Wednesday, December 31, 2025

PIPA YANG MENGALIRKAN MAKNA


Tahun 2025, peta perjalanan saya adalah jaringan pipa imajiner yang membentang di 20 provinsi yang tersebar di 44 kota/kabupaten dari Aceh sampai Baubau. Di setiap sambungannya, bukan fitting atau flange yang saya temui, melainkan 817 jiwa yang mengajarkan bahwa sistem perpipaan terhebat adalah jaringan kemanusiaan itu sendiri.


Perjalanan yang menghadirkan makna kehidupan bagi saya, karena akhirnya saya memahami bahwa sistem perpipaan bukan hanya tentang mengalirkan air dari titik A ke B. Itu tentang mengalirkan penghargaan dari yang tak terlihat ke yang terlihat. Mengalirkan kesempatan kedua bagi yang pernah jatuh. Mengalirkan pengakuan bagi yang lama tak diakui. Mengalirkan kebahagiaan bagi mereka yang tak tersentuh.


Dan dalam sistem besar bernama Indonesia, setiap kita, dari tukang pipa hingga direktur, adalah fitting yang menghubungkan aliran kemajuan ini.


Air menemukan jalannya dengan mengalir ke tempat terendah, kebijaksanaan menemukan jalannya dengan mendengarkan suara tersunyi. Terkadang cara terbaik untuk memperoleh pelajaran hidup bukan dari mendengarkan suara-suara bising yang ada di perkotaan, tapi dari suara hening yang ada di pelosok desa.


Mungkin itulah inti perjalanan di tahun 2025 ini: saya datang dengan niat untuk berbagi ilmu teknis, tetapi justru sayalah yang paling banyak mendapat pelajaran arti humanis. Dan di balik setiap sambungan pipa yang kami periksa bersama, selalu terbentang sambungan antar manusia yang menunggu untuk dipahami dan diperhatikan.


Seperti kata seorang tokoh di Lombok sambil memperlihatkan jaringan distribusi air bersih yang baru selesai: "Lihat, Mas. Ini bukan cuma pipa. Ini adalah harapan yang dialirkan dari rumah ke rumah."


Juga kata seorang tukang di Ciamis yang bangga mendapatkan sertifikat kompetensi: ”Terima kasih Pak telah menghargai profesi kami sebagai tukang.”


Dan kita semua, dalam profesi apapun, adalah tukang pipa bagi harapan itu. Selamat menggali & mengalirkan makna.

Saturday, May 20, 2023

Berjanjilah

Berjanjilah untuk konsisten di jalan dakwah, seberat apapun kondisinya.

Berjanjilah untuk selalu memenangkan Allah dalam segala urusan.

Berjanjilah untuk senantiasa menebarkan kebaikan dimanapun dan kapanpun.

Berjanjilah untuk berlemah lembut kepada mereka yang lemah dan bertindak tegas kepada setiap kebathilan. 

Berjanjilah untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. 

Berjanjilah untuk jangan pernah membenci orang lain, tidak peduli sebanyak dan sebesar apa kesalahan mereka kepadamu.

Berjanjilah untuk mendidik generasi muda agar kelak menjadi sosok pembeda di zamannya. 

Semoga janji-janji ini menjadi bentuk komitmen dan cinta kita kepada jalan dakwah ini, seperti kata Ust. Cahyadi Takariawan bahwa cinta kita pada dakwah inilah yang akhirnya membuat energi kita selalu besar, selalu ada, dan terus ada untuk memperjuangkan dakwah ini.

Jakarta, 25 Januari 2023

Saturday, October 8, 2022

Visi Membangun Bangsa

Tadabbur QS. Al-Baqarah:126

Salah satu doa Nabi Ibrahim yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an adalah ketika Ia meminta secara spesifik agar negerinya (Mekah) menjadi negara yang aman dan sejahtera. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri (Mekah) ini, negeri yang aman dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya…”

Ini adalah satu ayat dari cerita tentang Nabi Ibrahim yang dituliskan di QS. Al-Baqarah:126 saat beliau hendak membangun Baitullah (Ka’bah) dan yang menarik dari ayat ini adalah karena Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa secara spesifik untuk suatu negeri, doanya adalah agar negerinya diberikan keamanan dan kesejahteraan bagi penduduknya (berupa buah-buahan). Ketika kita mendengarkan doa nabi seperti ini, ini adalah pertemuan antara daulah (geografi), populasi, dan output (berupa kesejahteraan dan keamanan). Disini kita menjadi belajar satu hal, bahwa Nabi Ibrahim secara spesifik menyebutkan kata negeri (hadza baladan) untuk mengacu kepada geografi atau ruang tertentu, dan penduduk (ahlahu) yang mengacu kepada populasi. 

Doa ini menjadikan keamanan dan kesejahteraan dalam suatu negara sebagai fondasi yang subur bagi tumbuhnya agama. Agama akan tumbuh jauh lebih subur pada suatu negara yang dipenuhi dengan rasa aman dan kesejahteraan, karena dua faktor ini adalah kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisik dan psikologis, sehingga jika kedua dasar ini terpenuhi maka Ia punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang bersifat spiritual. 

Kadang-kadang kita dihadapkan oleh suatu paradoks yang tidak perlu, bahwa menjadi religius itu sering dipisahkan dengan semangat nasionalisme. Padahal, salah satu bagian dari ajaran agama adalah pelajaran cinta kepada tanah air, bahkan Nabi Ibrahim berdoa untuk kebaikan negerinya. Ayat ini seharusnya menjadi visi kita dalam membangun bangsa bersama, jadikan Al-Qur’an sebagai sumber pencarian ilham, sebagai sumber inspirasi untuk memperluas cakrawala pengetahuan dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab kita. Semoga menjadi refleksi bagi kita semua.

Tuesday, October 4, 2022

Ilmu dan Akhlak




Bagi saya, salah satu barometer kemajuan suatu daerah bisa dilihat dari aktivitas di Perpustakaan Daerah atau Provinsi dan Masjidnya. Hari ini, kalau kita berkunjung ke daerah-daerah, tidak sedikit kita akan menyaksikan wajah perpustakaan yang gelap, sepi, dan seakan tanpa pengelolaan. Perpustakaan menjadi museum buku, hanya sebagai tempat penyimpanan buku tanpa ada kegiatan yang produktif disana. Belum lagi Masjid-masjid yang sepi oleh agenda-agenda produktif, seakan-akan Masjid hanya sebagai tempat untuk shalat saja, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan contoh untuk menjadikan Masjid sebagai pusat peradaban, beliau mengatur negara dari Masjid, agenda ta’lim juga dilaksanakan di Masjid, dan aktivitas sosial lain juga sering kali dilaksanakan di Masjid.


Kunci dari perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik ada pada tingkat literasi (ilmu) dan karakter (akhlak) nya. Dan jika melalui instrumen negara, Kedua ini bisa ditumbuh kembangkan dengan menghidupkan Perpustakaan publik dan Masjid (tempat ibadah), jadikan kedua tempat tersebut menjadi ruang yang inklusif dan menarik bagi semua kalangan. Disini, kehadiran negara akan membantu mengakselerasi masyarakatnya agar bisa lebih dekat kepada ilmu dan iman, sebab negara punya resources yang tidak sebanding jika dilakukan oleh individu.


Wawasan yang luas membantu kita untuk bisa melihat segala persoalan dari berbagai sudut pandang (science & dien), dari situ kita bisa menimbang-nimbang apakah itu benar atau salah, sehingga pada akhirnya kita bisa memberikan keputusan sesuai dengan apa yang kita pahami dan yakini berdasarkan landasan yang jelas. Persoalan saat ini adalah ketidakpahaman sering kali menjadikan masyarakat kurang bijak dalam bertindak dan terkesan gampang “dibodoh-bodohi”. 


Masyarakat yang beradab, kalau kata Syed Naquib Al-Attas dimaknai sebagai masyarakat yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang memahami dan menunaikan keadilan, kejujuran dan kebaikan lainnya terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya. Jika nilai-nilai ini berada di tengah-tengah masyarakat, saya yakin tingkat kriminal dan permasalahan-permasalahan sosial lainnya akan berkurang hingga hilang.


Bagi saya, pembangunan tidak melulu tentang bangunan fisik saja atau sesuatu yang tangible, manusia yang hidup di dalamnya-lah yang menjadi aset yang paling berharga yang perlu untuk dirawat dan ditumbuhkan, investasi terbesar harusnya kepada manusia itu sendiri.

Sunday, October 2, 2022

Visi Peradaban Islam



Apa yang terbayang oleh kita jika membicarakan tentang peradaban? Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi menjelaskan dalam bukunya al-Sunnah masdaran lil-ma’rifah wa al-hadarah (Sunnah sebagai Sumber Pengetahuan dan Peradaban) bahwa peradaban adalah sebuah fenomena yang luhur dari akumulusi karya manusia di bidang kesehatan, kesenian, sastra, materi, sains, sosial, politik, ekonomi, dan seluruh bidang yang lain. 

Jadi kalau kita bicara tentang al-hadharat al-islamiyah (peradaban Islam) kita tidak hanya berbicara tentang masjid dan membangun masjid, tidak hanya berbicara tentang infaq dan distribusi zakat, tidak hanya berbicara tentang doa dan shalat lima waktu, tapi kita bicara tentang bagaimana innasholata tanha anil fahsyai wal munkar, bahwa shalat (ibadah) mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. kita berbicara juga konsep yang namanya yunfiquna amwalahum fi sabilillah, menafkahkan harta di jalan Allah. Jadi level dari peradaban Islam itu adalah level yang tinggi, bukan hanya sekedar teori tapi Islam itu diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Kalau didetailkan, paling tidak ada 3 poin visi peradaban Islam (core values):

1. Ibadah (God-conscious), ini adalah dasar daripada kehidupan kita sebagai muslim, yang membedakan cara pandang muslim dengan non-muslim. Wa ma khalaqtul-jinna wal-insa illa liya'budun, tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Apa yang kita pikirkan tentang ibadah? Muhammad Elvandi (2019) mengatakan bahwa diantara pertanyaan yang ia lontarkan kepada audience dalam beberapa kesempatan, mayoritas image umat Islam tentang ibadah adalah terkait dengan rukun Islam. Bagaimana dengan menanam pohon, kebersihan, mengajarkan anak untuk disiplin, mengantri, manajemen, on time, dan lain sebagainya. Itu juga termasuk ibadah, sebab coba bayangkan andaikan ibadah itu hanya shalat 5 waktu, sekali shalat kira-kira sekitar 15 menit sehingga diakumulasi menjadi 75 menit dalam sehari, kemudian misal ditambah lagi dengan membaca Al-Qur’an kira-kira 60 menit dalam sehari. Maka jika ditotal, dalam sehari kita beribadah sekitar 2 jam 15 menit, lantas 21 jam 45 menit sisanya kita melakukan apa? Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala dengan tegas mengatakan wa ma khalaqtul-jinna wal-insa illa liya'budun, tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Maka tidak boleh ada waktu dari bangun tidur hingga tidur kembali, kecuali kita lakukan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Artinya adalah seluruh hidup kita adalah untuk beribadah, ini adalah core value dari seorang muslim. Core value inilah yang membuat umat Islam, setiap gerakannya itu adalah God-oriented, jadi nilai dasar dari segala aktivitas manusia adalah God-conscious.

2. Khalifah (Excellence-drive), Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan wa idz qola robbuka lil-mala ikati inni ja’ilun fil-ardhi kholifah, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Artinya Allah Subhanahu wa ta’ala menghadirkan manusia ke muka bumi ini agar manusia itu bisa menjadi pemimpin, khalifah dalam Al-Qur’an artinya leadership/influencer/changing maker/guru/pembina. Malaikat kemudian khawatir dan bertanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, qolu a taj’alu fiha may yufsidu fiha wa yasfikud-dima’ wa nahnu nusabbihu bihamdika qa nuqaddisu lak, Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Allah Subhanahu wa ta’ala menjawab, qola inni a’lamu ma la ta’lamun, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Bahwa ternyata Allah Subhanahu wa ta’ala telah membekali manusia dengan akal sehat, pikiran, jiwa, dan ruh yang berbeda dengan makhluk mirip manusia sebelum nabi Adam A.S yang telah punah diantaranya adalah Pithecanthropus erectus. Manusia merupakan makhluk baru yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala setelah kepunahan makhluk sebelumnya, Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim, sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik.

3. Ar-Rahmah (Contribution-oriented), wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin, rahmat bisa diartikan sebagai cinta, kasih sayang, kontribusi, kebaikan, dan manfaat. Untuk siapa kontribusi dan manfaat kita berikan? Lil alamin, kepada seluruh alam. Umar bin Khattab, dahulu bahkan pernah mengatakan bahwa jika ada keledai yang jatuh terperosok di Kufah karena rusaknya jalan, maka aku akan diminta pertanggungjawaban tentangnya di hari kiamat kelak. Beliau justru mengambil perspektif tidak hanya menghadirkan kebaikan kepada manusia saja tapi juga untuk hewan, sedangkan kita sekarang bagaimana? Lubang di jalan bisa bertahan berbulan-bulan, menebang pohon tanpa memperhatikan aspek lingkungan, berbuat semaunya tanpa ada etika.



Wednesday, September 28, 2022

Berjuang Semampumu

Apa yang dimaksud dengan مااستطعتم  (kesanggupanmu/semampumu)? Berjuang semampumu, apa batasannya?

Syaikh Abdullah Al Azzam memberikan contoh dengan meminta muridnya berlari mengelilingi lapangan, para murid berlari sampai kemudian satu per satu dari murid tersebut menepi karena merasa capek, hingga Syaikh Abdullah Al Azzam masuk ke lintasan lari dan ikut berlari, Ia terus berlari walau kondisi sudah tua dan pucat tapi tidak ada tanda-tanda Ia ingin berhenti, hingga akhirnya Ia jatuh pingsan. Para murid mendatangi dan menolong Syaikh Abdullah Al Azzam, hingga setelah siuman Ia menyampaikan bahwa inilah yang dimaksud dengan mastatho'tum, engkau berusaha semaksimal mungkin hingga Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengistirahatkan.

Jangan mudah mengeluh dan berputus asa.

Sunday, September 25, 2022

Realitas Dunia

 


Di usia yang ke 24 tahun ini, melihat dunia sekarang dengan problematikanya: pergaulan dan gaya hidup anak, remaja, hingga orang dewasa yang semakin bebas dan seakan tanpa batasan, sekat interaksi menjadi kabur, yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan, tingkat kriminal semakin tinggi, isu LGBT yang mengglobal, syariat dan budaya ketimuran semakin dijauhkan. Apa yang nampak saat ini janganlah dijadikan sebagai alasan untuk kita berputus asa, namun perlu disikapi dengan pikiran yang lurus dan hati yang bersih. Anggap itu sebagai dinamika dan tantangan tersendiri dalam mengelola diri, keluarga, dan masyarakat. Sebab para Nabi dan Rasul pun ketika menyampaikan risalah-Nya kepada umatnya saat itu menghadapi banyak tantangan dan penolakan yang mana jauh lebih buruk dan kompleks dibanding sekarang.


Para pemuda yang hidup di zaman ini, untuk memahami realitas dunia tidak sesederhana memberikan kesimpulan diagnosa “karena kurang iman”, tidak salah, namun perlu mekanisme yang lebih detail dalam memahami persoalan tersebut, sebab kemajuan umat tidak dibangun atas dasar tesis yang sederhana. Sejak dulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan keteladanan bagaimana Ia menyikapi berbagai persoalan, ambil contoh misalnya ketika persiapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat hendak hijrah ke Madinah, apa yang dilakukan oleh beliau? Yang dilakukan adalah melakukan kalkulasi sosial, melakukan riset secara detail, menganalisa geopolitik kota Madinah pada waktu itu. Ia dan para sahabat mencari tahu tentang jumlah masyarakat yang mampu baca-tulis, komposisi suku antara Aus, Khazraj, dan Yahudi, dominasi ekonomi, tingkat kemandirian pangan pusat pertemuan sosial, tokoh-tokoh yang pro dan kontra terhadap Islam, hingga cuaca dan kuantitas airnya. Mengapa beliau melakukan ini? Sebab semua solusi keumatan akan bergantung dari data tersebut, inilah yang dinamakan dengan Fiqhul Waqi (fikih realitas).


Apakah kita menjadi menyerah begitu saja atas realitas hidup ini? Tentu saja tidak. Kekhawatiran tentu ada, terlebih jika suatu saat nanti kita diberikan tanggungjawab untuk mengelola keluarga dan anak-anak, apa yang harus kita lakukan? Proses pembentukan ini dimulai dari rumah (keluarga) dengan dilandasi niat yang baik, lebih dari itu kalau kata Ustadz Fauzil Adhim juga perlu disertai dengan keikhlasan dan iltizam (komitmen) bersama, dimana semua proses ini tentu harus dibekali dengan ilmu. Ilmu ini tidak sendirian, sebab keteladanan juga punya peranan penting.

Mari menyelami ilmu sebelum menjalankan amal-amal berikutnya.

 

Saturday, September 24, 2022

Penolakan yang Berujung Penerimaan

Ada satu momen setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam wafat, saat itu para Sahabat berpencar, Bilal bin Rabah ke Syam. Suatu waktu Bilal kembali ke Madinah dan adzan kembali disana, waktu Bilal adzan, orang mengenali suara itu, seluruh orang Madinah datang, berkumpul, dan menangis untuk mengenang momen-momen mereka bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Bilal bin Rabah yang dulunya seorang budak, menjadi salah satu Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallambagaimana Ia bisa menciptakan momen emosional bagi seluruh masyarakat Madinah pada saat itu? Kalau kita menyelami kisah ini, saya kira ada satu pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Bahwa atas dasar cintalah fenomena ini bisa terjadi. Coba bayangkan, pada fase awal dakwah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam didominasi oleh penolakan, sampai-sampai banyak yang menginginkan agar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berhenti berdakwah, tapi beliau tetap teguh dengan risalah yang Ia bawa. Jadi karena cintalah dan ini yang dimaksudkan di dalam Al-Qur’an, Fabimaa rahmatim minallahi linta lahum, yang membuat kita lemah lembut kepada orang karena kita ingin orang itu berubah menjadi lebih baik. 

Terkadang, orang memberikan reaksi negatif terhadap ide-ide kebaikan yang kita bawa sebab mungkin mereka belum begitu paham dengan maksud kita sehingga menjadi salah paham. Oleh karena itu, sifat lemah lembut mesti seiring dengan sifat sabar (punya daya tahan), tahan terhadap hinaan dan kritikan. Meminjam istilah sekarang, kita jangan mudah "baper" jika dikritik atau dihina selama ide yang kita bawa adalah benar. Kesabaran atas setiap dinamika yang terjadi adalah bagian dari proses dalam mengantarkan pesan-pesan kebaikan itu, tidak melulu berjalan dengan mulus dan tanpa rintangan, maka bersabar dan terus istiqomah-lah. 

Dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kita belajar untuk dapat kuat dan bertahan terhadap penolakan, sebab setelah penolakan itu ada cinta yang besar, penolakan yang berubah penerimaan dan cinta yang mendalam dari seluruh umatnya. 


Sunday, May 23, 2021

Warren Harding Error

Saya kira, apa yang dikatakan Rhenald Kasali dalam bukunya berjudul Camera Branding (2013) mengenai salah satu penilaian untuk memilih pemimpin yang dianut masyarakat kita adalah soal popularitas, menjadi benar adanya. Sebab dalam beberapa tahun kebelakang, kita banyak menyaksikan keterpilihan para wakil rakyat  dititikberatkan pada seberapa populer mereka dan menomorduakan atau bahkan mengabaikan kualitas personalnya. Tidak sedikit artis maupun pengusaha yang melenggang ke Senayan dengan bermodalkan tampilan fisik maupun modal yang besar. Preferensi politik seperti ini hanya akan menjadi bom waktu terhadap kesalahan-kesalahan pada kebijakan yang dikeluarkan di kemudian hari akibat ketidakefektifan kinerja sang wakil rakyat.

Fenomena yang diistilahkan sebagai cameragenic ini pernah terjadi pada ajang demokrasi di Amerika Serikat, ketika Warren G harding yang dituliskan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Blink: The Power of Thinking Without Thinking (2005) sebagai sosok yang ideal secara fisik namun integritas kepemimpinannya belum bisa dibanggakan, bahkan ia dikenal sebagai orang yang penuh dengan kehidupan pribadi yang kontroversial. Pidato-pidato yang ia sampaikan digambarkan sebagai serangkaian ungkapan kosong yang tidak berbobot. Harding ikut kontestasi dalam pemilu tahun 1920 mewakili Partai Republik melawan James Middleton Cox dari Partai Demokrat, hasilnya Harding menang meyakinkan dengan torehan 60,3 persen. Namun bagaimana kinerjanya? Ternyata legitimasi kuat yang telah diberikan oleh rakyat tidak dimanfaatkan dengan baik dan justru melakukan banyak kesalahan, salah satu kesalahan terbesar yang ia lakukan adalah karena ia mementingkan kelompoknya untuk mengisi posisi-posisi di pemerintahan tanpa memerhatikan kompetensi dan kualitasnya, kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai Geng Ohio”.

Kisah Warren G Harding adalah sebuah pelajaran berharga yang diberikan negara yang telah lama mengadopsi sistem demokrasi kepada kita bangsa Indonesia yang belakangan kelihatannya juga mulai terjebak pada fase politik Warren Harding Error. Bagaimana solusinya? Salah satu hal yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan pendidikan politik bagi masyarakat, bisa melalui program Kuliah Kerja Nyata oleh mahasiswa. Karena memang konsentrasi utama dari yang paling membutuhkan pendidikan politik ini adalah di pedesaan.

Monday, May 10, 2021

Hitung Cepat


Kala itu, disaat angka belum dipertemukan dengan abjad, matematika ibarat permainan yang membuat adrenalin kita tertantang menyelesaikan soal secepat mungkin. Matematika-aritmatika menjadi pembelajaran yang mengasyikkan dan tidak sesulit yang dibayangkan.

Barangkali perlu lebih dibumikan lagi kali ya metode pembelajaran sains-matematika yang mengasyikkan biar anak-anak tidak paranoid dan membenci pelajaran sains, kalau dulu Feynmann (peraih nobel Fisika 1965) memperkenalkan tekniknya bahwa seseorang dikatakan berhasil memahami suatu teori jika ia mampu menjelaskannya sesederhana mungkin ke orang lain hingga anak kecil pun bisa paham. Juga ada metode hitung cepat ala Trachtenberg yang hidup semasa perang dunia I yang cukup terkenal hingga sekarang. Kemudian di abad ke 21 ini, di Indonesia, kita punya Prof. Yohannes Surya dengan metode gasing-nya, yang bahkan bisa mengantarkan anak Papua yang awalnya tidak mempunyai pemahaman apa-apa terkait Fisika-sains menjadi seseorang yang mampu meraih medali olimpiade.

Dulu yang terkenal metode hitung cepat di Sulawesi Selatan dipopulerkan oleh ASMA, kurang tahu sekarang masih ada atau tidak, yang jelas tempat pembelajaran seperti ini begitu ramai dulu. 

Waktu pertama kali ikut kompetisinya, menjadi "insecure" sendiri melihat kawan-kawan lain dengan gerakan tangan yang begitu cepat menjawab pertanyaan demi pertanyaan dan sempat pesimis di awal. 

Tapi Alhamdulillah diberi kesempatan juara di tingkat provinsi dan mewakili Sulsel di tingkat nasional dan menjadi juara juga di Jakarta. Lucunya, saat sedang menunggu pengumuman hasil kompetisi waktu itu di Asrama Haji Jakarta, saya dan Abi pulang lebih dulu karena dikira tidak juara. Tapi saat dalam perjalanan pulang, barulah dikabari oleh perwakilan tim rombongan Sulsel kalau saya dapat juara. 

Saya kira, pengalaman berkesan itu menjadi salah satu faktor pembentuk karakter saya hingga kini. Mengingat-ngingat kembali memori masa lalu adalah cara untuk membangkitkan tekad dan semangat daya juang.

Sunday, March 7, 2021

Ketidakteraturan

Diantara sekian banyak dampak positif yang timbul akibat kemajuan pengetahuan manusia, sayangnya, tidak bisa dipungkiri bahwa kita juga harus berjibaku dengan dampak negatif yang terus berkembang dan akan membawa malapetaka bagi kehidupan jika tidak diantisipasi dengan baik. Kini, kemampuan otak manusia dalam memproduksi komoditas justru sedikit demi sedikit membawa kita pada keruntuhan ekologis. Para pelaku kapitalisme ini menjadikan polusi semakin menjadi-jadi, deforestasi semakin membabi-buta, hingga air yang semakin tercemar oleh limbah.

Berbeda dengan sebelumnya, ada paham yang berkembang di India yakni jainisme yang agaknya bersifat transenden yang menuntut pada gaya hidup yang mereka namai sebagai jalan ahimsa (tanpa kekerasan). Artinya bahwa mereka menjalani hidup sebegai vegetarian dan penuh kehati-hatian dalam beraktivitas, terlebih jika itu berhubungan dengan makhluk hidup yang lain. Menjadi kesalahan besar bagi mereka jika manusia mengeksploitasi alam, tumbuhan, dan hewan.

Sebagai jalan tengah dari 2 paham sebelumnya, di dalam Islam, setiap orang diperkenankan untuk memanfaatkan dan mengkonsumsi apa yang tersedia di alam selagi itu halal dengan sesuai kebutuhannya dan tidak berlebih-lebihan. Oleh karena itu, kita diingatkan dengan ungkapan ولاتفسداوفى الارض, larangan untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Bahkan, jikalau terjadi kerusakan, maka بماكسبت ايدي الناس, kerusakan itu disebabkan oleh ulah manusia. Perbuatan yang berlebihan menyebabkan ketidakstabilan alam maka timbullah berbagai macam bencana yang akan dialami oleh manusia itu sendiri. Kalau di dalam ilmu fisika kita kenal dengan hukum entropi (ketidakteraturan).

Semakin tingginya aktivitas produksi yang dilakukan oleh manusia, maka akan dibutuhkan energi dan sumberdaya yang juga semakin banyak, yang berujung kepada peningkatan entropi alam semesta. Ketidakteraturan itu adalah hal yang rasional dan bisa dijelaskan melalui hukum entropi tadi, suatu saat nanti bumi dan alam semesta ini akan berada pada ujung ketidakteraturan yang kita kenal sebagai kiamat. 

Apa yang bisa kita lakukan? Kembali lagi ke penggalan ayat yang berada di Al-Qur'an sebelumnya, bentuk ikhtiar terbaik yang bisa dilakukan oleh manusia adalah dengan mengkonsumsi dan menggunakan sesuatu sesuai dengan kebutuhan (tidak berlebih-lebihan) sembari merawat dan melestarikan lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya. Paling tidak, dengan usaha itu kita bisa memperlambat entropi dalam pikiran dan pemahaman kita yang terbatas ini.

Saturday, February 27, 2021

Korupsi Akan Selalu Ada

Beberapa budaya yang mesti dibumihanguskan dari tanah Sulsel secara umum adalah mindset orang-orangnya yang selalu mensimplifikasi sesuatu, tidak mau repot, dan oportunis. Kenapa saya katakan mesti untuk dihilangkan? Karena ini menjadi akar permasalahan perilaku koruptif yang dilakukan oleh elit lokal saat ini. 

Kita terlalu dibiasakan dan dibiarkan tenggelam dalam aktivitas yang sejatinya merusak budi pekerti kita. Contoh sederhana yang sering kita saksikan di dalam aktivitas harian adalah perilaku mencontek, nilai ujian yang dikatrol, masuk perguruan tinggi dan urus SIM lewat 'dekkeng', merekayasa agenda kedinasan untuk sekedar mendapatkan biaya transport, hingga keberadaan lingkaran pertemanan yang sering disalahgunakan untuk memuluskan kepentingan golongan mereka. Menjadi praktik yang sudah menjadi rahasia umum dan mendarah daging.

Kabar korupsi yang dilakukan oleh elit lokal Sulsel yang menjadi pembicaraan seluruh masyarakat Indonesia saat ini adalah efek domino atas perilaku yang telah terbentuk sejak lama dan membudaya, mungkin menjadi heboh karena yang melakukan adalah para elit. Akan tetapi, kita juga mesti jujur dan mengakui bahwa kita sendiri sering menyaksikan perilaku koruptif dalam keseharian kita, tentunya dalam jumlah, posisi dan kondisi yang berbeda. Perilaku-perilaku koruptif seperti itu akan terus ada bahkan dengan orang yang berbeda jikalau budaya dalam keseharian kita seperti yang saya sebutkan di awal tidak diubah. 

Dari peristiwa ini kita harus berintrospeksi dan kedepan turut andil dalam menghilangkan budaya koruptif tersebut dari hal sekecil sekalipun. Tidak masalah jika nilai siswa rendah, mereka harus terbiasa legowo dengan kemampuannya, sehingga akan terbentuk jiwa pembelajar yang terus meningkatkan kemampuan dirinya ketimbang memperoleh nilai yang tidak merepresentasikan kemampuannya. Tidak masalah kita tidak lulus jurusan yang diinginkan, masih ada kesempatan dari jalur lain yang bisa kita coba sembari terus belajar ketimbang masuk ke jurusan tersebut karena 'dekkeng'. Biarkan mereka berhasil dengan usaha dan pikirannya sendiri, bentuklah karakter jujur, kompetitif, dan tidak melulu bergantung kepada orang lain. Watak yang menjadi tameng dalam melakukan pemberantasan korupsi. 

Kita, selalu menganggap kesalahan dan kekurangan itu sebagai kelemahan, padahal dari kesalahan itulah kita bisa tahu pada titik mana kemampuan kita dan apa yang perlu kita benahi. Kita, selalu menjadikan eksistensi dan penilaian orang lain sebagai faktor tunggal kesuksesan sehingga segala cara dilakukan untuk memuluskan capaiannya.

Pada akhirnya, korupsi akan selalu ada sejalan dengan perilaku simplifikasi, oportunis, dan pendek akal. Jalan untuk mencegah korupsi di masa depan adalah dengan mengubah cara pandang dan kebiasaan kita, dimulai dari diri sendiri dan ditularkan kepada orang lain.

Thursday, January 28, 2021

Kebiasaan

Satu hal yang menarik perhatian saya di kampung Inggris Pare: bersepeda. Menjadi biasa karena pengaruh lingkungan dan aktivitas yang dominan di sekitarnya, orang-orang yang sebelumnya jarang bersepeda pun mau tidak mau akan membiasakan dirinya untuk bersepeda agar tetap linear dengan kebiasaan setempat (selain daripada memudahkan mobilitasnya tentunya), meskipun ada opsi lain yg juga praktis dan mudah diakses seperti Gojek dan Grab.  

Membentuk kebiasaan (habit) mungkin akan sulit jika tidak didukung oleh lingkungan yang sesuai, seseorang akan sulit tumbuh dan berkembang sebagai seorang yang jujur jika ia bergaul dengan orang-orang yang terbiasa berperilaku koruptif, sulit ya, bukan berarti tidak bisa. Mungkin ada yang berhasil, akan tetapi secara statistik itu adalah data outlier atau anomali.

Demikian juga jika ingin membentuk kebiasaan baru dalam suatu entitas, apakah perilaku koruptif bisa dicegah? Apakah kebiasaan merokok bisa dihentikan? Bisa jika didukung oleh kebiasaan dan kultur yang baik. Buktinya Desa Bone-bone, Kec. Baraka, Enrekang, Sulawesi Selatan mampu dalam memberantas kebiasaan merokok masyarakatnya dan menjadi Desa Teladan Nasional 2012. Yang dilakukan oleh kepala desanya di awal tahun 2000 adalah dengan pendekatan struktural lewat peraturan desa dan didukung lewat pendekatan kultural melalui komunikasi langsung hingga berkonfrontasi, ketegasan dan keteladanan pemimpinnya jadi kunci.


Monday, December 21, 2020

Tumpas Kemiskinan dengan Membangun Desa

 

Faktanya bahwa kemiskinan di Indonesia masih terkonsentrasi di desa yang notabene penduduknya sebagian besar bermatapencaharian petani. Menjadi satu hal yang memprihatinkan, sebab sektor pertanian merupakan sektor kedua terbesar penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi sebesar 13,45% setelah sektor industri sebesar 19,62% menurut data BPS (2020), akan tetapi dari segi kesejahteraan petaninya, masih jauh dari harapan. Melihat fakta ini, maka untuk menurunkan angka kemiskinan secara signifikan, opsi yang bisa dilakukan adalah dengan berkonsentrasi penuh dalam membangun desa, khususnya sektor pertanian.


Sudah banyak negara yang memberikan contoh, bahwa untuk meningkatkan produktivitas pertanian bisa dengan modernisasi pertanian, pemberian bantuan teknologi pengolahan tani yang didukung dengan pelatihan, pembinaan, dan pengawasan oleh pemerintah maupun stakeholder lain.


Ambil contoh Belanda, negara dengan lahan yang terbatas (17.960 km persegi) dibandingkan Indonesia (570.000 km persegi) mampu masuk dalam jajaran negara pengekspor barang-barang pertanian dengan komoditas pangan salah satu yang terbesar di dunia dan sekaligus menjadi penopang pangan di eropa. Belanda, yang secara geografis sepertiga wilayahnya berada di bawah permukaan laut dan hampir tidak ada ketersediaan lahan untuk pertanian skala besar, tapi mampu membangun pertaniannya dan menguntungkan secara industri.


Apa kunci keberhasilan Belanda? Kuncinya salah satunya karena ditopang oleh teknologi: teknologi green house dan pertanian presisi, mampu menanam dengan input yang efisien menghasilkan output yang lebih produktif. Sebagai contoh, disana mampu menghasilkan 20 ton (per acre) kentang, padahal rata-rata produktivitas global hanya 9 ton (per acre). Pengairannya juga sangat efisien, dengan pengairan 90% yang lebih rendah dari pertanian pada umumnya. Selain itu, Belanda juga tidak lagi menggunakan pestisida kimia.


Dari Belanda kita bisa belajar bagaimana menjadikan pertanian sebagai sektor unggulan di lahan yang terbatas dengan teknologi. Meningkatnya produktivitas pertanian maka tentu juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat di pedesaan, ekonomi yang terjamin akan membuat anak-anak muda menjadi tertarik untuk berkarier sebagai petani.

Wednesday, November 25, 2020

Guru: Pilar Peradaban Bangsa

Guru adalah pilar peradaban bangsa, tidak terhitung berapa jumlah anak bangsa yang tumbuh berkat jasa para guru. Harum namanya walau tidak sepopuler tokoh publik.

Ia terus mendidik dan mengajar walau tidak sedikit yang memberikan sikap buruk, cemoohan, tidur di kelas, hingga bolos. Mohon maaf karena banyak dari kami, yang dulu engkau ajar, tidak menunjukkan sopan santun dan terkesan acuh dalam pelajaran.

Perasaan bersalah yang masih teringat sampai sekarang adalah ketika berada di jenjang SMP, kelas Akselerasi SMPN 1 Sungguminasa. Kala itu, disaat harus persiapan ujian akhir, kami (para laki-laki) justru ikut pertandingan sepakbola padahal sudah ada guru yang menunggu di kelas. Mohon maaf bu Husnawati (Guru Matematika) atas kenakalan kami waktu itu.

Guru, adalah jalan pengabdian yang paling luar biasa. Darinya, orang-orang luar biasa di negeri ini dibentuk. Salam hormat kepada seluruh guru yang ada di Indonesia, khususnya di SMAN 2 Makassar, SMPN 1 Sungguminasa, dan SDN Centre Mangalli.

Monday, November 16, 2020

Mindset Pemenang

Dari sejarah kita bisa belajar, bagaimana para pemenang berhasil mengatasi setiap tantangan dan rintangan. Ambil contoh salah satu peristiwa yang terjadi pada tahun 1805, Inggris yang waktu itu berkekuatan 27 kapal mesti berhadapan dengan armada Prancis-Spanyol yang dipimpin oleh Napoleon dengan kekuatan 33 kapal.

Biasanya, taktik yang dilakukan adalah dengan bertempur berbaris berjajar lalu saling tembak. Akan tetapi, muncul ide out of the box oleh Admiral Inggris Lord Nelson, ia memecah armada Inggris menjadi dua barisan dan memajukan keduanya ke armada Prancis-Spanyol secara tegak lurus.

Risiko tentu ada, terutama bagi kapal Inggris yang berada paling depan. Namun Nelson menilai bahwa penembak Prancis-Spanyol belum cukup terlatih dan akan kesulitan menembak di tengah ombak yang besar waktu itu.

Singkat cerita, pada pertempuran Trafalgar, pihak Prancis-Spanyol kehilangan dua puluh kapal sedangkan Inggris hanya kehilangan satu kapal saja. Meski demikian, Nelson yang berada di kapal terdepan armada Inggris terluka parah. Dan dari lukanya itu ia gugur dan dikenang sebagai pahlawan bahari terbesar Inggris.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Bahwa faktor jumlah bukan berarti apa-apa, ide, pikiran dan kepemimpinan adalah kunci seorang pemenang. Pun juga menjadi seorang pemimpin harus berani berkorban, leiden is lijden.

Thursday, November 5, 2020

Negeri Bahari yang Tertidur


Indonesia terdiri dari 17.480 pulau, dengan garis pantai sekitar 95.181 km, luas wilayah lautan sekitar 5,8 juta km persegi. Dari luasan ini, data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2020 memperkirakan potensi perikanan bisa mencapai 19,6 triliun per tahun, belum ditambah kontribusi dari sektor pariwisata dan juga potensi laut sebagai penghasil daya energi.

Laut beserta isinya adalah anugerah yang dititipkan kepada kita, rakyat Indonesia, untuk diolah dan dipergunakan bagi rakyat Indonesia pula. Harusnya rakyat atau paling tidak nelayan sebagai pelaku utama cukup sejahtera. Akan tetapi, faktanya terbalik. Masih banyak nelayan tradisional terus hidup di bawah garis kemiskinan dan kondisi ini sudah terstruktur dan terpola sejak lama, kemiskinan struktural yang membuat masyarakat menjadi skeptis dengan hidupnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketertinggalan dan kemiskinan nelayan tradisional: (1) tidak meratanya prasarana umum di wilayah pesisir, (2) minimnya teknologi yang digunakan, (3) tidak ada akses terhadap pasar, (4) maraknya fenomena pencurian ikan (illegal fishing).

Sudah banyak riset yang dilakukan oleh para peneliti/akademisi dari berbagai universitas maupun instansi, tapi belum memberikan dampak yang signifikan hingga saat ini. Tidak sedikit juga contoh yang ditunjukkan oleh negara-negara kepulauan lain yang berhasil memanfaatkan potensi kelautan dan perikanannya untuk kesejahteraan rakyatnya.

Setiap tahun, cukup banyak anggaran yang dikeluarkan negara untuk keperluan wakil rakyatnya kunjungan ke negara lain. Studi banding katanya, agar bisa diadopsi di Indonesia. Tapi bagaimana hasilnya sekarang?

Tentunya, kita selalu berharap bahwa kelak akan hadir pemimpin di Indonesia yang memiliki karakter berani, tegas, dan cerdas. Sebab musuh negara ini bukan hanya dari luar Indonesia, tapi juga oleh orang-orang rakus yang mengaku dirinya sebagai warga negara Indonesia tapi diam-diam menghabisi saudara se tanah airnya.

Jangan pernah berhenti berdoa, semoga negeri bahari ini segera terbangun dari tidur panjangnya.

Wednesday, November 4, 2020

Electoral College: Mungkinkah Diterapkan di Indonesia?

Yang unik di pilpres AS adalah pemenangnya ditentukan oleh 538 suara anggota electoral college dengan butuh minimal 270 suara elektoral, bukan ditentukan oleh jumlah suara pemilih (rakyat secara keseluruhan).

2 dari 5 perhelatan pilpres AS terakhir bahkan dimenangkan oleh calon yang secara jumlah suara nasional nya kalah tapi unggul di suara elektoral.

Pada tahun 2016, selisih suara yang didapat Donald Trump hampir 3 juta suara lebih sedikit daripada Hillary Clinton, namun Trump memenangkan kursi presiden. Itu karena suara elektoral yang didapatnya lebih banyak (304 electoral votes).

Pada 2000, George W Bush memenangkan 271 suara elektoral, meskipun kandidat dari Partai Demokrat, Al Gore, memenangkan suara populer dengan selisih 500.000 lebih.

Format pemilihan seperti ini saya rasa efektif untuk negara dengan jumlah penduduk tiap provinsi nya tidak merata, sehingga tidak melulu menjadikan provinsi yang penduduknya banyak sebagai lumbung suara dan prioritas untuk menang. 

Jumlah penduduk di pulau Jawa pada tahun 2019 sebanyak 150,4 juta jiwa dari total penduduk Indonesia sebanyak 266,91 juta jiwa. Artinya sekitar 56% penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa, dengan Jawa Barat (49 juta) sebagai provinsi dengan penduduk terbanyak, disusul Jawa Timur (39,74 juta), dan Jawa Tengah (34,55 juta).

Muncul statement bahwa jika ingin menang pemilu maka cukup dengan menggarap ketiga provinsi itu saja, bukan berarti provinsi lain diabaikan, hanya saja porsinya yang tidak merata.

Belum lagi sentimen primordial yang mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat Indonesia masih sulit dihilangkan, preferensi masyarakat dalam memilih cenderung mengedepankan perasaan kesukaan yang berlebihan. 

Barangkali jika format ini diberlakukan, tidak menutup kemungkinan presiden Indonesia selanjutnya yang dipilih berada dari luar pulau Jawa. Atau paling tidak memutus stigma jawa-sentris yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Kembali ke pertanyaan awal, secara konstitusional, mungkinkah electoral college diterapkan di Indonesia?

Wednesday, October 28, 2020

Pemuda

Adagium bahwa gajah mati tinggalkan gading, harimau mati tinggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama, harus menjadi pelecut bagi para pemuda untuk terus bergerak bermanfaat, menjadi garda terdepan untuk membela kepentingan rakyat disaat wakil rakyatnya tutup mata dan telinga. Masih banyak lembaran kosong dalam buku harian anak muda yang perlu diisi dengan pengalaman, peran kontributif, karya, dan prestasi. 

Pemuda dengan segala potensinya ibarat gelombang di tengah lautan yang sunyi, mereka hadir sebagai pembeda. Mereka juga bak air mengalir yang selalu mencari celah untuk dilewati, setiap jejak yang ditinggalinya memberi manfaat bagi alam dan makhluk di sekitarnya. Pemuda bukanlah air yang tergenang, diam, dan menjadi sumber penyakit.

Pemuda datang dari lorong waktu yang berbeda dengan karakteristik yang juga berbeda, mereka memberi warna di zamannya dengan pikiran dan aksinya. Pemuda pada umumnya adalah kelompok yang pikirannya masih genuine pro terhadap rakyat dan relatif belum terkontaminasi oleh kepentingan tertentu.

Dalam rentetan peristiwa sejarah yang telah dilalui Indonesia bahkan dunia, anak muda kerap kali menjadi motor dalam setiap peristiwa bersejarah. Kita hafal betul bahwa di tahun 1908 semangat kebangkitan nasional sekaligus simbol pergerakan para pemuda ditandai dengan berdirinya Budi Oetomo. Tahun 1928 lahir sebuah sumpah sakral yang kita peringati setiap tanggal 28 Oktober dikenal dengan Sumpah Pemuda, dipelopori oleh Mohammad Yamin (25 tahun), Sugondo Djojopuspito (23 tahun), dan kawan-kawan lainnya. Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 juga salah satunya akibat desakan kelompok muda, oleh Wikana yang saat itu berusia 31 tahun bersama dengan kawan-kawan lainnya. Reformasi tahun 1998 juga tidak terlepas dari gerakan mahasiswa saat itu.

Di Tunisia, aksi pembakaran diri yang dilakukan oleh seorang pemuda berusia 26 tahun bernama Mohammed Bouazizi pada tahun 2011 berujung pada revolusi Tunisia menuntut diakhirinya rezim Zine el-Abidine Ben Ali yang telah berkuasa selama lebih dari 23 tahun. Aksi pembakaran diri ini juga turut menginspirasi gerakan serupa di negara-negara lain di regional Timur Tengah, fenomena ini kemudian dikenal sebagai Arab Spring.

Di Prancis, gerakan kawula muda tahun 1968 bersama dengan kaum buruh mampu membentuk sebuah gerakan revolusioner. Di Spanyol, gerakan 15-M pada tahun 2014 membentuk gerakan yang diawali dengan propaganda secara online melalui media sosial dan mampu menggalakan unjuk rasa seperti Democracia Real YA (Demokrasi Nyata Sekarang) dan Juventud Sin Futuro (Pemuda Tanpa Masa Depan), dari gerakan ini lahir organisasi politik bernama Podemos untuk melawan kesenjangan pendapatan dan korupsi, dipimpin oleh tokoh politik muda bernama Pablo Iglesias (36 tahun).

Peristiwa sejarah yang lahir oleh gerakan pemuda tadi hanyalah sedikit peristiwa dari sekian banyak peristiwa yang ada, poinnya bahwa anak muda tidak bisa dianggap remeh dan dipandang enteng. Setiap negara mesti memberikan ruang yang pas bagi anak muda untuk bisa menyalurkan energinya dan membantu meningkatkan produktivitas negara atau justru sebaliknya jika tidak diberikan ruang malah akan menjadi barisan pertama yang bisa menuntut pemerintah.

Monday, October 26, 2020

Variabel Tambahan?

Produktivitas negara bergantung pada mutu SDM yang ada di dalamnya, apabila mutu SDM nya baik maka produktivitas negara akan beranjak naik, akan tetapi jika mutu SDM rendah maka produktivitas negara akan stagnan. Mutu SDM bisa ditinjau dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), secara nasional tren IPM Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun menjadi 0,707 pada tahun 2019 lalu dengan rata-rata pertumbuhan IPM Indonesia sebesar 0,87% per tahun. Akan tetapi jika dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia masih kalah dari Filipina (0,712), Thailand (0,756), Malaysia (0,804), Brunei Darussalam (0,845), dan Singapura (0,935). 

IPM dengan produktivitas negara memiliki korelasi yang positif, artinya pada setiap peningkatan angka IPM maka angka produktivitas negara juga akan meningkat. Ada tiga faktor yang mempengaruhi IPM yakni: pertama, kesehatan yang diukur dari Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir. Kedua, pendidikan yang dilihat dari dua indikator yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Ketiga, standar hidup layak yang dilihat dari indikator Pengeluaran per Kapita yang disesuaikan (PPP).

Salah satu komponen dari IPM tadi adalah pendidikan, kualitas pendidikan yang baik tentunya akan mendongkrak angka IPM. Akan tetapi sejauh ini harus kita akui bahwa disparitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat luas. Dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan wilayahnya yang sangat luas, persoalan pemerataan pendidikan di setiap wilayah harus diakui menjadi PR yang cukup rumit. Dalam konteks Indonesia, pulau Jawa masih menjadi episentrum pendidikan, hal ini yang membuat setiap orang berlomba-lomba untuk bisa mengenyam pendidikan disana. Ambil contoh, 8 kampus terbaik di Indonesia versi QS World University Ranking semuanya berasal dari tanah Jawa. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan mutu SDM khususnya pendidikan masyarakat di Jawa dengan masyarakat yang berada di luar Jawa.

Mutu SDM mestinya juga akan berpengaruh terhadap undang-undang yang dibuat oleh para legislator, regulasi yang baik lahir dari hasil pemikiran yang baik, bagaimana ia mengidentifikasi persoalan yang ada di tengah masyarakat, berdialog dengan masyarakat dan stakeholder terkait, berdiskusi dengan para ahli untuk meramu solusinya, adalah suatu mekanisme yang tidak sederhana, butuh seorang pemikir untuk melahirkan regulasi yang cemerlang. Akan tetapi menariknya fakta di lapangan ternyata berkata lain, trend semakin membaiknya tingkat pendidikan caleg terpilih terus meningkat, namun kecenderungan itu tidak serta merta menjelaskan hubungan linear dengan kinerja DPR. Bahkan tidak sedikit undang-undang yang disahkan membuat konflik dan memantik emosi publik, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dicap sebagai perantara cukong dan hanya memuluskan kepentingan segelintir orang dan mengabaikan kepentingan rakyatnya. Terlebih DPR menjadi lembaga negara dengan jumlah kasus korupsi yang lebih banyak dibandingkan lembaga negara lainnya menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan jumlahnya dari 2014 hingga 2019 sebanyak 255 orang.

Poinnya bahwa ternyata harus ada variabel tambahan selain daripada tingkat pendidikan untuk bisa benar-benar menghasilkan undang-undang yang berkualitas dan berpihak kepada rakyat, variabel tambahan ini adalah kunci untuk perubahan ke depannya. Kira-kira apa variabel tambahan itu? Pertanyaan yang jawabannya saya rasa kita semua paham jika beragama dengan benar.