Wednesday, April 29, 2020

Mengapa Terjadi Kejahatan oleh Anak Muda?



Kenapa hampir setiap saat kita mendengar atau membaca berita tentang tawuran dan balap liar di Makassar bahkan juga di beberapa daerah di Indonesia lainnya yang pelakunya bahkan didominasi oleh anak muda? Tidak terkecuali saat bulan ramadhan ini, bulan yang harusnya diisi dengan aktivitas ibadah malah disia-siakan dengan perilaku yang tidak beradab. Apa yang menyebabkan tawuran dan balap liar tersebut terus eksis dan seakan-akan tidak memberikan efek jera bagi para pelakunya? Bisa dikatakan jika aktivitas yang dilakukan oleh sekelompok orang tersebut tumbuh karena adanya pandangan dogmatis yang terus diturunkan antar generasi dari senior ke juniornya: perasaan bangga, mengejar eksistensi, kalau tidak dilakukan ketinggalan zaman.
Teringat teori broken windows nya James Quinn Wilson dan George Lee Kelling, mereka menulis teori tersebut pada tahun 1982 pada majalah The Atlantic Monthly, dimana tulisannya tentang broken windows muncul dari hasil pengamatan atas jendela-jendela yang pecah di permukiman penduduk New York kala itu. Jendela yang dibiarkan pecah memicu pecahnya jendela lain yang disebabkan adanya persepsi bahwa perilaku vandalisme diperbolehkan sehingga menimbulkan rasa aman untuk melakukan hal tersebut, perilaku ini jika dibiarkan akan mendorong orang lain untuk berbuat hal yang sama dan bahkan lebih.
Kejahatan atau kekacauan timbul akibat ketidakteraturan kecil yang dibiarkan tanpa ada tindakan yang tegas dari pihak yang berkepentingan sehingga mendorong orang lain berbuat hal yang sama dan bahkan bisa lebih daripada itu, dengan kata lain tidak ada efek jera. Bisa jadi sudah ada penindakan tapi belum membuat jera para pelaku. Awalnya tawuran antar RW, kemudian antar kampung, tawuran dengan aparat, dan jadi pelaku begal.
Sederhananya, penerapan dari teori broken windows untuk mengatasi tingkat kejahatan yang semakin tinggi dapat dilakukan dengan rutin setiap hari menginspeksi titik-titik yang rawan terjadi tawuran, balap liar, maupun begal. Inspeksi rutin ini sebagai upaya pengawasan dan pencegahan aktivitas-aktivitas yang tidak diinginkan tersebut terjadi, yang ditakutkan tentunya adalah korban dan pelaku yang timbul dari tindakan tersebut akan semakin banyak jika dibiarkan terus menerus.
Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point: How Little Things Can Make Big Difference mengatakan bahwa penerapan teori broken windows menjadi penyebab turunnya angka kriminalitas di New York pada masa 1990-an. Ia juga menyebut fenomena tersebut sebagai the power of context, yaitu sebuah pemikiran yang menyatakan bahwa manusia sangat sensitif terhadap lingkungan mereka. Artinya, perubahan kecil dalam lingkungan manusia akan sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia. The power of context juga menyatakan bahwa untuk mengatasi kejahatan besar tidak harus menyelesaikan kasus atau masalah yang besar terlebih dahulu, tapi bisa dimulai dengan menyelesaikan masalah yang kecil.
Dari teori Broken windows kita belajar jika kejahatan yang besar berawal dari kejahatan yang kecil, sedangkan dari the power of context kita belajar untuk mengatasi kejahatan besar sebaiknya dimulai dengan menyelesaikan masalah-masalah kecil. Dalam hal ini, khususnya Pemerintah kota Makassar, bisa mencoba untuk membuatkan arena balap motor untuk anak muda Makassar menyalurkan hobinya daripada mesti turun ke jalan balap liar dan bisa membahayakan pengendara yang lain. Membuatkan arena air softgun dengan ada kompetisi setiap semester/tahun agar para anak muda bisa menyalurkan energinya pada suatu aktivitas yang tidak meresahkan masyarakat dan dapat bermanfaat juga bagi diri mereka masing-masing.
Mari mengambil hikmah dari setiap kejadian, barangkali ada setitik cahaya yang bisa memberi makna dan mengubah hidup seseorang, anak muda adalah tulang pungung masa depan Indonesia.

Tuesday, April 28, 2020

[Kuliah 2] Apa Arti Pendidikan? Apa Bedanya dengan Sekolah?


Kuliah Ramadhan Jelang Berbuka ke-2
Oleh Ust. Adian Husaini

Dulu Ki Hadjar Dewantara, ada 2 istilah yang digunakan yakni pendidikan dan pengajaran, Ki Hadjar Dewantara membuat konsep pendidikan yang diluncurkan bulan juni tahun 1922 di Yogyakarta pada pembukaan Taman Siswa, Ki Hadjar membuat konsep bahwa pendidikan itu seperti taman bahkan di dalam artikel yang beliau tulis setelah itu, beliau mengidolakan sistem pendidikan nasional kita bentuknya pesantren. Beliau mengkritik keras sistem pendidikan penjajah yang sangat kering sifatnya dari menanamkan nilai-nilai, adab, dan kesusilaan.
Dulu namanya pendidikan selalu identik dengan penanaman nilai, Prof. Naquib Al-Attas menyebut konsepnya the purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness in man as man and individual self, tujuan mencari ilmu dalam Islam itu adalah menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri seseorang sebagai manusia, sebagai manusia ini sangat penting karena yang ditekankan adalah untuk mendidik seseorang menjadi orang baik bukan sebagai karyawan, orang baik pasti karyawan yang baik, karyawan yang baik menurut standar perusahaannya belum tentu ia manusia yang baik karena perusahaan itu belum tentu baik.
Setiap orang yang menjalani proses pendidikan mestinya semakin adil, di dalam Al-Qur’an dikatakan I’diluu huwa aqrabu littaqwa, berbuatlah adil sesungguhnya ia lebih dekat kepada ketakwaan. Pengajaran adalah transfer of knowledge, jangan menganggap inti dari pendidikan kita adalah sekolah, karena inti dari pendidikan itu adalah penanaman nilai. Lembaga pendidikan terpenting itu adalah rumah, pondok pesantren terbaik itu adalah rumah, kenapa begitu? Karena di rumah itulah ditanamkan nilai-nilai keadilan dan kebaikan, dan guru terbaik adalah orangtua. Ilmu mendidik ini adalah ilmu yang wajib (bagi yang punya anak). Sekolah bisa menjadi tempat pendidikan bisa juga tidak, kita tahu bahwa kita mencari ilmu yang bermanfaat, tapi anehnya di sekolah-sekolah kita tidak diajarkan apa itu ilmu sebenarnya? Penting untuk kita memahami dua macam ilmu, ada ilmu yang nafi’ (bermanfaat) dan ada juga ilmu yang dharar/mudhorat (ilmu yang membuat kita menjauhkan diri dari Allah Subhanahu wa ta’ala).
Beradab dan menjadi orang yang baik, apa orang yang baik itu? Orang yang bermanfaat bagi sesama. Bagaimana dia bermanfaat dengan sesama? Dia harus kenal dengan Tuhan dan Nabinya, ia harus mencintai sahabat dan keluarga Nabi, ia harus beradab kepada para ulama, guru dan teman-temannya, ini yang pokok (Islamic worldview). Jika kita membuka kitab yang ditulis oleh Imam Ghazali, Kimyatusy Sya’adah, kita akan menemukan bab pertama dari kitab tersebut adalah kenali dirimu, siapa kamu itu, dari mana berasal, tugasnya apa, dan setelah mati mau kemana?
Menanamkan nilai itu sifatnya seperti coaching (melatih), bukan sekedar diajari seperti robot tapi juga dibangun jiwanya. Dengan momen pandemi corona ini menjadi momen terpenting bagi orangtua untuk mendidik anak-anaknya, dididik sikapnya.
Rasulullah ketika mendidik para sahabatnya bahkan Muadz bin Jabal pada waktu itu di atas kendaraannya, sedang berjalan, di masjid, setelah shalat, dimanapun dan kapanpun ada pendidikan. Prof. Mohammad Nur di dalam bukunya Budaya Ilmu, menjelaskan bahwa bahaya sekali jika orang Islam memahami pendidikan itu formal, informal, dan non formal, yang mana yang difokuskan hanyalah pendidikan formalnya. Seluruh hartanya dikeluarkan untuk membiayai pendidikan formal agar anak mampu menguasai Fisika, Kimia , Biologi, dan lain sebagainya. Akan tetapi begitu pendidikan yang sifatnya di rumah, anak dinasihati orangtuanya dianggap bukan pendidikan, aktivitas dan pembinaan di bulan ramadhan dianggap bukan pendidikan (hanya dianggap sekedar rekreasi ruhani).
Bisa disimpulkan dampak dari penyamaan pendidikan dan sekolah bermuara pada satu hal, yakni penanaman nilai oleh orang tua yang dilupakan. Padahal, itulah yang akan mengantarkan seseorang pada kesuksesan dunia dan akhirat. Mungkin ada sekolah yang memperhatikan aspek pendidikan (penanaman nilai), tapi tidak menutup kemungkinan kalau sekolah tidak menekankan aspek itu.
Sudah semestinya setiap orang tua dan guru insaf, bahwa yang pokok itu, bukan seberapa banyak ilmu yang anak dan murid peroleh. Tapi sudah sampai mana ia mengenal Tuhannya dan dirinya, sudah seberapa tinggi adab ia kepada Nabinya, gurunya, bahkan orang tuanya. Inilah ilmu yang fardhu ‘ain. Sementara hal ini, hanya bisa dicapai melalui pendidikan, bukan pengajaran. Ingatlah, pengejaran intelektualitas yang berlebihan, sampai melupakan spiritualitas, hanya akan menjerumuskan semua ilmunya ke tempat yang salah dan hanya akan membuat dirinya merasakan kebahagiaan semu.
Selain itu, kesimpulan lain yang bisa diambil dari 3 dampak penyamaan pendidikan dan sekolah, ialah bahwa, yang terpenting bagi seorang murid itu bukan bagaimana cara ia belajar dan dimana ia mendapatkan pelajaran. Baginya ada yang lebih urgen darpada itu, yakni apa yang ia pelajari dan kepada siapa ia belajar. Jadi Bukan bagaimana dan dimana, tapi apa dan siapa. Sekalipun pesantren, sekolah-sekolah Islam, ataupun universitas-universitas Islam, tidak menjamin guru dan ilmu yang benar. Maka, disinilah peran orang tua. Sebab, tanggung jawab pendidikan seorang anak, bukan pada sekolah dan pendidik bukan pada guru semata. Ini bukan tentang seberapa banyak uang yang dikucurkan orang tua kepada sekolah, tapi seberapa tega orang tua melepaskan tanggung jawabnya sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya.
Kalaupun sudah berusaha dan tidak bisa, maka menurut Habib Ustman dalam kitabnya, “Adabul Insan”, kewajiban orang tua menyerahkannya kepada guru yang baik (bukan berarti harus sekolah). Inilah yang dilakukan Sultan Murad ketika menyerahkan Sultan Muhammad Al-Fatih kepada 2 guru besar bernama Syaikh Ahmad Al-Kurani dan Syaikh Aaq Syamsuddin. Sama halnya dengan hikayat dalam kitab “Ta’limul Muta’allim”-nya Imam Az-Zarnuji tentang penyerahan anak Khalifah Harun Al-Rasyid kepada seorang ulama besar bernama Al-Ashma’i, oleh Khalifah sendiri untuk belajar ilmu dan adab.
Namun, hal itu tidak membuatnya hilang pengawasan. Sebab, suatu saat, Al-Ashma’i ditegur oleh Khalifah. Alasannya, adalah karena sang guru tidak menyuruh anaknya yang ketika itu sedang menuangkan air dengan satu tangannya kepada gurunya untuk berwudhu, “menggosok” kakinya. Itulah keteladan Harus Al-Rasyid sebagai orang tua (disamping sebagai pemimpin) yang sangat menekankan dan memperhatikan penanaman adab untuk anaknya.

Begitulah makna pendidikan dalam Islam yang tidak bisa disamakan dengan sekolah. Inti pendidikan adalah penanaman nilai. Pendidikan bukan tentang yang formal, sehingga berapapun biayanya, rela dikeluarkan demi gengsi dan materi, sebagaimana yang ditekankan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud dalam bukunya, “The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Nauib Al-Attas”. Tempat pendidikan bukan sebatas sekolah, tapi yang utama, adalah rumah. Pendidik utama dan terbaik adalah orang tua. Maka, sudah saatnya pandemi ini dimanfaatkan oleh seluruh orang tua. Yakni, bagaimana beperan menjadi seorang pendidik yang memanfaatkan rumah sebagai tempat pendidikan. 

Membentuk Karakter Dai Teladan



Oleh Ust. Amang Syafrudin Lc., MA

Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada kita adalah Ihfadzillaha yahfadka, jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Apa yang harus kita lakukan dalam proses ini? Menjaga Allah artinya menjaga segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, tentunya adalah menjaga keimanan kita, jangan sampai ada sedikit pun ada keraguan kepada Allah. Jaga keimanan kita kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitabullah, kepada Rasulullah, kepada hari akhir, kepada qadha’ dan qadhar.

Jangan kalian mati kecuali dalam keadaan muslim, idealisme seperti ini bukan sesuatu yang mimpi sifatnya, seakan hanya Rasulullah dan para sahabat yang hanya bisa melakukannya, tapi sesungguhnya seluruh umat Islam yang telah mengucapkan asyhadu alla ilaha illallah maka ia berkesampatan untuk meraihnya.

Dalam bahasa istiqomah, innalladzina qolu robbunallahu tsummas taqomu, sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Allah Tuhan kami kemudian istiqomah, dan dilengkapi dengan dua kalimat syahadat maka pada saat itu kita berada pada posisi sebagai seorang muslim yang selanjutnya kita dituntut untuk beristiqomah, kita tidak akan bisa beristiqomah tanpa ketaqwaan, bagaimana kita meningkatkan komitmen kita dan kepatuhan kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Apa yang sudah didesain oleh Allah kepada kita adalah dalam konteks untuk membentuk pribadi kita yang ideal, dengan perintah dan larangannya. Semua punya peluang untuk menjadi suri teladan, akan tetapi persoalannya adalah bagaimana kita bisa meneladani Rasulullah? Karena pada saat kita ingin menjadi pribadi yang ideal maka kita tentu harus punya contoh. QS. Al-Ahzab: 21, laqad kana lakum fii rasulillahi uswatun hasanah, sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.

Ada 3 tipologi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an dan oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dianggap sebagai sesuatu yang tetap dalam konteks keislaman dan ketaqwaan. Tetapi ada komitmen seseorang terhadap Al-Qur’an itu yang disebut dengan (1) zalimun linafsih, orang yang dzolim pada diri sendiri, masih melaksanakan yang dilarang Allah tapi tidak sampai mengeluarkan ia dari keislamannya, (2) muqtashid, orang yang pertengahan, ia tidak terlalu mengejar hal yang sunnah, hanya mengerjakan yang wajib-wajib saja, tapi ia juga tidak melakukan tindakan yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, (3) saabiqun bil khairat, orang yang selalu mengejar berbagai kebaikan, setelah yang fardhu ia cari yang fardhu kifayah kemudian sunnah muakkad, dia kejar juga sunnah ghairu muakkad, ada tipologi manusia seperti ini. Islam, saling menutup kekurangan kita satu sama lain.

Seorang dai dalam Islam adalah mereka yang modelnya sedang bahkan terus belajar, melengkapi dan menyempurnakan keislamannya dengan aktivitas-aktivitas kebaikan. Istilah dai teladan bukan sesuatu seseorang yang sudah jadi, sebagaimana ketika kita bicara tentang muttaqin, sesuatu yang sudah jadi (conform), mungkin dari kita selain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak ada yang memasuki kata ‘telah jadi seorang teladan’, kita semua berproses, bahkan keteladan kita mungkin tidak lengkap dan tidak semuanya, ada orang yang bisa diteladani dalam cara berpikirnya, akhlaknya, ibadahnya. Keteladanan ada pada kondisi yang sangat-sangat normal dalam Islam, bukan sesuatu yang tidak bisa dicontoh atau dijalankan oleh kita.

Siapa sajakah yang bisa meneladani Rasulullah? Dai teladan itu hanya Rasulullah, selain beliau belum ada yang sampai sederajat dengan beliau. Tapi yang menjalankan berbagai aktivitas ibadah, dakwah, tarbiyah dan lain sebagainya yang mencontoh dan meneladani Rasulullah itu adalah hak dan kewajiban seluruh umatnya. Tidak ada satupun dari kita yang dikecualikan.

Siapa saja yang bisa meneladani Rasulullah? Siapapun bisa, liman kana yarjullaha wal yaumal akhir wa dzakarallaha kasiran, proses untuk meneladani itu bagaimana? Yang utama tentu adalah kita melihat sosok Rasulullah. Ar-roja’ bil liqoillah, kita harus memiliki dan menguatkan harapan, harapan itu muncul dari satu keyakinan, semakin kuat keyakinan kita maka akan semakin kuat pula harapan kita. Harapan apa? Harapan satu-satunya yang dimiliki oleh Rasulullah adalah Allah Subhanahu wa ta’ala, seluruhnya terkonsentrasi untuk mewujudkan harapan kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam konteks bulan ramadhan, Man shoma romadhona imanan wahtisaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbih. "(Artinya) barang siapa yang berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka semua dosanya yang lalu akan diampuni. Kita selalu berharap, yarjullaha.

Ada hadits yang mengatakan man ahabba liqa allahi ahabballahu liqa ahu, wa man kariha liqa allaihi karihallahu liqa ahu, siapa yang suka menemui Allah maka Allah suka menemuinya dan barangsiapa yang benci menemui Allah maka Allah benci pula menemuinya.

Wal yaumal akhir yarjullaha wal yaumal akhir, saat kita tidak berharap dengan hari akhir, mungkin ada orang yang mengatakan saya beriman kepada Allah tapi saya tidak percaya dengan hari akhir, kira-kira orang tersebut akan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah atau tidak? Tentunya tidak, karena pandangan dia tidak ada yang disebut dengan punishment, reward, hisab. Makanya ayat yang dimunculkan tentang hari kiamat di dalam Surat Al-Fatihah yang kita baca setiap shalat adalah maliki yaumiddin, hari pembalasan. Hari kiamat itu adalah hari pembalasan. Tsumma latus alunna yauma idzin ‘anin na’im, kemudian pada hari itu (hari kiamat kelak) kamu benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan. 

Ketika rasa malas itu muncul maka beristighfar sebanyak mungkin, karena tidak ada yang membuat kita lesu dan lemah kecuali dosa. Dan selain itu adalah paksakan untuk selalu beramal, kalau memaksakan diri di dalam kebaikan itu jelas menjadi suatu keharusan.









Monday, April 27, 2020

[Kuliah 1] Ramadhan Bulan Pendidikan



Kuliah Ramadhan Jelang Berbuka ke-1
Oleh Ust. Adian Husaini


Bulan Ramadhan seharusnya bisa kita optimalkan juga oleh pemerintah, perlu ada anggaran khusus dari negara untuk mengalokasikan pendidikan di bulan ramadhan, mengoptimalkan kajian-kajian yang intensif untuk meningkatkan kualitas diri kita.
Pendidikan intinya adalah bagaimana kita menjadi manusia yang baik, di dalam konstitusi kita pasal 31 ayat 3 dikatakan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa tujuan kita berpuasa adalah untuk bertaqwa, la allakum tattaqun, kita diwajibkan berpuasa tujuannya bertaqwa. Tujuan pendidikan nasional kita adalah beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.
Manusia beriman itu apa? Manusia bertaqwa itu apa? Manusia berakhlak mulia itu apa? Menjadi aneh ketika kita mengikuti konsep-konsep pendidikan yang mereduksi hakikat pendidikan nasional tersebut yang tujuannya untuk membentuk manusia yang baik: beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Akan tetapi selama ini direduksi tujuan pendidikan menjadi hanya sekedar bagaimana mengembangkan potensi anak didik supaya dia bisa bekerja mencari nafkah. Tidak salah, tapi hal tersebut menjadi sebagian kecil dari tujuan yang besarnya.
Kalau bicara tentang pendidikan Prof. Ahmad Tafsir mengingatkan empat hal: (1) tujuannya, (2) kurikulum, (3) program, (4) evaluasi. Menetapkan tujuan ini sangat penting, kalau kita mau membentuk pendidikan yang baik maka tetapkan dulu tujuannya, dari tujuan ini diturunkan menjadi bentuk rinci target-target pendidikan dan bisa berbeda untuk setiap jenjang bahkan setiap anak. Tujuan ini dicapai melalui kurikulum.
Di zaman Anies Baswedan menjadi menteri pendidikan beliau mengeluarkan permen no 20 tahun 2016 tetang SKL (standar kompetensi lulusan), yang mana ada 3 yang diukur dari SKL tersebut: sikap, pengetahuan, keterampilan.
Mari kita manfaatkan dengan betul ramadhan ini sebagai bulan pendidikan, inilah bulan untuk mendidik kita semua menjadi orang yang baik, inna akromakum indallahi atqokum, sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kalian. Bahkan kita diajari doa, robbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun waj’alna lilmuttaqina imamaa, wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Furqon:74). Menjadi orang taqwa itu mulia, menjadi orang taqwa itu susah, karena meraih derajat kemuliaan itu tidak mudah.
Qod aflaha man zakkaha waqod khoba man dassaha, beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya dan celakalah orang-orang yang mengotori jiwanya. Ibadah di bulan ramadhan ini luar biasa untuk menempa jiwa kita untuk semakin takut kepada Allah dan khawatir jika melanggar perintah Allah.
Ibadah shaum ini ibadah yang tidak kelihatan, orang tidak bisa pura-pura berpuasa, artinya jiwa kita dididik jujur. Jujur ini menjadi kunci, sebab menjadi kunci bagi kebaikan yang lain.
Bagaimana kita bisa mencari ilmu sukses? Menurut Imam Syafi’I, ala lantanalal ilma illa bisittatin sa’umbii kamaj’mu illa bi bayani, seseorang yang menuntut ilmu tidaklah jauh dari 6 syarat utama, 6 syarat dalam menuntut ilmu itu diantaranya adalah:
1.       Dzakkaun (Cerdas, mengerti)
Orang itu dikarunia akal, bisa berpikir dan cerdas. Otak kalau tidak dibiasakan berpikir maka akan tumpul, maka di dalam Al-Qur’an banyak perintah yang meminta kita untuk terus berpikir. Dalam surah Al-Mulk ayat 10 dikatakan jika penduduk neraka sa’ir menyesal karena mereka waktu di dunia tidak mau berpikir, wa qolu lau kunna nasma’u au na’qilu ma kunna fii ashabi sa’ir, Dan berkata (mereka penghuni neraka) andai ada kami (di dunia) mendengar atau kami berakal maka tidak ada kami penghuni neraka sa’ir. Orang yang masuk neraka ini malas berpikir.
2.       Hirsun (Senang hati, ikhlas)
Seseorang dalam menuntut ilmu ia harus haus ilmu, kalau dalam gurindam 12 Raja Ali Haji beliau mengubah syair yang indah “Jika hendak mengenal orang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu.” Jadi ciri orang yang berilmu adalah yang rajin bertanya dan tentu bertanya tidak sembarangan, karena ada adabnya.
3.       Ishtibaarun (Sabar)
Seorang yang menuntut ilmu harus senantiasa bersabar
4.       Bulghaatun (Modal, biaya)
Perlu pengorbanan
5.       Irsyaadu Ustaadzi (Patuh kepada guru)
Perlu bimbingan guru, belajar itu ada yang mengarahkan dan ada kurikulumnya, sebab bahaya jika seseorang diminta membaca tanpa diarahkan, Prof. Mohammad Nur di dalam bukunya budaya ilmu mengatakan bahwa banyak informasi belum tentu berilmu sebab orang dikatakan berilmu ketika ia bermakna, kita tidak bisa mengatakan komputer itu berilmu karena banyaknya informasi. Banyak orang tersesat karena salah pilih guru.
6.       Thuuluz Zamaani (Waktu yang lama)
Perlu waktu yang panjang,

Untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, kata Imam Az-Zarnuji dalam kitabnya Ta’limul Muta’allim adalah ilmu yang bermanfaat itu memiliki 2 kriteria yakni ilmu itu diamalkan dan ilmu itu diajarkan.

Monday, April 20, 2020

Tarhib Ramadhan 1440 H



Oleh: Habib Salim Segaf Al-Jufri, Senin 20 April 2020

Ramadhan merupakan tamu agung, kalau di rumah kita kedatangan tamu yang sangat kita muliakan, masyarakat akan sangat bangga jika rumahnya didatangi tamu tersebut, pasti persiapannya sangat matang karena manusia yang akan datang sangat dimuliakan sekali. Kalau tamu yang bahkan kita perlu mempersiapkan uang untung menanti kedatangannya itu disiapkan sangat matang, apalagi jika tamu yang ia mampu memberikan kita kebahagiaan hingga akhirat, yakni tamu bulan ramadhan. Dalam menyambut ramadhan ini, program apa yang akan kita buat kepada keluarga dan masyarakat? Semoga kita semua merasakan rindu dan bahagia ingin berjumpa dengan bulan suci Ramadhan dan semoga bulan Ramadhan juga rindu kepada kita, namun naudzubillah ada juga orang yang justru menjadikan bulan suci ramadhan sebagai beban. Ada banyak hikmah yang bisa kita peroleh dalam bulan suci Ramadhan, sebagaimana perjalanan yang terus berhenti dalam setiap titik pemberhentian, ramadhan merupakan salah satu tempat untuk menambah bekal kita untuk melanjutkan perjalanan ini.

Fuqoro wal masakin, ketika orang berpuasa akan muncul sikap itsar dan saling berbagi, ada perhatian lebih yang diberikan kepada saudara kita yang kesulitan. Juga saat berpuasa kita dilatih untuk jujur, karena ia yakin Allah menyaksikannya. Bayangkan jika perasaan ini juga terbawa selepas ramadhan? Tentunya orang tadi tidak akan berbuat maksiat, ketika mau berbuat maksiat maka hatinya akan mengatakan bahwa Allah akan senantiasa melihat kamu. Semoga kita terus istiqomah, la allakum tattaqun, agar engkau menjadi orang-orang yang bertakwa. Sayyidina Ali RA mendefinisikan takwa sebagai al khoufu minal jalil, wal ‘amalu bit tanzil, al-qona’atu bil qalil, al-isti’dadu li yaumir rakhil. Yang pertama adalah takwa itu akan menjadikan seseorang merasa takut kepada Allah yang memiliki sifat jalal), kedua adalah beramal dengan dasar Al-Qur’an, ketiga adalah menerima qona’ah terhadap yang sedikit, dan keempat adalah selalu siap untuk kembali kepada Allah, menghadapi perpindahan dari alam dunia ke alam akhirat. Kalau engkau punya peluang hidup di pagi hari jangan sampai menunggu hingga sore hari, siapa yang bisa menjamin kita hidup hingga sore hari? Ketika ia hidup di sore hari maka tidak ada jaminan ia hidup hingga esok hari, itulah orang-orang yang bertakwa, selalu siap menghadap kepada Allah.

Kalau dulu selalu berpikir hanya untuk diri sendiri, rakus, dengki, tapi dengan hadirnya bulan suci ramadhan sifat-sifat tersebut akan hilang secara perlahan jika dijalani dengan baik. Kenapa di bulan suci ramadhan tetap ada orang yang berbuat maksiat padahal setan sudah di belunggu? Ada contoh, ada anjing galak diikat tapi meskipun diikat orang yang dekat ke anjing tadi bisa tetap digigit juga, nah serupa dengan hal tersebut orang-orang juga bisa bermaksiat jika dekat kepada maksiat. Kenapa masih ada orang yang berbuat maksiat, karena Wamaa ubarri-u nafsii, innan nafsa la-ammaratun bissuu-i illaa maa rahima rabbi, jadi hati itu akan selalu mengajak kepada hal yang buruk, nafsu itu kesana, kecuali nafsu yang mendapatkan rahmat dan petunjuk Allah, yang dijaga oleh Allah. Jadi ada sifat setan yang juga hadir dari pribadi manusia yang dipengaruhi oleh pribadi manusia yang lain. Jadi dengan setan dibelunggu, peluang-peluang untuk menjadi orang baik itu sangat besar di bulan ramadhan.

Seseorang tidak akan mendapatkan halawatul iman sehingga ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebih segala-galanya, melebihi rasa cinta kepada harta, suami, istri, anaknya. Kalau itu terjadi, maka barulah ia mendapatkan halawatul iman (manisnya iman). Peluang besar bagi kita di bulan ramadhan ini untuk membentuk diri menjadi pribadi demikian. Kalau di zaman salafus shalih, beliau-beliau mempersiapkan ramadhan bahkan dari enam bulan sebelumnya. Bagi kita sekarang, buatlah program untuk mendorong diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, kalau di awal skor kita Cuma lima maka kita pasang target di akhir ramadhan mencapai delapan.

Bagaimana dengan program dengan anak-anak kita? Tadarrus al-Qur’an bersama-sama, anak-anak punya kewajiban menghafal Al-Qur’an dan menyetorkan kepada kita. Program dengan masyarakat bagaimana? Walaupun kita tidak berjama’ah di masjid tapi kita tahu tetangga-tetangga kita yang kesulitan atau kesusahan, khoirun nas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermafaat bagi yang lain. Buat mereka-mereka yang susah agar tersenyum, walaupun mungkin bukan dari kita hartanya, si fulan punya rezeki kita bantu mengantarkan dan diberikan kepada saudara yang kesusahan tadi.

Hadits yang dikumpulkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani jilid 2 halaman 608, disitu dijelaskan jika seseorang keluar dari rumahnya dan membantu orang-orang yang kesulitan/miskin, memberikan makan meskipun mungkin pekerjaan yang dilakukan hanya setengah jam – satu jam, tapi dikatakan bahwa pahalanya itu khoirun lahu, lebih bagus daripada I’tikaf di masjid Rasulullah sebulan lamanya. Juga jangan menyepelekan amal yang kecil, meskipun sepiring nasi bagi kita biasa tapi bagi orang yang susah masyaAllah sangat memberikan manfaat yang begitu berarti, di bulan ramadhan inilah juga menjadi peluang bagi kita untuk saling berbagi.

Kebersamaan adalah kunci untuk kita mengubah perubahan-perubahan besar, permasalahan yang hanya dikelola oleh individu akan sulit untuk diselesaikan, puasa ini menggiring kita untuk bergandengan tangan bersama-sama, kalau bukan kita yang memberikan perubahan, siapa lagi? Disinilah pentingnya pemerintah untuk membangkitkan semangat masyarakat untuk bergerak bersama-sama. Jangan kita memberikan peluang pada siapapun yang mencoba memecah belah persatuan kita, kebersamaan adalah kunci keberhasilan atau kesuksesan.

Teringat ketika di masjid Nabawi, setelah shalat tarawih ada shalat qiyamul lail ada seorang anak usia 8-10 tahun yang menjadi imam untuk keluarga besarnya, terus malam bersama-sama. Buatlah program kepada anak-anak agar mereka bisa menganggap shalat itu indah baginya, dibangun kedekatan antara ayah, ibu, dan anak.

Yuridullahu bikumul yusra wala yuridu bi kumul 'usra, Allah itu ingin kepada kalian kemudahan dan tidak akan mempersulit hambanya. Setiap apa yang diperintahkan kepada kita insyaAllah bukanlah perintah yang sulit untuk dikerjakan.


Mental Pemenang



Orang yang bermental pecundang akan selalu mengekor kepada yang menang, akan tetapi orang dengan mental pemenang ia tidak akan pernah mengekor meski kalah sekalipun, karena orientasinya adalah kebenaran, orientasinya adalah kebermanfaatan bagi umat.

Realitas dunia saat ini, kita menyaksikan bahwa umat Islam tengah menjadi outsider (penonton) dalam percaturan global. Maka hadirnya jama’ah ini adalah sebagai upaya untuk menjadikan Islam sebagai insider (pelaku), agar umat tidak lagi bermental inferior, agar lahir kembali cendekiawan-cendekiawan yang mengisi buku-buku sebagai rujukan ilmu pengetahuan dan untuk mendesain dunia, agar tumbuh para pahlawan muslim yang mengisi percaturan global.

Saat ini, bisa jadi Allah Subhanahu wa ta'ala memberlakukan ayat-Nya,  wa tilkal-ayyamu nudawiluha baynan-nas, dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran). Saat ini giliran negara-negara Barat, insyaAllah selanjutnya adalah kembali giliran umat Islam.

Maka tugas para penyambut kejayaan itu adalah dengan mempersiapkan diri semaksimal mungkin, siapa mereka yang mempersiapkan? Adalah mereka para pemuda, sebab ia adalah harapan terhadap masa depan.

Kalau kata Muhammad Elvandi dalam bukunya Sang Pemuda, beliau mengatakan bahwa kelesuan pemudi muslim adalah tanda bahwa umat Islam masih harus bersabar mengantri di pinggiran peradaban. Hingga datang generasi muda yang menggiring umat ke tengah kompetisi kehidupan.

Saat ini meski dalam posisi tertinggal, tapi alhamdulillah ‘jama’ah ini’ masih terus berupaya di dalam memberikan kontribusi kemanusiaan semampunya dan sekuat tenaganya, kontribusi pemikiran dan kebijakan melalui jalur legislatif dari tingkat pusat hingga daerah dan eksekutif di beberapa daerah, kontribusi pendidikan melalui jaringan sekolah-sekolah, dan kontribusi lainnya yang justru bisa jadi lebih banyak dari sekedar apa yang terdokumentasikan di media sosial.

Jama’ah ini akan selalu hadir agar umat Islam tetap bisa memberikan senyuman dan harapan, jangan sampai justru kurang energinya dalam memberikan kontribusi. Terus berjuang dan pastikan kita bagian daripada proyek masa depan.

1998 – 2020 , terus berjuang melayani umat.


Monday, April 6, 2020

Kesadaran Kolektivisme


Tentu kita sepakat atas nilai-nilai dasar yang telah dirumuskan oleh para founding fathers kita yang tertuang dalam pancasila, presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno menyebut pancasila sebagai philosophische grondslag (filosofi dasar), ia menjadi pedoman bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, ia menjadi win-win solution yang menyatukan perbedaan pandangan dan pemikiran dikala pembahasannya yang alot sejak gagasan tersebut pertama kali disampaikan di rapat BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945. Kini, pancasila bukanlah suatu hal yang perlu dipertentangkan lagi, sebab ia sudah menjadi solusi atas dinamika, perbedaan pandangan dan ideologi saat itu. Ia merepresentasikan nilai-nilai universal yang bisa diterima oleh banyak kalangan di negeri ini, memadukan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Kita tidak bisa menerima pancasila secara parsial dan menolak beberapa nilai yang yang ada, sebab ia menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Kalau kita mundur sedikit ke belakang dan mencoba memahami dinamika yang terjadi dalam rapat pembahasan dasar negara itu, lahirnya pancasila sebagai dasar negara tidak lain disebabkan oleh hadirnya semangat kebersamaan atau kolektivisme sehingga nilai-nilai yang tertuang dalam pancasila tersebut terakumulasi atas kompromi dari seluruh pemikiran-pemikiran inti yang ada pada saat itu. Jadi, bisa dikatakan jika lahirnya pancasila adalah karena adanya kesadaran kolektivisme, yang mana kesadaran kolektivisme ini bisa kita anggap sebagai pikiran (collective mind) yang menjadi fondasi awal untuk menggambarkan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Pancasila yang kita kenal saat ini, tidak mungkin bisa dirumuskan apabila masing-masing orang yang ada pada saat itu bersikukuh atas pandangannya.

Di dalam perjalanannya, kesadaran kolektivisme tumbuh dan berkembang di dalam tatanan sosial masyarakat kita dan telah mendarah daging menjadi suatu budaya yang kita kenal sebagai gotong royong. Sejak dalam proses transformasi dari Indonesia yang diisi oleh kerajaan-kerajaan menjadi suatu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), gotong royong selalu mengisi aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Sekarang misalnya, alhamdulillah kita masih bisa menyaksikan bentuk implementasi dari gotong royong di dalam keluarga besar, bertetangga, dan bermasyarakat. Ambil contoh di dalam keluarga besar, ketika ada saudara yang ia kesulitan secara finansial dan pada sisi yang lain ada saudaranya yang secara finansialnya lebih baik dan bahkan bisa dikatakan lebih dari kata cukup, biasanya saudara yang lebih ini akan membantu saudaranya lain yang masih kesulitan dalam hal finansialnya, jadi saling menopang antara satu sama lain. Contoh lain misalnya ketika kita ingin melaksanakan hajatan atau pernikahan, maka para tetangga atau keluarga dengan senang hati akan membantu kita dalam mempersiapkan acara dan memasak makanan. Ini adalah budaya yang lahir dari perjalanan panjang Indonesia, yang tumbuh dan mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat kita yang hingga saat ini masih bisa kita rasakan, maka tentu budaya ini perlu untuk terus kita jaga.

Jika kita mencoba memahami gotong royong ini dalam perspektif Islam, maka kita juga akan menemukan suatu konsepsi serupa yang dikenal dengan amal jama’i (beramal secara berjama’ah atau kebersamaan). Pada hakikatnya, Islam telah mengajarkan kita makna dari kebersamaan sejak awal kedatangannya, dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pada saat itu tidak bisa berkembang jika hanya dilakukan secara individu. Maka beliau membentuk dan membina para sahabat dengan tarbiyah di rumah Arqam bin Abil Arqam, baru setelah itu menjalankan misinya untuk berdakwah kepada seluruh masyarakat. Mahfudz Siddiq di dalam buku yang berjudul Refleksi 20 Tahun Pembaharuan Tarbiyah di Indonesia: Tarbiyah Menjawab Tantangan, mengatakan bahwa semangat kerjasama (ruhul amal jama’i) untuk menopang berbagai tanggung jawab dan beban dakwah melalui semangat saling memberi dan berkorban (ruhul badl wat-tadhiyah) inilah yang mampu menopang bangunan (Islam) agar tetap kokoh. Allah Subhanahu wa ta’ala juga menegaskan, Innallaha yuhibbul ladzina yuqatiluna fi sabilihi (sesungguhnya Allah Mencintai orang-orang yang berperang di Jalan-Nya), yakni dalam rangka taat kepada-Nya. Shaffan (dalam barisan) dalam peperangan. Ka-annahum bun-yanum marshush (seolah-olah mereka adalah suatu bangunan yang tersusun kokoh), Ibnu Abbas di dalam tafsir Ibnu Katsir mengatakan bahwa yakni teguh, tidak akan tumbang, masing-masing bagian merekat erat dengan yang lain.

Di dalam amal jama’i ini, jika belajar dari sejarah, maka kita akan menemukan bahwa rentetan peristiwa-peristiwa kemenangan dan keberhasilan umat Islam yang dilakoni oleh aktor yang berbeda-beda pada tiap zamannya diperoleh bukan karena kontribusi yang dilakukan oleh satu orang saja, melainkan kemenangan itu disebabkan karena adanya amal jama’i. Anis Matta di dalam bukunya yang berjudul Mencari Pahlawan Indonesia mengatakan jika karya-karya sejarah yang besar, pada akhirnya, memang tidak dapat diselesaikan oleh seorang pahlawan saja. Semua orang terlibat dalam proses. Akan tetapi, seorang pahlawan melegenda karena dalam proses itu ia memberikan kontribusi yang lebih besar daripada yang lainnya. Walaupun begitu, kontribusi yang besar tidak akan pernah dapat ia berikan tanpa kehadiran pahlawan-pahlawan lain, yang kadar kepahlawanannya mungkin lebih kecil dibanding dirinya. Maka, di dalam pemaknaan kita kepada amal jama’i ini, yang menjadi fokus kita bersama adalah bagaimana kita mampu memberikan kontribusi terbaik kita, tanpa kemudian memperdulikan pujian dari orang lain, karena pada akhirnya yang kita cari adalah pujian dari Allah Subhanahu wa ta’ala.