Thursday, December 18, 2014

Filosofi Air Dalam Menjalani Aktivitas Dakwah

Antum liat air? Lembut, salah satu ciri air ini tidak pernah berhenti bergerak & gerakan air itu bisa mengambil semua pola, bisa tenang, bisa mengalir terus seperti riang, bisa juga menjadi gelombang dan bisa menciptakan badai. Dia bisa menghancurkan benda keras dan dia juga bisa menjadi tempat mendapatkan inspirasi, itulah air. Dan sekarang kita gunakan filosofi ini untuk bergerak.
Air jika dibendung, ia tidak menabrak bendungan itu tapi ia naik ke atas, kalau ia terus mengalir suatu waktu ia akan melampaui bendungan itu yang membatasi geraknya. Karena dia tidak pernah berhenti bergerak, pada akhirnya orang tidak akan kuat melawan gerakan air itu. Ia adalah paduan antara kelembutan dan kekerasan, dan kalau kita membawa ke kehidupan sehari-hari, di mana Islam sebagai agama kepercayaan mayoritas di Indonesia bahkan acap kali diisukan sebagai agama penuh kekerasan oleh umatnya sendiri. Sebut saja ‘ROHIS’ yang pada beberapa tahun silam diisukan sebagai wadah teroris, sedih kita mendengarnya. Padahal ia, ‘ROHIS’ landasannya cukup jelas, sebagai pembentuk karakter kuat pemuda Islam, melahirkan Agen perubah (Anashirut taghyir) yang diharapkan nantinya bakal menjadi pembela di tengah maraknya tindak dzalim. Dengan permasalahan yang dihadapi ini, ‘ROHIS’ tidak perlu terbawa oleh arus pandangan mereka yang ‘Islamphobia’, sebaliknya ia harus tetap pada arus yang ia buat sendiri, arus yang ada sejak di hulu agar sampai ke hilir dengan hamasah (penuh semangat). Buatlah gebrakan-gebrakan yang menghancurkan bendungan kedzaliman itu.
Ikhwah Fillah, La taqul ful qabla an yashbaha fil makyul. Jangan pernah berhenti berusaha sebelum semuanya berakhir. Maka saudaraku sekalian, ishbiru washobiru warobithu wat-taqullah la'allakum tuflihun. Bersabarlah dan kuatkan kesabaran dan rapatkan barisan dan bertakwalah, agar kamu sekalian beruntung.



Budaya Siri’ Na Pacce sebagai Falsafah Hidup Masyarakat Bugis-Makassar dalam Mengatasi Kekerasan


Phinisi Makassar
Makassar merupakan salah satu kota metropolitan yang ada di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 1,5 juta jiwa1. Kota ini berada di urutan kelima dengan jumlah penduduk terbesar setelah Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Tumbuh menjadi kota besar di bagian timur Indonesia yang terfokus pada pembangunan fisik dan perekonomian kota, menjadikan banyak pedagang dan investor dari daerah lain datang mencari rezeki di kota Anging Mamiri ini. Hasilnya, kota Makassar memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan yaitu pada tahun 2009 tercatat sebesar 9,20 persen dan tahun 2013 yang lalu sebesar 9,88 persen2.
Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tersebut tentu membuat kita sebagai masyarakat Makassar bangga menjadikan kota ini besar di mata orang Indonesia dan masyarakat dunia. Kini, Makassar dituntut untuk memberikan perhatian lebih terhadap keamanan dan kenyamanan masyarakatnya. Ini menjadi pekerjaan rumah yang berat buat pemerintah kota. Berdasarkan catatan dan survei oleh Indonesia Research Center (IRC) pada 2-6 Maret 2013, kota Makassar masuk dalam kota tak aman keempat di Indonesia setelah Medan, Samarinda, dan Palembang. Namun, jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan, saling menghargai antarmanusia merupakan hal yang di junjung tinggi sejak dahulu oleh masyarakat Bugis-Makassar.
Kota Makassar dikenal dengan budaya Siri’ na Pacce. Layaknya seperti sebuah tradisi, budaya ini telah tertanam di setiap masyarakat Bugis-Makassar secara turun temurun dan senantiasa menjadi pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari. Budaya Siri’ na Pacce di dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar mamiliki makna bahwa manusia dituntut memiliki keberanian dan pantang menyerah dalam menghadapi segala tantangan dan ujian yang dihadapi.
Siri’ sendiri merupakan sebuah konsep kesadaran hukum dan falsafah dalam masyarakat Bugis-Makassar yang dianggap sakral. Sehingga apabila seseorang kehilangan Siri’nya atau de’ni gaga siri’na, maka tak ada lagi artinya dia menempuh kehidupan sebagai manusia. Bahkan orang Bugis-Makassar berpendapat kalau mereka itu sirupai olo’ kolo’e (seperti binatang). Petuah Bugis berkata: ‘Siri’mi Narituo’ (karena malu kita hidup). Bagi orang Bugis-Makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi daripada menjaga Siri’nya. Jika mereka tersinggung atau dipermalukan (Nipakasiri’), mereka lebih senang mati dengan perkelahian untuk memulihkan Siri’nya daripada hidup tanpa Siri’. Sedangkan Pacce sendiri merupakan sebuah nilai falsafah yang dapat dipandang sebagai rasa kebersamaan (kolektivitas), simpati dan empati yang melandasi kehidupan kolektif masyarakat Bugis-Makassar. Hal ini terlihat jika seorang kerabat, tetangga atau seorang anggota komunitas dalam masyarakat Bugis-Makassar yang mendapatkan sebuah musibah, maka para kerabat atau tetangga yang lain dengan senang hati membantu meringankan beban yang terkena musibah. Seolah-olah merekalah yang terkena musibah tersebut.
Namun, yang terjadi sekarang sangatlah memprihatinkan. Maraknya tindakan kekerasan seksual dan aksi geng motor di sejumlah wilayah yang dilakukan oleh para pemuda asli Bugis-Makassar, menjadikan budaya ini tercoreng dan bertolak belakang dengan falsafah hidup yang telah menjiwai dan menjadi pegangan masyarakat. Kebanggaan masyarakat Bugis-Makassar selama ini ternodai oleh perbuatan kriminal sejumlah pemuda yang belum paham arti kehidupan dan budaya Siri’ na Pacce itu sendiri.
Maraknya aksi anarkis oleh segelintir generasi muda di Makassar tentu menarik perhatian kita semua. Jika dilihat dari metode pembelajaran yang diterapkan oleh sekolah-sekolah di Makassar, tidak banyak sekolah yang mengedepankan pembentukan karakter kepada siswanya. Hal ini yang menjadi faktor utama banyaknya pelaku kriminal dari kalangan pelajar, khususnya tindakan kekerasan seksual. Salah satu contohnya yaitu tindak kekerasan seksual oleh anak kelas 4 SD Inpres Tamalanrea terhadap adik kelasnya yang masih duduk di kelas 2.
Apabila tindakan kekerasan dan kejahatan lainnya terus dilakukan tanpa adanya perhatian khusus, maka kota Makassar akan masuk ke zona krisis moral yang berdampak pada generasi selanjutnya. Krisis moral dianggap sebagai suatu krisis terparah karena krisis moral dapat melemahkan sendi atau aspek dalam kehidupan bernegara atau bermasyarakat.
Krisis ini bisa diminimalisir dengan meningkatan mutu pendidikan dan  memasukkan budaya Siri’ na Pacce dalam proses pembelajaran. Hal ini agar tercipta pola pikir yang sehat serta pemahaman masyarakat yang kuat.
Perubahan metode pembelajaran yang lebih mendidik perlu dilakukan secara serius. Keberadaan keluarga juga dianggap vital dalam mengawasi dan membatasi tingkah laku anak dan teman bermainnya karena proses pembentukan karakter anak yang paling utama ialah dari faktor lingkungannya.
Selain itu, pengaruh budaya barat saat ini telah memberikan pengaruh negatif yang cukup besar bagi masyarakat Makassar maupun Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat tidak terbantahkan lagi. Masyarakat dunia dapat dengan mudahnya mengakses banyak konten tanpa filter melalui internet. Seluruh lapisan masyarakat dapat melihat konten masyarakat luar hanya dengan mengetik di mesin pencarian yang tersedia. Tontonan yang tidak seharusnya dilihat oleh anak-anak kini dengan mudah dapat diakses di internet. Inilah yang dapat mengikis budaya lokal yang ada.
Pada hakikatnya, remaja memiliki rasa keingintahuan yang tinggi yang di dukung oleh mudahnya untuk mengakses informasi. Sehingga mendorong mereka untuk bebas mengekspresikan diri tanpa mengetahui batas-batas dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Disinilah peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk memperbaiki tingkah laku mereka. Bukan menghakimi mereka.
Dalam membangun kota Makassar yang nyaman dan aman, tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kerja keras pemerintah dan kesadaran seluruh lapisan masyarakat. Falsafah hidup kita sejak dulu yang kini mulai jarang terlihat oleh masyarakat Bugis-Makassar perlu dihidupkan kembali. Agar cita-cita masyarakat yaitu kota Makassar menjadi kota dunia dapat terwujud.
Rasanya, terlalu dini buat kita berbangga-bangga akan pesatnya kemajuan kota Makassar ini. Dengan masalah yang dihadapi, mengharuskan segala elemen pemerintahan berintrospeksi diri. Jangan terus menyalahkan apa yang dilakukan oleh para anggota geng motor maupun tindakan tidak terpuji lainnya oleh para pelajar, tetapi perlu ada penanggulangan sampai ke akarnya. Melakukan tindakan preventif dengan mengedepankan budaya lokal juga harus diterapkan dan dijunjung tinggi.

1”Buku Induk Kode Dan Data Wilayah Administrasi Pemerintah Per Provinsi, Kabupaten/Kota Dan Kecamatan Seluruh Indonesia” (2013)

2”Pertumbuhan Ekonomi Makassar di Atas Sembilan Persen”, http://makassar.antaranews.com/berita/53330/pertumbuhan-ekonomi-makassar-di-atas-sembilan-persen (Maret. 3, 2014)

Monday, November 10, 2014

PEMIKIRAN ISLAM


1. Saat ini terlalu banyak perbedaan-perbedaan gagasan di dalam Islam yg ujung" nya memecah belahkan kita, puncaknya -> pertengkaran
2. Kelemahan inilah yang kita rasakan saat ini.. Adanya ragam pemikiran-pemikiran yg kritis yg dapat dianggap jauh dari kerasionalitasan..
3. Ambillah contoh gagasan yg mempertentangkan antara Islam politik vs Islam budaya.. Islam fundamentalis vs Islam liberal..
4. Pendekatan tekstual vs pendekatan kontekstual.. debat pro kontra formalisasi penerapan syari'at Islam.
5. Pemisahan ini sejatinya sejak awal menunjukkan "kerapuhan ilmiah" yg fatal..
6. ..Yang menjelaskan mengapa keduanya tidak pernah dapat dipertemukan...
7. Pemisahan ini lahir dari tendensi mazhabisasi yg tidak disertai dengan dukungan metodologi yg kuat..
8. Sudah banyak pemikiran-pemikiran yg tidak berdasarkan Al-Qur'an dan hadits..
9. Mengapa? Tentu karena adanya campur tangan dari "godaan-godaan". Alhasil pemikiran yg tercipta sejatinya tdk Islamis..
10. Adanya keinginan untuk memunculkan sebuah gagasan baru dengan dalih gagasan tsb sesuai dengan zaman skrg.
11. Inilah yang membuat kita para mujtahid dakwah perlu mempertahankan keutuhan pemikiran Islamis tsb..
12. Yang ingin kita capai dalam ijtihad dakwah adalah mempertemukan kebenaran dan ketepatan...
13. Kebenaran substansi hukum dan sikapnya, dan ketepatan pada konteks waktu dan ruangnya..
14. Kebenaran mengacu kepada referensi dan metodologi, sementara ketepatan kepada objek, subjek, dan konteks ruang & waktu penetapan hukum..
15. Ijtihad dalam dakwah menjadi sebuah proses pengintegrasian kebenaran-kebenaran wahyu dengan orang-orangnya & situasinya..
16. Ijtihad itu sebuah keniscayaan dalam dakwah..
17. Rahasia besar yg menjelaskan mengapa Islam dapat mempertahankan kemurnian ajaran-ajarannya..
18. ...dengan tetap mempertahankan relevansinya dalam berbagai perubahan besar yg terjadi di sepanjang kehidupan manusia -> Ijtihad.
19. Siapa saja yg mempelajari susunan & muatan ajaran" Islam yg tertuang dalam Al-Qur'an & As-Sunnah dengan lebih teliti..
20. Ia akan menemukan bahwa sejak awalnya Islam telah memberi ruang yg begitu luas bagi akal" Muslim untuk berijtihad..
21. Namun sayangnya, mengapa masih banyak dari kita yg jauh dari hal tsb..
22. Jauh dari Islam sebenarnya.. Dimana pikiran mereka melampaui yg namanya "Rasionalitas"
23. Ia mengaku Islam tapi tidak melaksanakan, mengajarkan dan mengamalkan Al-Qur'an..
24. Justru malah mempertanyakan kejadian-kejadian yg dijelaskan dalam Al-Qur'an.. Mengapa?
25. Janganlah kita memisahkan sebuah hal yg paling mendasar dari sebuah sistem dengan alasan perbedaan zaman..
26. Politik dan budaya adalah dua hal yg tidak dapat dipisahkan.. Demikian juga perjuangan dgn melalui kedua jalur itu..
27. Setiap kali kita memilih salah satunya, itu sama artinya dgn menafikan sebuah faktor penentu kehidupan yg tidak mungkin dinafikan..
28. Islam sbg sistem yg komprehensif tidak pernah memisahkan keduanya..(Sejatinya)
29. Rasulullah SAW yg membawa risalah ini menggunakan kedua pendekatan itu sekaligus..
30. Bisakah kita mengatakan bahwa perjuangan di Mekah bersifat kultural murni padahal tokoh Quraisy yg direkrut Rasulullah SAW ...
31. ...adalah tokoh-tokoh kunci di struktural kekuasaan?

32. Pola pemikiran yang parsial akan melahirkan pola pergerakan yg parsial juga..

Sunday, October 5, 2014

Al-Quran Adalah Sumber Keberkahan




عن عُثْمَانَ بنِ عَفّانَ أَنّ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم قالَ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلّمَ القُرْآنَ وَعَلّمَهُ» رواه البخاري

Dari Utsman bin ‘affan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari)

1. Rosulullah saw setelah menerima wahyu Al-Qur’an menjadi orang yang paling berkah, paling baik, paling mulia, paling bahagia, paling sukses, pemimpin para nabi dan para rasul. Akhlak Rasul saw adalah Al-Qur’an. Padahal sebelum menerima wahyu Al-Qur’an beliau disebut dalam surat Ad-Dhuha dengan ungkapan dhaal (bingung). [وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ]

2. Para sahabat adalah generasi terbaik karena interaksi mereka dengan Al-Qur’an, bahkan disebut generasi Al-Qur’an.

3. Individu, keluarga, masyarakat dan bangsa yang terbaik adalah mereka yang beriman dan berinteraksi dengan Al-Qur’an mulai dari belajar, membaca, memahami, menghafal, mengamalkan, mengajarkan, menjadikan akhlak dan menjadikan Al-Qur’an pedoman dalam kehidupan mereka.

4. Individu, keluarga, masyarakat dan bangsa yang paling buruk, paling sengsara dan paling sesat adalah mereka yang tidak beriman dengan Al-Qur’an dan tidak berinteraksi dengannya.

5. Al-Qur’an menggambarkan orang yang tidak beriman dengan Al-Qur’an, tidak berinteraksi dengannya dan tidak menjadikannya pedoman seperti binatang bahkan lebih sesat lagi (7: 179).  Langkahnya kacau seperti orang yang berjalan dengan kepalanya (67:22), dan hidupnya  paling sempit dan sengsara (20:124).

6. Lembaga pendidikan dan sekolah terbaik manakala ada proses belajar dan mengajar Al-Qur’an, baik membaca Al-Qur’an, memahami atau tafsir Al-Qur’an, ilmu Al-Qur’an dan yang sesuai dengan Al-Qur’an. Sebaliknya lembaga pendidikan dan sekolah yang terburuk adalah yang tidak ada proses belajar dan mengajar Al-Qur’an.

7. Al-Qur’an sumber segala sesuatu,  Al-Qur’an sumber hidayah, sumber kebenaran, sumber ilmu pengetahuan, sumber kebaikan, sumber keindahan, sumber keberkahan, sumber kesuksesan dan sumber kebahagiaan.

8. Umat akhir zaman ini tidak akan baik kecuali dengan mengikuti kebaikan umat pada generasi awal. Rahasianya  menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup mereka.

9. Alhamdulillah sekarang sudah banyak lembaga Al-Qur’an, sekolah dan pesantren yang mengajarkan Al-Qur’an, masyarakat yang belajar  Al-Qur’an.

10. Langkah berikutnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan bangsa.

11.  Muhammad Mursi adalah satu-satunya presiden yang hafal Al-Qur’an di abad modern dan akan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman di negara Mesir, namun dengan konspirasi orang-orang kafir, munafik dan sekuler beliau dikudeta. Allah Ta’ala berfirman: “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” (QS As-Shaff 8).

12. Cahaya Allah, yaitu Islam atau Al-Qur’an tidak mungkin dipadamkan oleh orang kafir, bagaimana mungkin mereka memadamkan cahaya Allah, memadamkan cahaya matahari dan bulan saja tidak mungkin. Dan cahaya Allah itu akan disempurnakan oleh Allah langsung. Siapakah diantara kita yang mau ikut dan siap menjadi bagian dari proyek menyempurnakan cahaya Allah tersebut ?


Iman Santoso, Lc. MA
Pengasuh Pesantren Al-Qur’an Nurhasanat Karawang

Tuesday, September 30, 2014

Berapa Banyak Bulan di Semesta Ini?

Hingga masa kedatangan Islam dan turunnya Al-Qur an, orang hanya mengenal bulan yang mengelilingi bumi. Akan tetapi, ketika menemukan teleskop pada tahun 1610 Masehi atau lebih dari 1.000 tahun setelah turunnya Al-Qur an Galileo menemukan ada empat bulan yang berputar mengelilingi planet Jupiter. Sejalan dengan perkembangan teknologi teleskop dan penelitian angkasa luar, telah ditemukan lagi sejumlah bulan untuk planet Jupiter dan beberapa planet lain selain Merkurius dan Venus. Dengan demikian, jumlah bulan dalam tata surya yang kita kenal sekarang mencapai lebih dari 60 bulan. Banyak ahli astronomi dan astrofisika yang memperkirakan bahwa jumlah itu akan bertambah di masa-masa mendatang, setelah mereka meneliti pesan yang dikirim oleh pesawat angkasa luar yang mengunjungi planet-planet yang amat jauh itu.

Sains modern berhasil menemukan banyak matahari selain matahari yang kita kenal dan banyak bulan selain bulan yang kita ketahui. Mungkin, disekitar matahari-matahari itu masih terdapat beberapa planet lagi yang berputar mengelilingi matahari disertai dengan bulan yang mengelilingi planet-planet itu. Dengan demikian, jumlah matahari dan bulan di jagat raya ini amat banyak. Fakta ini sesuai yang diisyaratkan oleh Al-Qur an dalam Firman-Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. Fushshilat:37)

Kebanyakan kitab tafsir tidak menyentuh keunikan ayat ini, yaitu penggunaan kata ganti jamak mereka (هن) yang mengandung mu’jizat, baik dari segi bahasa maupun sains. Imam fakhruddin Ar-Razi dalam At-tafsir Al-Kabir menyebutkan kata ganti pada frase khalaqahunna merujuk pada malam, siang, matahari, dan bulan karena bersasarkan kaidah bahasa Arab, status jamak benda yang tidak berakal sama dengan status mu’annats (perempuan). Misalnya, al-aqlamu baraituha atau al-aqlamu baraituhunna ‘pensil-pensil itu saya runcingkan’. (Kata ganti ha yang biasa digunakan untuk perempuan tunggal dan hunna yang digunakan untuk jama’ mu’annats, digunakan untuk merujuk aqlam, yaitu bentuk, jamak dari qalam. Lalu ketika Allah mengatakan wa min ayatihi (ayaat bentuk jamak dari ayah ‘tanda’), status ayat-ayat itu secara bahasa sama dengan status mu’annats. Oleh karena itu, Allah kemudian mengatakan khalaqahunna. Sedangkan, Al-Alusi berbicara tentang banyaknya penggunaan mu’annats untuk jamak, sampai-sampai ada yang mengatakan, “Aku tidak peduli dengan jamak mereka. Setiap bentuk jamak adalah mu’annats”).

Kemu’jizatan ayat di atas terletak pada frase khalaqahunna yang menggunakan kata ganti jamak mu’annats, bukan mutsanna (bentuk dualis). Dalam bahasa Arab jika makna ayat itu hanya terbatas pada matahari dan bulan, kata ganti yang digunkaan semestinya bentuk dualis, bukan bentuk jamak. Selain itu, partikel al pada asy-syams dan al-qamar pada ayat di atas mennunjukkan dua ketepatan penggunaannya sekaligus. Partikel al itu dapat digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang sudah diketahui orang (li al-‘ahd). Jadi, konteks ayat di atas merujuk pada matahari dan bulan yang telah diketahui orang pada umumnya ketika Al-Qur an diturunkan. Pada saat yang sama, partikel al juga dapat menjelaskan jenis (li al-jins) sehingga konteks ayat di atas berarti semua jenis matahari dan bulan, dengan bukti digunakannya kata ganti jamak hunna.

Foto: ‎Jumlah Bulan:

Hingga masa kedatangan Islam dan turunnya Al-Qur an, orang hanya mengenal bulan yang mengelilingi bumi. Akan tetapi, ketika menemukan teleskop pada tahun 1610 Masehi atau lebih dari 1.000 tahun setelah turunnya Al-Qur an Galileo menemukan ada empat bulan yang berputar mengelilingi planet Jupiter. Sejalan dengan perkembangan teknologi teleskop dan penelitian angkasa luar, telah ditemukan lagi sejumlah bulan untuk planet Jupiter dan beberapa planet lain selain Merkurius dan Venus. Dengan demikian, jumlah bulan dalam tata surya yang kita kenal sekarang mencapai lebih dari 60 bulan. Banyak ahli astronomi dan astrofisika yang memperkirakan bahwa jumlah itu akan bertambah di masa-masa mendatang, setelah mereka meneliti pesan yang dikirim oleh pesawat angkasa luar yang mengunjungi planet-planet yang amat jauh itu.

Sains modern berhasil menemukan banyak matahari selain matahari yang kita kenal dan banyak bulan selain bulan yang kita ketahui. Mungkin, disekitar matahari-matahari itu masih terdapat beberapa planet lagi yang berputar mengelilingi matahari disertai dengan bulan yang mengelilingi planet-planet itu. Dengan demikian, jumlah matahari dan bulan di jagat raya ini amat banyak. Fakta ini sesuai yang diisyaratkan oleh Al-Qur an dalam Firman-Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. Fushshilat:37)

Kebanyakan kitab tafsir tidak menyentuh keunikan ayat ini, yaitu penggunaan kata ganti jamak mereka (هن) yang mengandung mu’jizat, baik dari segi bahasa maupun sains. Imam fakhruddin Ar-Razi dalam At-tafsir Al-Kabir menyebutkan kata ganti pada frase khalaqahunna merujuk pada malam, siang, matahari, dan bulan karena bersasarkan kaidah bahasa Arab, status jamak benda yang tidak berakal sama dengan status mu’annats (perempuan). Misalnya, al-aqlamu baraituha atau al-aqlamu baraituhunna ‘pensil-pensil itu saya runcingkan’. (Kata ganti ha yang biasa digunakan untuk perempuan tunggal dan hunna yang digunakan untuk jama’ mu’annats, digunakan untuk merujuk aqlam, yaitu bentuk, jamak dari qalam. Lalu ketika Allah mengatakan wa min ayatihi (ayaat bentuk jamak dari ayah ‘tanda’), status ayat-ayat itu secara bahasa sama dengan status mu’annats. Oleh karena itu, Allah kemudian mengatakan khalaqahunna. Sedangkan, Al-Alusi berbicara tentang banyaknya penggunaan mu’annats untuk jamak, sampai-sampai ada yang mengatakan, “Aku tidak peduli dengan jamak mereka. Setiap bentuk jamak adalah mu’annats”).

Kemu’jizatan ayat di atas terletak pada frase khalaqahunna yang menggunakan kata ganti jamak mu’annats, bukan mutsanna (bentuk dualis). Dalam bahasa Arab jika makna ayat itu hanya terbatas pada matahari dan bulan, kata ganti yang digunkaan semestinya bentuk dualis, bukan bentuk jamak. Selain itu, partikel al pada asy-syams dan al-qamar pada ayat di atas mennunjukkan dua ketepatan penggunaannya sekaligus. Partikel al itu dapat digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang sudah diketahui orang (li al-‘ahd). Jadi, konteks ayat di atas merujuk pada matahari dan bulan yang telah diketahui orang pada umumnya ketika Al-Qur an diturunkan. Pada saat yang sama, partikel al juga dapat menjelaskan jenis (li al-jins) sehingga konteks ayat di atas berarti semua jenis matahari dan bulan, dengan bukti digunakannya kata ganti jamak hunna.‎