Tuesday, November 6, 2018

Politik Kotor



Banyak orang  menilai politik di Indonesia ini amburadul, hampir setiap bulan ada saja kasus korupsi yang dilakukan oleh wakil rakyat. Dari hilir ke hulu, mulai dari tingkat kabupaten hingga pusat. Dalam beberapa survei DPR, DPD, MPR, dan partai politik selalu menjadi lembaga negara yang berada di urutan terbawah atas tingkat kepercayaan masyarakat terhadapnya. Survei Charta Politika (2018) menyatakan DPR dipercaya sebanyak 49,5 persen dan tidak dipercaya sebesar 42,5 persen oleh responden, DPD dipercaya 42,0 persen dan tidak dipercaya 39,3 persen, partai politik dipercaya 39,0 persen dan tidak dipercaya 47,17 persen. Survei lain yang dilakukan oleh Alvara Research Center (2018) menyatakan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja DPR mencapai 51,8 persen, kinerja MPR mencapai 57,0 persen, dan Partai politik mencapai 64,3 persen.

Kondisi perpolitikan di Indonesia saat ini mungkin ibarat sungai yang tercemari, kotor dan tak terawat. Orang selalu nyinyir tentangnya, orang jijik untuk datang kesana, bahkan sebisa mungkin jaga jarak dengannya. Namun sungai tetaplah sungai, menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan jika diperlakukan dengan bijak. Saat ini sungainya mungkin kotor, namun bukan berarti sungai itu tidak akan bersih, justru kehadiran orang-orang yang punya itikad baik dan berani mengambil tindakanlah yang dinantikan.

Saya mengutip pernyataan Prof. Syarif Hidayat (2018) peneliti bidang politik LIPI yang menggarisbawahi tentang kinerja partai politik yang masih buruk. Menurutnya, kinerja partai politik yang demikian terjadi karena partai politik gagal menjalankan fungsi partai politik yang seharusnya melekat kepadanya, baik itu fungsi rekrutmen politik yang di dalamnya terdapat mekanisme kaderisasi partai, komunikasi politik, sosialisasi dan pendidikan politik, serta pengatur konflik. Temuan kinerja parpol yang demikian sekaligus mengonfirmasi bahwa demokrasi di Indonesia masih sebatas pada demokrasi simbolik atau demokrasi prosedural yang menghadirkan lembaga demokrasi secara fisik, namun masih lemah secara fungsi. Problematika partai politik yang demikian ditengarai disebabkan oleh belum adanya demokrasi internal partai yang ditandai dengan sentralisasi partai dan oligarki dalam partai.

Salah satu cara instan yang digunakan partai politik dalam mendongkrak suaranya dan juga sebagai upaya agar lolos parliamentary threshold 4 persen adalah dengan merekrut public figure atau artis untuk menjadi calon anggota legislatif, pemilu 2019 tahun depan akan ada 82 orang artis yang maju. Dari 14 partai politik peserta pemilu 2019, 11 diantaranya mengajukan artis sebagai calon anggota legislatifnya. Partai Nasdem setidaknya mencalonkan 28 orang artis, PDIP 17 orang, PAN 6 orang, PKB 7 orang, Partai Berkarya 5 orang, Golkar 4 orang, Demokrat 4 orang, Perindo 4 orang, Gerindra 5 orang, PPP 1 orang, serta PSI 1 orang. Saya tidak menganggap remeh kemampuan artis dalam ranah legislatif, karena bisa jadi beberapa orang diantaranya juga memiliki kapasitas untuk menjadi wakil rakyat di parlemen. Akan tetapi yang justru ingin saya tekankan adalah jangan sampai popularitas calon menjadi faktor tunggal masyarakat dalam menentukan pilihannya tanpa menilai poin intelektual serta integritas calon, berharap masyarakat saat ini mampu lebih cerdas dalam menentukan pilihannya.

Selain karena tuntutan memenuhi parliamentary threshold 4 persen agar bisa lolos ke parlemen, faktor lain yang tidak kalah heboh adalah adanya perubahan cara perhitungan peroleh kursi dewan. Perhitungan sebelumnya yang menggunakan Kuota Hare diubah menjadi Metode Sainte Lague Murni.

Ilustrasi:
Misal dalam Pemilu Legislatif 2019 di Dapil X perolehan suara:
1. Partai A: 220.000
2. Partai B: 100.000
3. Partai C: 30.000
4. Partai D: 25.000
5. Partai E: 3.000

Hitungan dengan Metode Kuota Hare (Pemilu 2014)
Misal jatah 4 kursi dengan harga 1 kursi 200.000 suara. Jadi Perolehan Kursi:
1 KURSI PERTAMA : UNTUK Partai 1
1. Partai A: 1 kursi sisa 20.000
2. Partai B: 0 kursi sisa 100.000
3. Partai C: 0 kursi sisa 30.000
4. Partai D: 0 kursi sisa 25.000
5. Partai E: 0 kursi sisa 3.000
Karena masih ada sisa 3 kursi, sisa kursi diberikan kepada perolehan terbanyak yaitu partai B, partai C, Partai D. Sehingga hasil akhirnya: Partai A, B, C dan D masing-masing satu kursi.

Hitungan dengan Metode Sainte Lague Murni:
1. Partai A meraih 220.000 suara.
2. Partai B meraih 100.000 suara.
3. Partai C meraih 30.000 suara.
4. Partai D meraih 25.000 suara.
5. Partai E 3.000 suara.

*Kursi Pertama*
Maka kursi pertama didapat dengan pembagian 1.
1. Partai A 220.000/1 = 220.000
2. Partai B 100.000/1 = 100.000
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000
Jadi kursi pertama adalah milik partai A dengan 220.000 suara.

*Kursi Kedua*
Untuk kursi ke-2, dikarenakan A tadi sudah menang di pembagian 1. Maka berikutnya, A akan dibagi 3, sedangkan yang lain masih dibagi 1. Perhitungan kursi ke-2 adalah:
1. Partai A 220.000/3 = 73.333
2. Partai B 100.000/1 = 100.000
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000
Maka kursi ke-2 adalah milik partai B dengan 100.000 suara.

*Kursi Ketiga*
Sekarang kursi ke-3, Partai A dan B telah mendapatkan kursi dengan pembagian 1, maka mereka tetap dengan pembagian 3, sedangkan suara partai lain masih dengan pembagian 1. Maka perhitungan kursi ke 3 adalah:
1. Partai A 220.000/3 = 73.333
2. Partai B 100.000/3 = 33.333
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000
Maka di sini kursi ke-3 milik partai A lagi dengan 73.333 suara.

*Kursi Keempat*
Perhitungan suara untuk kursi ke 4, A dan B telah mendapat kursi dengan pembagian 3, maka mereka akan masuk ke pembagian 5.
1. Partai A 220.000/5 = 44.000
2. Partai B 100.000/3 = 33.333
3. Partai C 30.000/1 = 30.000
4. Partai D 25.000/1 = 25.000
5. Partai E 3.000/1 = 3.000 Kursi ke-4, jatuh di Partai A lagi.

Hasil Akhir
1. Partai A = 3 kursi
2. Partai B = 1 kursi
3. Partai C = 0 kursi
4. Partai D = 0 kursi
5. Partai E = 0 kursi

Ya, kebijakan baru sekarang menjadi alasan kenapa partai politik begitu banyak mengusung public figure sebagai calon anggota legislatifnya. Ada 11 dari 14 partai yang mengusung public figure, artinya ada 3 partai yang tidak mengusung. Semoga saja pemilu 2019 menjadi momentum perubahan dan perbaikan bagi Indonesia, baik pejabat maupun masyarakatnya. Masyarakat jangan mudah terpengaruh oleh popularitas calon, tapi lihat track record dan gagasan yang dibawa. Karena membersihkan sungai hanya bisa dilakukan jika kita semua tergerak untuk membersihkannya, tidak sekedar menggantungkan orang lain untuk mengerjakan tapi kita sendiri tidak berusaha untuk melakukan tindakan, kalau belum bisa membersihkan minimal kita tidak menjadi bagian dalam mengotorinya.

Referensi:


Tuesday, October 23, 2018

Totalitas Hingga Akhir



Orang-orang mungkin tidak menyangka Liverpool bisa menang atas AC Milan pada pertandingan liga champions tahun 2005 silam, secara heroik Liverpool mampu mengejar ketertinggalan 3 gol tanpa balas di babak pertama pada paruh kedua sebelum akhirnya menang lewat drama adu penalti di Istanbul, Turki. Liverpool mampu membuktikannya, bahwa boleh jadi di awal kita tertinggal namun sebelum peluit tanda berakhirnya pertandingan belum ditiupkan, maka tidak ada yang mustahil untuk bisa membalikkan keadaan. Boleh jadi kehidupan kita dulu suram, tapi itu tidak berarti bahwa masa depan kita akan sama dengan masa lalu. Boleh jadi tantangan yang kita hadapi itu berat, bahkan orang lain menganggapnya mustahil untuk bisa dituntaskan, namun jika kita berikhtiar semaksimal mungkin insyaAllah akan ada kemudahan, allahu musta’an.

Jangan pernah berpikiran bahwa apa yang kita usahakan selama ini sia-sia, cara kita dalam memahami setiap satuan capaian akan sangat mempengaruhi persepsi kita tentang keseluruhan perjuangan yang dilakukan. Dalam konteks dakwah, capaian kita tentu menjadi harapan yang paling besar, namun untuk memastikan orang tersebut dapat menerima dakwah kita atau tidak, itu bukanlah ranah kita. Bahkan paman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Abu Thalib, yang membantu dan melindungi dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di Mekah pun meninggal tidak dalam kondisi sebagai seorang muslim. Apa artinya? Artinya bahwa perkara apa yang kita sampaikan diterima atau tidak itu bukanlah domain kita, meskipun orang tersebut kerabat dekat kita. Tugas kita hanya berikhtiar semaksimal mungkin dalam mengajak orang lain pada kebaikan, hasilnya? Itu adalah domain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Harun Al-Rasyid mengatakan bahwa, saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan, sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung segala usaha maksimal. Tentu, yang semestinya kita harapkan adalah keberhasilan yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kita atas usaha dan kerja-kerja maksimal kita. Tidak semata bagaimana capaian itu diperoleh, tapi juga bagaimana capaian itu dilanjutkan. Tidak semata bagaimana kemudahan itu didapat, tapi juga bagaimana gangguan dan rintangan yang menghambat mampu untuk kita lalui.

Pendiri salah satu e-commerce terbesar di dunia, Jack Ma, juga mengawali kesuksesannya dari titik nol. Ia bahkan menjadi satu-satunya orang yang lamaran pekerjaannya ditolak pada gerai makanan cepat saji, ditolak ketika mendaftar di kepolisian di saat ratusan pelamar lainnya diterima, sepuluh kali ditolak masuk Universitas Harvard, hingga tiga puluh kali ditolak perusahaan. Tapi apakah semua itu membuat dia berhenti dan tidak mencari jalan lain? Tidak, justru dari kegagalan itulah ia membuka jalan keberhasilannya sehingga Alibaba sekarang bisa bertengger sebagai e-commerce terbaik di dunia.

Cerita di atas menjadi bukti bahwa ketika kita tertinggal, ketika kita ditolak, maka tidak berarti pintu keberhasilan itu tertutup bagi kita.  Capaian-capaian yang kita peroleh adalah akumulasi dari setiap kerja yang kita lakukan, tugas kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin, mastato’thum, hingga kita tidak lagi merasakan luka, hingga perih tidak lagi menghentikan langkah kaki kita, bekerja keras sepenuhnya sampai habis energi kita. Serahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.


Monday, September 10, 2018

Bersaudara Meski Tak Sedarah



Keluarga Muslim Teknik, bahkan kita sudah menjadi keluarga jauh sebelum kita bertemu di kampus Teknik Universitas Gadjah Mada. Kita menjadi keluarga disebabkan oleh kesamaan ideologi, kita dipersatukan karenanya. Kesamaan ini tentu perlu kita jaga dan tumbuhkan agar menjadi produktif, ia ibarat benih yang kita tabur kemudian kita rawat hingga tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan yang kokoh dan memberikan manfaat.

Sejatinya bukan karena jasad ini yang menyatukan kita, akan tetapi yang menyatukan kita adalah ukhuwah Islamiyah, ikatan yang mempersatukan hati para mukmin. Kebersamaan jasad memang penting, akan tetapi jauh daripada itu kebersamaan hatilah yang mampu membuat kita bersatu dan kuat. Yadullahi ma’al jama’ah, Tangan Allah bersama jama’ah. Kebersamaan hadir karena adanya persamaan yang menjadi kekuatan kita, modal dalam melakukan amal-amal kebaikan bersama. Ukhuwah Islamiyah baru akan produktif dalam menjawab setiap permasalahan apabila kita telah menumbuhkan syakhsiyah Islamiyah di dalam segala amalan kita, tidak hanya amal individu namun juga sosial. Mengutip slogan KMT “bersama menuju keshalihan pribadi dan sosial.”

Ukhuwah Islamiyah, ia melampaui  batas-batas ruang dan waktu, ia tidak reaktif terhadap suatu kejadian, ukhuwah Islamiyah ini adalah ikatan ideologis (mabda’iyah). Cakupannya luas, tidak terbatas dalam satu wilayah tertentu saja (ukhuwah wathoniyah), tidak terbatas oleh suku/bangsa (ukhuwah ashobiyah), juga tidak muncul karena kesamaan minat atau kepentingan (ukhuwah maslahatiyah).

Kita datang dari segala penjuru nusantara dengan satu peran yang sama yakni sebagai pembelajar, berharap amanah yang diberikan oleh orang tua bisa kita jalankan dengan baik dan penuh bangga. Kuliah saja tentu tidak cukup sebab ada banyak kegiatan yang bisa kita ikuti di luar perkuliahan untuk meningkatkan kapasitas kita sebagai seorang individu, tidak hanya intelektual saja namun bagaimana dimensi emosional serta spiritual juga bisa kita tingkatkan, pesan ini juga sering ditekankan oleh pak Dr. Eng. Herianto selaku Kepala Unit Pendidikan dan Kemahasiswaan Fakultas Teknik UGM. Dengan memberikan partisipasi aktif dalam lembaga kampus, berdialektika bersama, berproses bersama, menjadi wasilah pembelajaran lain yang tidak kita dapatkan di dalam ruang kelas. Ini semua menjadi bekal kita ketika nanti lepas dari almamater dan akan turun ke masyarakat secara langsung.

Kita mesti sadar dan berpartisipasi, sebab ada orang yang sadar tapi enggan berpartisipasi dan ada orang yang berpartisipasi tapi tidak sadar, hanya sekedar ikut-ikutan saja. Ilmu tanpa amal bagai pohon tak berbuah, kita menanam pohon yang tidak menghasilkan buah, sekedar diberikan harapan akan tetapi buahnya nihil. Tapi juga kita jangan beramal tanpa dilandasi dengan ilmu, karena kata Ibnu Qayyim rahimahullah, “Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun, orang yang berjalan tanpa penuntun akan mendapatkan kesulitan dan sulit untuk selamat.” Ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak bisa kita pisahkan sebab ia saling menyokong satu sama lain. Dengan ilmu serta amal ini jugalah yang akan membuat hidup kita menjadi lebih produktif, terlebih dengan kita berkumpul dalam satu wadah yang sama, beramal secara berjama’ah. Seperti yang saya tuliskan di awal, Yadullahi ma’al jama’ah, Tangan Allah bersama jama’ah.

Referensi:
Abdullah Nashih Ulwan: Merajut Keping-keping Ukhuwah.  CV Ramadhani, 1989.



Wednesday, August 22, 2018

Mengabdi?



KKN mungkin hanya berlangsung selama 49 hari, akan tetapi pengabdian mesti dilakukan sepanjang hayat kita, tidak ada kata selesai dalam mengabdi. Dimanapun kita, mainkan perannya, sebarkan manfaatnya.

Bagian mana yang paling menarik dari serangkaian cerita dalam kehidupan kita? Sudahkah kita memiliki nya? Apa yang bisa kita wariskan?

Dengan mengabdi kita membuat cerita, cerita tentang peranan yang kita berikan kepada masyarakat, memberikan bukti konkrit tanpa kemudian perlu banyak bicara, karena yang ditunggu adalah amal-amal kebaikan kita.

Mungkin saat ini, ada orang yang diberikan kedudukan namun tidak dapat memberikan manfaat. Tapi, ada juga orang tidak diberi kedudukan namun mampu memberikan manfaat yang luar biasa.

Man abtha'a bihi amaluhu lam yusri' bihi nasabuhu. Siapa yang lamban beramal, tidak akan dipercepat nasabnya.

Monday, August 20, 2018

Pelajaran Berharga


Satu pelajaran berharga yang saya dapatkan setelah lima pekan berlalu di lokasi KKN bahwa kita mesti memahami karakter setiap orang berbeda-beda, kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk mengikuti setiap pendapat kita. Ada orang yang mudah tersinggung, ada orang yang mudah marah, ada juga yang penyabar, ada orang yang banyak bicara, ada yang pendiam, ada yang suka ­jalan-jalan, ada yang lebih suka diam di pondokan, ada yang rajin, ada juga yang malas, ada yang sangat peka dengan sekitarnya tapi ada juga yang tidak peka sama sekali. Tahu bahwa karakter orang berbeda-beda, dengan kematangan akal biasanya kita akan cenderung untuk berpikiran terbuka, legowo dengan perbedaan dan tidak terlalu memaksakan kehendak pribadi. Akan tetapi, tentunya kita mesti memberikan batasan, dalam hal apa perbedaan-perbedaan itu bisa kita toleransi dan dalam hal apa kita mampu melahirkan kerja produktif dengan bekerja sama. Sebagaimana Imam Hasan al-Banna memperkenalkan prinsip, “Kita bekerja sama untuk hal-hal yang kita sepakati, dan kita saling toleransi untuk hal-hal yang kita perbedakan.”
Setiap masalah yang terjadi di lokasi KKN menjadi dinamika sendiri yang mengajak kita untuk berpikir bagaimana mengatasinya di tengah karakter setiap anak yang berbeda-beda. Kita yang dalam satu tim KKN dikumpulkan dari berbagai fakultas tentu memiliki cara berpikir yang berbeda dalam memahami suatu permasalahan, perbedaan pendapat itu wajar selama kita bijak dalam bersikap, dengarkan ketika orang lain berbicara juga hargai pendapatnya, dua sikap yang mesti menjadi pegangan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Kita diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut, ada hikmah tersirat yang hendak disampaikan kepada kita, bahwa kita diminta untuk lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara. Dan ketika berbicara sebisa mungkin setiap kata yang kita keluarkan itu adalah emas, mempunyai nilai. Man kana yu`minu billahi wal yaumil akhir fal yakul khoiron aw liyashmut, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.
Nilai itu yang kemudian membentuk karakter, menjadi cerminan atas perilaku kita kepada orang lain. Diam juga merupakan sikap yang menunjukkan kematangan akhlak kita pada koridor tertentu, jangan juga kita hanya diam melihat apa-apa yang terjadi di sekitar padahal kita tahu, semuanya disesuaikan dengan kondisinya seperti apa. Ketika bertemu dengan warga, kita jangan menjadi sok pintar dan merasa yang paling benar, hiduplah seperti padi yang semakin besar ia justru semakin membungkuk, ia mengayomi dan melayani, memberikan manfaat bagi orang banyak.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah kesempatan kita untuk belajar langsung ke masyarakat, mengenal permasalahan apa saja yang terjadi di sana, apa keluhan masyarakat. Permasalahan-permasalahan itu yang kemudian menjadi pembahasan tim KKN, berkolaborasi bersama antar disiplin ilmu menghasilkan solusi, mengimplementasikan ilmu yang kita peroleh untuk memberikan manfaat bagi orang banyak.
                 


Sunday, July 15, 2018

Berkelana di Dunia Baru


Saya kira bangsa ini bukan tidak bisa menjadi bangsa besar, namun ia hanya menunggu momentum untuk bisa melakukan terobosan besar, kita masih menunggu munculnya para generasi yang hadir membawa gagasan konkret yang tidak sekedar mengkritik namun juga turut andil dalam proses pembangunan, berani menawarkan ide namun tidak putus semangat jika idenya tidak didukung para stakeholder sebab masih banyak jalan lain yang bisa ditempuh, berani berbicara juga berani bertindak. Mereka yang menawarkan inovasi terkait penghematan energi juga harus bisa memberikan contoh bagaimana cara menghemat energi kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, mereka yang mengajak orang lain untuk hidup sehat juga harus bisa mencontohkan bagaimana caranya hidup sehat, dengan tidak merokok misalnya. Keteladanan menjadi metode yang paling efektif dalam mengubah seseorang, tidak cukup dengan perkataan saja.

 Kritik tidak salah, hanya saja jika kritik itu dibalut dengan rasa benci maka bukan titik temu yang kita jumpai melainkan konflik yang berkepanjangan, bukan memberikan solusi malah menimbulkan masalah baru. Kalau kita ingin memberikan kritik, yang dituju itu argumennya bukan orangnya, kalau kata Prof. Rizal Ramli dalam salah satu acara televisi “level kualitas pembahasan bangsa ini memalukan, semakin lama kita makin tidak intelek, kualitas debat di sosial media norak, sangat personalize, bukan kontennya yang dibahas, bukan asumsinya yang dibahas. You should debate assumption not personality.” Itu yang sering kita jumpai di masyarakat, satu hal yang dapat kita saksikan misalnya bahwa masyarakat tidak dapat membedakan antara yang benar dengan yang menarik, mereka lebih tertarik kepada semua yang menarik walaupun tidak benar.

 Berita hoax mudah viral karena tidak ada budaya tabayyun (mengecek kebenaran informasi), sebab logika yang dipakai yakni yang penting sesuai dengan apa yang mereka yakini dan menarik bagi mereka, benar atau tidak urusan belakangan. Itulah sebabnya kenapa dalam masyarakat terkadang artis itu lebih populer daripada tokoh intelektual atau ulama, karena yang satu menarik sedangkan yang satunya lagi membawa kebenaran. Oleh karena itu, untuk mengubah mindset ini yang kita perlukan adalah menggabungkan dua unsur itu sekaligus, antara unsur benar dan unsur menarik, harus ada pesona pada kebenarannya.

Zaman telah berubah, informasi dapat dengan mudah kita peroleh, bayangkan orang-orang dulu untuk bisa berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain harus bisa menunggu beberapa hari sampai suratnya sampai di rumah tujuan, itupun orang yang dituju tadi mesti mengirim surat kembali dan memerlukan waktu berhari-hari pula. Tapi tidak hari ini, balasan chat WA kita yang baru dibalas satu jam setelahnya saja sudah terasa lama, kita hidup di zaman kecepatan eksponensial, real-time, setiap manusia menuntut respon cepat. Kehadiran smartphone yang pertama diperkenalkan ke publik pada tahun 2008 tentu mengubah kebiasaan lama masyarakat dunia.  Laporan dari Emarketer (2014) menyatakan bahwa tahun 2013 jumlah pengguna smartphone aktif sebanyak 27.4 juta orang dan diprediksi akan meningkat menjadi 103 juta pada tahun 2018, menjadikan Indonesia kokoh menjadi negara keempat populasi pengguna smartphone terbesar di dunia (di belakang China, India, Amerika Serikat). 103 juta orang tentunya bukan jumlah yang tidak sedikit, jumlahnya hampir setengah dari populasi masyarakat Indonesia. International Telecommunication Union (ITU) menekankan perlu adanya perhatian khusus terhadap generasi muda yang telah akrab dengan dunia digital, dikenal sebagai digital native atau generasi millenial. Di Indonesia lebih kurang 50% total pengguna internet adalah digital native (KOMINFO, 2018).

Bijak dalam perbuatan serta santun dalam perkataan menjadi harapan bersama kepada generasi millenial, generasi yang sejak lahir sudah kenal dengan smartphone. Sebab lewat jari-jari merekalah nasib Indonesia digantungkan, dulu konflik global lewat adu fisik namun sekarang tidak demikian, konflik antar negara bisa dipicu hanya karena sebuah tulisan. Perang kata-kata di sosial media tak terhindarkan, kita jangan sampai terjebak dalam haters and lovers hanya karena apa yang kita dengar dari orang lain tanpa kemudian paham apa yang sebenarnya terjadi. Kita juga jangan menjadi manusia berkepala batu, hanya mau berbicara tapi tidak mau mendengarkan, sulit menerima kebenaran. Dan terakhir, dari sekarang kita harus belajar menggali wawasan kita, membuka mata kita untuk melihat realitas dunia dengan kacamata dan pola pikir masa sekarang.


Monday, July 9, 2018

Terdidik dan Mendidik

Kita tentu tidak selamanya hidup di muka Bumi ini, maka kesempatan hidup yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kita mesti dipergunakan sebaik mungkin. kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang ada, Al Wajibaat Aktsaru Minal Awqat. Waktu terus berjalan dan pilihan-pilihan itu terpampang di hadapan kita, ingin menjadi kunci kebaikan ataukah kunci keburukan?

مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ
Mafatihu lil khoir magholiq li syarr wa inna min nasi mafatihu li syarr magholiq lil khoir
Ada yang menjadi kunci kebaikan dan penutup pintu kejelekan, Namun ada juga yang menjadi kunci kejelekan dan penutup pintu kebaikan.

Kalau kita ingin memulai perubahan yang hakiki, kita mesti memulai dari diri kita sendiri. Lakukanlah sesuatu yang memberikan kebaikan bagi diri dan lingkunganmu, sepahit apapun itu, sebenci apapun orang terhadap tindakanmu, jangan pedulikan. Karena yang benar pada akhirnya tetaplah benar dan yang salah mau bagaimanapun pada akhirnya juga salah. Anis Matta dalam bukunya Model Manusia Muslim Pesona Abad ke-21 mengatakan bahwa Manusia diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala akal yang fungsinya untuk memilih. Dari sini kemudian lahir visi. Manusia diberikan hati yang fungsinya untuk memutuskan, situasi hati yang sedang kita alami disebut dengan mentalitas. Manusia juga diberikan fisik yang berfungsi untuk melakukan segala hal yang disebut sikap, inilah kemampuan dasar yang ada pada manusia. Apa yang ada dalam diri manusia yaitu tiga hal ini. Jadi, perubahan pada skala sosial hanya dapat terjadi jika setiap individu yang merupakan bagian dari anggota masyarakat mengubah apa yang ada dalam dirinya; akal, hati, dan fisik. Apa yang lahir dari akal adalah visi. Apa yang lahir dari hati adalah mental dan apa yang lahir dari fisik adalah sikap. Kita semua tentu pernah membaca ayat di dalam Al-Qur’an yang mengatakan, Innallaha laa yughayyiru maa bi qaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim,  bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.

Bagaimana membentuk para manusia pahlawan itu? Membentuk para pemimpin? Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan membentuk karakter manusianya itu sendiri, character building. Tarbiyah itu cerita tentang bagaimana membentuk karakter manusia menjadi lebih baik, memunculkan para generasi yang siap menjadi pemikul beban, bukan melahirkan generasi yang hanya berleha-leha dalam hidupnya, bukan membentuk manusia yang hanya mencari kesenangan di dunia saja. Seseorang disebut pahlawan karena timbangan kebaikannya jauh mengalahkan timbangan keburukannya, karena ketakutannya mengalahkan sisi kelemahannya. Jika engkau mencoba menghitung kesalahan dan kelemahannya, maka kita akan menemui kesalahan dan kelemahannya itu tertelan oleh kebaikan dan kekuatannya.

Anis Matta mengatakan dalam salah satu seminarnya bahwa yang namanya proses kaderisasi itu adalah proses membangun inti bangunan dari umat, sehingga kita tidak akan pernah mengetahui dengan baik bagaimana cara kita melakukan kaderisasi jika kita tidak mengetahui apa artinya umat sebenarnya. Umat adalah religius community kalau kata Prof. Din Syamsuddin. Kalimat umat di dalam al-qur’an mempunyai beberapa arti, unsur umat (1) unsur misi/risalah/manhaj/metodologi, (2) pemimpin, Ibrahim disetarakan kualitasnya sama dengan satu umat, inna ibrahima kana ummah, maksudnya bahwa satu orang ini sekaliber sekelompok orang, Sa’ad bin Abi Waqqash pernah mengatakan bahwa suara Al-Qa’qa bin Amr At-Tamimi lebih baik dari 1000 orang prajurit, itulah pemimpin, ia mengumpulkan kebaikan yang berserakan pada masyarakat awam, (3) basis massa (masyarakat), (4) waktu, jadi pada mulanya umat itu dimulai dari seorang pemimpin yang datang membawa misi tertentu dan membina orang-orang yang ada di lingkungannya, dan orang-orang itu mengikuti manhaj yang dibawa orang ini kemudian terbentuklah komunitas dari buah pembinaan itu, dan begitu komunitas itu tidak lagi menjalankan ajaran-ajaran sesuai manhajnya, maka saat itulah komunitas itu berhenti. Itulah yang dimaksud dengan umat.

Umat ini harus mempunyai satu peran dalam dunia ini sebagai ustadziatul alam, menjadi guru peradaban manusia, menjadi model dari kehidupan terbaik masyarakat manusia. Ummatu risalah, umat yang datang dengan misinya. Bagaimana mencapai model umat seperti yang diharapkan tadi? membangun basis kepemimpinan, sosial, massa, dan negara.

Dalam perang Tabuq ada lebih 80 orang yang tidak ikut dalam peperangan, dan itu dianggap sebagai dosa besar. Sekitar 80 diantaranya dikenal sebagai orang munafik, ada 3 diantaranya dikenal sebagai sahabat yang telah dikader oleh Rasulullah. Saat Rasulullah kembali, semua orang itu datang kepada Rasulullah untuk meminta maaf. Sekitar 80 orang munafik yang datang ke Rasulullah langsung dimaafkan tanpa komentar. Begitu datang Ka’ab bin Malik, Rasulullah langsung berpaling dan tidak mau melihatnya, dosanya sama tapi yang melanggar yang berbeda, karena itu hukumannya berbeda. Rasulullah berpaling dan mengatakan kepada Ka’ab, “Tunggulah sampai Allah memberikan keputusan terhadap kamu”, ada hukuman khusus untuk Ka’ab bin Malik, orang yang sudah dikader langsung oleh Rasulullah. Beberapa waktu kemudian turunlah perintah untuk mengisolasi mereka bertiga, seluruh masyarakat muslim dilarang berbicara kepada mereka selama 40 hari. Bisa dibayangkan bagaimana jika kita diisolasi dari lingkungan kita sendiri, Al-Qur’an melukiskan kisah itu dengan mengatakan Wa dhaqat alaikumul ardhu bima rahubat, “Bumi yang luas pun terasa sempit karena perasaan takut”, perlakuan yang berbeda, yang lainnya dimaafkan sedangkan mereka tidak dimaafkan. Pada hari ke-40 datanglah utusan Rasulullah kepada Ka’ab, dalam hati Ka’ab sudah merasa gembira karena merasa hukumannya sudah selesai, akan tetapi ternyata utusan Rasulullah itu menyampaikan bahwa Ka’ab da yang dua orang lainnya diperintahkan untuk mengembalikan istri-istri mereka kepada orangtuanya, jadi itu adalah tahapan kedua dari hukumannya. Saat itu tentu menjadi saat yang paling berat, karena awalnya meski dihukum tidak boleh berinteraksi dengan masyarakat tapi masih bisa berinteraksi dengan istri, namun kini tidak adalah lagi yang bisa diajak untuk berbicara. Akhirnya pada hari ke-50 datanglah pemberitahuan bahwa hukumannya sudah selesai, jadi sekarang kita sudah bisa tergambarkan bahwa membina seorang pemimpin itu berbeda dengan membina seorang yang awam.

Teguran seperti itu bukan hanya datang kepada Ka’ab saja, bahkan orang seperti Umar bin Khattab dan Abu Bakar pun pernah mendapatkan teguran. Di dalam Al-Qur’an dikatakan Ya ayyuhal ladzina amanu la tarfa’u ashwatakum fauqa shautin nabiyyi, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi”. Waktu itu mereka berdua di masjid berdebat dan suaranya meninggi dalam perdebatan itu. Yang mereka perdebatkan waktu itu adalah urusan agama, urusan pergerakan, urusan dakwah, tapi suaranya meninggi melebihi volume suara Rasulullah rata-ratanya. Dari sini kita menjadi paham, bahwa meninggikan suara saja dapat teguran dari langit betapa proses pembentukan terhadap pemimpin itu diperhatikan bahkan sampai kepada hal-hal yang kecil sekalipun.


Monday, July 2, 2018

Ayo, Segera Bangun!



Arya Sandhiyudha dalam bukunya Renovasi Dakwah Kampus (2006) mengatakan bahwa pengalaman yang kami dapat selama ini menunjukkan bahwa yang menjadi sebab seorang disukai atau tidak, diterima atau tidak, alasan dominannya terletak bukan pada apa identitas kita. Kepercayaan dan penerimaan (trust and respect) masyarakat pada umumnya terletak pada kualitas pergaulan yang baik dengan lingkungan sosial kita. Profil semacam ini memang sudah sepatutnya ada dalam diri seorang muslim dan da’i, seperti dalam sebuah hadits shahih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mencampuri (bergaul) dengan manusia dan bersabar terhadap cobaan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak bercampur dengan manusia dan tidak sabar terhadap cobaan mereka.” (H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Banyak orang menganggap Aktivis Dakwah Kampus (ADK) eksklusif karena tidak mau bergaul dengan masyarakat, ia membentuk lingkungan sendiri, membuat pergaulan dengan sesama para ADK. Tentu sikap ini kurang tepat, sebab mereka para da’i sudah semestinya berbaur di tengah-tengah masyarakat untuk mengajak mereka kepada kebaikan, menjadi orang yang mengajak masyarakat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Aktivis Dakwah Kampus (ADK) jangan pernah merasa bahwa dirinya suci sehingga tidak mau bergaul dengan masyarakat, ia tidak boleh menutup diri dari lingkungannya, sebab disanalah tujuan mereka berdakwah. Mengajak mereka yang jauh dari Islam menjadi dekat dengan Islam, mereka yang dekat dengan Islam menjadi ta’at beribadah, mereka yang ta’at beribadah menjadi penggerak dakwah. Aktivis Dakwah Kampus (ADK) harus menjadi matahari yang meskipun sendiri namun senantiasa menyinari lingkungannya, memancarkan nilai-nilai positif, memberikan manfaat bagi sekitarnya. Waktu liburan bagi ADK bukanlah kesempatan untuk berleha-leha, tidak ada kata istirahat dalam menyeru kepada kebaikan. Pulang kampung hanyalah perpindahan tempat saja, tapi aktivitas positif dan bermanfaat tetap dijalankan.

Berdakwah di masyarakat tentu memiliki atmosfir yang cenderung berbeda dalam dunia kampus, ADK jangan sampai bersikap seolah-olah menggurui masyarakat. Pendekatan yang dilakukan sebagaimana apa yang dijelaskan pada awal tulisan ini, penerimaan masyarakat tergantung dari bagaimana pergaulan kita kepada mereka, perlihatkanlah bagaimana karakter seorang muslim sesungguhnya, berakhlak yang baik kepada masyarakat, rajin-rajin dalam memberikan salam dan senyuman kepada masyarakat, karena ini juga bagian dari hablum minannas.

Masjid yang sebelumnya sepi oleh pemuda kita ramaikan, ajak setiap orang yang kita kenal untuk shalat berjama’ah di masjid. Awalnya mungkin masih cenderung berat bagi mereka, tapi jika sering-sering diajak, akhirnya mereka juga menjadi sungkan untuk menolak ajakan. Hidayah tergantung dari Allah Subhanahu wa ta’ala, tugas seorang muslim adalah berikhtiar semaksimal mungkin dalam menyampaikan kebaikan. Ayo, segera bangun lalu wudhu, shaf ini harus segera diluruskan kembali. Jangan sampai liburan ini justru menjadikan kita tidak produktif dalam beramal, ikhwah.
                                                                                                                                                       

Sunday, July 1, 2018

Mengapa Anti dengan Politik?


Kira-kira apa yang membuat orang-orang anti berbicara tentang politik? Juga munculnya pendapat yang mengatakan bahwa Islam tidak boleh masuk ke dalam ranah politik, segala sesuatu yang mengandung unsur-unsur rohani harus disingkirkan dari politik. Selama ini, kita mungkin dibayang-bayangi sikap para politisi yang kerap kali lebih mementingkan diri sendiri dan partai ketimbang janji yang dulu mereka sampaikan kepada masyarakat. Akibat dari ulah beberapa oknum ini yang kemudian membentuk stereotip bahwa seluruh politisi sama saja, hanya memikirkan diri sendiri ketika sudah terpilih. Munculnya stereotip yang seperti ini tentu menjadi masalah, karena ini berarti kita menyamakan mereka yang berjuang di pemerintahan untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan dengan mereka yang hanya mengikuti hawa nafsunya. Secara tidak langsung tentu pendapat di atas membenarkan sikap  pragmatis politisi yang antipati pada ajaran agama, karena mereka yang taat pada agama dilarang untuk ikut serta dalam politik praktis.

Pendapat Yusuf Qardhawi yang dikutip oleh Khalif Muammar (2005) menegaskan bahwa pengikisan agama dari politik berarti terkikisnya dari nilai-nilai murni, penolakan terhadap kejahatan, membuang unsur-unsur kebaikan dan ketakwaan, dan membiarkan masyarakat dikontrol oleh unsur-unsur kejahatan. Maka, dengan berhasilnya proyek sekularisasi, yang terjadi nantinya adalah terkikisnya moralitas manusia. Karena pada umumnya, esensi agama adalah meningkatkan moralitas manusia. Sehingga tidak mengherankan jika dewasa ini kita banyak melihat manusia yang tidak bermoral walaupun mereka berpendidikan tinggi, golongan ini disebut schooled and yet uneducated. Oleh karena penolakan dan pemisahan politik dari agama menurut beliau merupakan suatu kejahilan.1

Konsep pemisahan antara negara dan agama (sekularisme) pertama kali berkembang di eropa, diperkenalkan oleh filsuf George Jacob Holyoake pada tahun 1846, ia menganggap sekularisme  adalah suatu sistem etik yang didasarkan pada prinsip moral alamiah, terlepas dari agama wahyu atau supernaturalisme. Akar historis dari konsep sekularisme tidak dapat dipisahkan dari sejarah kristen di dunia Barat. Di barat pada abad modern telah terjadi proses pemisahan antara hal-hal yang menyangkut masalah agama dan non-agama (bidang sekuler) yang diawali dengan ketidakserasian antara hasil penemuan sains atau ilmu pengetahuan di satu pihak dan dogma kristen di pihak lain, ini terjadi pada abad 15 yang dikenal sebagai renaissance, lambang pembebasan masyarakat eropa dari kungkungan gereja. Dalam dunia Islam ideologi ini tumbuh dan berkembang pertama kali di Turki yang dipopulerkan oleh Zia Gokalp (1875-1924), sosiolog terkemuka dan politikus nasionalis Turki. Dalam rangka pemisahan antara kekuasaan spiritual khalifah dan kekuasaan duniawi sultan di Turki Utsmani (Kerajaan Ottoman) pada masa itu. Ia mengemukakan perlunya pemisahan antara diyanet (masalah ibadah serta keyakinan) dan muamalah (hubungan sosial manusia).2

Di Indonesia sekulerisme mulai merambah pada tahun 1808-1811, dibawa pertama kali oleh gubernur jenderal Belanda Herman William Daendles pada tahun 1808-1811, yang hadir ke Indonesia untuk menggantikan VOC yang telah bercokol hampir 200 tahun.3 Meskipun tiap zaman ada gerakan penetrasi untuk menghalau paham tersebut, akan tetapi kenyataannya sekulerisme itu tetap bertahan hingga saat ini. Tekanannya tidak hanya dari eksternal saja, namun juga dari internal itu sendiri. Umat terpecah belah oleh perbedaan pendapat para ulama, diantara mereka ada yang memperbolehkan dan ada juga yang melarang. Sikap harokah Islamiyah yang ada di Indonesia pun berbeda-beda. Sekulerisme ini terus berkembang, namun kita masih disibukkan oleh perbedaan pendapat, tidak ada titik temu untuk mempersatukan umat. Realita yang ada sekarang perlu menyadarkan kita bahwa zaman telah berubah, perlu ada upaya untuk membantu menghadirkan tokoh yang berjuang atas nama kebenaran dan keadilan. Apapun namanya wadah yang kita naungi, mau jam’iyah mau jama’ah mau hizbiyyah, tugas kita adalah mengajak orang untuk "‘ibadatillaahi wahdah". Organisasi, lembaga, maupun harokah, itu hanyalah wasilah kita dalam memperjuangkan kebenaran.

Ustadz Adi Hidayat mengatakan bahwa kita mesti taat kepada pemimpin yang terpilih, pemimpin yang terpilih adalah orang yang buruk dan kita tetap mesti mentaati orang yang buruk. Aneh, tidak ikut memilih dengan dalih tidak ada calon yang baik padahal melarang ikut partai politik karena Indonesia menganut sistem demokrasi.

Jika orang-orang shalih tidak ikut partai politik, berarti selamanya negeri ini dipimpin sama mereka yang hanya memikirkan kepentingan pribadi, mereka yang tidak mampu bersikap adil terhadap masing-masing golongan, dan paling buruknya yakni sebagaimana yang kita saksikan belum lama ini betapa umat Islam diperlakukan berbeda dengan yang lain. Hal ini tentu karena kekeliruan para pemangku kebijakan dalam mengelola negeri ini.

Orang shalihnya berdiam diri di masjid, seakan terpisahkan oleh persoalan-persoalan yang ada di sekitarnya. Masjid terdistorsi perannya sekedar dijadikan tempat untuk beribadah mahdhah saja, padahal Rasulullah telah mencontohkan jika pada zaman beliau Masjid menjadi pusat peradaban. Membahas negara di Masjid, membahas politik di masjid, membahas permasalahan ekonomi juga di masjid. Dahulu Masjid berperan besar dalam pemberdayaan masyarakat, sekarang sangat prihatin, masjid didominasi oleh para sepuh karena para pemudanya sibuk memakmurkan cafe, mall, warnet. Lebih miris lagi karena sekarang doktrin bahwa di Masjid dilarang berbicara tentang politik jadinya mereka mencari ideologi lain di luar, mereka lebih kagum pada paham Marxisme, liberalisme, sosialisme, maupun sekulerisme daripada ajaran agamanya sendiri. Lantas, apa bedanya kita dengan orang sekuler maupun liberal jika kita juga kukuh menolak Islam masuk ke dalam parlemen?

Referensi
1.       K. Muammar, Politik Islam: Antara Demokrasi dan Teokrasi (Majalah Islamia, 2005), Tahun II, Nomor 6, 99-102.
2.       https://www.republika.co.id/berita/shortlink/8088/, diakses pada 30 Juni 2018
3.       http://eramadina.com/islam-dan-sekularisme-di-indonesia/, diakses pada 1 Juli 2018


Saturday, June 30, 2018

Watu Payung: Menjemput Sang Surya




Pagi pertama di pondokan diisi dengan eksplorasi tempat wisata, destinasi pertama ke Watu Payung. Jangan salah mengira dulu, yang mengajak ibu dukuh pondokan kami, meski berangkatnya dengan anak ibu dukuh karena ibunya masih ngurus sesuatu.

Lumayan jauh, tapi bagi orang sini mungkin biasa saja. Masyarakat yang tinggal di pedesaan, mindset mereka jalan 3-6 kilometer biasa saja meski jalannya menanjak sekalipun. Tapi bagi orang kota yang terbiasa dengan kendaraan, jalan kaki 1 kilometer pun mungkin dianggap jauh.

Manusia ketika pertama kali diberikan pekerjaan berat, biasanya akan menganggap pekerjaan itu berat. Akan tetapi ketika sudah rutin dilakukan, sudah terbiasa dikerjakan, pekerjaan itu akan terasa ringan. Titik permasalahan ada pada setiap individu, ketika kita ingin memahami sesuatu, ingin menguasai keterampilan tertentu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah konsisten dalam mempelajari dan menjalaninya. Ala bisa karena terbiasa, kebiasaan itulah yang membentuk mindset.

Bagi warga desa, melihat pemandangan yang menakjubkan mungkin biasa saja karena sudah menjadi obyek yang sehari-hari mereka lihat. Tapi bagi warga kota itu luar biasa, karena kesehariannya diisi dengan melihat bangunan tinggi sepanjang jalan, kemacetan, bahkan melihat bintang saat malam hari pun tidak bisa karena tertutup oleh polusi kota.

Desa selalu menjadi destinasi liburan banyak orang, tempat untuk menenangkan diri, melepas kepenatan. Watu Payung menjadi salah satu pilihan diantara banyaknya pilihan wisata yang ada di Gunungkidul, DI Yogyakarta. Pemandangannya dari atas menjangkau langit, kita dapat melihat hamparan sawah, sungai, bukit kecil yang ada di depannya. Mungkin ia menjadi titik tertinggi diantara bukit lain yang ada di sekitarnya.

Terbitnya sang surya menjadi pertanda bagi manusia untuk segera bertebaran di muka bumi menjalankan rutinitasnya. Sang surya konsisten dalam mengingatkan kita, tidak pernah telat sepersekian detik dan tidak pernah pula lewat sepersekian detik. Kalau bahasa sekarang, sangat akurat dan presisi. Bahkan robot buatan manusia pun tidak dapat menyaingi, sebab terkadang robot butuh pengecekan rutin, ada maintenance nya. Itulah perbedaan apa yang diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan apa yang dibuat oleh manusia. Kita (manusia) terbatas dalam membuat sesuatu, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala tidak. Adakah yang bisa menandingi ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala?



Tuesday, June 26, 2018

Desa: Tempat Kuliah yang Langka


23 juni 2018, hari pertama KKN Unit 2018-YO030

Tidak jauh memang lokasinya dibandingkan unit KKN UGM lainnya apalagi yang sampai di luar jawa, karena lokasi KKN kami hanya sekitar 1,5 jam dari kampus UGM. Meskipun begitu jauh maupun dekat tidak berarti antusiasme untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat berkurang, tergantung dari niat pribadi masing-masing juga kesungguhan dalam melaksanakan tugasnya. Yang paling penting adalah kita mampu konsisten menjalankan tugas kita dan berharap 49 hari kedepan bakal memperoleh esensi pengabdiannya, tidak menganggap itu sebagai “liburan” belaka.

Kedatangan kami adalah untuk belajar. Belajar bagaimana menjadi masyarakat yang sesungguhnya, belajar beretika dalam bermasyarakat terlebih di Daerah Istimewa Yogyakarta kabupaten Gunung Kidul yang kental akan nilai adat istiadatnya, nilai moral yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakatnya, juga belajar segala hal yang mungkin tidak akan bisa dijumpai dibangku sekolah maupun perkuliahan. Inilah kesempatannya, sebelum terjun langsung ke masyarakat dengan peran yang berbeda. Agar dikemudian hari kita tidak lupa diri, senantiasa menjadi manusia yang dapat memberi warna dimanapun ia berada. Tetap memberikan penghormatan kepada setiap orang tanpa memandang statusnya. 49 hari waktu yang tidak lama memang, tetapi itulah momen dimana kita bisa dekat dengan masyarakat, manfaatkanlah.

Kata Henry Ford, you can’t learn in school what the world is going to do next year. Perubahan justru diciptakan oleh orang-orang yang sering berpergian dan bergaul dengan pihak-pihak di luar, dengan sering melihat ke luar, melihat permasalahan langsung di lapangan, tentu memudahkan kita dalam memperoleh inspirasi. Paling tidak kita mampu berbaur dengan masyarakat, merasakan apa yang mereka rasakan itulah yang menjadi nilai yang ingin diperoleh di KKN ini, disanalah esensi pengabdiannya.

Kenapa lokasi KKN itu hampir sebagian besar tujuannya ke desa, daerah yang terpencil, dan bukan daerah perkotaan dengan rumah yang nyaman? Kira-kira saya bisa menjawab seperti ini: Kita tentu sangat beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk berkuliah diantara puluhan juta pemuda lainnya, mereka yang “tersisihkan” menaruh harapan kepada kita, ada juga mereka yang ingin berkuliah tapi apa daya karena tidak punya dana jadinya tidak bisa lanjut kuliah. Setidaknya dengan ilmu yang kita peroleh ini mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, kita bisa banyak mendengar apa yang menjadi keluhan mereka selama ini. Desa jauh dari hiruk pikuk perkotaan, karakter masyarakatnya dapat dikatakan belum begitu terpengaruh oleh budaya luar.

Dalam bukunya yang berjudul, Pribadi (Jakarta: Bulan Bintang, 1982, cet.ke-10), Prof. Hamka memberikan gambaran tentang sosok manusia yang pandai tapi tidak memiliki pribadi yang unggul: ”Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ”mati”, sebab dia bukan orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mampunyai cita-cita, lain dari pada kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup.”

Kita tidak bisa menyampingkan masyarakat pedesaan, ilmu yang kita miliki di perkuliahan jangan menjadikan kita sombong dan enggan untuk berbaur dengan masyarakat yang hanya lulusan SD, SMP, maupun SMA. Tan malaka bahkan mengatakan dalam bukunya Madilog, “bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

Kini kita mesti harus menyadari bahwa kitalah generasi yang akan mewarisi posisi-posisi penting di negara ini. Memahami seluk beluk masyarakat mulai dari bawah hingga atas adalah bagian dari proses pembelajaran untuk menghadirkan negara yang adil dan sejahtera. Sebab kita adalah masyarakat yang juga akan memberikan manfaat kepada masyarakat, berkuliah hanyalah jalan yang kita lalui sebelum benar-benar terjun ke masyarakat.

Iyas Muzani
Gunung Kidul, DI Yogyakarta.


Saturday, March 3, 2018

Sosok yang Dirindukan



Negeri ini unik, beberapa hari yang lalu masih hangat di telinga kita berita tentang penyerangan asatidz/ulama di beberapa masjid yang diklaim ulah orang gila. Kejadiannya berulang dengan waktu yang berdekatan. Logikanya, bagaimana bisa orang yang gila kompak melakukan tindakan seperti itu dalam waktu yang berdekatan?

Beberapa hari yang lalu dapat informasi dari ustadz saya, kalau di pondok pesantren nya (SMA) ada orang yang mencari siapa ustadz/pimpinan pondok disana. Pas dirazia, di dalam tasnya ada golok. Di masjid Baiturrahim Condongcatur, beberapa hari yang lalu juga didatangi orang gila yang berkeliaran di sekitar masjid. Tapi alhamdulillah tidak ada kejadian yang tidak diharapkan terjadi.

Terlalu banyak keanehan yang terus kita biarkan, masyarakat menjadi semakin tidak percaya kepada para penegak hukum. Kriminalisasi ulama, para asatidz dibungkam suaranya, perlakuan berbeda antar satu dengan lainnya. Tidak salah jika kemudian kita berasumsi bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini, by design. Ada sekelompok orang yang mencari kepentingan.

Benar kata ustadz Tengku Zulkarnain, ada sekelompok orang yang menginginkan umat ini menjauh dari agamanya, menjadi takut datang ke masjid, dan ini semua ada hubungannya dengan pemilu tahun depan. Padahal, apa salahnya jika kita mengikuti apa yang kita yakini? Dan itu dijamin oleh undang-undang. Seakan-akan negeri ini tidak boleh dipimpin oleh orang bejenggot, tidak bisa dipimpin oleh mereka yang religius.

Bersyukurlah kita hari ini, bangsa kita tumbuh sebagai tempat yang mampu merangkul berbagai macam golongan. Enam agama yang diakui oleh negara dijamin hak nya oleh undang-undang. Kita bisa hidup rukun meskipun berbeda, dan kita mesti menjaga ini.

Bayangkan, bagaimana rasanya umat Islam yang tinggal di bawah kepemimpinan di Amerika Serikat, dibawah kepemimpinan Donald Trump? Yang saat kampanye dengan tegas menyatakan sikap anti Islam nya.

Intinya, bukan tentang golongan siapa yang berhak menjadi pemimpin nantinya. Tapi tentang sosok yang mampu mengembalikan bangsa ini kepada khitahnya, berlaku adil kepada setiap golongan, tegas terhadap segala bentuk penjajahan. Dan kita sebagai warga negara yang baik mesti cerdas dalam memilih pemimpin, kasus yang ada sekarang jangan sampai terulang kembali.
Persatuan umat mutlak menjadi seruan bersama, hilangkan sekat perbedaan yang ada, kita melebur menjadi umat Islam yang rindu akan pemimpin yang dengan ucapannya memberikan kenyamanan dan menyejukkan hati serta kebijakannya yang menenteramkan pikiran.

Monday, January 8, 2018

Keberanian: Kunci Perubahan Indonesia


Kita mungkin pernah mendengar ungkapan seperti ini: “Tidak terasa sudah semester 3 aja, padahal rasanya baru kemarin selesai Masa Orientasi Kampus”. Beberapa dari kita mungkin merasakan jika waktu berjalan begitu cepat, perubahan terjadi setiap waktu dengan arus globalisasi yang sulit kita duga, kita tidak menyangka bahwa sekarang dihadapan kita gejala gadget telah mendominasi manusia, padahal satu dekade lalu fiturnya hanya sebatas SMS dan menelpon, kini untuk membaca koran pun bisa lewat gadget. Charles Darwin dalam teori survival of the fittest yang dibangunnya (1809-1882) mengatakan bahwa, “Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling adaptif dalam merespon perubahan”.
Waktu terus berjalan, di sisi lain kewajiban kita semakin banyak. Akan ada masalah di setiap waktu yang kita lewati, masalah yang ada tentu mesti kita respon dengan cara baru, sebagaimana yang dikatakan oleh Albert Einstein, “Kita tidak bisa memecahkan masalah-masalah baru dengan cara-cara lama”. Apapun yang terjadi, kita dituntut untuk terus belajar dan memperbarui diri, memahami dunia sekarang dan mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi. Tentu tuntutan kita pun juga akan semakin meningkat, kewajiban kita saat SD tidak lebih berat dari SMP, kewajiban ketika SMP tidak seberat ketika berada di SMA, ketika kita sudah berkuliah maka kewajiban-kewajiban itu akan terus bertambah, satu poin yang perlu digaris bawahi ketika sudah masuk dunia perkuliahan adalah kita dituntut untuk bisa mandiri.
Masing-masing dari kita pasti memiliki impian, paling minimal adalah kita ingin menjadi apa di masa depan besok, dulu saat masih kecil mungkin banyak dari kita yang ingin menjadi dokter, pilot, guru, maupun pemadam kebakaran. Sadar atau tidak sadar profesi itu menjadi cita-cita yang sering dilontarkan oleh kita dulu, wajar, karena mindset yang ditumbuhkan ketika berada di TK hingga SD tidak jauh dari itu. Sayapun demikian, saat kecil dulu bercita-cita ingin menjadi dokter, akan tetapi saat ini saya berada di program studi Teknik Fisika yang dulu bahkan saya tidak tahu apa itu, ini terjadi karena kita terus belajar. Informasi yang kita peroleh akan terus bertambah, dalam satu waktu kita akan memahami bahwa problematika yang ada sekarang begitu kompleks lebih dari yang kita bayangkan dulu. Inilah hidup, dinamis, masalah-masalah baru akan terus bertambah seiring bertambahnya usia juga pengetahuan, seperti kata Jamil Azzaini bahwa semakin banyak belajar ternyata kita semakin merasa bodoh, bodoh bukan dalam artian fakir ilmu, akan tetapi kita akan menyadari bahwa masih banyak hal yang mesti kita pelajari lagi.
Harapan kita generasi muda yang ada saat ini mampu menjadi penerus bangsa di masa depan dengan ide-ide cemerlangnya, begitu juga apa yang saya pikirkan saat ini, berkuliah di Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada, besar harapan saya dari tempat inilah ilmu yang kemudian saya peroleh mampu membantu mengatasi krisis energi yang menimpa Indonesia, contoh kecil permasalahan yang ada saat ini adalah masih banyaknya desa di Indonesia yang belum teraliri listrik, berdasarkan data Kementerian ESDM (2016), terdapat 12 ribu desa di Indonesia yang belum teraliri listrik dengan baik. Sebanyak 2.915 desa diantaranya hidup dalam gelap, atau belum teraliri listrik sama sekali, sedangkan 9.000 desa lainnya hanya dialiri listrik 2-3 jam dalam sehari. Untuk mengatasinya tentu kita mesti masuk ke dalam sistemnya, mengambil peran strategis untuk kemudian membenahi segala persoalan yang ada.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kerusakan moral yang kini terus mewabah di bangsa ini, kecurangan ada dimana-mana, meningkatnya prostitusi dan penyalahgunaan narkoba, hingga korupsi yang semakin merajalela sampai-sampai kita bosan melihat tayangan TV karena hampir setiap hari beritanya itu-itu saja, hari ini jaksa yang ditangkap, besok gubernur yang ditangkap, besoknya lagi anggota dewan yang ditangkap. Indonesia hari ini ibarat singa yang sedang tidur, ia punya power untuk bisa menjadi magnet dunia akan tetapi terbelenggu oleh dogma orang-orang berpikiran picik dan dangkal yang hanya mementingkan dirinya sendiri sehingga kita sulit untuk keluar dari segala macam persoalan ini, kita krisis orang-orang jujur yang berani dan lantang mengatakan kebenaran. Inilah impian saya, tegas terhadap orang-orang yang ingin merusak bangsa juga kukuh dalam membentuk generasi muda, karena saya optimis Indonesia kelak akan menjadi pusat perhatian dunia dengan prestasinya. Mungkin ini akan terlihat mustahil bagi sebagian orang, seperti kata Gandhi, “pertama-tama mereka tak mempercayai Anda, lalu menertawakannya, setelah itu menyerang Anda. Tetapi Anda akan tertawa kemudian.”