Sabtu, 30 Agustus 2014

[KISAH] Hafidz Qur’an Murtad Hanya Karena Wanita


Kisah pilu seorang tabiin yang hafidz Quran namun murtad pada saat berjihad. Hanya karena asmara...
Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan Romawi. Ia adalah seorang tabiin (270H) yang hafal Quran. Namanya adalah sebaik-baik nama, Abdullah bin Abdurrahim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya di dunia ini seorang mujahid nan hafal Quran. Namun lacur akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang hafalannya melainkan 2 ayat sahaja yang tersisa. Yaitu surah al hijr ayat 2-3, rubamaa yawaddulladziina kafaru lau kaanu muslimiin, dzarhum ya`kulu wayatamatta'u wayulhihimul amal-fasaw faya'lamuun. (Orang-orang kafir itu di akhirat nanti sering menginginkan andai di dunia dulu mereka muslim. Biarkanlah mereka makan dan senang-senang, dilalaikan oleh angan-angan kosong belaka, kelak mereka akan tahu akibatnya). Seolah ayat ini adalah kutukan sekaligus peringatan اَللّه yang terakhir namun tak digubrisnya. Apakah penyebabnya? Penyebabnya adalah wanita. Inilah kisahnya; Pedangnya masih berkilat2 memantul sinar mentari. Masih segar berlumur merahnya darah orang Romawi. Ia hantarkan orang Romawi itu ke neraka dengan pedangnya. Tak disangka nantinya dirinya pun dihantar ke neraka oleh seorang wanita Romawi, tidak dengan pedang melainkan dengan asmara. Kaum muslimin sedang mengepung kampung Romawi. Tiba-tiba mata Abdullah tertuju kepada seorang wanita Romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorang pun dijamin tak lolos su'ul khotimah. Dia lupa bahwa maksiat dan pandangan haram adalah gerbang kekufuran. Tak tahan, ia pun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih: "Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?" Perempuan itu menjawab: "Kakanda, masuklah agama Nasrani maka aku jd milikmu."Syahwat telah memenuhi relung hati Abdullah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta Al-Qur’an. Hatinya terbangun tembok anti hidayah. Khotamallaahu 'ala qulubihim wa'ala sam'ihim wa'ala abshorihim ghisyawah... Astaghfirullah, ma'adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad. Menikahlah dia di dalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? How come? Bagaimana bisa seorang hafidz yang hatinya dipenuhi Al-Qur’an meninggalkan اَللّه dan menjadi hamba salib? Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Dikatakannya bahwa ia telah lupakan Quran kecuali 2 ayat di atas saja dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum Nasrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai wafatnya.
Ya اَللّه seorang hafidz nan mujahid sahaja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lagi hamba yang banyak cacat ini. Tak punya amal andalan.
Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agar اَللّه lindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk di akhir hayat. Ma taraktu ba'di fitnatan adhorro 'ala ar rijaal min nisaa... "Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita" (muttafaq 'alaih).
Disarikan dari tulisan DR. Hamid Ath Thahir dlm Dibawah Kilatan Pedang (101 kisah heroik mujahidin)


Senin, 04 Agustus 2014

Mari “Media” kan Gerakan Dakwah Ini


Apakah gerakan dakwah sudah sampai merambah ke dunia media massa? Apakah dakwah sudah mampu mengontrol dan mewarnai media? Misalkan saja apakah siaran keagamaan di media sudah dapat dikendalikan dan diwarnai agar menjadi sarana efektif untuk melakukan perubahan di masyarakat. Apakah dakwah melalui media dapat memberikan “frame” pemahaman dan kesadaran beragama (tadayyun sya’bi) masyarakat secara tepat. Kenyataannya, hal itu masih jauh dari kondisi yang seharusnya, karena misalnya pada saat masyarakat Indonesia perlu digerakkan untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi, para penceramah di televisi malah memberikan materi zuhud dengan pengertian yang tidak proporsional.


Bila setiap hari emosi seseorang “teraduk-aduk” karena membaca dan mendengar berita-berita negatif dan digabungkan dengan emosi orang-orang lainnya maka akan membentuk “publicmood”. Perasaan yang dominan di masyarakat adalah putus asa dan ketidakberdayaan menghadapi persoalan-persoalan bangsa.

Minggu, 03 Agustus 2014

Hari Pertama Penuh Inspirasi


Hidup di perkampungan yang terisolasi dan jauh dari kota mungkin dianggap sebagian orang sebagai ketertinggalan di tengah semakin canggihnya teknologi yang ada saat ini. Disaat masyarakat perkotaan sedang asik menyaksikan pertandingan sepak bola di layar kaca, bercanda gurau dengan teman jejaring sosial lewat gadget canggihnya dan menyantap ria makanan modern, tahukah kita bahwa masih ada saudara yang tinggal jauh di daerah terpencil sama sekali tidak tersentuh oleh kecanggihan maupun kemajuan era dan teknologi tersebut? Tapi, bukan permasalahan itu yang akan ana’ angkat pada tulisan kali ini, akan tetapi masalah itulah yang menjadi latar belakang dan In sya Allah dengan keterbelakangan itu pula yang akan menginspirasi kita semua di tulisan berikut ini.

Ada sesuatu yang amatlah mengasyikkan kiranya dapat menjatuhkan kita ke dalam jurang kebathilan, sesuatu yang asyik itu timbul akibat dorongan hawa nafsu dan godaan syaitan. Apa itu? Sesuatu yang asyik itu sebenarnya hanyalah sebuah keasyikan sementara dan fana tak berarti dibanding keasyikan akhirat sana, sudah tahu? Betul, keasyikan duniawi ini seakan menggoyahkan hasrat seseorang yang tak memiliki iman yang kuat. Sehingga apapun kewajibannya sebagai umat Islam dapat ia tinggalkan hanya karena keasyikan ini.

Berbagai macam alasan muncul secara tiba-tiba saat diperhadapkan dengan perkara kebaikan, mulai dari kesibukan hingga keasyikan duniawi. Ya, ana’ bisa katakan bahwa semua ini dikarenakan ulah gadget super modern itu. Banyak yang lebih memilih bersantai di sofa empuk sambil memainkan gadgetnya ketimbang duduk khusyuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pertama kali sejak masuk SMA ana’ mengunjungi kampung halaman tercinta yaitu Desa Banca, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang yang jauh sekali dari keriuhan seperti kota Makassar-Gowa dan tinggi beribu meter di atas permukaan laut ini. Ada satu hal yang terlintas di benak ana’, mata seolah berkaca serta jiwa terasa bergetar saat melihat semangat beribadah penduduk kampung yang begitu tinggi ini mengisi penuh saf-saf masjid di malam terakhir shalat tarawih di bulan suci ramadhan. “Jauhnya masjid dari tempat tinggalnya tak menyurutkan langkah untuk menghadap kepada-Nya” In sya Allah di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala akhlak mereka kan dibalas dengan rahmat-Nya. Disamping itu, meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah satu sama lain tapi hubungan kekeluargaannya begitu kental terasa, ukhuwah mereka amatlah terjaga.

“Daya listrik memang begitu rendah, akan tetapi tak merendahkan semangat beribadahnya kepada Rabb pemilik semesta alam.”

Banyak pelajaran yang dapat ana’ petik pada kunjungan yang penuh rindu ini, satu yang pasti bahwa meski mereka jauh tertinggal dari pesatnya pertumbuhan teknologi tapi In sya Allah mereka jauh lebih unggul pada urusan akhirat, karena mereka sangat yakin bahwa masih ada kehidupan yang akan dijalani setelah ini dan sifatnya abadi. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum:7) Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!


~Ditulis di tengah gelapnya hari dan sejuknya udara di pegunungan. Semoga      menginspirasi J .. Barakalallahu fiik, wassalamu alaikum.