Tuesday, October 23, 2018

Totalitas Hingga Akhir



Orang-orang mungkin tidak menyangka Liverpool bisa menang atas AC Milan pada pertandingan liga champions tahun 2005 silam, secara heroik Liverpool mampu mengejar ketertinggalan 3 gol tanpa balas di babak pertama pada paruh kedua sebelum akhirnya menang lewat drama adu penalti di Istanbul, Turki. Liverpool mampu membuktikannya, bahwa boleh jadi di awal kita tertinggal namun sebelum peluit tanda berakhirnya pertandingan belum ditiupkan, maka tidak ada yang mustahil untuk bisa membalikkan keadaan. Boleh jadi kehidupan kita dulu suram, tapi itu tidak berarti bahwa masa depan kita akan sama dengan masa lalu. Boleh jadi tantangan yang kita hadapi itu berat, bahkan orang lain menganggapnya mustahil untuk bisa dituntaskan, namun jika kita berikhtiar semaksimal mungkin insyaAllah akan ada kemudahan, allahu musta’an.

Jangan pernah berpikiran bahwa apa yang kita usahakan selama ini sia-sia, cara kita dalam memahami setiap satuan capaian akan sangat mempengaruhi persepsi kita tentang keseluruhan perjuangan yang dilakukan. Dalam konteks dakwah, capaian kita tentu menjadi harapan yang paling besar, namun untuk memastikan orang tersebut dapat menerima dakwah kita atau tidak, itu bukanlah ranah kita. Bahkan paman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Abu Thalib, yang membantu dan melindungi dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di Mekah pun meninggal tidak dalam kondisi sebagai seorang muslim. Apa artinya? Artinya bahwa perkara apa yang kita sampaikan diterima atau tidak itu bukanlah domain kita, meskipun orang tersebut kerabat dekat kita. Tugas kita hanya berikhtiar semaksimal mungkin dalam mengajak orang lain pada kebaikan, hasilnya? Itu adalah domain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Harun Al-Rasyid mengatakan bahwa, saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan, sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung segala usaha maksimal. Tentu, yang semestinya kita harapkan adalah keberhasilan yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kita atas usaha dan kerja-kerja maksimal kita. Tidak semata bagaimana capaian itu diperoleh, tapi juga bagaimana capaian itu dilanjutkan. Tidak semata bagaimana kemudahan itu didapat, tapi juga bagaimana gangguan dan rintangan yang menghambat mampu untuk kita lalui.

Pendiri salah satu e-commerce terbesar di dunia, Jack Ma, juga mengawali kesuksesannya dari titik nol. Ia bahkan menjadi satu-satunya orang yang lamaran pekerjaannya ditolak pada gerai makanan cepat saji, ditolak ketika mendaftar di kepolisian di saat ratusan pelamar lainnya diterima, sepuluh kali ditolak masuk Universitas Harvard, hingga tiga puluh kali ditolak perusahaan. Tapi apakah semua itu membuat dia berhenti dan tidak mencari jalan lain? Tidak, justru dari kegagalan itulah ia membuka jalan keberhasilannya sehingga Alibaba sekarang bisa bertengger sebagai e-commerce terbaik di dunia.

Cerita di atas menjadi bukti bahwa ketika kita tertinggal, ketika kita ditolak, maka tidak berarti pintu keberhasilan itu tertutup bagi kita.  Capaian-capaian yang kita peroleh adalah akumulasi dari setiap kerja yang kita lakukan, tugas kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin, mastato’thum, hingga kita tidak lagi merasakan luka, hingga perih tidak lagi menghentikan langkah kaki kita, bekerja keras sepenuhnya sampai habis energi kita. Serahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.