Minggu, 27 Maret 2016

Karena Perjalanan Belum Usai


Jauh hari sebelum saya lulus di kampus Kerakyatan ini, saya hanyalah seorang siswa yang tiap harinya harus menempuh jarak kurang lebih 10 km untuk pergi ke sekolah, dengan “pete-pete” yang selalu menemani, berangkat lebih awal disaat orang lain masih lelap dalam tidurnya adalah rutinitasku dulu. Inilah jalan yang saya ambil saat itu untuk bisa bersekolah di salah satu sekolah terbaik yang ada di Makassar, meskipun di sekitar tempat tinggal saya juga terdapat berbagai Sekolah Mengenah Atas. Saya memilih SMAN 2 Makassar sebagai destinasi studi, sekolah yang cukup jauh dari tempat tinggal saya. Bagi saya, merasakan sesuatu yang baru adalah suatu pengalaman besar yang tak ternilai, di saat teman sebaya saya waktu itu lebih memilih untuk bersekolah di dalam lingkungan sekitarnya saja, saya berusaha untuk keluar dari lingkungan biasa. Inilah jalan yang saya ambil saat itu, tidak ada kata penyesalan, saya harus memperjuangkan apa yang telah saya pilih.
Tiga tahun sebelum menginjakkan kaki di kampus Pancasila ini, harapan untuk berkuliah di kampus terbaik di Indonesia hanyalah sekedar angan-angan buat saya, sepintas lewat di pikiran, tapi takut untuk saya jadikan target ke depannya. Jangankan berpikir untuk bersaing dengan siswa terbaik dari seluruh Indonesia, bersaing dengan siswa Makassar saat itu pun saya masih minder. Saat itu saya hanya mencoba untuk secepat mungkin beradaptasi dengan lingkungan yang baru, beradaptasi dengan jadwal sekolah yang padat, beradaptasi dengan gaya belajar yang baru.
Dua tahun sebelum menginjakkan kaki di kampus nasional ini, dengan prestasi yang tidak begitu baik pada semester sebelumnya, resolusi saya untuk semester ke depannya ialah hanya sekedar berharap untuk memperoleh nilai yang lebih baik, tidak ada yang spesial saat itu, bayang-bayang untuk berkuliah di luar Sulawesi pun sudah gusar setelah memperoleh rekap nilai semester 1 dan 2. Saya mencoba mengintropeksi diri, apa yang salah selama ini, mengapa prestasi yang saya peroleh stagnan, begitu-begitu saja. Hingga akhirnya di pertengahan semeter 3 saya menemui titik terang, sebuah harapan, saya mulai merencanakan apa yang semestinya harus saya lakukan untuk memetik buah itu.
Satu tahun sebelum menginjakkan kaki di kampus perjuangan, awal dimana semester 4 dimulai, awal dimana saya sadar akan masa depan saya ditentukan dari apa yang dilakukan hari itu. Saya sadar betapa singkatnya hidup ini, pilihan hari itu hanya dua, memilih untuk senang sesaat untuk meraih hasil yang kurang memuaskan atau bersabar dan berusaha sesaat untuk meraih hasil yang maksimal nantinya, parameter hasil saat itu ialah perguruan tinggi favorit yang menjadi cita-cita saya, karena saya sadar hasil akhir ialah kembali kepada-Nya dengan tempat yang terbaik.
Di semester 4 ini kemudian saya banyak mengikuti perlombaan, dan hasil dari lomba itu akan saya jadikan bekal untuk masuk perguruan tinggi nantinya. Ada cerita yang cukup menarik ketika saya hendak berangkat ke Malang untuk mempresentasikan hasil karya saya dalam Pekan Riset dan Ilmiah Universitas Brawijaya. Saat itu saya yang bermodalkan nekad untuk mengikuti lomba di jawa sama sekali tidak memikirkan masalah dana, tidak memikirkan masalah transportasi kesana. Alhasil ketika saya dinyatakan lolos, saya sempat bingung untuk berangkat kesana caranya bagaimana, karena saya tidak ingin memberatkan orang tua yang kebetulan saat itu juga kebutuhan adik-adik saya cukup banyak. Hingga akhirnya satu hari sebelum batas konfirmasi kesiapan peserta saya menyatakan batal untuk ke Malang. Akan tetapi, tante saya yang tempat tinggal nya relatif tidak jauh dari rumah saya tahu tentang perlombaan yang saya ikuti, lalu menghubungi saya dan menyuruh untuk datang ke rumahnya. Disanalah kemudian saya diberikan kemudahan, tante saya membelikan tiket agar saya dapat berangkat ke Malang. Bagi saya, ada banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk berprestasi, dan itu semua tergantung dari usaha yang kita lakukan, keseriusan kita dalam berproses. Jenjang Sekolah Menengah Atas saya tutup dengan hasil yang dapat membanggakan kedua orang tua saya.
Pendaftaran untuk masuk perguruan tinggi lewat jalur SNMPTN telah dibuka pada bulan kedua di tahun 2015, saat itu saya telah membulatkan tekad untuk berkuliah di Jawa. Awalnya saya memilih salah satu institut yang ada di Jawa Barat, akan tetapi karena beberapa hal dan pertimbangan orang tua, saya akhirnya memilih jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada. Pada dasarnya, dimanapun kita kuliah, yang menentukan keberhasilan kita ialah diri sendiri. Bukan seberapa hebat universitasnya, akan tetapi seberapa hebat diri ini untuk bisa bersaing di universitas itu. Akan tetapi, saya memilih untuk berkuliah di Jawa karena ada hal-hal yang kemudian tidak akan saya dapatkan jika berkuliah di Sulawesi Selatan. Ya, menjadi pengalaman yang hebat jika dapat berinteraksi dengan ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Memilih merantau untuk berkuliah tentu bukanlah perkara mudah, jauh dari keluarga, hidup sendiri, dan keterbatasan dana menjadi salah satu faktor yang perlu dipikirkan matang-matang sebelum merantau. Saya sendiri, sebelum memutuskan untuk merantau meminta restu kepada orang tua, dukungannya beliaulah yang menjadi spirit lebih untuk tetap berjuang dalam menuntut ilmu. Teringat apa yang pernah dikatakan oleh Imam Syafi’i, “Orang berilmu dan beradab tidak diam beristrahat di kampung halaman, merantaulah!”
Setelah dinyatakan lulus SNMPTN pada prodi Teknik Fisika UGM, secara singkat saya kemudian menunaikan apa yang telah saya nazarkan sebelumnya. Barulah setelah itu saya mempersiapkan segala urusan administrasi, hingga pada bulan agustus saya berangkat ke Yogyakarta dengan niat ingin menuntut ilmu dan ingin membanggakan kedua orang tua. Akhirnya, sampailah saya ke kampus yang saya impikan, kampus yang banyak melahirkan pemimping-pemimpin bangsa, kampus yang kemudian banyak mengajarkan kita arti dari kesederhanaan, dan yang paling penting bahwa kultur Yogyakarta yang begitu kental mengajarkan kita bagaimana menghargai orang lain, masyarakat terbuka kepada pendatang baru, dan juga labelnya sebagai kota pelajar di Indonesia akan sangat membantu kita para mahasiswa dalam mengenyam pendidikan dengan berbagai fasilitas yang diberikan. Separuh tahun lebih saya telah berkuliah di UGM, dan saya telah mendapatkan banyak sekali pelajaran, berteman dengan mahasiswa dari seluruh Indonesia adalah pelajaran yang sangat berharga, di kampus ini juga kemudian saya sadar bahwa peran kita sebagai mahasiswa tidak sekedar memperoleh nilai akademis yang baik, tapi juga kontribusi kita bagi masyarakat ialah yang paling utama. Perjalanan belum usai, peran kita masih dibutuhkan di masyarakat, masih ada cerita-cerita menginspirasi lainnya yang harus diceritakan bagi generasi muda nantinya.


Senin, 14 Maret 2016

Siapkah Kita Untuk Berhijrah?


Disetiap pertemuan yang berlalu tentu ada rindu yang membekas, sulit memang tapi itulah hidup. Tiap langkah kaki yang kita jalani hanya akan memberikan kenangan. Bagusnya, kita diberikan pilihan akankah menjadikan ia sebagai kenangan manis ataupun kenangan pahit. Mungkin saat ini kita masih dibayang-bayangi oleh begitu gemerlapnya kebiasaan sebelumnya hingga masih sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, belum mampu untuk menyibukkan diri. Mungkin masih sulit bagi sebagian dari kita untuk berhijrah dari aktivitas rutinitas yang sebelumnya tidak ada manfaatnya sama sekali ke aktivitas yang dapat memberikan kebermanfaatan bagi diri, masyarakat, dan agama. Pertanyaan yang kemudian timbul ialah: “bagaimana cara kita melakukan aktivitas yang bermanfaat? Bagaimana cara menyibukkan diri?”
Sebelum menjawab pertanyaannya, satu hal yang perlu untuk kita ketahui bahwa perbuatan yang kita lakukan dinilai benar bukan dari segi kuantitas (jumlahnya), akan tetapi dilandasi oleh apa yang kita percayai saat ini, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika peribahasa latin mengatakan Vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan), maka Al-Qur’an mengingatkan kita, Jika kamu mengikuti ‘kebanyakan’ orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Q.S. Al-An’am:116).1
Hijrah, jika kita artikan menurut bahasa ialah meninggalkan. Sedangkan menurut syariat ialah berpindah dari negeri syirik ke negeri Islam, atau dari negeri kemaksiatan ke negeri istiqamah. Kita mesti sadar bahwa masa lalu yang kelam hanya tinggal kenangan yang jika kita ratapi secara mendalam hanya akan menghambat diri ini untuk berkembang lebih jauh. Apa yang seharusnya kita lakukan saat ini ialah berhijrah, bagaimana perbuatan kita tidak terulang lagi seperti dulu, dan dampak positifnya terasa. Nilai yang perlu untuk ditanamkan bagi diri ini agar menjadi manusia dengan aktivitas yang bermanfaat dapat diperoleh dengan menghadirkan kondisi dimana tujuan utama kita bukanlah di dunia, tetapi di akhirat kelak, sehingga segala aktivitas yang kita lakukan semata-mata hanya atas apa yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bukankah indah jika di usia kita yang cukup muda ini diisi dengan hal-hal yang positif? Masanya telah berlalu, semua temanmu pergi jauh meninggalkanmu, tapi ia pergi bukan berarti melupakan. Namun pergi untuk menebarkan manfaat yang lebih ke penjuru dunia ini. Dulu mungkin kamu terlalu banyak menyusahkannya, tapi suatu saat bisa jadi kamu yang malah memberikan manfaat kepadanya. Dulu mungkin kamu memandang ia terlalu tinggi hingga sulit untuk bisa menyamai, tapi bisa jadi beberapa tahun kedepan kamu lulus dari perguruan tinggi sebagai lulusan cum laude. Mereka di masa lalu belum tentu mereka di masa depannya, sebab tiap orang punya keinginan untuk mengubah masa lalunya. Fokus kita saat ini ialah menumbuhkan sikap optimis, bahwa kita bisa berubah. Tiap manusia punya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, tergantung bagaimana cara diri ini menyikapi kehidupan, mengontrol diri untuk bisa melawan hawa nafsu menuju pribadi penebar manfaat bagi bangsa dan agamanya. Selamat berjuang saudaraku.



___________________________________________________________________________
1.      Dikutip dari Adhim, Mohammad Fauzil. 2012. Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. Yogyakarta. Pro U-Media.