Sabtu, 10 Oktober 2015

Arti Waktu Bagi Mahasiswa



Terkadang, beberapa dari mahasiswa ketika menghadapi berbagai kegiatan yang padat, hanya mampu mengusahakan untuk menghadiri semua tanpa adanya manajemen waktu yang baik. Padahal jika kita menjalankan seluruh aktivitas tersebut yang diperlukan adalah bagaimana kita mampu memanfaatkan waktu 24 jam itu dengan seoptimal mungkin agar tidak terjadi penumpukan pengerjaan nantinya. Pengertian Manajemen waktu menurut beberapa pakar adalah menyelesaikan sesuatu dengan lebih cepat dan bekerja lebih cerdas (Davidson, 2001). Menurut Orr (Dalam Saputro, 2006) manajemen waktu diartikan sebagai penggunaan waktu seefisien dan seefektif mungkin untuk memperoleh waktu maksimal. Dari beberapa pengertian tersebut tentu kita dapat menyimpulkan bahwa pada intinya tiap waktu yang kita peroleh harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyelesaikan sesuatu, jangan terlalu banyak bersantai, apalagi bermalas-malasan. Manusia yang cerdas ialah mereka yang dapat memanfaatkan tiap waktunya dengan baik dan bermanfaat buat orang lain maupun dirinya sendiri.
Kita mesti memprioritaskan sesuatu yang penting dan mendesak dulu ketimbang yang lain yang tidak begitu mendesak. Dengan posisi kita sebagai mahasiswa sekarang ini, tentu yang harus diprioritaskan ialah kuliah dibanding dengan aktivitas lain seperti organisasi. Ahmad Sony Alta (2015) mengatakan bahwa kita mesti membedakan antara agama, kuliah, organisasi dan hobi. Jangan terlalu banyak ikut organisasi, fokus pada satu pekerjaan sebelum mengerjakan pekerjaan lainnya, dan sebisa mungkin mengatur waktu di luar kuliah. Cara agar dapat memanfaatkan waktu menurut beliau ialah dengan membuat skala prioritas, deadline terdekat harus diselesaikan terlebih dahulu. Sedangkan menurut Fathurrahman Setiawan (2015), ia mengatakan bahwa aktivitas kuliah adalah prioritas utama kita sebagai mahasiswa. Tapi karena kegiatan kuliah tidak begitu lama, sehingga kita juga perlu memanfaatkan waktu untuk mencari pengalaman, salah satunya dengan berorganisasi, untuk manajemen waktunya sendiri, apapun yang bisa dikerjakan maka kerjakan, jangan menunda-nunda dan jangan menumpuk pekerjaan karena justru akan berdampak kepada kita pribadi.

Pada intinya bahwa kita jangan menghabiskan waktu kita hanya dengan bermalas-malasan, jangan sampai kita menyesal nantinya. Sekarang kita mesti mengubah pola hidup, menjadi manusia produktif dengan tiap waktu yang digunakan dapat bermanfaat bagi orang lain. Waktu itu relatif, tergantung dari perbandingannya, kita merasa menunggu bis selama 5 menit begitu lama, tapi bermain bola dengan waktu yang sama begitu cepat, ini semua tergantung dari pribadi sendiri.

Iyas Muzani, 6 Oktober 2015

Karena Dakwah Adalah Jalan Hidup Kita


Di tengah arus globalisasi saat ini, kita (umat Islam) dihadapkan oleh berbagai permasalahan yang begitu dinamis, mulai dari kurangnya animo umat Islam dalam memperdalam kualitas ilmu aqidah maupun fiqh nya, kecenderungan kepada budaya Barat, minimnya ilmuwan-ilmuwan yang berasal dari kalangan muslim, dan berbagai permasalahan lainnya yang sejatinya dapat mengikis keutuhan agama ini. Perlu kita tekankan bahwa kelangsungan agama ini berada di tangan umatnya.
Keutuhan ajaran Islam ini perlu dijaga, pemahaman Islam secara fundamental sangat ditekankan karena jangan sampai nantinya Islam hanya sebatas namanya saja, namun dalam berakhlak sama saja dengan agama yang lain. Perlu untuk kita ketahui bahwa yang menjadi perbedaan agama Islam dengan agama yang lainnya ialah di akhlaknya. Maka jangan sampai justru nilai maupun sunah yang tertanam sejak dahulu ini terkikis oleh pemikiran-pemikiran sejumlah oknum yang katanya ingin memodernisasikan agama ini.
Kunci dalam menjaga keutuhan agama ini ialah dengan konsistensi kita dalam berdakwah, minimal tiap orang mendakwahkan 1 ayat kepada orang lain, “Balighu anni’ wala ayat.” Dakwah kepada orang lain bukan berarti kita mesti paham betul seluk-beluk ajaran agama ini, akan tetapi kita bisa berdakwah walaupun hanya 1 ayat saja. Dakwah menurut Yusuf Al-Qardhawi harus bersifat seruan kebaikan, dakwah tidak boleh dipahami sebagai seruan untuk tampil beda (Istimewa) dengan segala tujuannya. Menurutnya karena Islam sejak awal dakwahnya merupakan sebuah risalah universal, dakwah kepada manusia secara keseluruhan dan sebagai rahmat bagi setiap hamba Allah.
Dalam menghadapi arus komunikasi yang semakin canggih, begitu cepatnya penerimaan informasi antara berbagai negara, bahkan tidak ada pembatasan konten dalam berinteraksi lewat dunia maya. Semua ini perlu kita hadapi dengan bijak sebagai umat Islam yang kuat imannya. Solusi yang diberikan oleh Yusuf Al-Qardhawi ialah dengan memiliki retorika dan karakteristik yang mendasar, mampu mengantarkan substansi dakwah kepada semua umat manusia, dapat memuaskan nalar mereka dengan hujjah yang nyata, melunakkan hatinya dengan mauidzah yang baik, tidak menyimpang dari hikmah.

Sebagai mahasiswa yang peduli terhadap sesamanya tentu perlu berpartisipasi dalam gerakan dakwah ini, agama ini tidak akan bertahan apabila pemuda-pemudinya terluluh-lantahkan oleh zaman. Di manapun kita berada, usahakan agar kita dapat menebarkan dakwah ini, di fakultak teknik Universitas Gadjah Mada misalnya, Keluarga Muslim Teknik (KMT) dapat dijadikan wadah dan sarana untuk memperluas dakwah kita minimal di kampus UGM itu sendiri. Sangat dirasakan betul dampak dari budaya Barat itu terhadap generasi muda kita, mau jadi apa agama ini nanti jika pemuda-pemudinya saja sudah jauh dari akhlak seorang muslim sejati. Kita perlu memanfaatkan seoptimal mungkin sarana-sarana yang ada di kampus, memperbaiki maupun meningkatkan kualitas iman dan ilmu diri ini dengan berorganisasi. Di KMT, dengan berbagai jenis divisi yang ada, kita dapat belajar banyak guna memperkuat ilmu agama kita untuk lebih maksimal dalam berdakwah, begitu pun dengan universitas-universitas lainnya, representasi Islam ada pada akhlak umatnya, jadilah seorang muslim berakhlak yang dipandang terhormat di mata umat lainnya.
Iyas Muzani, 10 Oktober 2015.