagaimana ada pola komunikasi dan koordinasi yang optimal antara KMT dengan SKI, juga KMT benar-benar hadir sebagai payung bagi SKI. Sedangkan secara fungsional, paling tidak ada tiga poin yang mesti menjadi prioritas yakni: kaderisasi, syiar, dan jaringan. Kader sebagai aset terbesar dalam dakwah kampus selayaknya butuh perhatian yang lebih, sebesar apapun peluang dan aset yang dimiliki oleh dakwah kampus maka tanpa adanya kader sebagai penggerak maka itu adalah kesia-siaan. Sebagaimana pada setiap fase dakwahnya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selalu menomorsatukan aspek manusia sebagai basis utama dakwah. Oleh karena itu, pengelolaan kader dan kaderisasi adalah kunci terpenting akan keberhasilan dahwah kampus. Dimana sinergisitas yang ada mampu menghasilkan kader yang mencapai standar mutu kader yang telah terstandarisasi dan setiap lembaga mampu melakukan alur formal kaderisasi dengan muatan dan materi yang terstandarisasi pula.
Sementara itu syiar merupakan metode utama dalam rekrutmen kader. Dengan adanya syiar Islam diharapkan adanya perbaikan kondisi kampus agar bi’ah Islam semakin kental. Yang terakhir, syiar adalah pintu bagi amal khidamy atau pelayanan. Melalui syiar yang ada, kita juga melakukan fungsi pelayanan bagi muat manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu, dengan adanya sinergisasi syiar mampu melakukan pengelolaan syiar-syiar Islami yang masif dan optimal dengan berlandaskan standar kualifikasi syi’ar. Selain itu, bagaiamana mampu mengelola isu-isu kontemporer strategis sehingga KMT maupun SKI mampu menjadi issue maker di kampus Fakultas Teknik UGM.
Hadirnya KMT maupun SKI sebagai motor dakwah di Fakultas Teknik UGM tentunya tidak diperoleh dengan cara instan, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa diperlukan penguatan internal terlebih dahulu sebelum merambah ke cakupan yang lebih luas yakni masyarakat Fakultas Teknik. Satu tahun mengelola KMT dimulai sejak akhir tahun 2017 tentu bukanlah waktu yang banyak, terlebih dengan pekerjaan rumah yang sulit diselesaikan dari tahun ke tahun dan seolah-olah telah mengakar kuat. Persoalan itu diantaranya: jumlah kader aktif yang terlibat dalam agenda KMT sejak awal kepengurusan yang tidak pernah menyentuh 50 persen, syiar yang belum begitu masif, hubungan dengan lembaga lain yang cenderung normatif tanpa ada output yang jelas yang bisa direalisasikan bersama, peserta yang hadir kajian di Musholla Teknik belum sesuai dengan ekspektasi, terjebak dalam proker oriented, dan puluhan permasalahan lainnya yang menambah tantangan yang dihadapi. Bukan dakwah namanya jika tidak ada tantangannya, kita mungkin sering mendengar perkataan ini. Susah, lelah, waktu tidur yang berkurang atas pengorbanan kita dalam menjalankan setiap amanah di KMT maupun SKI insyaAllah itu semua akan terakumulasi menjadi amal shalih bagi kita semua yang akan menjadi pemberat di Yaumul Hisab kelak.
Grand theme yang dibawa oleh KMT X11 yakni “Mencetak generasi kreatif melalui kaderisasi yang sistematis guna mewujudkan syiar efektif dan persuasif.” Dari tema besar itu, jujur bahwa kita belum berhasil 100% mencapainya. 4 poin besar yang dielaborasikan dalam setahun kepengurusan perlu diimbangi dengan performa yang mampu berlari di atas rata-rata, kewajiban kita banyak akan tetapi waktu yang kita punya terbatas, al wajibat aktsaru minal auqat. Performa yang baik lahir dari proses kaderisasi yang dilakukan sebelumnya kemudian disempurnakan dengan penyamaan persepsi dan memadukan gerak satu sama lain.
Satu hal yang perlu dipahami diawal bahwa penting untuk melakukan levelisasi lembaga terlebih dahulu, penting untuk melakukan riset apa yang sebenarnya menjadi akar permasalahan di lembaga dakwah ini, sehingga dari sana kita bisa menyusun rencana kepengurusan dalam periode selanjutnya. Ini kesalahan mendasar yang selalu terjadi bahkan tidak pernah menjadi perhatian kita. Meskipun memang dengan hadirnya Biro Penelitian dan Pengembangan dapat membantu dalam pengadaan riset, akan tetapi dalam implementasinya masih belum begitu optimal. Biro ini hadir karena pertanyaan yang terus terlontar akan tetapi PH bingung dalam memberikan jawaban, “KMT selama setahun ini sudah melakukan apa? Banyak! Tapi mana datanya?
Diawali dengan menyadari bahwa Biro Litbang ini berfungsi untuk meningkatkan kualitas KMT secara keseluruhan, maka diperlukan pemecahan beban tanggung jawab dalam pelaksanaannya. Pembagian tanggung jawab tentunya dibagi berdasarkan program kerja yang diusung, selain itu juga dilakukan pembagian berdasarkan elemen KMT yang perlu dipantau pencapaian program kerjanya.
Eksekusi program kerja
Pemantauan dilakukan dengan menjadikan Buku DF sebagai acuan utama. Dasar program kerja pada Buku DF menjadi fokus perhatian arah kerja Litbang. Selain memantau, proses pendataan dan perencanaan penelitian pun dilakukan secara beriringan.
Kesinergisan elemen KMT
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dari Litbang sendiri belum mampu berkoordinasi dengan optimal pada tiap elemen yang dipantaunya. Hal ini menjadi hambatan besar tatkala kesesuaian dalam berpikir dan memahami masalah yang ada dimaknai berbeda oleh dua belah pihak. Kegiatan syuro bersama dirasa menjadi solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Dinamika yang terjadi selama mengelola KMT setahun lamanya tentu tidak hanya itu, apa yang ada termasuk juga koordinasi dengan SKI yang akan dibagi dalam beberapa fungsinya.
1.         Kaderisasi
Kader menjadi jantung dari suatu lembaga, ia adalah motor penggerak akan setiap kerja-kerja dakwah yang dijalankan. Di KMT kita mengenal Standar Mutu Kader (SMK) sebagai acuan bagaimana membentuk para kader melalui leadership camp, halaqah lembaga, kajian, maupun sarana lainnya. Kita tentu sudah paham terkait urgensi dari kaderisasi ini, sebab akan menjadi musibah bagi dakwah dan umat Islam adalah jika kita lemah dalam usaha-usaha pembentukan rijaal. Roda dakwah menjadi lambat berputar atau bahkan berhenti sama sekali karena penggerak rodanya kehilangan tenaga.
Dalam salah satu buku yang ditulis oleh Arya Sandhiyudha, eks ketua Salam UI, ia mengatakan bahwa dalam Al-Quran, Allah memberikan taujih tentang bagaimana pengelolaan kader: “Dan berapa banyak para nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.” Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (3: 146-148).
Dalam ayat tersebut, Allah memberikan taujih (arahan) bahwa: pertama, Nabi membutuhkan pengikut dalam jumlah yang besar sebagai barisan mujahid fi sabilillah. Kedua, mereka itu memiliki kualitas yang andal dalam medan perjuangan; tidak mudah lemah (‘adamu al wahn), tidak mudah lesu (‘adamu adh dha’fu), tidak gampang menyerah (‘adamu al istikanah). Ketiga, mereka adalah orang-orang yang menyadari kelemahan dan kesalahan diri. Maka, fokus kerja kaderisasi , yaitu: (1) to raise the quantity (numu al kamiyah), kuantitas (2) to develop the quality (numu an nau’iyah), kualitas (3) to build up the competence (numu al qudrah), kompetensi.
Di dalam buku Dewan Formatur KMT X11 maupun pedoman lain dalam mengelola KMT ini seperti LKD/LGD 1439/1440 H, Standar Mutu Kader (SMK) yang diwariskan dari kepengurusan sebelumnya, dan renstra KMT 2016-2020, sebenarnya telah tertuang pedoman dalam mengelola kader dan tujuannya mau kemana. Akan tetapi memang semuanya itu tidak dapat dicapai dengan baik jika penggeraknya kurang optimal, dan kasus ini selalu terjadi dari tahun ke tahun.
Di Fakultas Teknik ada 12 program studi dan berbagai BSO, dari situ kader KMT biasanya tidak hanya aktif di KMT namun juga di luar, terkadang ketika KMT ingin mengadakan kegiatan untuk mengupgrade kader selalu berbenturan dengan adanya agenda yang diselenggarakan oleh BSO lain maupun KM/HM sehingga karena mesti memilih dimana dia akan hadir. Kesalahan kita adalah ketika tidak memberikan treatment dengan cara lain bagi kader yang berhalangan hadir, padahal treatment secara personal juga tidak masalah, karena acuan kita adalah ketercapaian SMK. Disini data juga punya peran penting, data kader perlu diperbarui secara berkala agar kita tahu sudah sampai mana ketercapaian kader dan bagi kader yang belum tercapai poin-poin di SMK nya bisa dilakukan treatment dengan metode lain.
Dalam melakukan treatment kepada kader

2.         Syiar dan Pelayanan
Dekan Fakultas Teknik, Prof Nizam, ketika memberi sambutan di Grand launching Keluarga Muslim Teknik X12 mengatakan bahwa di Fakultas Teknik ini ada sekitar 8000an mahasiswa dan 6000 diantaranya merupakan mahasiswa muslim. Artinya bahwa KMT maupun SKI punya amanah besar dalam mengakomodir kebutuhan ruhiyah 6000 orang tersebut. Mushola Teknik punya potensi besar dalam memberikan pelayanan optimal kepada jama’ah, tiap pekan ada infaq yang cukup besar dan dapat digunakan untuk mengoptimalkan pelayanan mustek. PH KMT khususnya Muslim Center sebagai eksekutornya perlu untuk proaktif dan sering-sering memberikan masukan kepada takmir, sehingga dari komunikasi itu kita bisa memberikan pelayanan terbaik kepada jama’ah. Bukan hanya tentang pelaksanaan kajian di mustek, namun juga pelayanan lain yang bisa membuat jama’ah nyaman ketika berada di mustek. Di Yogyakarta ada masjid yang terkenal karena pelayanan masjidnya yang totalitas, bahkan dana masjid yang selalu nol karena betul-betul langsung disalurkan untuk kebermanfaatan jama’ah. Kita bisa banyak belajar dari sana.

3.         Jaringan
Jaringan dimana di KMT diwakili oleh Hubungan Antar Lembaga (HAL) dan ketua umumnya langsung berfungsi sebagai perwakilan lembaga dalam hal memperkuat sinergi KMT dengan lembaga internal maupun eksternal Fakultas Teknik dan menjaga hubungan baik dengan alumni KMT. Ketua umum banyak berinteraksi di Forum Dakwah Kampus (FDK) UGM, Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kampus Teknik, Forum Ketua Lembaga Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik (KMFT). Sedangkan HAL banyak berinteraksi dengan alumni terutama ketika hendak melaksanakan reuni KMT tahun 2018 lalu. Dalam hal koordinasi dengan SKI, kita tidak banyak membahas isu-isu penting karena memang kondisinya di hampir setiap SKI perlu ada penguatan secara internal dan mampu menghadirkan kader untuk mengisi pos-pos yang kosong. SKI yang lumayan aktif cuma 3 dari 8 yakni SKI Al-Hannaan, Al-Banna, dan Al-Mustaqim.

4.         Media
Sebuah media, sebuah propaganda tidak akan berkembang, tidak akan sesuai harapan, apabila hanya segelintir orang saja yang mau peduli, tidak hanya aku, kamu, dia saja yang mau berusaha yang mau berkorban dengan rasa malunya, tapi kita semuanya. Sebuah lidi akan mudah patah, namun seikat lidi akan menjadi kuat. Pengemasan postingan sebagus apapun itu kalau kontennya tidak mendukung, maka syiarnya tidak begitu tepat sasaran, kreativitas perlu didukung oleh konten yang sesuai sehingga substansi dari apa yang mau disampaikan tidak hilang. MMED, MC, dan Siasat disini punya peran bersama dalam mengemas syiar yang kreatif dan tepat sasaran. Khususnya Siasat yang harapannya mampu menghadirkan narasi-narasi keislaman sebagai bentuk syiar kepada masyarakat Teknik, tapi realita di lapangan ternyata masih banyak persoalan mendasar yang perlu dibereskan, tentang konsistensi maupun transfer ilmu. Mari kita bersama memajukan syiar KMT ini agar KMT menjadi dikenal dengan syiar keilmuannya, dan tidak hanya dikenal sebelah mata. Mari kita mulai dari diri kita, jangan menunggu orang lain baru kita.

5.         Finansial
Satu harapan kita tentunya dapat mewujudkan kemandirian finansial di KMT yang hadir melalui keahlian serta kreativitas kader dalam berwirausaha. Selama setahun ini, khususnya ketika masuk semester kedua kepengurusan, terasa betul bagaimana Syariah Entrepreneurship (SE) yang pada tahun-tahun sebelumnya selalu dipandang remeh mampu menggerakkan kadernya untuk berwirausaha, tidak hanya jaket KMT tapi juga lewat jaket Muslim Engineering, merchandise, dan kantin kejujuran dengan sistem baru. Meskipun belum mampu mewujudkan kemandirian finansial di KMT, paling tidak harapan baru hadir karena yang menggerakkan bidangnya bukan cuma kabid, tapi kader yang lain pun juga aktif dan selalu memberikan masukan positif. Tinggal ditingkatkan dan konsisten dijalankan.

Catatan penting:
1. Pengelolaan kaderisasi, dibutuhkan kader yang memang cekatan dalam mengelola data dan melakukan pembaruan secara berkala. Transfer ilmu disini juga penting, wabilkhusus adanya pendampingan sejak awal kepengurusan, karena selalu dari tahun ke tahun yang mengisi pos kaderisasi adalah orang-orang baru/mahasiswa tahun kedua.
2. Pada dasarnya dalam menentukan agenda tarqiyah maupun riayah di KMT, dibutuhkan yang namanya data. Penjagaan kader di lembaga bisa dilakukan dari data itu, dengan pendekatan sesuai minat dan bakat masing-masing, apa yang menjadi kebutuhan mereka.
3. Performa yang baik di lembaga timbul karena adanya proses yang telah dilalui sebelumnya. Proses yang dilalui itu bermacam-macam dan itu menjadi sarana pembelajaran & pengalaman, yang dimana semua itu terakumulasi menjadi pemahaman kita dalam mengelola suatu lembaga. Akan tetapi terkadang proses yang dilalui itu lamban karena minimnya sarana transfer ilmu dan pengalaman yang ada. Rembuk muslim teknik bisa menjadi salah satu solusi untuk itu, asal konsisten dan PH coba untuk menanamkan urgensi agenda itu.
4. Syiar media KMT sebenarnya bisa lebih ditingkatkan lagi, secara publikasi sudah luar biasa, akan saja masih kurang dalam manajemen isu, belum begitu peka terhadap isu yang ada di lingkungan sekitarnya. Ini mungkin bisa menjadi perhatian, budayakan diskusi di sekre, tingkatkan budaya literasi bagi kader.

Sunday, January 6, 2019

Tentang Kapal Kita


Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSnKXQRUrNbE5-4q0WU2pAUpCzOWIwmKd6W-ZPmS8dz0_-y-DDhdAFdBA0EhYhm_BQAl5T-5dru3T9tDAwxGG0rHJz7b_ZUHQPjoU25t_a-GmubU574ngnGHk1jeg46-UsUK0CV4kmf3GD/s1600/Vehicles_cruise+ship_458508.jpg

Apa yang menjadikan kita berbeda dengan yang lain adalah karena kita memiliki rasa kepemilikan terhadap kapal ini, tidak peduli posisi apa yang kita perankan di dalam kapal, entah itu nahkoda, masinis, juru mudi, klasi, dll.

Karena kita semua percaya, bahwa masing-masing punya peran penting. Apabila terjadi satu saja kekosongan peran di kapal, maka akan berakibat fatal dan nyawa ratusan bahkan ribuan orang di dalamnya menjadi taruhan.

Sejak lama kita mengenal bahwa kapal ini memiliki mesin yang gigih serta armadanya yang rela berkorban. Tidak mudah untuk bisa bertahan disana, karena hanya rasa capek yang kita rasakan, berkorban waktu, tenaga, dan pikiran.

Bahkan ada kalanya ketika terjadi badai, ketika hendak berhadapan dengan ombak, seluruh armada mesti ekstra berjuang, mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Dan jika kapal ini mengalami gangguan dan kerusakan, tanpa berpikir panjang seluruh armada rela mengeluarkan hartanya untuk memperbaiki kapal padahal penghasilannya tidaklah seberapa. Semua itu dilakukan untuk membuktikan bahwa kapal ini milik bersama, apapun perannya, karena kita sama-sama mengarungi samudera yang luas menuju pemberhentian yang kita impikan.

Armada di kapal lain mungkin bingung melihat kita yang tetap eksis bertahan sampai sejauh ini di tengah badai dan ombak.

Kita percaya bahwa “Inna ma’al ‘usri yusro”. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Ini yang selalu menjadi penghibur jiwa kita. Kita juga yakin, bahwa Allah akan selalu menemani dan menolong kita.

Teruntuk mereka yang tetap tegar di dalam perjuangan ini, Barakallahu fina ajma’in, semoga barakah Allah terlimpah kepada kita semua.

Saturday, January 5, 2019

Pembangunan Infrastruktur Satu-satunya Solusi?


Sumber gambar: https://rmol.co/images/berita/normal/2018/01/418277_10372331012018_infra.jpg

Apakah pembangunan infrastrukur menjadi satu-satunya jalan dalam mencapai kesejahteraan? Apakah infrastrukur memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat atau tidak? Sebelumnya kita harus menjawab jujur jika memang pembangunan infrastrukur akan memberikan pengaruh secara langsung terhadap kesejahteraan rakyat.

Berbicara tentang infrastrukur, kita mesti paham logika awalnya, bahwa infrastrukur memiliki fungsi untuk menghubungkan atau memberi koneksi antara sumber daya, produksi, dan distribusi. Tidak bisa struktur dasar infrastruktur itu dibangun dengan modal komersial, karena ia tidak akan berujung pada level competiveness. Jadi jika ada perkataan misalnya, “Jika itu tidak berhasil maka swastanisasi saja”, ini sudah termasuk dalam agenda komersial. Implikasinya adalah upaya tersebut tidak akan bisa membuat daya saing bangsa membaik.

Paradigma penyediaan barang publik seperti infrastruktur telah bergeser secara mendasar, yang sebelumnya merupakan tanggung jawab negara menjadi tanggung jawab sektor swasta. Infrastruktur yang seharusnya dibiayai dengan pajak yang dibayarkan oleh rakyat  akan diserahkan kepada investor swasta dan melibatkan investasi publik. Infrastruktur akan dijadikan sebagai stretegi untuk memobilisasi dana massa ke dalam pasar keuangan melalui bank-bank investasi dan bursa saham.

Suatu negara pasti akan berhadapan dengan yang namanya pangan, energi, dan finansial (PEF). Maka dalam melakukan pembangunan, tidak bisa hanya terfokus pada infrastruktur pangan atau energi saja. Logikanya seperti ini, terdapat keterkaitan antara krisis pangan, energi dan finansial.  Krisis pangan diawali oleh krisis energi (kenaikan harga minyak dan pengembangan bioenergi) yang memicu kelangkaan pangan dan kenaikan harga pangan. Penurunan harga minyak dan krisis finansial yang diikuti dengan penurunan pertumbuhan ekonomi global telah mendorong kenaikan harga pangan, sehingga memunculkan fenomena baru yaitu krisis harga pangan. Krisis pangan dan finansial secara simultan berdampak terhadap ketahanan pangan, ketahanan politik, dan stabilitas finansial/ekonomi nasional dan kawasan. Dalam konteks krisis saat ini, sedikitnya dibutuhkan tiga elemen program aksi yang bersifat komplemen, yaitu promosi pertumbuhan pertanian pro-kemiskinan, penurunan volatilitas harga pangan, dan perluasan jaring pengaman sosial bagi kelompok miskin (Von Braun, 2008).

Sehingga jika ditanya apakah pembangunan infrastrukur (baca: pembangunan jalan tol, kereta cepat, pembangkit listrik, dll) menjadi satu-satunya cara dalam meningkatkan kesejahteraan tentu tidak. Sebab itu belum menjamin hadirnya kondisi finansial yang membaik dan akan menjadi kompleks lagi jika memaksakan pembangunan (yang berarti pengeluaran) tanpa melihat potensi pemasukan negara. Dan apabila cara pemerintah dalam memasifkan pembangunan adalah dengan menghadirkan investor, maka timbul persoalan baru, siapa yang mengelola infrastruktur itu dan pemasukannya akan mengalir kemana?

Referensi:
2.       Rusatra, I Wayan dkk. 2010. Krisis Global Pangan-Energi-Finansial: Dampak dan Respon Kebijakan Ketahanan Pangan dan Pengentasan Kemiskinan. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian: Bogor.

Friday, January 4, 2019

Pembangunan


Sumber gambar: https://disnaker.makassar.go.id/wp-content/uploads/2017/11/343899_DSC1580.jpg

Tentang Sulsel dan pembangunannya, putra daerah mana yang tidak bangga melihat daerahnya mengalami perkembangan yang pesat. Perekonomian Sulsel kuartal kedua 2018 tumbuh 7,38% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Nasional 5,27% (yoy). Kondisi kesejahteraan di Sulsel juga membaik. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel per Februari 2018 tercatat 5,39%, lebih rendah dibandingkan periode Agustus 2017 sebesar 5,61%. Jumlah penduduk miskin di Sulsel pada Maret 2018 sebesar 792,63 ribu jiwa, jumlah ini mengalami penurunan sebesar 20,44 ribu jiwa jika dibandingkan dengan kondisi pada Maret 2017. Ketimpangan Sulsel juga membaik pada Maret 2018, dengan gini ratio sebesar 0,397 dibandingkan September 2017 sebesar 0,429.

Di sektor infrastruktur, tercatat ada 17 mega proyek yang pada tahun 2018 kini tengah digarap beberapa diantaranya bahkan dipercepat pengerjaannya. Warga Sulsel tentu sudah menanti-nanti kapan stadion Barombong resmi beroperasi dan kelak menjadi homebase PSM Makassar dalam mengikuti kompetisi sepakbola tingkat nasional bahkan internasional. Setelah bulan juli lalu PLTB terbesar di Indonesia yang berada di Kab. Sidrap secara resmi beroperasi, akhir tahun ini juga di Kab. Jeneponto akan beroperasi PLTB terbesar kedua di Indonesia. Sulsel yang selama ini dikenal sebagai sentra pangan nasional tentu membutuhkan pasokan air yang tidak sedikit, pembangunan tiga bendungan yakni Bendungan Paselloreng di Kabupaten Wajo, Karalloe di Kabupaten Gowa, dan bendungan Pamukkulu di Kabupaten Takalar adalah salah satu upaya untuk meningkatkan tampungan air sebesar 261,23 juta meter kubik (m3), tujuannya untuk meningkatkan suplai air irigasi di Sulsel. Proyek lain ada pembangunan rel kereta api trans Sulawesi sepanjang 2000 km yang menghubungkan Makassar-Manado, pembangunan jalan tol layang Pettarani Makassar, pembangunan jembatan layang Maros-Bone, pembangunan Center Point of Indonesia dimana disana ada Masjid 99 Kubah yang akan menjadi ikon baru, ada pembangunan Middle Ring Road Makassar.

Pembangunan identik dengan perubahan, Adanya pembangunan meniscayakan adanya perubahan sosial. Karena tujuan dari pembangunan itu sendiri adalah mengarahkan perubahan sosial ke arah yang lebih baik atau bersifat progresif. Menurut Koentjaraningrat (1997), pembangunan adalah upaya yang direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintah, badan-badan atau lembaga internasional, nasional atau lokal yang terwujud dalam bentuk-bentuk kebijaksanaan, program, atau proyek yang secara terencana mengubah cara-cara hidup atau budaya dari suatu masyarakat sehingga mereka dapat hidup lebih baik atau lebih sejahtera dari pada sebelum adanya pembangunan tersebut.

Terkadang di tengah pesatnya pembangunan, ada satu hal yang mungkin terlewatkan, bahwa membangun SDM tidak jauh kalah penting. Ambil contoh kembali di Sulsel, banyak tantangan pendidikan yang dihadapi disana terutama dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas ke depannya. Mantan Rektor Universitas Negeri Makassar dan Pakar Pendidikan Sulsel, Prof. Dr. Arismunandar (2016) memperlihatkan rendahnya kualitas guru ini berdasarkan nilai Uji Kompetensi Guru 2015, yaitu rata-rata guru Sulsel nilainya hanya 52,55 dari angka maksimal 100. Masih banyak guru yang mengajar di sekolah hanya tamatan Sekolah Pendidikan Guru (SPG), yang berkualifikasi S1 juga kadang mengajar pada bidang yang lain yang tidak sesuai dengan kompetensinya, sehingga mempengaruhi kualitas siswa.

Pada tahun 1961, David McClelland menulis buku terkenal yang berjudul Achieving Society. Di buku itu McClelland mengingatkan, suatu bangsa akan jatuh bila mengandalkan pemimpin-pemimpinya (baca: menteri atau CEO) berdasarkan motif-motif afiliasi (baca: persekongkolan, kekerabatan, afiliasi politik) atau motif kekuasan (bagi-bagi kuasa). Sebagai gantinya, bangsa-bangsa harus mulai berorientasi pada achievement (hasil/kinerja). Dan pastinya achievement akan terwujud jika orang yang berperan dibalik itu juga unggul.

Rhenald Kasali dalam bukunya Let’s Change (2017) mengatakan tak dapat disangkal bahwa negeri ini masih perlu banyak tokoh perubahan. Namun, perubahan selalu datang bersama sahabat-sahabatnya, yaitu resistensi, penyangkalan, dan kemarahan. Hasil yang dicapai para achiever selalu ditertawakan dan mereka diadili, dipersalahkan secara hukum, seperti yang dialami Nicolaus Copernicus di abad ke-16, Giordano Bruno (1600), dan Galileo Galilei (1633) saat memperjuangkan kebenaran. Sebagian besar change maker diadili oleh bangsanya, dipenjarakan, dirajam, dan dibunuh, seperti Marthin Luther King, Abraham Lincoln, Gandhi, dan Munir. Yang lagi hangat beberapa tahun ini adalah mobil listrik buatan Ricky Elson yang tidak diakui di negeri sendiri padahal beliau susah payah dibujuk oleh pak Dahlan Iskan agar kembali ke Indonesia untuk mengembangkan mobil listrik, di saat beliau mencapai puncak karirnya sebagai kepala divisi penelitian dan pengembangan teknologi permanen magnet motor dan generator NIDEC Corporation, Kyoto, Minamiku-kuzetonoshiro cho388, Jepang.

Inilah saatnya bagi para politisi Indonesia untuk belajar menerima change maker dan achiever untuk meneruskan karya-karyanya dengan berhenti mengumpat dan mengadili apalagi mengedepankan motif-motif afiliasi dan kekuasaan. Manusia ingin perubahan namun ia sendiri tidak mau diubah, inilah mirisnya kita. Harapan akan perubahan hidup yang lebih baik harus dimulai dari diri masing-masing, buang jauh-jauh ego. Pesatnya pembangunan harus beriringan dengan pembangunan Sumber Daya Manusia itu sendiri.

Indonesia butuh life skills, yakni keterampilan melihat multiperspektif untuk menjaga persatuan dalam keberagaman, assertiveness untuk buang sifat agresif, dan asal omong dalam berdemokrasi. Indonesia butuh mental yang tumbuh, jiwa positif memulai cara-cara baru, keterampilan berpikir kritis melawan mitos, dan metode pengajaran yang menyemangati, bukan budaya menghukum dan bikin bingung.


Referensi:


Kasali, Rhenald, “Let’s Change!”, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2017.

https://www.jpnn.com/news/kurang-dihargai-di-indonesia-pembuat-mobil-listrik-pilih-pulang-ke-jepang?page=5, diakses pada 4 Januari 2019

https://makassar.terkini.id/kualitas-guru-masih-jadi-tantangan-pendidikan-sulsel/, diakses pada 4 Januari 2019


Tuesday, November 6, 2018

Politik Kotor



Banyak orang  menilai politik di Indonesia ini amburadul, hampir setiap bulan ada saja kasus korupsi yang dilakukan oleh wakil rakyat. Dari hilir ke hulu, mulai dari tingkat kabupaten hingga pusat. Dalam beberapa survei DPR, DPD, MPR, dan partai politik selalu menjadi lembaga negara yang berada di urutan terbawah atas tingkat kepercayaan masyarakat terhadapnya. Survei Charta Politika (2018) menyatakan DPR dipercaya sebanyak 49,5 persen dan tidak dipercaya sebesar 42,5 persen oleh responden, DPD dipercaya 42,0 persen dan tidak dipercaya 39,3 persen, partai politik dipercaya 39,0 persen dan tidak dipercaya 47,17 persen. Survei lain yang dilakukan oleh Alvara Research Center (2018) menyatakan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja DPR mencapai 51,8 persen, kinerja MPR mencapai 57,0 persen, dan Partai politik mencapai 64,3 persen.

Kondisi perpolitikan di Indonesia saat ini mungkin ibarat sungai yang tercemari, kotor dan tak terawat. Orang selalu nyinyir tentangnya, orang jijik untuk datang kesana, bahkan sebisa mungkin jaga jarak dengannya. Namun sungai tetaplah sungai, menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan jika diperlakukan dengan bijak. Saat ini sungainya mungkin kotor, namun bukan berarti sungai itu tidak akan bersih, justru kehadiran orang-orang yang punya itikad baik dan berani mengambil tindakanlah yang dinantikan.

Saya mengutip pernyataan Prof. Syarif Hidayat (2018) peneliti bidang politik LIPI yang menggarisbawahi tentang kinerja partai politik yang masih buruk. Menurutnya, kinerja partai politik yang demikian terjadi karena partai politik gagal menjalankan fungsi partai politik yang seharusnya melekat kepadanya, baik itu fungsi rekrutmen politik yang di dalamnya terdapat mekanisme kaderisasi partai, komunikasi politik, sosialisasi dan pendidikan politik, serta pengatur konflik. Temuan kinerja parpol yang demikian sekaligus mengonfirmasi bahwa demokrasi di Indonesia masih sebatas pada demokrasi simbolik atau demokrasi prosedural yang menghadirkan lembaga demokrasi secara fisik, namun masih lemah secara fungsi. Problematika partai politik yang demikian ditengarai disebabkan oleh belum adanya demokrasi internal partai yang ditandai dengan sentralisasi partai dan oligarki dalam partai.

Salah satu cara instan yang digunakan partai politik dalam mendongkrak suaranya dan juga sebagai upaya agar lolos parliamentary threshold 4 persen adalah dengan merekrut public figure atau artis untuk menjadi calon anggota legislatif, pemilu 2019 tahun depan akan ada 82 orang artis yang maju. Dari 14 partai politik peserta pemilu 2019, 11 diantaranya mengajukan artis sebagai calon anggota legislatifnya. Partai Nasdem setidaknya mencalonkan 28 orang artis, PDIP 17 orang, PAN 6 orang, PKB 7 orang, Partai Berkarya 5 orang, Golkar 4 orang, Demokrat 4 orang, Perindo 4 orang, Gerindra 5 orang, PPP 1 orang, serta PSI 1 orang. Saya tidak menganggap remeh kemampuan artis dalam ranah legislatif, karena bisa jadi beberapa orang diantaranya juga memiliki kapasitas untuk menjadi wakil rakyat di parlemen. Akan tetapi yang justru ingin saya tekankan adalah jangan sampai popularitas calon menjadi faktor tunggal masyarakat dalam menentukan pilihannya tanpa menilai poin intelektual serta integritas calon, berharap masyarakat saat ini mampu lebih cerdas dalam menentukan pilihannya.

Selain karena tuntutan memenuhi parliamentary threshold 4 persen agar bisa lolos ke parlemen, faktor lain yang tidak kalah heboh adalah adanya perubahan cara perhitungan peroleh kursi dewan. Perhitungan sebelumnya yang menggunakan Kuota Hare diubah menjadi Metode Sainte Lague Murni.

Ilustrasi:
Misal dalam Pemilu Legislatif 2019 di Dapil X perolehan suara:
1. Partai A: 220.000
2. Partai B: 100.000
3. Partai C: 30.000
4. Partai D: 25.000
5. Partai E: 3.000

Hitungan dengan Metode Kuota Hare (Pemilu 2014)
Misal jatah 4 kursi dengan harga 1 kursi 200.000 suara. Jadi Perolehan Kursi:
1 KURSI PERTAMA : UNTUK Partai 1
1. Partai A: 1 kursi sisa 20.000
2. Partai B: 0 kursi sisa 100.000
3. Partai C: 0 kursi sisa 30.000
4. Partai D: 0 kursi sisa 25.000
5. Partai E: 0 kursi sisa 3.000
Karena masih ada sisa 3 kursi, sisa kursi diberikan kepada perolehan terbanyak yaitu partai B, partai C, Partai D. Sehingga hasil akhirnya: Partai A, B, C dan D masing-masing satu kursi.

Hitungan dengan Metode Sainte Lague Murni:
1. Partai A meraih 220.000 suara.
2. Partai B meraih 100.000 suara.
3. Partai C meraih 30.000 suara.
4. Partai D meraih 25.000 suara.
5. Partai E 3.000 suara.

*Kursi Pertama*
Maka kursi pertama didapat dengan pembagian 1.
1. Partai A 220.000/1 = 220.000
2. Partai B 100.000/1 = 100.000
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000
Jadi kursi pertama adalah milik partai A dengan 220.000 suara.

*Kursi Kedua*
Untuk kursi ke-2, dikarenakan A tadi sudah menang di pembagian 1. Maka berikutnya, A akan dibagi 3, sedangkan yang lain masih dibagi 1. Perhitungan kursi ke-2 adalah:
1. Partai A 220.000/3 = 73.333
2. Partai B 100.000/1 = 100.000
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000
Maka kursi ke-2 adalah milik partai B dengan 100.000 suara.

*Kursi Ketiga*
Sekarang kursi ke-3, Partai A dan B telah mendapatkan kursi dengan pembagian 1, maka mereka tetap dengan pembagian 3, sedangkan suara partai lain masih dengan pembagian 1. Maka perhitungan kursi ke 3 adalah:
1. Partai A 220.000/3 = 73.333
2. Partai B 100.000/3 = 33.333
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000
Maka di sini kursi ke-3 milik partai A lagi dengan 73.333 suara.

*Kursi Keempat*
Perhitungan suara untuk kursi ke 4, A dan B telah mendapat kursi dengan pembagian 3, maka mereka akan masuk ke pembagian 5.
1. Partai A 220.000/5 = 44.000
2. Partai B 100.000/3 = 33.333
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000 Kursi ke-4, jatuh di Partai A lagi.

Hasil Akhir
1. Partai A = 3 kursi
2. Partai B = 1 kursi
3. Partai C = 0 kursi
4. Partai D = 0 kursi
5. Partai E = 0 kursi

Ya, kebijakan baru sekarang menjadi alasan kenapa partai politik begitu banyak mengusung public figure sebagai calon anggota legislatifnya. Ada 11 dari 14 partai yang mengusung public figure, artinya ada 3 partai yang tidak mengusung. Semoga saja pemilu 2019 menjadi momentum perubahan dan perbaikan bagi Indonesia, baik pejabat maupun masyarakatnya. Masyarakat jangan mudah terpengaruh oleh popularitas calon, tapi lihat track record dan gagasan yang dibawa. Karena membersihkan sungai hanya bisa dilakukan jika kita semua tergerak untuk membersihkannya, tidak sekedar menggantungkan orang lain untuk mengerjakan tapi kita sendiri tidak berusaha untuk melakukan tindakan, kalau belum bisa membersihkan minimal kita tidak menjadi bagian dalam mengotorinya.

Referensi: