Selasa, 18 Oktober 2016

Ruh Baru dalam Tubuh Umat


(روح الجديد في جسد الامة)
Rasanya, di dalam menjalankan dakwah ini kita sering tahu apa yang mesti dilakukan, namun berat untuk menjalankan. Kita melihat begitu banyak kemungkaran namun masih ragu mengingatkan. Memanglah, kita juga manusia biasa sama seperti yang lain, kadang kita merasa letih dan iman menjadi futur. Terlebih lagi ketika ingin mengingatkan malah dibalas dengan hujatan dan cacian. Saudaraku, dakwah ini, ibarat permainan sepak bola, untuk bisa memenangkan permainan kita mesti menentukan rencana, bekerja kolektif dalam suatu tim, menyatukan tujuan, serta paham akan kondisi medannya.
Sekiranya, dunia dakwah ini merupakan dunia kompetisi. Hanya mereka yang terberdayakan yang akan senantiasa siap memikul beban dakwah. Beban dakwah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimana dakwah itu. Tim dakwah membutuhkan anggota tim yang cerdas, qawi, matin, dan bertanggung jawab. Karakter tersebut hanya didapatkan dengan cara tarbiyah. Tarbiyah yang dijalani memiliki kesempatan untuk memperbaiki, mengembangkan, dan mengukuhkan kita. Artinya, kita memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Memang sangat disayangkan apabila kemudian terjadi penurunan kualitas kader di dalam jama’ah ini. Akan tetapi, peristiwa ini perlu kita sikapi dengan penuh kebijaksanaan, bahwa ini menjadi pembelajaran yang besar bagi kita. Kekurangan-kekurangan ini adalah pengingat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala agar kita senantiasa menjaga hubungan dengan-Nya, memperdalam pengetahuan dengan memperbanyak mengikuti majelis ilmu, membaca buku dan berdiskusi. Begitu banyak kemudian kader yang begitu aktif dalam menjalankan event di organisasinya namun lupa dan malas terhadap kewajibannya dalam meningkatkan kapasitas ruhiyah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa’sallam pun memberikan teladan yang luar biasa kepada kita, dakwah yang beliau jalankan tidaklah mudah, beliau dicaci, dihujat, hingga dilempari kotoran. Meskipun perlakuan masyarakat Arab Quraisy kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa’sallam begitu buruk dan distriminatif, akan tetapi apa perlakuan beliau terhadap mereka? Beliau tak segan-segan menjenguk orang yang menyakitinya, hingga pada akhirnya orang tersebut merasa malu karena ternyata manusia yang selalu dianiayanya memiliki sifat terpuji dan tidak ada dendam sedikitpun terhadapnya.
Ikhwah fillah, dakwah yang kita jalankan ini, begitu diharapkan oleh masyarakat di tengah degradasi moral generasi muda saat ini. Jadilah antum sebagai ruh-ruh baru yang membersihkan noda-noda hitam yang begitu lama menempel di tengah masyarakat, antum ar ruhul jadid fi jasadil ummah, kalian adalah ruh baru dalam tubuh umat. Senantiasa mewarnai aktivitas dunia ini dengan tidak luput beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana tujuan kita diciptakan oleh-Nya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
      Ingatlah pesan yang pernah disampaikan oleh Ustadz Anis Matta, “Ketika orang tertidur, kamu terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas, kamu membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati, kamu menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu, kamu bertanggungjawab, itulah repotnya. Maka tidak banyak orang bersamamu disini; mendirikan imperium kebenaran.”

Referensi
1.      Eko Novianto. 2013. Sudahkah Kita Tarbiyah?. Yogyakarta: Era Adicitra Intermedia.

0 komentar: