Senin, 18 April 2016

Pena Penebar Hikmah




Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Global Digital Statistics (2015) kini pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 juta pengguna, 79 juta di antaranya merupakan pengguna media sosial aktif dengan total pengguna media sosial yang aktif di dunia sebesar 2,3 miliar pengguna. Angka yang tidak mengherankan, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara teraktif di media sosial. Dari data tersebut, kita bisa membayangkan betapa luas dan cepatnya informasi itu dapat diperoleh tiap pengguna, akan begitu mudah untuk membentuk persepsi masyarakat Indonesia maupun dunia. Media sosial dapat menjadi sarana yang efektif untuk berdakwah, di sisi lain juga dapat dengan mudah merusak karakter tiap orang berdasarkan konten-konten negatif yang tersebar.
Kata memiliki makna penting bagi kehidupan manusia karena dapat membentuk frame berpikir yang akan berdampak pada emosi dari perilakunya. Bahkan mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah juga rangkaian kata yakni Al-Qur’an dan bukan tongkat sakti seperti Nabi Musa AS. Oleh karena itu bila seorang memiliki satu akun facebook menuliskan satu dua kata di dalam akunnya tersebut, ia tidak bisa beranggapan bahwa hal itu tidak bermakna apa-apa selain melepaskan gundah gulananya saja. Sebab boleh jadi kata-kata tersebut mempengaruhi pikiran dan perasaan orang yang membacanya, terlebih lagi jika ia sedang dalam suasana hati yang sama. Begitu pentingnya makna sepenggal kata hingga di dalam Al-Qur’an disebutkan agar hati-hati dalam berkata-kata karena setiap kata yang diucapkan dicatat oleh malaikat, “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)” (Qs. Qaf:18).
Dalam berinteraksi dengan manusia, juga dalam bermedia sosial, ada hal-hal yang perlu untuk kita perhatikan, karena sebenarnya dari pola interaksi demikianlah yang akan membentuk pola pikir tiap individu, membentuk karakter tiap orang berdasarkan apa yang ia baca. Kita selaku umat Islam, adab dalam berinteraksi itu perlu untuk kita jaga, menjaga lisan, pandangan serta perilaku. Bercanda, saling ejek, saling goda hingga muncul-muncul efek negatif yang tidak diinginkan. Dengan sesama jenis bisa timbal intrik, dengan lawan jenis bisa tumbuh bibit perzinahan. Hingga kini kita sadar betul bagaimana trend barat itu begitu mudahnya mendoktrinisasi masyarakat terlebih kalangan siswa dan mahasiswa, di beberapa grup media sosial bahkan kita lebih cenderung untuk mengadopsi istilah-istilah yang orang barat buat dibanding perkataan baik yang dapat memberikan hikmah.
Kita sering mengabaikan hal yang dianggap “sepele” ini, karena kita cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Padahal dalam setiap fenomena ada latar ideologi didalamnya, jangan biarkan keterbatasan pengetahuan kita menjadi alasan kita untuk menerima hal-hal yang bertentangan dengan konsep Islam yang kita miliki. Di era yang penuh tantangan dan pergulatan ini selalu sempatkan diri kita untuk belajar lebih dekat dengan Islam, sebab hidup yang sementara ini akan sia-sia jika kita justru terseret arus dan tak mampu membedakan mana yang memiliki manfaat mana yang berpotensi mendatangkan madharat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, "wakholikinnas bikhulukin hasan" dan berahlaklah, beretikalah dengan manusia dengan akhlak yang mulia.

Referensi :



Minggu, 03 April 2016

Aqidah Islam, Pola Hidup Manusia Beriman


Ketika kita berbicara tentang Islam, maka yang muncul dibenak kita ialah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, ia adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal). Keimanan itu merupakan akidah dan pokok, yang di atasnya berdiri syariat Islam, Kemudian dari pokok itu keluarlah cabang-cabangnya. Perbuatan itu merupakan syari’at dan cabang-cabang yang dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu. Keimanan dan perbuatan, atau dengan kata lain akidah dan syari’at, keduanya itu antara satu dengan yang lain saling sambung-menyambung, hubung-menghubungi dan tidak dapat berpisah yang satu dengan lainnya. Keduanya adalah sebagai buah dengan pohonnya. Sebagai musabbab dengan sebabnya atau sebagai natijah (hasil) dengan mukaddimahnya (pendahuluannya).
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, pemimpin yang menjadi teladan bagi umat Islam adalah sebaik-baik manusia dengan akhlaknya yang sempurna. Beliau membimbing dengan cara memberitahukan kepada umatnya supaya mengarahkan pandangan mereka ke langit dan bumi, mengenang dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah, fitrahnya dibangunkan agar jiwanya dapat menerima tanaman dengan perasaan yang teguh lagi cocok dalam beragama, juga diajak pula untuk merasakan suatu alam lain yang ada dibalik alam semesta yang dapat dilihat ini. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dapat mengubah umat yang asal mulanya sebagai penyembah berhala dan patung, yang dahulunya melakukan syirik dan kufur menjadi umat yang berakidah tauhid, hati mereka dipompa dengan keimanan dan keyakinan. Sementara itu beliau juga dapat membentuk sahabat-sahabatnya menjadi pemimpin-pemimpin yang harus diikuti dalam hal perbaikan budi dan akhlak, bahkan menjadi pembimbing-pembimbing kebaikan dan keutamaan. Bahkan lebih dari itu, beliau telah membentuk generasi dari umatnya sebagai suatu bangsa yang menjadi mulia dengan sebab adanya keimanan dalam dada mereka, berpegang teguh pada hak dan kebenaran. Maka pada saat itu umat yang langsung berada di bawah pimpinannya adalah bagaikan matahari dunia, disamping sebagai pengajak kesejahteraan dan keselamatan pada seluruh umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan membuat kesaksiannya sendiri pada generasi itu bahwa mereka benar-benar memperoleh ketinggian dan keistimewaan yang khusus, sebagaimana firman-Nya:
“… Kamu semua adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh   kebaikan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran:110)
Agama Islam mengajak seluruh umat manusia supaya berpikir dan menggunakan akalnya dan bahkan demikian hebatnya anjurannya ke arah itu. Tetapi yang dikehendaki itu bukanlah pemikiran yang tidak terkendalikan lagi kebebasannya. Semua itu dimaksudkan oleh Islam agar dilakukan dalam batas tertentu yang memang merupakan lapangan bagi manusia dan dapat dicapai oleh akal manusia. Maka yang dianjurkan oleh Islam untuk dipikirkan ialah dalam hal ciptaan-Nya, yakni apa-apa yang ada di langit dan di bumi, dalam dirinya sendiri, dalam masyarakat dan lain-lain. Tidak ada sebuah pemikiran yang dilarang, melainkan memikirkan dzat-Nya, sebab persoalan ini di luar kapasitas kekuatan akal pikiran manusia.
Di dalam diri ini sebenarnya terdapat perasaan-perasaan yang tertanam, perasaan akan adanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perasaan ini adalah sebagai pembawaan sejak manusia itu dilahirkan dan oleh sebab itu dapat disebut sebagai perasaan fithrah. Fithrah adalah keaslian yang di atasnya itulah Allah Ta’ala menciptakan makhluk manusia itu. Ini dapat pula diibaratkan dengan kata lain sebagai gharizah diniah atau pembawaan keagamaan. Gharizah diniah adalah satu-satunya hal yang merupakan batas pemisah antara makhluk Tuhan yang disebut manusia dan yang disebut binatang, sebab binatang pasti tidak memilikinya. Gharizah keagamaan ini adakalanya tertutup atau hilang, sebagian atau seluruhnya, dengan adanya sebab yang mendatang, sehingga manusia yang sedang dihinggapi penyakit ini lalu tidak mengerti sama sekali tentang kewajiban dirinya terhadap Tuhan. Ia tidak terjaga dari kenyenyakan tidurnya dan tidak dapat dibangunkan dari kelalaiannya itu. Kecuali apabila ada penggerak yang menyebabkan ia jaga dan bangun. Setelah kebangungannya ini barulah ia akan meneliti penyakit apa yang sedang dideritanya itu atau bahaya apa yang sedang meliputi tubuhnya dan mengancam keselamatannya. Allah Ta’ala berfirman: “..Dan jikalau manusia itu ditimpa bahaya, maka iapun berdoalah kepada Kami (Allah) diwaktu berbaring, diwaktu duduk atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari padanya, iapun berjalanlah seolah-olah tidak pernah berdoa kepada Kami atas bahaya yang telah menghinggapinya itu.” (QS. Yunus:12).
Melangkah lebih jauh, sebenarnya mengapa Islam sebaik-baik Agama, berdasarkan tulisan oleh Justin Marseir, seorang ahli sejarah Latin pada abad II, menulis:
“Pada zamannya Al-Masih sendiri, dalam gereja itu semua orang mempercayai dan meyakinkan bahwa Isa adalah Al-Masih dan mereka menganggapnya sebagai manusia biasa, sekalipun tentunya lebih tinggi kedudukannya dari golongan manusia lain. Selanjutnya terjadi suatu keadaan yaitu setiap bertambah pemeluk agama Nasrani itu yang berasal dari kaum penyembah berhala, maka timbullah berbagai kepercayaan yang baru pula yang sebelumnya itu tidak ada”. Sekianlah kutipan dari kitab Dairah Ma’arif (Perancis) itu yang termuat dalam kitab Kanzul ‘Ulum wal Lughah. Dari uraian tersebut, dapatlah kita ketahui bahwa kekeliruan kepercayaan tritunggal itu sudah jelas sekali sebagaimana terang benderangnya matahari di siang hari. Namun demikian kita tetap tidak mengerti dan sangat heran sekali, mengapa pemeluk-pemeluk agama Nasrani masih gigih benar mempertahankan paham tersebut. Mereka sangat fanatik dengan cara yang membuta, tanpa landasan sejarah ataupun hujah yang layak diterima oleh akal pikiran. Tepatlah apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala: “..Maka sesungguhnya tidaklah buta penglihatan-penglihatan itu, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada”. (QS. Al-Hajj:46).
Sumber :
Sabiq, Sayid. 1974. Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman. CV Diponegoro. Bandung.




Sabtu, 02 April 2016

PLTH Membangun Desa


Jumlah penduduk Indonesia jika diambil data yang dikeluarkan oleh bank dunia (2015) yakni sebanyak 252.370.792 jiwa. Dari populasi tersebut ternyata masih ada 40 juta rakyat Indonesia yang belum menikmati fasilitas listrik, ini berdasarkan data yang dikeluarkan oleh YLKI pada tahun 2014. Kurangnya pembangkit baru yang dibangun oleh PLN bisa berdampak pada terjadinya krisis listrik di Indonesia setahun kedepan, karena jika tidak diatasi dengan segera maka pasokan listrik yang ada di Indonesia apabila terjadi gangguan tidak dapat ditalangi, karena minimnya pembangkit cadangan.
Perlu diketahui bahwa masalah ini bukanlah masalah kecil, segala elemen masyarakat perlu untuk berperan aktif memberikan solusi atas permasalahan tersebut, terlebih lagi bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual yang seyogyanya merupakan kontributor bagi masyarakat. Baru-baru ini, di Bantul oleh UGM yang bekerjasama dengan lembaga peneliti ristek, LIPI dan BPPT membangun suatu Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) yang diharapkan mampu menunjang kebutuhan listrik masyarakat serta dapat meningkatkan perekonomian nelayan di sekitarnya (Unjianto Bambang, 2015).
Seperti diketahui, PLTH Pandansimo dibangun sebagai pilot project Energi Hibrid yang berbasis pada potensi panas matahari dan kekuatan angin. Daerah yang dijadikan tempat pengembangan energi baru dan terbarukan itu adalah Pantai Pandansimo, Srandakan ,Bantul, daerah berpasir dengan luas 37 Ha. Saat ini pembangkit listrik energi hybrid Pandansimo sudah terpasang 31 unit turbin angin dengan tinggi rata-rata 18 meter, terdiri 26 turbin angin berkapasitas 1 kW, 2 turbin angin 2,5 kW, 2 turbin angin 10 kW, dan satu turbin angin 5 kW, kincir yang dibangun sejak tahun 2010 tersebut diperuntukan bagi pembuatan es balok untuk pengawetan ikan, pengangkatan air untuk perikanan dan pertanian di lahan berpasir serta sumber penerangan bagi kegiatan UMKM di sekitar pantai (Ujianto Bambang, 2015).

Tentu kita berharap kedepannya, desa-desa terpencil yang ada di seluruh Indonesia dapat dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) maupun pembangkit listrik lainnya yang sesuai dengan wilayah tersebut. Tugas kita sebagai mahasiswa untuk mencari tahu karakteristik tiap desa dan memberikan gambaran pembangkit apa yang bisa dibangun di desa tersebut. Karena, pasokan listrik yang cukup dapat membantu menumbuhkan perekonomian masyarakat sekitar. Seperti di pantai pandansimo yang dapat menarik 200 ribu wisatawan dengan hadirnya 140 usaha kuliner oleh masyarakat setempat (Grehenson Gusti, 2012). Harapan kita kedepannya tentu tiap desa yang ada di Indonesia dapat terpenuhi kebutuhan listriknya, sehingga hal ini dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin meningkat.

Sumber Gambar : http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2014/05/Kincir-angin-menyuplai-energi-untuk-kebutuhan-energi-listrik-di-daerah-pesisir-Pantai-Baru..jpg