Jumat, 24 Januari 2014

Berani Mengelola Hati


Sebelumnya kita perlu tahu bahwa hati adalah karunia Allah. Jika hati telah bersih, itu adalah bagian dari kasih sayang Allah. Tapi sayangnya hati memang tidak sejalan dengan pikiran. Pikiran terkadang mampu mengotori hati. Oleh karena itu, untuk membersihkan hati dibutuhkan pikiran jernih, dan pikiran jernih didapatkan dari kearifan persepsi & seberapa dekat kamu dengan Allah Azza Wa Jalla.

Sinkronisasi persepsi dan hati akan terwujud kalau kita mendapatkan input ilmu dan informasi yang memadai juga berdasarkan Al-Qur’an dan hadis sahih. Hati yang bersih adalah wujud dari kasih sayang Allah benar adanya, karena salah satu kalimat doa Rasulullah Muhammad SAW adalah, “Wahai zat yang membolak-balikkan hati..” Artinya hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati kita, apakah condong kepadanya atau malah menjauh darinya. Namun manusia diberi akal dan pikiran untuk mampu mengelola hati, agar mampu memilah antara yang haq dan yang batil.

Jangan takut untuk mengelola hati, karena inilah kunci untuk meledakkan potensi diri anda. Ketakutan mengelola hati biasanya muncul karena anda menganggap belum saatnya untuk bertaubat. Maka Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” [QS. Al Baqarah: 222]

Ayo, beranilah mengelola hati pada kebenaran karena kalau tidak sekarang, kapan lagi? Hidup di dunia ini Cuma sekali dan tidak mungkin terulang lagi. Waktu hidup kita pun terus merambat.
                Wallahua’lam bisshawab..
                Jazakallah Khairan Katsiran, Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza.
                Wassalamualaikum..


Jumat, 17 Januari 2014

Meng-Install Semangat


Tak jarang kita mendapati orang yang hatinya tengah gundah akan hal percintaan yang ia alami, dan kebanyakan perasaan itu dialami oleh remaja yang tengah beranjak dewasa. Ia penasaran akan hal percintaan yang ia kira dapat mendatangkan kebahagiaan, pikirnya bagaimana bisa mendapat pendamping hidup yang baik jika tak kenal satu sama lain sebelumnya, “Tak kenal maka tak sayang.” Tentu ini berbeda dengan pemuda-pemuda generasi sebelumnya. Sulit melihat sosok pemuda sekarang yang memiliki semangat juang tinggi layaknya Al-Fatih & Salahuddin Al-Ayyubi.

Banyak yang menghiraukan sekaligus mengacuhkan. Dan parahnya, itu sudah dianggap wajar oleh kalangan umum terutama orang tua. Merasa itu bukanlah suatu masalah serius yang perlu dihadapi, Padahal perasaan seperti itu sudahlah menjadi bibit penyakit dan dapat merusak agama Islam secara perlahan. Mengapa? Karena secara tak sadar mempengaruhi motivasi pemuda Islam untuk mengarungi kehidupan dengan penuh semangat. Sungguh kegalauan itu membuatnya merana.

Seorang pemimpin Barat pernah berkata, “Umat muslim tidak akan pernah dikalahkan selama mereka masih berpegang teguh pada Al-Qur’an.” Perkataan pemimpin barat itu ada benarnya, sekarang sudah terlihat bagaimana banyak pemuda dengan kesenangan & kegalauannya melupakan darimana ia berasal, siapa yang menciptakannya, untuk apa ia hidup. Mereka semakin jauh kepada rabbNya, kepada kita suci Al-Qur’an. Mereka lupa akan Allah sebagai tujuan, Rasulullah sebagai teladan, dan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya.

Tak ada daya selain saling mengingatkan, “Yang tahu memberitahukan, dan yang belum tahu menyadarkan diri.” Sungguh, mereka yang lebih paham hanya bisa mengingatkan dan kesadaran atau hidayah dari Allah tergantung pribadi masing-masing. Apakah siap untuk berubah?

                Wallahua’lam bisshawab..
                Jazakumullah Khairan Katsiran..
                Wassalamu alaikum..

Pemenang VS Pecundang

Pemenang melihat jawaban dari setiap masalah.
Pecundang melihat masalah dari setiap solusi.

Pemenang mengatakan, "Itu sulit, tetapi bisa dilakukan!"
Pecundang mengatakan, "Itu bisa dilakukan, tetapi pasti sulit!"

Pemenang melihat rumput hijau di sekeliling jebakan.
Pecundang melihat banyak jebakan di sekeliling rumput hijau.

Pemenang senang menuntaskan.
Pecundang senang menunda-nunda.

"Meng-install Nyali"

Rabu, 15 Januari 2014

Kini Saatnya, Wahai Pemuda!


Bismillahi rahmani rahim..
Ikhwan & Akhwat yang sementara membaca tulisan saya, negeri ini sebentar lagi akan memilih pemimpin-pemimpin baru yang nantinya akan menentukan nasib Indonesia pada tahun 2014-2019. Pilihan ada di tangan kita, entah itu kita memilih pemimpin berdasarkan keramahan, karismatik, pengetahuan, atau kereligiusannya.
Tak bisa dipungkiri kita tengah berada dalam krisis moral & akhlak, telah 10 tahun negeri ini tak kunjung mengalami peningkatan moral secara signifikan. Banyak dari kita menghiraukan dan acap kali masa bodoh dengan permasalahan ini. Hakikatnya, mereka yang tengah mengalami permasalahan ini belum tahu jati diri & tujuan hidupnya.
Sadarilah, tahun demi tahun kemiskinan & tindak kriminal tak kunjung habisnya. Sebaliknya, tindak kriminal semakin menjadi-jadi. Adakah harapan di negeri ini?
Inilah saatnya Islam bangkit di bangsa ini, dan mewakili harapan rakyatnya di masa depan. Tiada asa selain Islam sebagai landasannya, wujudkan Indonesia sebagai negara khalifah. Hilangkan ego masing-masing untuk bersama mewujudkan bangsa yang cerdas & berakhlak mulia. Karena yakinlah, “Suka atau tidak suka, bangsa ini akan dipimpin oleh orang yang diridhoi Allah SWT.”
“Cara berpikir harus jauh ke depan, bukan masalah pribadi. Namun masalah bangsa, agama, dan dunia.”
Wahai pemuda Islam, bersatulah! Kini lah saatnya kita membangkitkan Islam. Betapa pedihnya saudara kita yang di sana rasakan di tengah gelapnya malam, di bawah panasnya matahari di siang hari dengan nasib yang tak kunjung jelas, mereka tetap mengais rezeki tanpa henti dengan imbalan yang tak sepadan. Itu tidak cukup, mereka membutuhkan kita sebagai penolongnya.
Wujudkan lah harapan mereka, wahai kalian pemuda Islam.
Kita harus bersatu dalam perjuangan Islam, kita harus berpadu Demi kebangkitan Islam.

Jazakallahu Khairan Katsiran..
Wassalamu alaikum..

Ketika "Ikhwan" Jatuh Cinta


Siang itu, terik matahari berada pas di atas kepala Ikhwan yang tengah duduk di teras Masjid memikirkan sesuatu. Entah apa yang dipikirkan oleh Ikhwan seorang siswa SMA itu, kelihatannya dia sedang mengalami masalah dan sudah tiga hari dia terlihat menyendiri di depan masjid seperti itu.
Tingkahnya yang berbeda dengan sebelumnya membuat teman Rohis Ikhwan lainnya menjadi prihatin. “Dia tampak berbeda dengan yang dulu, biasanya dia yang paling ceria di antara kita berlima. Aneh saja melihatnya duduk menyendiri di teras Masjid tiap pulang sekolah” Ujar Ahmad kepada yang lain.
“Mau bagaimana lagi Mad,, kita tidak bisa mengganggunya. Mungkin
  ada masalah pribadi yang membuat Ikhwan tidak memberitahukannya.”
  Pungkas Arif.
Keesokan harinya, Ahmad, Karim, Arif dan Muklis sebenarnya ingin menemui Ikhwan di kelasnya pada saat istrahat. Namun, saat itu Ikhwan tidak terlihat di kelasnya. Setelah bertanya ke teman kelas Ikhwan, ternyata dia tidak datang ke sekolah hari itu.
Keprihatinan temannya kepada Ikhwan semakin tak tergoyahkan, mereka pun berniat menemui Ikhwan di rumahnya sepulang sekolah.
“Kreengggg... Kreenggg... Kreengg.”
Akhirnya, bel yang ditunggu-tunggu keempat remaja itu pun dibunyikan. Mereka lalu bergegas menuju rumah Ikhwan dengan mengendarai motor masing-masing.
Sesampainya di rumah Ikhwan, mereka terkejut dengan pekarangan rumah Ikhwan yang berantakan. Biasanya, Ikhwan sering membersihkan pekarangan rumahnya tiap sore hari. Tapi kali ini pekarangannya berantakan sekali.
“Assalamu alaikum... Ikhwan..Ikhwan...” Sahut mereka berempat.
Dan ternyata yang keluar hanyalah kakak Ikhwan saja. Kakak Ikhwan hanya mengatakan kepada mereka untuk tidak menemui Ikhwan saat ini.
“Emangnya ada apa dengan Ikhwan, kak?” Tanya si Muklis.
“Saya juga tidak tahu dek, tadi sehabis shalat shubuh, Ikhwan kembali tidur di kamarnya dan bilang kepada saya untuk tidak mengganggunya dulu.”
Mereka pun kembali ke rumah masing-masing, meski masih dibayang-bayangi dengan kekhwatiran terhadap Ikhwan.
Pagi itu sekolah masih sangat sepi, namun Ikhwan sudah terlihat di Masjid dan sedang melaksanakan shalat dhuha.
“Mungkin Ikhwan sudah selesai dengan masalahnya, dan kembali menjadi Ikhwan seperti sebelumnya.” Harap Arif yang juga datang cepat pagi itu.
Kekhawatiran Arif saat itu sedikit terbayarkan dengan kedatangan Ikhwan. Namun Ikhwan belum mau menceritakan masalahnya kepada kawannya itu.
Barulah pada saat pulang sekolah Ikhwan menceritakan masalahnya kepada kawannya di teras Masjid. Dan ternyata Ikhwan sedang mengalami gejolak cinta, dan itu menjadi pengalaman pertama buat Ikhwan di masa sekolah dengan pakaian putih abu-abunya. Keempat kawan Ikhwan lalu terkejut dengan hal itu. Bukan apanya, Ikhwan yang dikenal kalem dan tekun beribadah itu tentu membuat temannya yang lain menjadi tercengang.
Siang itu kemudian diisi dengan perbincangan kelima remaja Rohis mengenai kasmaran yang dialami oleh Ikhwan.
Tak bisa dipungkiri Ikhwan juga manusia. Punya rasa cinta. Tapi bedanya, Ikhwan seorang pemuda Islam berusaha untuk meluruskan niat dan menutupi perasaannya. Dia berusaha melawan hawa nafsunya meskipun rasa cinta yang jadi korbannya.
Apalagi ilmu yang Ikhwan dapat dari Tarbiyah rutin dari organisasi Rohisnya membuat kepercayaannya kepada Allah SWT semakin meningkat, meskipun ia merelakan orang yang ia cintai menjauhi dirinya.
Di tengah perbincangan mereka Ikhwan hanya berharap “suatu saat nanti mereka dipertemukan di suatu tempat, dan bisa hidup bersama dalam sebuah keluarga.” Ucap Ikhwan sambil mengeluarkan air matanya.
Mendengar perkataan Ikhwan, Arif lalu menghibur Ikhwan dengan surah An-Nur ayat 26: “perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dari rezeki yang mulia (surga).”
Dari ayat yang dibacakan oleh Arif, Ikhwan lalu terdiam sejenak, pantas saja. Dia yang sebelumnya memberikan motivasi kepada teman-temannya kini seolah termakan oleh perkataannya sendiri. Ia yang sebelumnya menasihati temannya yang sedang mengalami masalah kini ia yang disanasihati oleh temannya.
Terlintas di dalam pikirannya akan rasa penyesalan itu. Ia terlena oleh kenikmatan duniawi, sampai-sampai melupakan rabb-Nya, baru ia sadari itu.
Perilakunya pun mulai berubah seiiring dengan pencerahan dari temannya, tetapi tetap saja ia masih sulit untuk melupakan orang yang ia sukai apalagi itu menjadi cinta pertamanya. Namun ia sudah paham betul tentang cinta yang sebenarnya. Yap, cinta yang paling sejati ialah cinta kepada Allah SWT.
Malam itu, Ikhwan sedang menulis pengalaman hidupnya. Ya, kebiasaan itu terus dilakukan Ikhwan sejak masuk SMA berkat saran dari salah satu Murabbinya. Ia berusaha menulis pengalaman pertamanya: jatuh hati kepada seorang akhwat, dan ia berusaha untuk bagaimana ia dapat melupakan segalanya.
Tampak Ikhwan menulis dengan mata yang berkaca-kaca, Ikhwan terlihat sulit menuliskan kata-kata di dalam buku hariannya itu. Namun ia mencoba tegar menjalaninya.
Ada yang menarik dari tulisannya: "Aku memandangnya, tak mengerti dengan ucapannya. Hari semakin gelap, aku pun melupakannya."
Alasan mengapa ia menulis tersebut dikarenakan cara pandang orang yang ia sukai kepadanya yang berbeda, namun ia sulit untuk mengungkapkan langsung kepada sang akhwat tersebut. Ia hanya memberanikan diri mengungkapkannya lewat pesan melalui handphonenya, namun itupun tidak berhasil, pesannya tidak dibalas oleh akhwat itu.
Waktu pun terus berjalan, berkat temannya lah sehingga Ikhwan dapat melupakan akhwat tersebut. Sebuah pengorbanan yang amat besar dari Ikhwan.
Alhamdulillah, kini Ikhwan tumbuh menjadi seorang pemuda yang tekun beribadah dan  Insya Allah dicintai oleh Allah SWT, karena tindakannya dalam melawan hawa nafsunya.
Hari demi hari Ikhwan lewati, shalat lima waktu, shalat sunnah tahajjud dan dhuha, berpuasa senin-kamis, tilawah Al-Qur’an dan perbuatan baik lainnya ia lakukan tiap harinya. Semata-mata hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT .
Ia kemudian terpilih menjadi ketua Rohis di sekolahnya, itu berkat kepercayaan teman-temannya yang selalu ada di belakangnya dan tentu saja berkat rahmat dari Allah SWT.
Kini rasa cintanya itu telah lenyap, ia sudah melupakannya. Tidak lain karena amanah yang ia terimanya sebagai pemimpin sebuah organisasi, apalagi dengan label ketua Rohis ia harus menjalankan syariat Islam dan menegakkannya. Ia tidak ingin jatuh untuk kedua kalinya di jurang yang sama.












Sabtu, 04 Januari 2014

Islam di Eropa kini

Jika anda memperhatikan Eropa saat ini, populasi umat Islam di sana terus bertambah. Ini karena banyaknya imigran dari negara Islam yang mencari tempat di sana.

Baru-baru ini di Belgia, 25% dari populasinya dan 50% kelahiran merupakan seorang muslim. Statistik negara tersebut menyatakan bahwa di tahun 2025 Belgia akan menjadi negara Islam. Dan nama Muhammad akan menjadi nama terbanyak di catatan kelahiran Belgia.

Dalam 30 tahun terakhir, populasi muslim di Britania Raya meningkat dari 82 ribu menjadi 2,5 juta jiwa, bisa dibilang meningkat 30 kali lipat.

Adapun di Albania, Kosovo, Bosnia-Herzegovina, dan Bulgaria, Muslimin telah lama berada di sana sejak masa Turki Utsmani. Sehingga, Muslimin di negara-negara tersebut sebagian besar lahir di sana atau merupakan penduduk asli. Di Bulgaria Saat ini, populasi Muslim lebih dari 130 ribu. Albania bahkan memiliki populasi mayoritas Muslim, padahal sebelumnya negara ini menganut Katolik Roma dan Kristen. Negara-negara yang pernah dijajaki Islam tersebut tak banyak memiliki populasi Muslim yang besar. Namun, sebagian negara memiliki Muslim sebagai etnis mayoritas. 

Beberapa negara yang memiliki konsentrasi tinggi Muslim tersebut ialah Kosovo dengan 90 persen populasinya merupakan Muslim, Albania dengan 80 persen populasinya merupakan Muslim. Bosnia-Herzegovina 40 persen, dan Republik Makedonia memiliki 33 persen. Adapun Yunani hanya sekitar tiga persen Muslim, sementara Spanyol hanya sekitar satu persen Muslim. Sedangkan, jumlah Muslimin terbanyak Eropa berada di Jerman, sebanyak empat juta. Angka tersebut cukup fantastis. Padahal, Jerman bukanlah wilayah yang pernah terjamah kekhalifahan Islam.

Di Prancis, 1,8 anak per keluarga adalah muslim di tahun 2027, 1 dari 5 orang Prancis adalah muslim. Dan dalam waktu 39 tahun, Prancis akan menjadi Republik Islam. Bahkan, kini di sebagian lingkungan di Prancis mulai dilarang untuk dimasuki oleh wanita yang tidak memakai hijab. Seorang muslim di Prancis juga bisa dilihat dari selebritinya, sebut saja:
·         Seorang rapper bernama “Diam’s”
·         Mayoritas pemain yang pernah/sekarang bermain di Tim Nasional Prancis adalah seorang muslim:
o   Zinedine Zidane
o   Eric Abidal
o   Franck Ribery
o   Thierry Henry
o   Fredrick Kanoute
o   Nicolas Anelka
o   Karim Benzema
o   Sagna
o   Samir Nasri
Di Inggris, Pengadilan Syariah sudah resmi menjadi bagian dari sistem.
                “Akan ada masanya di mana Eropa akan menjadi sebuah bangsa Islam. Ini akan terjadi suka atau tidak suka. Ini merupakan ketetapan Allah SWT. Islam akan datang!”
Islam akan tersebar di Eropa tidak dengan cara peperangan, tapi akan ditaklukkan dengan dakwah & ajaran-Nya,  Insya Allah!
Di Jerman, setiap 2 jam – 1 orang masuk Islam. Ini berarti, akan ada 12 orang muslim setiap harinya.
Di Italia, setiap tahunnya dikeluarkan 100 izin pembangunan masjid.
Di Denmark, 17 orang akan masuk Islam setiap harinya.
52 juta muslim di Eropa, menurut pemerintah Jerman jumlah ini akan bertambah 2 kali lipat menjadi 104 juta muslim dalam waktu 20 tahun.   
                Wallahua’lam bishawab.
Source: Muslimdaily.net/Republika Online