Tuesday, July 28, 2020

Edelweiss

Darinya kita belajar cara mengelola kehidupan ini. 

Ia tetap memancarkan keindahan di tengah kondisi ekstrim, tetap tegar walau diterjang badai.

Ia tumbuh dalam sunyi lagi berbahaya, menjadi sahabat bagi ilalang, bersanding dengan dinginnya udara pegunungan. 

Dari edelweiss kita belajar agar tetap tersenyum meski mengalami banyak tekanan, tetap memberikan warna meski dirundung banyak masalah.

Nasibnya kini terancam, walau demikian ia tidak berhenti memberikan senyum bagi para pendaki. 

Kepada para pejuang, teruslah menebar manfaat bagi makhluk. 

Karena kehidupan ini adalah tentang bagaimana kita bisa memberi makna dan manfaat seluas-luasnya. 

Thursday, July 2, 2020

Menjaga Ruh Di Tengah Pergulatan



Semoga setengah perjalanan yang telah kita tempuh tahun ini, juga tahun kelima dari beberapa orang yang ada, adalah bagian dari umur yang tidak akan kita lupakan di usia tua kita bahwa kita berkembang secara cepat karena mendapatkan beban yang banyak dari semestinya saat kita di kampus. Satu hal yang perlu untuk terus menerus kita ingat bahwa seluruh kerja yang kita lakukan harus dikaitkan dengan bagaimana keikhlasan kita dalam menjalankannya, sebab keikhlasan adalah asas dari diterimanya amal kita. Para Ulama mengatakan bahwa keikhlasan itu diperlukan dalam tiga hal: (1) ikhlas sebelum beramal, (2) ikhlas pada saat beramal, (3) ikhlas setelah beramal. Boleh jadi ada orang yang ikhlas di awal, kurang di tengah, kemudian hilang di akhir. Boleh jadi juga ada orang yang hilang di awal, membaik di tengah, dan semakin baik di akhir. Jangan sampai seluruh perjuangan yang telah kita lakukan ini batal atau sia-sia karena satu dari dua sebab diterimanya amal itu tidak ada di dalam diri kita yaitu keikhlasan.

Pada akhirnya, pertanggung jawaban kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah mas’uliyah fardliyah (pertanggung jawaban secara pribadi) dan bukan pertanggung jawaban jama’ah ini. Sehingga kelak kita akan datang di akhirat sebagai seorang diri dan bukan sebagai perwakilan jama’ah tertentu.

Juga yang perlu kita jaga adalah al bi’atu tarbawiyah fi ausatil amali siyasi, perlunya kita menjaga lingkungan tarbawi di tengah amal siyasi yang kita lakukan, kenapa? Karena dunia yang kita ikuti ini adalah dunia yang terus berubah dan dalam dunia yang terus berubah seperti ini, mudah muncul dua penyakit, yakni penyakit syubhat dan syahwat. Obat dari penyakit syubhat ini adalah ilmu dan obat dari penyakit syahwat adalah iman, yang menjaga ilmu dan iman ini adalah bi’ah tarbawiyah. Jangan-jangan selama ini justru kita banyak berpaling dari agenda asasi/tarbawi dengan dalih kesibukan amanah/organisasi.

Kadang-kadang karena banyaknya syubhat kita mudah mengalami konflik dan karena itu Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan ar rasikhuna fi’l ilmi, hanya orang-orang yang dalam ilmunya yang bisa bertahan di tengah syubhat itu. Itu sebabnya menjaga lingkungan kita agar selalu memiliki aura tarbawi yang kuat akan menjadi salah satu faktor diferensiasi utama antara kita dengan lingkungan luar, ini yang menjadi faktor pembeda kita ketika beramal dan menyikapi suatu masalah.

Beberapa tahun yang lalu di dalam salah satu ceramahnya Ust. Anis Matta menyampaikan satu kisah yang menarik, suatu waktu Imam Ghazali berceramah di depan 500-an ulama dari semua penjuru negeri yang ada pada waktu itu. Karena yang hadir ini adalah ulama dan bukan orang biasa, ada perasaan ghurur di dalam diri Imam Ghazali, ada keangkuhan yang muncul di dalam dirinya. Suatu waktu pada sesi ceramah tersebut adalah seorang ulama yang bertanya kepada beliau, “Wahai Abu Hamid, sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan di dalam Al-Qur’an, kulla yaumin huwa fii sya'n (setiap hari Allah selalu punya urusan), saya mau tanya apa urusan Allah hari ini?” dan ternyata Imam Ghazali tidak tahu jawabannya. Tapi karena di depan ulama, tidak gampang untuk mengatakan saya tidak tahu, ini menyangkut wibawa akademik. Beliau lalu mengatakan, “Kasih waktu saya sampai besok”. Begitu besok acara dimulai lagi, orang tadi menanyakan pertanyaan yang sama dan Imam Ghazali tetap menjawab “tunggu sampai besok”. Keesokan harinya orang itu datang lagi dan mengulangi hal yang sama hingga hari keempat dan Imam Ghazali tetap menjawab dengan jawaban yang sama pula. Setelah hari keempat itu, Imam Ghazali pulang ke rumahnya dan beliau shalat istikharah, beliau meminta ilham dari Allah Subhanahu wa ta’ala untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Setelah shalat istikharah itu beliau tidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi ketemu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, pada pertemuan itu Rasulullah mengatakan kepada beliau “Wahai Abu Hamid, nanti kalau datang orang itu dan bertanya lagi kepadamu dan mengatakan bahwa Allah setiap hari punya urusan, maka apa urusan Allah hari ini? Katakanlah kepadanya bahwa sesungguhnya Allah memiliki urusan yang Ia tampakkan dan tidak Ia tampakkan, Allah mengangkat derajat suatu kaum dan merendahkan derajat suatu kaum yang lain.

Keesokan harinya ketika Imam Ghazali datang kembali ke majelis tersebut, beliau mencari penanya sebelumnya lalu memberikan jawaban “Subhanallah, sesungguhnya Allah memiliki urusan yang Ia tampakkan dan tidak Ia tampakkan, Allah mengangkat derajat suatu kaum dan merendahkan derajat suatu kaum yang lain. Lalu ulama yang bertanya ini mengatakan, “Wahai Abu Hamid, perbanyaklah shalawat dan taslim kepada Nabi yang telah mengajarkan kamu jawaban ini tadi malam”.

Hikmah yang bisa kita ambil adalah (1) bisa jadi kita berbicara tentang suatu ilmu di depan orang yang justru lebih paham akan ilmu tersebut dibanding kita, maka jagalah hati kita. (2) Kebiasaan shalat istikharah atas qodhoya (masalah) yang rumit perlu untuk kita bawa dalam shalat, dengan begitu kita memberikan nuansa ruhiyah atas pergulatan masalah kita sehari-hari. Begitu ini hilang dari kita, seluruh analisa yang baik maupun otak yang cerdas tidak akan menghasilkan apa-apa, karena Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan wa adhollu humullahu ala ilmin, Allah bisa menyesatkan orang atas dasar ilmu yang dia berikan kepadanya. Sehingga walaupun orang itu berilmu, orang itu tetap bisa tersesat.

Monday, June 1, 2020

Ilmu yang Bermanfaat



Pembelajaran formal melalui universitas memberikan kita proses edukasi metodologis dan sistematis. Pembentukan cara berpikir ini menjadi hal substansial yang perlu kita peroleh di universitas, Sebab kata Imam Al-Ghazali, ilmu bukanlah setumpuk informasi yang dikumpulkan, dikompilasi, lalu sekedar dibaca tapi ilmu dibangun di atas metodologi.

Stimulus akademis yang diperoleh dari universitas menjadi modal seseorang dalam menjalani fase selanjutnya dengan berbagai opsi yang dihadapkan: melanjutkan studi S2, berkarir di industri, mengembangankan startup, mengabdi bagi kampung halaman, hingga menikah. Keputusan-keputusan yang diambil insyaAllah tidak ada yang keliru selama ia terus berikhtiar melangkah ke depan dan yakin dengan pilihannya. Urusan rezeki? Allah sudah atur, kita hanya diminta untuk tidak berhenti berikhtiar.

Kata Muhammad Elvandi dalam bukunya Sang Pemuda (2020) universitas merupakan kesempatan sang pemuda menyerap cara terbaik menjadi expert melalui para dosen berkualifikasi, kuliah yang diisi oleh dosen-dosen dengan otoritas spesialis. Objek pembicaraan dalam ruang kelas adalah pengetahuan dan perkembangan terbaru sebuah bidang studi. Pikiran akan dipaksa untuk berpikir menuju pengembangan pengetahuan yang ideal, terlepas dari tidak idealnya realitas sosial. Sense of idealism bahkan terkadang bagi seorang aktivis kampus sekalipun akan hilang karena luntur seiring dengan dipertemukannya dengan realitas dan rutinitas yang diperoleh di kehidupan pasca kampus.

Bagi seorang muslim, tentunya kita berharap agar ilmu yang kita peroleh dapat bermanfaat bagi semesta alam, Rasulullah menyatakan dalam haditsnya bahwa salu Allah ilman nafi’an wa ta’awwadzu min ‘ilmin la yanfa’u, mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Ilmu (knowledge) atau proses pengilmuan (knowing) oleh Prof. Naquib Al-Attas di dalam Prolegomena didefinisikan sebagai hadirnya makna di dalam jiwa (arrival of meaning to the soul). Definisi ini melihat kepada Tuhan sebagai pemberi aktif dan manusia sebagai penerima pasif. Apabila melihat manusia sebagai penerima aktif maka ilmu atau proses pengilmuan sebagai sampainya jiwa kepada makna (arrival of the soul at meaning). Manusia sebagai pencari ilmu selalu berkaitan dengan proses aktif dan pasif, aktif menuntut dan mendapatkan ilmu serta pasif menerima anugerah ilmu dari-Nya.

Friday, May 22, 2020

Merekonstruksi (Kembali) Makna Bulan Ramadhan - Idul Fitri



Bagi generasi millenial dan bahkan mungkin juga beberapa generasi sebelumnya, bulan ramadhan tahun ini menjadi bulan ramadhan tersulit dan berbeda dari bulan ramadhan tahun-tahun sebelumnya, pandemi covid-19 mengharuskan kita untuk beristirahat sejenak dari interaksi sosial. Pembatasan interaksi sosial atau di Indonesia dikenal dengan istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengharuskan kita untuk membatasi kegiatan di luar rumah, kuliah di rumah, shalat wajib bahkan shalat jum’at yang diganti dengan shalat dzuhur sudah sekitar 8 pekan dijalankan di rumah masing-masing, sulit tapi itu mesti dilakukan untuk kebaikan kita bersama.

Kini, tidak terasa kita telah sampai pada penghujung ramadhan, ada perasaan sedih memang bagi mereka yang setiap tahunnya menjalankan momen idul fitri dengan berkumpul dengan keluarga besar, bernostalgia bersama, saling maaf-memaafkan, hingga menikmati hidangan dari satu rumah ke rumah yang lain. Tapi tentu yang utama adalah kita harus mengambil hikmah dari peristiwa ini dan terus bersyukur atas keadaan yang terjadi bahwa skenario Allah Subhanahu wa ta’ala akan indah pada waktunya bagi orang-orang yang beriman dan bersabar.

Beberapa tahun yang lalu dan bahkan juga sampai sekarang ini, kita membaca, mendengar, dan menyaksikan betapa sulitnya saudara muslim kita di wilayah konflik Suriah, Palestina, Irak, dan Yaman menjalankan shalat ‘Id. Alih-alih ikut meramaikan momen idul fitri, menjalankan ibadah puasa dengan aman dan nyaman pun sudah menjadi hal yang sangat didambakan oleh setiap orang disana. Sekarang dengan kondisi pandemi, kita mesti banyak belajar dan mengambil ibrah, bahwa kondisi ini masih jauh lebih baik dari saudara kita yang hidup di daerah konflik yang kesehariannya diliputi dengan kelaparan, bunyi dentuman bom, hingga berbagai macam penyakit.

Kondisi demikian memunculkan satu pertanyaan besar, apa sebenarnya hikmah dari bulan ramadhan dan idul fitri? Meskipun tidak bisa beribadah di masjid, tapi kita masih bisa intens beribadah di rumah masing-masing selama bulan ramadhan ini, apakah ibadah yang giat ini hanya sebatas di bulan ramadhan saja? Apa kewajiban kita selaku umat manusia dan juga sebagai makhluk sosial? Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong saya untuk menelusuri buku, artikel, ceramah/khotbah para asatidz yang bisa diperoleh melalui internet.

Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi (2015) dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa dengan berpuasa seorang Muslim sedang mengosongkan dirinya dari kecenderungan fisik manusia yang umumnya didominasi oleh nafsu hewani (nafsu-l-ammarah bissu’). Dengan memberhentikan makan dan minum dalam sehari maka kekuatan fisiknya akan melemah dan diikuti oleh melemahnya dorongan jiwa hewani tersebut. Ketika jiwa hewani melemah maka jiwa yang tenang (nafs al-mutma’innah) akan menguat dan dominan. Dalam teori al-Ghazali ketika dorongan fisik seseorang dipenuhi oleh nafsu hewani diganti atau dikuasai oleh akalnya atau oleh jiwanya yang tenang, maka manusia akan melakukan tindakan-tindakan yang positif.

Sedangkan makna idul fitri, oleh ustadz Bachtiar Nasir dalam khotbah idul fitrinya pada tahun 2013 di Masjid Kampus UI Salemba menyampaikan bahwa esensi terpenting dari idul fitri adalah wala allakum tasykurun, agar kalian (kita semua) bersyukur. Yang kaya dipertemukan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan yang miskin dalam bentuk cinta silaturahim, yang kaya bisa menghapus kekeliruannya dalam setahun dalam bentuk zakat, kenapa zakat fitrah harus ditunaikan sebelum khotib naik ke mimbar? Agar tidak ada orang miskin yang tidak makan sebelum ditunaikannya shalat ‘Id. Makna sosial dari idul fitri tidak hanya sekedar bersyukur, tapi yang penting adalah implementasi sosialnya, bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam momen idul fitri ini mengejewantah dalam akhlak keseharian, umat Islam harus membuktikan dirinya sebagai rahmatan lil alamin.

Salah satu sistem sosial yang direfleksikan Islam adalah melalui ibadah zakat fitrah - Idul Fitri. Melalui Idul Fitri, Islam menjadi kekuatan moral yang wajib dimobilisasikan oleh umat Islam untuk memerdekakan masyarakat dari penyakit-penyakit sosial yang membebani kehidupan. Seperti kolonialisme struktural-kultural, gaya hidup yang diliputi konsentrasi mengejar kekayaan dan menanggalkan patokan etika atau dilanda kemiskinan hati nurani dan jiwa kepedulian terhadap sesamanya.

Sayangnya, masih banyak umat Islam yang menyikapi Idul Fitri sebagai “pesta” penebusan dosa, penebus segala kesalahan dan kembali kepada kesucian jati diri. Dengan kata lain, Idul Fitri diartikan secara skeptis sebagai kebutuhan yang bercorak individual dan kurang menyentuh aspek pembangunan masyarakat (social building). Tidak salah, hanya saja jika kita mencoba untuk menyelami maknanya secara komprehensif dan substansial maka ada esensi yang jauh lebih besar.

Idul Fitri bukanlah sekedar penutup ibadah puasa dan bukan pula “pesta” berakhirnya puasa. Ia justru menjadi gerbang religi-humanis, yang akan mempertemukan manusia pada suatu kewajiban yang tak kalah nilainya dengan puasa. Waktu sebulan dalam berpuasa, baru sebagai prasyarat ruhaniah dan psikologis, agar seseorang yang sudah terbebani hukum (mukalaf) mempunyai integritas moral guna membangun jati diri di tengah masyarakat. Sehingga diharapkan pasca bulan ramadhan, ruh dan jasmani bisa fit kembali dalam menjalankan aktifitasnya.

Shalat ‘Id yang merupakan substansi normatif dari Idul Fitri, manusia diajak meningkatkan kualitas bergaul dengan Allah Subhanahu wa ta’ala (hablumminallah) dan bukan sekedar sebagai ibadah temporer dan pamer ibadah untuk mendapatkan pujian dari orang lain, namun untuk memperbanyak pujian kepada Dzat Yang Menguasainya dan merekonstruksi jiwa kepedulian sosial.

Bangunan (konstruksi) lebaran pasca salat ‘Id, terletak pada aspek sosial, institusi keluarga dan masyarakat marhamah (penuh kasih-sayang). Melalui Idul Fitri ini juga Islam memberikan landasan normatif atas perilaku manusia (human behaviour) untuk menjangkau manisnya nilai ukhrawi dengan kekuatan nilai duniawi.

Idul Fitri mengingatkan kedudukan, peran dan tugas-tugas manusia di sisi sesamanya, saudara-saudaranya dan asetnya bagi kepentingan pembangunan. Manusia diingatkan untuk tidak terlena dalam sifat memiliki dirinya sendiri dan kepentingannya dan dibangun untuk memiliki sifat kepedulian. Peduli kepada orang-orang yang mungkin belum seberuntung kita.

Abdul Wahid dalam bukunya yang berjudul Islam di Tengah Pergulatan Sosial (1993) bahkan menekankan agar sikap chauvanistik dan tribalistik yang seringkali membawa imbas destruktif di tengah masyarakat berusaha disembuhkan melalui paket lebaran ini. Manusia diajak melacak kembali jalannya interaksi sosial yang sering diwarnai mobilitas gaya hidup yang keluar dari jalur moralitas serta terstruktur secara dehumanisasi.

Referensi:
1.       Wahid, Abdul. 1993. Islam di Tengah Pergulatan Sosial. Tiara Wacana Yogya. Yogyakarta.
2.       https://insists.id/tazkiyah-an-nafs/, diakses pada 21 Mei 2020
3.       Nasir, Bachtiar. 2013. Meluruskan Makna Idul Fitri https://www.youtube.com/watch?v=kxmmLNGUqxo, diakses pada 21 Mei 2020.




Wednesday, May 6, 2020

Mengungkap Rahasia Surat Al-Fajr 1-16



Oleh Ust. Dr. Saiful Bahri, Lc., M.A.

Di dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan satuan waktu yaitu malam, pagi, siang, sore dan semuanya ala kadarnya. Frekuensi yang paling banyak disebutkan adalah waktu malam, al-lail, sedangkan waktu yang variannya paling banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah waktu pagi.

Di dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan waktu pagi dengan Al-Fajr, ledakan hebat yang memecah dari kegelapan sebelumnya malam. Kadang juga Allah menyebut dengan ash-subhi, al-gudhu,al-isyraq, al-falaq, al-ghodad, al-ibkar, bukrotan, ad-duha. Ini masing-masing ada tematiknya, jika al-fajr dimaknai sebagai menghentak orang-orang yang lalai pada hari kebangkitan, ­ash-subh temanya adalah memberi harapan: was subhi idza tanaffas, supaya orang-orang melupakan masa lalunya, nafas-nafas baru agar orang bertaubat. Al gudhu, bergeliat di pagi hari. Al-isyaq, terbit matahari dan hitungannya menit, sangat sebentar, maka Allah menginginkan kita agar menggunakan kesempatan pada waktu-waktu itu. Al falaq, kejahatan malam karena juga berarti pagi, supaya dihindarkan dari kejahatan malam.

Wal fajr, demi waktu pagi.

Wa layālin ‘asyr (dan [demi] malam yang sepuluh), yakni dari awal bulan Dzulhijjah.

Wasy syaf‘i (dan [demi] yang genap), yakni hari ‘Arafah dan hari Nahar. Wal watr (serta yang ganjil), yakni tiga hari sesudah hari Nahar. Allah itu adalah tunggal dan Ia menyukai yang ganjil itu.

Wal laili idzā yasr (dan [demi] malam apabila berlalu), yakni apabila beranjak. Ini adalah tema-tema bersemangat agar kita bersemangat di waktu pagi, mandi di pagi hari, bekerja dari pagi hari, shalat 2 rakaat di waktu pagi dalam kondisi bersemangat.

Hal fī dzālika (bukankah pada yang demikian itu), yakni pada hal-hal yang telah Kuterangkan itu. Sumpah-sumpah yang disebutkan tadi hanya untuk orang yang mau berpikir, kenapa pagi, kenapa ganjil. Sumpah ini akan sangat berkesan dan berefek bagi li dzi hijr. Qasamul li dzī hijr (terdapat sumpah bagi setiap yang berakal). Temanya supaya kita tidak terjerembab dalam kehinaan, supaya kita tidak menyesal di hari kiamat. Hijr, berakal, diambil dari kata dasar hajaro yang artinya menahan dan kokoh, makanya hajar, batu, ia kokoh.

Orang yang berakal adalah orang yang sanggup menahan, karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, Al kayyis man daana nafsahu wal amila limaa ba’dal mauut, orang yang cerdas adalah orang yang mau menundukkan hawa nafsunya dan berpikir sangat visioner (mengkoreksi dirinya dan beramal sebagai bekal setelah mati). Wal aajizu man atba’a nafsahu hawaaha watamanna alaulooh, Orang yang lemah (bodoh) ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah (dosanya akan diampuni tanpa bertaubat).

A lam tarā kaifa fa‘ala rabbuka bi ‘ād, tidakkah kamu merenungkan, bagaimana Rabb-mu telah Bertindak terhadap kaum ‘Ad?. Kaum ‘Ad ini adalah representasi klimaks dari peradaban Batu.

‘Irama Dzātil ‘imād, yaitu kaum Iram yang memiliki tiang-tiang. Hari itu, kota Iram tidak ada bangunan seperti itu.

Allatī lam yukhlaq mitsluhā fil bilād, yang belum pernah diciptakan bandingannya di negeri-negeri lain.

Wa tsamūda Alladzīna jābus shakhra bil wād, dan kaum Tsamud yang membelah batu-batu besar di lembah. Kaum Tsamud ini lebih dahsyat dari kaum ‘Ad, kaum Tsamud jika melihat batu dia tidak tahan, dia mengambil tempat tinggal anti mainstream di gunung-gunung batu dipahat menjadi istana yang megah. Kaum Tsamud itu nenek moyangnya kaum Nabateyan, karena kaum Tsamud sudah punah. Kaum ‘Ad dan kaum Tsamud juga biasa disebut dengan Al arab al aribah/ba’idah, Arab asli tapi sudah punah. Allah Subahanu wa ta’ala ingin mengatakan kepada kita, wahai kaum yang punya peradaban besi, nasib kalian akan sama pada kaum di zaman batu jika kalian mendustakan peringatan-peringatanku.

Wa fir‘auna Dzil autād, serta Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (tiang besar). Di dalam salah satu atsar-nya, Fir’aun itu memiliki tiang-tiang besar di depan istananya, keempat tiang besar ini digunakan untuk membunuh musuh-musuh politiknya atau siapapun yang ingin ia bunuh.

Alladzīna thaghau fil bilād, yang telah berlaku sewenang-wenang di negeri-negeri itu. Mereka dimusnahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala karena telah melampaui batas dan tidak mau bertobat.

Fa aktsarū fīhā Al-fasād, yang menyebabkan kerusakan dimana-mana.

Fa shabba ‘Alaihim rabbuka sautha ‘adzāb, Karena itu, Rabb-mu Menimpakan cambuk azab kepada mereka.

Inna rabbaka La bil mirshād, Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mengawasi. Dimanapun kita, Allah pasti tahu, la bil mirshad. Menandakan tidak ada satu orang pun yang bisa menghindar dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Dimanapun kita bersembunyi, tidak ada tempat yang tidak diketahui oleh-Nya.

Fa ammal iηsānu Idzā mabtalāhu Rabbuhū Fa akramahū Wa na‘‘amahū Fa yaqūlu rabbī akraman, adapun manusia, apabila diuji oleh Rabb-nya, lalu Dia Memuliakannya dan Memberinya kesenangan, maka ia akan berkata, Rabb-ku telah Memuliakan daku.

Wa ammā idzā mabtalāhu Fa qadara ‘alaihi Rizqahū Fa yaqūlu rabbī ahānan, namun, apabila ia diuji oleh Rabb-nya, lalu Dia Menyempitkan rezekinya, maka ia akan berkata, Rabb-ku telah menghinakan daku.

Tabiat manusia jika ia dikasih lapang, harta, maka ia percaya diri sekali bahwa Allah sedang memuliakannya. Tapi jika diberi musibah, orang yang tidak punya iman akan punya persepsi bahwa Allah lagi bosan dengannya. Ketika Allah memberi rezeki ketika kita lapang, jangan terlalu percaya diri, karena rezeki baik itu materi maupun non materi semuanya adalah ujian. Sehebat nabi Sulaiman pun juga merasakan ketika diberi nikmat ia kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.