Rabu, 23 Desember 2015

Membangun Ghirah Dalam Berdakwah


Tidak bisa dipungkiri perkembangan teknologi yang begitu pesat di zaman ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap penyampaian dakwah ini. Dengan media yang dapat dimanfaatkan saat ini, tiap orang dapat dengan mudah menyampaikan dakwahnya di jejaring sosial. Dalam kondisi seperti ini sepantasnya lah untuk kita terlebih lagi pemuda agar fastabiqul khoirat, dengan fasilitas yang begitu memadai dibanding tahun-tahun sebelumnya yang liqo’ pun sangat jarang ditemui bahkan menjadi kegiatan yang mencurigakan di era pemerintahannya. Akan tetapi, kenyataan yang kita terima saat ini ialah begitu banyak pemuda-pemudi yang larut dalam namanya kasmaran, kegalauan dan hedonisme.
Perlu kita ingat bahwa, apa yang kita peroleh saat ini, perjuangan para murabbi terdahulu dalam memperjuangkan dakwah agar sampai ke generasi kita sekarang begitu pilu dan penuh dengan perjuangan. Tapi apa yang telah kita lakukan sekarang? Melihat orang yang berperawakan ustadz pun kita tegur dengan sok alim. Kehidupan saat ini telah berbanding terbalik dari yang sebelumnya, semangat dakwah di kalangan pemuda-pemudi tidak seantusias saat krisis parah yang menimpa Indonesia. Ingatkah kita akan pesan Rasulullah Shallallahu alaihi’ wa sallam “Man abtha-a bihi amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu” (Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya ).
            Ikhwah fillah, agama ini, Islam, ada atau tidaknya antum dalam melaksanakan syiar maupun menjalankan dakwahnya, ia akan tetap teguh berdiri di muka bumi ini. Apakah kita tidak ingin menjadi salah satu pilar penting dalam menyampaikan syiar, amalan yang begitu mulia ini? Sangat indah apa yang disampaikan oleh Imam Syahid Hasan Al Banna, "Antum ruhun jadidah tarsi fi ja-sadil ummah". (Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al-Qur’an). Sepatutnya lah, dalam usia yang masih muda ini, amalan-amalan yang kita laksanakan bermanfaat bagi kepentingan agama dan bangsa. Kitalah lentera-lentera yang akan menerangi bumi ini dari gelapnya kedzaliman dimana-mana, kitalah anashirut taghyir (agen perubahan) yang membawa umat ini senantiasa berada di jalan dakwah. Ikhwah fillah, kontribusimu bagi agama ini insyaAllah berbuah jannah nantinya. Karena di jalan dakwah inilah kita menjadi solusi pelipur kesedihan ummat yang berkepanjangan di Palestina, Syuriah, Iraq, dan negara lainnya yang diluluh-lantahkan. Kitalah generasi yang siap memikul beban da’wah dan menegakkan Islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Alqur-an dan cahaya Islam rahmatan lil alamin.



Sabtu, 10 Oktober 2015

Arti Waktu Bagi Mahasiswa



Terkadang, beberapa dari mahasiswa ketika menghadapi berbagai kegiatan yang padat, hanya mampu mengusahakan untuk menghadiri semua tanpa adanya manajemen waktu yang baik. Padahal jika kita menjalankan seluruh aktivitas tersebut yang diperlukan adalah bagaimana kita mampu memanfaatkan waktu 24 jam itu dengan seoptimal mungkin agar tidak terjadi penumpukan pengerjaan nantinya. Pengertian Manajemen waktu menurut beberapa pakar adalah menyelesaikan sesuatu dengan lebih cepat dan bekerja lebih cerdas (Davidson, 2001). Menurut Orr (Dalam Saputro, 2006) manajemen waktu diartikan sebagai penggunaan waktu seefisien dan seefektif mungkin untuk memperoleh waktu maksimal. Dari beberapa pengertian tersebut tentu kita dapat menyimpulkan bahwa pada intinya tiap waktu yang kita peroleh harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyelesaikan sesuatu, jangan terlalu banyak bersantai, apalagi bermalas-malasan. Manusia yang cerdas ialah mereka yang dapat memanfaatkan tiap waktunya dengan baik dan bermanfaat buat orang lain maupun dirinya sendiri.
Kita mesti memprioritaskan sesuatu yang penting dan mendesak dulu ketimbang yang lain yang tidak begitu mendesak. Dengan posisi kita sebagai mahasiswa sekarang ini, tentu yang harus diprioritaskan ialah kuliah dibanding dengan aktivitas lain seperti organisasi. Ahmad Sony Alta (2015) mengatakan bahwa kita mesti membedakan antara agama, kuliah, organisasi dan hobi. Jangan terlalu banyak ikut organisasi, fokus pada satu pekerjaan sebelum mengerjakan pekerjaan lainnya, dan sebisa mungkin mengatur waktu di luar kuliah. Cara agar dapat memanfaatkan waktu menurut beliau ialah dengan membuat skala prioritas, deadline terdekat harus diselesaikan terlebih dahulu. Sedangkan menurut Fathurrahman Setiawan (2015), ia mengatakan bahwa aktivitas kuliah adalah prioritas utama kita sebagai mahasiswa. Tapi karena kegiatan kuliah tidak begitu lama, sehingga kita juga perlu memanfaatkan waktu untuk mencari pengalaman, salah satunya dengan berorganisasi, untuk manajemen waktunya sendiri, apapun yang bisa dikerjakan maka kerjakan, jangan menunda-nunda dan jangan menumpuk pekerjaan karena justru akan berdampak kepada kita pribadi.

Pada intinya bahwa kita jangan menghabiskan waktu kita hanya dengan bermalas-malasan, jangan sampai kita menyesal nantinya. Sekarang kita mesti mengubah pola hidup, menjadi manusia produktif dengan tiap waktu yang digunakan dapat bermanfaat bagi orang lain. Waktu itu relatif, tergantung dari perbandingannya, kita merasa menunggu bis selama 5 menit begitu lama, tapi bermain bola dengan waktu yang sama begitu cepat, ini semua tergantung dari pribadi sendiri.

Iyas Muzani, 6 Oktober 2015

Karena Dakwah Adalah Jalan Hidup Kita


Di tengah arus globalisasi saat ini, kita (umat Islam) dihadapkan oleh berbagai permasalahan yang begitu dinamis, mulai dari kurangnya animo umat Islam dalam memperdalam kualitas ilmu aqidah maupun fiqh nya, kecenderungan kepada budaya Barat, minimnya ilmuwan-ilmuwan yang berasal dari kalangan muslim, dan berbagai permasalahan lainnya yang sejatinya dapat mengikis keutuhan agama ini. Perlu kita tekankan bahwa kelangsungan agama ini berada di tangan umatnya.
Keutuhan ajaran Islam ini perlu dijaga, pemahaman Islam secara fundamental sangat ditekankan karena jangan sampai nantinya Islam hanya sebatas namanya saja, namun dalam berakhlak sama saja dengan agama yang lain. Perlu untuk kita ketahui bahwa yang menjadi perbedaan agama Islam dengan agama yang lainnya ialah di akhlaknya. Maka jangan sampai justru nilai maupun sunah yang tertanam sejak dahulu ini terkikis oleh pemikiran-pemikiran sejumlah oknum yang katanya ingin memodernisasikan agama ini.
Kunci dalam menjaga keutuhan agama ini ialah dengan konsistensi kita dalam berdakwah, minimal tiap orang mendakwahkan 1 ayat kepada orang lain, “Balighu anni’ wala ayat.” Dakwah kepada orang lain bukan berarti kita mesti paham betul seluk-beluk ajaran agama ini, akan tetapi kita bisa berdakwah walaupun hanya 1 ayat saja. Dakwah menurut Yusuf Al-Qardhawi harus bersifat seruan kebaikan, dakwah tidak boleh dipahami sebagai seruan untuk tampil beda (Istimewa) dengan segala tujuannya. Menurutnya karena Islam sejak awal dakwahnya merupakan sebuah risalah universal, dakwah kepada manusia secara keseluruhan dan sebagai rahmat bagi setiap hamba Allah.
Dalam menghadapi arus komunikasi yang semakin canggih, begitu cepatnya penerimaan informasi antara berbagai negara, bahkan tidak ada pembatasan konten dalam berinteraksi lewat dunia maya. Semua ini perlu kita hadapi dengan bijak sebagai umat Islam yang kuat imannya. Solusi yang diberikan oleh Yusuf Al-Qardhawi ialah dengan memiliki retorika dan karakteristik yang mendasar, mampu mengantarkan substansi dakwah kepada semua umat manusia, dapat memuaskan nalar mereka dengan hujjah yang nyata, melunakkan hatinya dengan mauidzah yang baik, tidak menyimpang dari hikmah.

Sebagai mahasiswa yang peduli terhadap sesamanya tentu perlu berpartisipasi dalam gerakan dakwah ini, agama ini tidak akan bertahan apabila pemuda-pemudinya terluluh-lantahkan oleh zaman. Di manapun kita berada, usahakan agar kita dapat menebarkan dakwah ini, di fakultak teknik Universitas Gadjah Mada misalnya, Keluarga Muslim Teknik (KMT) dapat dijadikan wadah dan sarana untuk memperluas dakwah kita minimal di kampus UGM itu sendiri. Sangat dirasakan betul dampak dari budaya Barat itu terhadap generasi muda kita, mau jadi apa agama ini nanti jika pemuda-pemudinya saja sudah jauh dari akhlak seorang muslim sejati. Kita perlu memanfaatkan seoptimal mungkin sarana-sarana yang ada di kampus, memperbaiki maupun meningkatkan kualitas iman dan ilmu diri ini dengan berorganisasi. Di KMT, dengan berbagai jenis divisi yang ada, kita dapat belajar banyak guna memperkuat ilmu agama kita untuk lebih maksimal dalam berdakwah, begitu pun dengan universitas-universitas lainnya, representasi Islam ada pada akhlak umatnya, jadilah seorang muslim berakhlak yang dipandang terhormat di mata umat lainnya.
Iyas Muzani, 10 Oktober 2015.

Selasa, 25 Agustus 2015

Idealnya Pemimpin Bangsa Ini



Dibanding dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, Indonesia masih kalah jauh di bidang industrinya. Nyatanya, masyarakat kita cenderung berperilaku konsumtif ketimbang produktif. Kita lebih banyak mengeluarkan ketimbang menghasilkan, itulah mengapa kita sulit bersaing pada sektor perindustrian. Kita justru lebih banyak mengirimkan tenaga pekerja ke luar negeri ketimbang membentuk masyarakat yang produktif dan berjiwa wirausaha. Mencetak manusia-manusia yang produktif adalah harapan kita semua untuk membangun Indonesia yang terpandang di kancah internasional.
Perlu diketahui bahwa menjadi seorang mahasiswa sangat berbeda dengan siswa, sebab mahasiswa dituntut untuk mandiri dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Jika berbicara tentang mahasiswa berarti berbicara tentang perubahan, berbicara tentang perubahan berarti berbicara tentang mahasiswa. Hal terse but merupakan hal yang wajar, mengingat berbagai gelar dan status yang disandangkan kepadanya, yaitu sebagai agen perubahan (agent of change), iron stock dan social control. Mahasiswa sebagai agent of change memiliki artian bahwasanya ia terbuka dengan segala perubahan yang terjadi di tengah masyarakat sekaligus menjadi subjek dan atau objek perubahan itu sendiri. Dengan kata lain mahasiswa adalah aktor dan sutradara dalam sebuah pagelaran bertitelkan perubahan. Selain itu, mahasiswa pun diharapkan dan menjadi harapan untuk menjadi seorang pemimpin di masa depan yang memiliki kemampuan intelektual, tangguh dan berakhlak mulia. Itulah yang dimaksud mahasiswa sebagai iron stock, sebagai tonggak penentu bangsa (Sushanti Ayu 2015).
Ayu Sushanti (2015) mengatakan bahwa peran mahasiswa sebagai agent of change, iron stock, dan social control mengharuskan mahasiswa untuk melek dan peduli dengan lingkungan, sehingga ia akan mudah menyadari segala permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Karena bagaimanapun, hanya mahasiswa yang sadar dengan keadaanlah yang mampu dan layak mengusung perubahan.
Mahasiswa adalah harapan bangsa, menjadi tunas-tunas penerus bangsa ini nantinya. Sebagai mahasiswa, jiwa kritis perlu untuk ditanamkan, memahami berbagai masalah yang terjadi di Indonesia dan memberikan solusi untuk mampu mengubahnya menjadi lebih baik. Kita sadar betul bahwa Indonesia dilanda degradasi moral yang sungguh luar biasa, praktek Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) marak terjadi di seluruh lembaga. Tidak ada lagi kepercayaan yang bisa didapatkan oleh masyarakat karena begitu merajalelanya kasus ini.
Mahasiswa teknik yang sejatinya di bangku kuliah ditanamkan cara berpikir empiris, berpikir step by step, langkah demi langkah, harus merancang bagaimana Indonesia ini ke depannya yang akan dipimpin olehnya. Mahasiswa teknik adalah sosok ideal pada posisi-posisi penting yang ada di Indonesia ini, bahkan pendahulu kita dari ranah teknik pun banyak yang mengisi jabatan penting di negeri ini, karena kualitasnya yang tidak diragukan lagi.
Generasi penerus yang ideal menurut Ismail M.A (2013) adalah the leader of tomorrow. Makanya di tangan kaum mudalah nasib sebuah bangsa dipertaruhkan. Jika kaum mudanya memiliki semangat dan kemampuan untuk membangun bangsa dan negaranya, maka sesungguhnya semuanya itu akan kembali kepadanya. Hasil pembangunan dalam aspek apapun sebenarnya adalah untuk kepentingan dirinya dan masyarakatnya. Generasi Ideal (Fethulla Gulen) merupakan generasi yang menjadikan dakwah sebagai tujuan hidupnya secara ikhlas, selalu memperbaharui ilmu pengetahuannya sehingga menjadi generasi yang cerdas, selalu berupaya menjadi teladan umat dan rela berkorban, rendah hati dan selalu menjaga empati dengan umat, mengedepankan rasa kasih sayang, mengedepankan toleransi, memiliki sikap optimis sebagai bentuk penerapan keimanan terhadap qadar, memiliki kemauan dan kehendak (Al-Iradat) sesuai dengan pandangan i’tibar. Maka dengan kriteria tersebut diharapkan terbentuknya sebuah generasi ideal yang senantiasa menjadi insan pembelajar, pencipta, pengabdi, dan selalu dalam jalan islam.


Referensi Gambar:
https://introvertjournal.files.wordpress.com/2013/10/indonesia_by_pistonbroke.jpg

~Iyas Muzani, Teknik Fisika UGM 2015

Kamis, 13 Agustus 2015

Menjaga Keseimbangan Aktivitas Dunia dan Akhirat


Tidak bisa dipungkiri dalam menjalani kehidupan setiap manusia pasti ingin meraih kebahagiaan di dunia, ini lumrah untuk dilakukan karena memang sudah menjadi watak dasar atau fitrah dari manusia untuk meraih kebahagiaan itu. Harta, tahta, dan wanita adalah tiga hal yang paling sering membayang-bayangi hawa nafsu laki-laki. Selain itu perilaku hedonis seperti pesta, hura-hura-hura, dan perayaan lainnya pun turut melekat pada diri sebagian manusia baik itu laki-laki maupun perempuan. Sifat ini semua tidaklah salah, karena sejatinya sejak lahir manusia diciptakan dan bergerak sesuai dengan dorongan hawa nafsunya, yang salah apabila perbuatan-perbuatan ini berlebihan dan melupakan aktivitasnya sebagai seorang hamba. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda, “Tiga hal yang mencelakakan: sifat pelit yang diikuti; hawa nafsu yang dituruti, dan rasa bangga terhadap diri sendiri” (HR. Baihaqi. Syaikh Albani menghasankan hadis ini.)1
Menjadi pribadi yang sukses dunia tentulah memiliki kebanggaan tersendiri, akan tetapi jika sekedar sukses di dunia namun melupakan akhiratnya tentulah menjadi kerugian besar nantinya. Keseimbangan dalam menjalankan pekerjaan dunia dan akhirat perlu dijaga, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi...” (QS. Al-Qasas: 77). ini Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan kita untuk mempergunakan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu berupa harta yang melimpah dan kenikmatan yang panjang dalam berbuat taat kepada Rabbmu serta bertaqarrub kepada-Nya dengan berbagai amal-amal yang dapat menghasilkan pahala di dunia dan akhirat.
“... dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77). Jelas sekali bahwa Allah tidak menginginkan kita untuk berbuat kerusakan di bumi ini, sebab hal itu merupakan perkara yang tidak disukai oleh-Nya.
Konsisten dalam beribadah sembari mencari nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada di muka bumi ini sekiranya merupakan kegiatan yang positif dilakukan. Sebagai umat muslim yang menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai panutan tentu kita ingin mengikuti sifat-sifat nya, termasuk kekayaan beliau yang melimpah. Beliau tidak menginginkan satu pun dari umatnya hidup dalam kemiskinan, ia mengharapkan umat Islam rajin dan bekerja keras dalam mencari nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan juga justru kita terlalu fokus dalam bekerja sehingga melupakan kewajiban kita dalam beribadah kepada-Nya. Sebab pada dasarnya manusia tidak mampu memenuhi sendiri keinginan dan kebutuhannya yang tak terbatas, ia secara alamiah perlu merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meminta tolong kepada-Nya, jika seorang manusia hidup sesuai dengan fitrah ini, ia akan memperoleh kepercayaan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan sejati.2
Oleh karena itu, kita dalam menjalani kehidupan ini perlu untuk menjaga keseimbangan dalam melakukan aktivitas dunia dan akhirat. Jangan sampai karena aktivitas dunia hingga kita lalai dari-Nya.
               
1.      Abdillah, A.H., 2015, Agar Dunia Tak Memenjara (1): Carilah Kebahagiaan yang Hakiki, dilihat pada 7 Agustus 2015, dari http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/agar-dunia-tak-memenjara-1.html

2.      Harun, Y., 2001, Mengenal Allah Lewat Akal, Rabbani Press, Jakarta.

                 Iyas Muzani, 13 Agustus 2015


Peran Organisasi Mahasiswa dalam Melahirkan Inovasi dan Prestasi


Mahasiswa sebagai agen perubah di tengah-tengah masyarakat tentu perlu memperlihatkan sikap yang positif dalam berinteraksi. Sebagai orang yang terpelajar, mahasiswa dituntut tidak hanya mengembangkan ilmu tapi juga karakternya. Semua ini tidak bisa diraih dengan metode kuliah “kupu-kupu” atau kuliah pulang – kuliah pulang, tipe seperti ini hanya mengedepankan nilai IP atau gemar belajar akan tetapi sangat sulit dalam membuka diri untuk bersosialisasi dengan teman-temannya. Tentu sangat rugi apabila kita kurang aktif dalam mencari pengalaman, apalagi kebanyakan perusahaan mencari tenaga baru dilihat berdasarkan pengalamannya sebelumnya di universitas tidak sekedar IP yang tinggi. Organisasi mahasiswa (ORMAWA) merupakan solusi dalam mengembangkan potensi diri mahasiswa, dengan berorganisasi kita memiliki ruang dalam berkarya, berprestasi, berinteraksi, dan membentuk pribadi sebagai seorang pemimpin. apalagi dengan banyaknya variasi ORMAWA, kita bisa memilih organisasi mana yang tepat dalam menunjang cita-cita dan ambisi kita ke depannya.
Bercita-cita menjadi seorang peneliti atau seorang engineering tentu nantinya kita dituntut untuk menemukan inovasi baru yang dapat membantu menangani masalah bagi masyarakat. Organisasi mahasiswa di UGM seperti Gama Cendikia maupun LPKTA FT UGM merupakan pilihan yang tepat dalam membantu mengembangkan ide-ide inovatif, selain itu kita juga dapat dapat mengukur kualitas karya kita yang didapat dari aktivitas di organisasi tersebut dengan mengikuti perlombaan ilmiah dan bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa se Indonesia.
Di UGM sendiri ada organisasi yang namanya Keluarga Mahasiswa (KM), organisasi ini mewadahi mahasiswa dalam hal pembinaan dan pengabdian masyarakat yang independen, egaliter, dan demokratis. Organisasi ini menjadi wadah aspirasi, koordinasi, dan komunikasi bagi mahasiswa UGM dengan mahasiswa nasional dan internasional serta masyarakat pada umumnya, sebagaimana misi yang diterapkan oleh organisasi ini. Selain itu, terdapat juga unit kegiatan masyarakat yang beragam mulai dari bidang kesenian, olahraga, kerohanian, kewirausahaan, kepemimpinan, akademik, jurnalistik, dan pemberdayaan masyarakat yang dihimpun oleh Forkom UKM UGM. Ini semua dibentuk semata-mata untuk memberikan opsi kepada mahasiswa dalam mengembangkan diri, berinovasi dan berkarya.
Forkom UKM UGM sendiri tiap tahunnya mengadakan program Porsenigama atau Pekan Olahraga dan Seni Gadjah Mada yang merupakan ajang bagi mahasiswa untuk menyalurkan hobi dengan mengikuti cabang olahraga dan seni yang diperlombakan (Porsenigama 2015). Dari kegiatan ini, kita bisa menjaring mahasiswa-mahasiswa berbakat pada bidangnya yang kemudian dapat mewakili UGM di perlombaan nasional maupun internasional. Beberapa UKM UGM bahkan telah mewakili Indonesia dalam kejuaraan di luar negeri, seperti tim futsal dan badminton pada ajang UITM Sport Fiesta Syah Alam, Selangor Malaysia 2015, Swagayugama pada The 13th ASEAN and 3rd ASEAN +3 Youth Cultural Forum Filipina, Aiesec pada IGCDP dan Entrevolution Raising Awareness for Entrepreneurship, Ukjgs pada EOG Gamelan Malaysia, Fesco tari di Malaysia, dan pentas Ramayana di Michigan US, tim EDS pada Asian British Parliamentary, UADC, dan World Universities Debating Championship, serta PSM pada a voyage of song.
Jangan ragu dalam berorganisasi, sebab dari sinilah kita dapat mencari dan berbagi pengalaman kepada mahasiswa baik di lingkungan universitas, nasional, maupun internasional. Semakin banyak interaksi yang dilakukan maka semakin luas jangkauan yang dapat memudahkan kita dalam mencari pekerjaan, intinya banyak manfaat yang bisa diperoleh dalam berorganisasi.
Iyas Muzani, 13 Agustus 2015


Selasa, 04 Agustus 2015

Mahasiswa Sebagai Agen Perubah Bagi Masyarakat


Menjadi mahasiswa baru tentulah memiliki kebahagiaan tersendiri karena akhirnya telah lepas dari proses belajar mengajar dengan pakaian yang seragam tiap harinya, dengan aturan-aturan yang begitu ketat mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Akan tetapi hal ini tidak berarti kita telah lepas dari aturan-aturan yang ada. Justru, dengan label mahasiswa kita dituntut untuk bersikap lebih dewasa dan memberikan kontribusi besar dalam pembangunan bangsa. Kata “Maha” di depan siswa memberikan definisi yang berbeda dan jauh lebih bermakna dari sebelumnya. Bahkan di dunia ini, kata “Maha” hanya diberikan kepada dua subyek saja yaitu Tuhan dan siswa. Dalam KBBI, maha didefinisikan sebagai sangat, teramat, paling. Tuhan disematkan kata "Maha" karena sifat dan kekuasaannya yang tak terbatas, yang tidak dapat dinalar oleh akal manusia. Sedangkan siswa diimbuhi kata "Maha" karena perannya yang tak terbatas, terutama perannya di masyarakat. Peran yang dimaksud adalah perannya untuk berkontribusi di masyarakat (Derian A.F, 2015). Dengan pengertian seperti itu, maka perlu diterapkan tata perilaku yang positif dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di tengah-tengah keberadaannya sebagai masyarakat, sebab menjadi mahasiswa berarti menjadi orang yang terdidik hingga memberikan contoh yang baik bagi masyarakat bukan menjadi beban bagi masyarakat. Orang yang terpelajar tidak hanya membekali diri dengan ilmu, tapi jauh dari itu, etika dan kepribadian juga perlu dibentuk. Kita harus sadar bahwa kita disekolahkan tinggi-tinggi ialah untuk bermanfaat bagi orang lain.
Kita mesti paham bahwa bangsa kita saat ini tengah dipengaruhi oleh menjamurnya berbagai budaya barat, budaya yang sudah tentu jauh berbeda dengan kultur masyarakat Indonesia. Budaya yang bahkan telah mempengaruhi sifat dan tatanan hidup masyarakat kita khususnya di kalangan remaja. Kecanggihan teknologi informasi sudah tidak bisa terbendung lagi, anak-anak hingga orang dewasa dapat dengan mudah mengakses situs-situs yang terlarang, semakin mudah melakukan transaksi narkotika dengan masyarakat global, judi online, hingga penyebaran isu negatif yang sarat akan propaganda untuk mempengaruhi persepsi publik yang bisa sampai kepada akibat terburuk yaitu terjadinya perubahan sosial yang dapat memicu permusuhan antar suku yang berakibat rasa persatuan dan kesatuan bangsa menjadi goyah. Ini semua apabila terus menerus dibiarkan maka hanya akan menjatuhkan akhlak generasi muda bangsa ini.
Mahasiswa sebagai barisan terdepan dalam menyuarakan aspirasi masyarakat perlu untuk memberikan sumbangsih pemikiran maupun memberikan contoh tata perilaku yang baik di tengah kehadirannya di masyarakat, sebab pemuda yang diperlukan bangsa ini adalah mereka para agent of change, pemuda yang mampu menjadi generasi perubah di tengah krisis moral yang melanda Indonesia saat ini. Penggunaan akses internet secara positif, taat akan aturan negara, berinteraksi dengan anak-anak maupun remaja dan menanamkan kepada mereka pola hidup yang sehat dan taat agama. Dimulai dari lingkungan kecil, kemudian menjadi gerakan aktif bagi tiap mahasiswa yang ada di Indonesia akan memberikan harapan yang cerah bagi masa depan mereka dengan reformasi yang dilakukan ini. Tapi jauh sebelum melakukan itu, tentu mahasiswa juga perlu diberikan pembelajaran, dengan taat aturan yang ada di universitas dan aktif dalam berorganisasi yang mampu memberikan pengalaman agar lebih mudah berkomunikasi maupun berinteraksi dengan khalayak. Mahasiswa wajib menjadi pelopor utama dalam berjiwa nasionalisme dan patriotisme, semangat anti penjajah para pendahulu kita perlu untuk dijadikan contoh. Tanpa kita sadari saat ini secara tidak langsung kita telah dijajah oleh negara barat melalui berbagai media. Menurut Madjid, (2004: 57) bahwa ada beberapa hal yang dapat mempersatukan Indonesia dan membangun semangat nasionalisme yaitu melalui Pancasila, bahasa Indonesia, prestasi olahraga, seni, bencana alam, prestasi internasional, dan gangguan dari luar. Faktor-faktor tersebut jika terus dijaga eksistensinya tentu bisa memperkuat persatuan seluruh lapisan masyarakat Indonesia, masyarakat perlu untuk diperlihatkan suatu prestasi yang membanggakan yang diraih Indonesia di kancah internasional, bukan saat melihat acara berita di TV yang ada hanya serentetan kasus korupsi yang seakan tak pernah henti dilakukan oleh pejabat, yang pada akhirnya hanya mampu menjatuhkan semangat dan kepercayaan masyarakat kepada bangsanya sendiri.

Dengan posisi sebagai mahasiswa, sudah selayaknya kita mengabdi bagi bangsa ini dengan berbagai prestasi dan tata perilaku yang positif bagi masyarakat. Mahasiswa sebagai tonggak penerus bangsa perlu menanamkan sikap bahwa dirinyalah yang akan menjadi pemikir-pemikir Indonesia suatu saat nanti, mereka lah yang akan mewarisi semangat anti kolonialisme yang dipegang teguh saat masa penjajahan era bapak Ir. Soekarno dulu. Merekalah yang akan membasmi berbagai macam praktisi kolusi, korupsi, dan nepotisme yang ada di Indonesia saat ini. Maka dari itu, mahasiswa perlu menjaga keseimbangan antara otak dan jiwa. Artinya jangan sekedar jadi orang pintar, tapi jadilah orang pintar sekaligus berakhlak mulia.   

Jumat, 31 Juli 2015

Cyber Campus Sebagai Solusi Dalam Meningkatkan Kualitas Perkuliahan


Kata cyber dan Campus mungkin tidak asing lagi bagi kita, akan tetapi jika dua kata ini digabung menjadi satu yaitu cyber campus maka akan terdengar asing. Kata cyber merupakan kosa kata bahasa Inggris yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti dunia maya dan campus merupakan kampus. Jika diliat dari arti kata tersebut, kita bisa memahami bahwa cyber campus ialah tata kelola informasi atau proses pendidikan suatu universitas/sekolah melalui dunia maya atau biasa disebut internet, ini berarti bahwa setiap informasi yang berkaitan dengan universitas tersebut bisa diakses melalui web resminya, fasilitas lainnya juga seperti kebutuhan belajar para mahasiswa dengan dosen dapat dilakukan walau dengan jarak yang jauh sekalipun, ini karena proses perkuliahan yang dilakukan secaraonline. Dengan teknologi informasi yang canggih seperti sekarang ini, tentu setiap universitas ingin sejalan dengan perkembangan zaman dan meningkatkan kualitas perkuliahannya. Selain itu, dengan adanya cyber campus diharapkan setiap kalangan baik itu mahasiswa, dosen, hingga masyarakat dapat dengan mudah memperoleh informasi tanpa datang langsung ke universitasnya, bisa dibayangkan apabila cyber campus ini belum ada, para mahasiswa baru yang ingin registrasi ulang akan berbondong-bondong datang ke pusat layanan informasi universitas. Tentu dengan adanya cyber campus ini segala informasi maupun fasilitas lainnya bisa diakses langsung di web universitas, dari beasiswa, panduan penerimaan mahasiswa baru, lomba, rekapitulasi nilai, jadwal mata kuliah, kuliah Online, virtual library dan lain sebagainya.
Berkembangnya cyber campus ini diharapkan mampu meminimalisir adanya komplain masyarakat terhadap kurangnya informasi, mencegah terjadinya pemalsuan informasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab, memberikan kenyamanan kepada masyarakat, meningkatkan kualitas perkuliahan dan juga bisa memodernisasikan dunia pendidikan dengan fitur teknologinya yang semakin canggih. Dengan adanya cyber campus kita tidak usah khawatir terhadap banyaknya informasi palsu yang beredar. Hanya dengan mengecek di web resmi kampus, kita bisa tahu mana informasi yang sesungguhnya.
Iyas Muzani, 31 Juli 2015.

Selasa, 19 Mei 2015

Sebuah surat terbuka, untuk Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, di tempat.


16. Mencontek adalah sebuah perbuatan…

a. terpaksa

b. terpuji

c. tercela

d. terbiasa



Ardi berhenti di soal nomor enam belas itu, salah satu soal ulangan Budi Pekerti semasa dia kelas 2 SD dulu. Ia tertegun, dan hatinya berdenyut perih saat dilihatnya sebuah coretan menyilang pilihan jawaban C. Coretan tebal, panjang, ciri khas si Ardi kecil yang menjawab nomor itu tanpa ragu, melainkan dengan penuh keyakinan…



Handphonenya berdering pelan, sebuah SMS masuk. Ardi membukanya, dan ia menghela nafas dalam-dalam begitu membaca isinya.



Jadi gimana Di, ikutan pakai ‘itu’ nggak?



Barangkali bukan kebetulan Ardi menemukan soal-soal ulangan SD-nya saat ia mau mencari buku-buku lamanya, barangkali bukan kebetulan Ardi membaca soal nomor enam belas dan jawaban polosnya itu, sebab denyut perih di hatinya baru mereda setelah ia mengirim sebaris kalimat yakin…



Nggak, Jo, aku mau jujur aja.



Sebuah balasan pahit mampir selang beberapa detik setelahnya,



Ah, cemen kamu.



Tapi tidak, Ardi tak goyah. Ia mengulum senyum dan batinnya berbisik pelan, salah, Jo. 



Jujur itu keren.






UNAS. Sebuah jadwal tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk mengevaluasi hasil belajar siswa selama tahun-tahun sebelumnya. Sebuah penentu kelayakan seorang siswa untuk lulus dari jenjang pendidikan yang sudah dia jalani atau tidak. UNAS sudah sejak lama ada, meliputi berbagai tingkat pendidikan, mulai dari SD, SMP, sampai yang terakhir, yakni SMA. Sudah sejak lama pula UNAS menuai pro dan kontra, yang mana rupanya kontra itu belakangan ini berhasil 'memaksa' pemerintah untuk menghapuskan UNAS di tingkatan SD. Sedang untuk tingkat SMP dan SMA, kemungkinan itu masih harus menunggu.


Tiap kali UNAS akan digelar, seluruh elemen masyarakat ikut tertarik ke dalam pusaran perbincangannya. Perdebatan tentang perlu-tidaknya diadakan UNAS tak pernah absen dari obrolan ringan di warung kopi, dan acara-acara yang mengklaim ingin memotivasi para peserta UNAS pun bermunculan di berbagai channel televisi. Di sela-sela program motivasi itu, jikalau ada sesi tanya-jawab, hampir bisa dipastikan akan ada seorang partisipan yang melempar tanya:



"Bagaimana dengan kecurangan UNAS?"



Ah, ya, UNAS memang belum pernah lepas dari ketidakjujuran.


Sekarang, jangan marah jika saya bilang bahwa UNAS identik dengan kecurangan. Sebab jika tidak, pertanyaan itu tidak akan terlalu sering terdengar. Tapi nyatanya, semakin lama pertanyaan itu semakin berdengung di tiap sudut daerah yang punya lembaga pendidikan; dan tahukah apa yang menyedihkan? Yang paling menyedihkan adalah saat lembaga-lembaga pendidikan itu, tempat kita belajar mengeja kalimat 'kejujuran adalah kunci kesuksesan' itu, hanya mampu tersenyum tipis dan menahan kata di depan berita-berita ketidakjujuran yang simpang-siur di berbagai media.



UNAS dengan segala problematika dan dilematika yang dibawanya memang tak pernah habis untuk dikupas, dan sayangnya ia tak pernah bosan pula menemui jalan buntu. Dari tahun ke tahun selalu ada laporan tentang kecurangan, tetapi ironisnya setiap tahun itu pula pemerintah tetap tersenyum dan mengabarkan dengan bahagia bahwa 'UNAS tahun ini mengalami peningkatan, kelulusan tahun ini mengalami kenaikan, rata-rata tahun ini mengalami kemajuan', dan hal-hal indah lainnya. Dulu, saat saya belum menginjak kelas tiga, saya berpikir bahwa grafik itu benar adanya dan saya pun terkagum-kagum oleh peningkatan pendidikan yang dialami oleh generasi muda Indonesia.



Tetapi sekarang, sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS... dengan berat hati saya mengaku bahwa saya tidak bisa lagi percaya pada dongeng-dongeng itu. Sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS, saya justru punya banyak pertanyaan yang saya pendam dalam hati saya. Banyak beban pikiran yang ingin saya utarakan kepada Bapak Menteri Pendidikan. Tapi tenang saja, Bapak tidak perlu menjadi pembaca pikiran untuk tahu semua itu, karena saya akan menceritakannya sedikit demi sedikit di sini. Dari berbagai kekalutan dan tanda tanya yang menyesaki otak sempit saya, saya merumuskannya menjadi tiga poin penting...


Pertama, tentang kesamarataan bobot pertanyaan-pertanyaan UNAS, yang tahun ini Alhamdulillah ada dua puluh paket.



Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat... pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Bahasa Indonesia bisa membuat 20 soal yang berbeda, dengan tingkat kesulitan yang sama, untuk satu SKL saja? Pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Biologi membuat 20 soal yang berbeda, dengan taraf kesulitan yang sama, hanya untuk satu indikator 'menjelaskan fungsi organel sel pada tumbuhan dan hewan'?



Menurut otak sempit saya, sejujurnya, itu mustahil. Mau tidak mau akan ada satu tipe soal yang memuat pertanyaan dengan bobot lebih susah dari tipe lain. Hal ini jelas tidak adil untuk siswa yang kebetulan apes, kebetulan mendapatkan tipe dengan soal susah sedemikian itu. Sebab orang tidak akan pernah peduli apakah soal yang saya terima lebih susah dari si A atau tidak. Manusia itu makhluk yang seringkali terpaku pada niai akhir, Pak. Orang tidak akan pernah bertanya, 'tipe soalmu ada berapa nomor yang susah?' melainkan akan langsung bertanya, 'nilai UNASmu berapa?'.



Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, di sini Bapak akan beralasan, barangkali, bahwa jika siswa sudah belajar, maka sesusah apapun soalnya tidak akan bermasalah. Tapi coba ingat kembali, Pak, apa sih tujuan diadakannya Ujian Nasional itu? Membuat sebuah standard untuk mengevaluasi siswa Indonesia, 'kan? Untuk menetapkan sebuah garis yang akan jadi acuan bersama, 'kan? Sekarang, bagaimana bisa UNAS dijadikan patokan nasional saat antar paket saja ada ketidakmerataan bobot soal? Ini belum tentang ketidakmerataan pendidikan antar daerah, lho, Pak.


Kedua, tentang pertanyaan-pertanyaan UNAS tahun ini, yang, menurut saya, menyimpang dari SKL.


Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya tahu Bapak sudah mengklarifikasinya di twitter, bahwa soal tahun ini bobot kesulitannya di naikkan sedikit (saya tertawa miris di bagian kata 'sedikit' ini). Tapi, aduh, jujur saya bingung juga Pak bagaimana menanggapinya. Pertama, bobot soal kami dinaikkan hanya sampai standard Internasional. Kedua, konfirmasi itu Bapak sampaikan setelah UNAS selesai. Saya jadi paham kenapa di sekolah saya disiapkan tabung oksigen selama pelaksanaan UNAS. Mungkin sekolah khawatir kami pingsan saking bahagianya menemui soal-soal itu, 'kan?



Bapak, saya tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti... apa yang ada di pikiran Bapak-Bapak semua saat membuat, menyusun, dan mencetak soal-soal itu? Bapak mengatakan di twitter Bapak, 'tiap tahun selalu ada keluhan siswa karena soal yang baru'. Tapi, Pak, sekali ini saja... sekali ini saja saya mohon, Bapak duduk dengan santai, kumpulkan contoh soal UNAS tahun dua ribu sebelas, dua ribu dua belas, dua ribu tiga belas, dan dua ribu empat belas. Dengan kepala dingin coba Bapak bandingkan, perbedaan tingkat kesulitan dua ribu sebelas dengan dua ribu dua belas seperti apa. Perbedaan bobot dua ribu dua belas dengan dua ribu tiga belas seperti apa. Dan pada akhirnya, coba perhatikan dan kaji baik-baik, perbedaan tipe dan taraf kerumitan soal dua ribu tiga belas dengan dua ribu empat belas itu seperti apa.


Kalau Bapak masih merasa tidak ada yang salah dengan soal-soal itu, saya ceritai sesuatu deh Pak. Bapak tahu tidak, saat hari kedua UNAS, saya sempat mengingat-ingat dua soal Matematika yang tidak saya bisa. Saya ingat-ingat sampai ke pilihan jawabannya sekalipun. Kemudian, setelah UNAS selesai, saya pergi menghadap ke guru Matematika saya untuk menanyakan dua soal itu. Saya tuliskan ke selembar kertas, saya serahkan ke beliau dan saya tunggu. Lalu, hasilnya? Guru Matematika saya menggelengkan kepalanya setelah berkutat dengan dua soal itu selama sepuluh menit. Ya... beliau bilang ada yang salah dengan kedua soal itu. Tetapi yang ada di kepala saya hanya pertanyaan-pertanyaan heran...


Bagaimana bisa Bapak menyuruh saya menjawab sesuatu yang guru saya saja belum tentu bisa menjawabnya?


Tidak diuji dulukah kevalidan soal-soal UNAS itu?


Bapak ujikan ke siapa soal-soal itu? Para dosen perguruan tinggi? Mahasiswa-mahasiswa semester enam? 


Lupakah Bapak bahwa nanti yang akan menghadapi soal-soal itu adalah kami, para pelajar kelas tiga SMA dari seluruh Indonesia?


Haruskah saya ingatkan lagi kepada Bapak bahwa di Indonesia ini masih ada banyaksekolah-sekolah yang jangankan mencicipi soal berstandard Internasional, dilengkapi dengan fasilitas pengajaran yang layak saja sudah sujud syukur?


Etiskah menuntut sebelum memberi?


Etiskah memberi kami soal berstandard Internasional di saat Bapak belum mampu memastikan bahwa seluruh Indonesia ini siap untuk soal setingkat itu?


Pada bagian ini, Bapak mungkin akan teringat dengan berita, 'Pelajar Mengatakan bahwa UNAS Menyenangkan'. Kemudian Bapak akan merasa tidak percaya dengan semua yang sudah saya katakan. Kalau sudah begitu, itu hak Bapak. Saya sendiri juga tidak percaya kenapa ada yang bisa mengatakan bahwa UNAS kemarin menyenangkan. Awalnya saya malah mengira bahwa itu sarkasme, sebab sejujurnya, tidak sedikit teman-teman saya yang menangis sesudah mengerjakan Biologi. Mereka menangis lagi setelah Matematika dan Kimia. Lalu airmata mereka juga masih keluar seusai mengerjakan Fisika. Sekarang, di mana letak 'UNAS menyenangkan' itu? Bagi saya, hanya ada dua jawabannya; antara narasumber berita itu memang sangat pintar, atau dia menempuh jalan pintas...


Jalan pintas itu adalah hal ketiga yang menganggu pikiran saya selama UNAS ini. Sebuah bentuk kecurangan yang tidak pernah saya pahami mengapa bisa terjadi, yaitu joki.


Mengapa saya tidak paham joki itu bisa terjadi? Sebab, setiap tahun pemerintah selalu gembar-gembor bahwa "Soal UNAS aman! Tidak akan bocor! Pasti terjamin steril dan bersih!", tetapi ketika hari H pelaksanaan... voila! Ada saja joki yang jawabannya tembus. Jika bocor itu paling-paling hanya lima puluh persen benar, ini ada joki yang bisa sampai sembilan puluh persen akurat. Sembilan puluh persen! Astaghfirullah hal adzim, itu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir. Kemudian ajaibnya pula, yang sudah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi hal ini sepanjang yang saya lihat baru satu: menambah tipe soal! Kalau sewaktu saya SD dulu tipe UNAS hanya satu, sewaktu SMP beranak-pinak menjadi lima. Puncaknya sewaktu SMA ini, berkembang-biak menjadi 20 paket soal. Pemerintah agaknya menganggap bahwa banyaknya paket soal akan membuat jawaban joki meleset dan UNAS dapat berjalan mulus, murni, bersih, sebersih pakaian yang dicuci pakai detergen mahal.



Iya langsung bersih cling begitu, toh?



Nyatanya tidak.



Sekalipun dengan 20 paket soal, joki-joki itu rupanya masih bisa memprediksi soal sekaligus jawabannya. Peningkatan jumlah paket itu hanya membuat tarif mereka makin naik. Setahu saya, mereka bahkan bisa menyertakan kalimat pertama untuk empat nomor tententu di tiap paket agar para siswa bisa mencari yang mana paket mereka. Lho, kok bisa? Ya entah. Tidak sampai di sana, jawaban yang mereka berikan pun bisa tembus sampai di atas sembilan puluh persen. Lho, kok bisa? Ya sekali lagi, entah. Seperti yang saya bilang, kalau sudah sampai sembilan puluh persen akurat begitu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir bandang. Saat joki sudah bisa menyertakan soal, bukan hanya jawaban, maka adalah sebuah misteri Ilahi jika pemerintah masih sanggup bersumpah tidak ada main-main dari pihak dalam.



Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya memang hanya pelajar biasa. Tapi saya juga bisa membedakan mana jawaban yang mengandalkan dukun dan mana jawaban yang didapat karena sempat melihat soal. Apa salah kalau akhirnya saya mempertanyakan kredibilitas tim penyusun dan pencetak soal? Sebab jujur saja, air hujan tidak akan menetesi lantai rumah jika tidak ada kebocoran di atapnya.




Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat... tiga hal yang saya paparkan di atas sudah sejak lama menggumpal di hati dan pikiran saya, menggedor-gedor batas kemampuan saya, menekan keyakinan dan iman saya.



Pernah terpikirkah oleh Bapak, bahwa tingkat soal yang sedemikian inilah yang memacu kami, para pelajar, untuk berbuat curang? Jika tidak... saya beritahu satu hal, Pak. Ada beberapa teman saya yang tadinya bertekad untuk jujur. Mereka belajar mati-matian, memfokuskan diri pada materi yang diajarkan oleh para guru, dan berdoa dengan khusyuk. Tetapi setelah melihat soal yang tidak berperikesiswaan itu, tekad mereka luruh. Saat dihadapkan pada soal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu, mereka runtuh. Mereka menangis, Pak. Apa kesalahan mereka sehingga mereka pantas untuk dibuat menangis bahkan setelah mereka berusaha keras? Beberapa dari mereka terpaksa mengintip jawaban yang disebar teman-teman, karena dihantui oleh perasaan takut tidak lulus. Beberapa lainnya hanya bisa bertahan dalam diam, menggenggam semangat mereka untuk jujur, berdoa di antara airmata mereka... berharap Tuhan membantu.


Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teman-teman yang terpaksa curang setelah mereka belajar tetapi soal yang keluar seperti itu. Kami mengemban harapan dan angan yang tak sedikit di pundak kami, Pak. Harapan guru. Harapan sekolah. Harapan orangtua. Semakin jujur kami, semakin berat beban itu. Sebelum sampai di gerbang UNAS, kami telah melewati ulangan sekolah, ulangan praktek, dan berbagai ulangan lainnya. Tenaga, biaya, dan pikiran kami sudah banyak terkuras. Tetapi saat kami menggenggam harapan dan doa, apa yang Bapak hadapkan pada kami? Soal-soal yang menurut para penyusunnya sendiri memuat soal OSN. Yang benar saja, Pak. Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas menjadi Menteri. Kalau Bapak berdalih 'ah, ini bukan bidang saya', lantas Bapak anggap kami ini apa? Apa Bapak kira kami semua ini anak OSN? Apa Bapak kira kami semua pintar di Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus? Teganya Bapak menyuruh kami untuk lulus di semua bidang itu? Sudah sepercaya itukah Bapak pada kecerdasan kami?


Tidak.


Tentu saja Bapak tidak sepercaya itu pada kami. Sebab jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sampai terpikir untuk membuat dua puluh paket soal, padahal lima paket saja belum tentu bobot soal kelima paket itu seratus persen sama. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sengaja meletakkan persentase UNAS di atas persentase nilai sekolah untuk nilai akhir kami, padahal belum tentu kemurnian nilai UNAS itu di atas kemurnian nilai sekolah. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan merasa perlu untuk melakukan sidak. Jika Bapak percaya... mungkin Bapak bahkan tidak akan merasa perlu untuk mengadakan UNAS.



.........



.........



.........


Anda akan mengatakan kalimat klise itu, Pak, bahwa nilai itu tidak penting, yang penting itu kejujuran.



Tapi tahukah, bahwa kebijakan Bapak sangat kontradiktif dengan kata-kata Bapak itu? Bapak memasukkan nilai UNAS sebagai pertimbangan SNMPTN Undangan. Bapak meletakkan bobot UNAS (yang hanya berlangsung tiga hari tanpa jaminan bahwa siswa yang menjalani berada dalam kondisi optimalnya) di atas bobot nilai sekolah (yang selama tiga tahun sudah susah payah kami perjuangkan) dalam rumus nilai akhir kami. Bapak secara tidak langsung menekankan bahwa UNAS itu penting, dan itulah kenyataannya, Pak. Itulah kenyataan yang membuat kami, para pelajar, goyah. Takut. Tertekan. Tahukah Bapak bahwa kepercayaan diri siswa mudah hancur? Pertahanan kami semakin remuk ketika kami dihadapkan oleh soal yang berada di luar pengalaman kami. Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelumnya? Bahwa soal yang di luar kemampuan kami, soal yang luput Bapak sosialisasikan kepada kami meskipun persiapan UNAS tidak hanya satu-dua minggu dan Bapak sebetulnya punya banyak kesempatan jika saja Bapak mau, sesungguhnya bisa membuat kami mengalami mental breakdown yang sangat kuat? Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelum memutuskan untuk mengeluarkan soal-soal tidak berperikesiswaan itu dalam UNAS, yang notabene adalah penentu kelulusan kami?


Pada akhirnya, Pak, izinkan saya untuk mengatakan, bahwa apa yang sudah Bapak lakukan sejauh ini tentang UNAS justru hanya membuat kecurangan semakin merebak. Bapak dan orang-orang dewasa lainnya sering mengatakan bahwa kami adalah remaja yang masih labil. Masih dalam proses pencarian jati diri. Sering bertingkah tidak tahu diri, melanggar norma, dan berbuat onar. Tapi tahukah, ketika seharusnya Bapak selaku orangtua kami memberikan kami petunjuk ke jalan yang baik, apa yang Bapak lakukan dengan UNAS selama tiga hari ini justru mengarahkan kami kepada jati diri yang buruk. Tingkat kesulitan yang belum pernah disosialisasikan ke siswa, joki yang tidak pernah diusut sampai tuntas letak kebocorannya, paket soal yang belum jelas kesamarataan bobotnya, semua itu justru mengarahkan kami, para siswa, untuk mengambil jalan pintas. Sekolah pun ditekan oleh target lulus seratus persen, sehingga mereka diam menghadapi fenomena itu alih-alih menentang keras. Para pendidik terdiam ketika seharusnya mereka berteriak lantang menentang dusta. Kalau perlu, sekalian jalin kesepakatan dengan sekolah lain yang kebetulan menjadi pengawas, agar anak didiknya tidak dipersulit.



Sampai sini, masih beranikah Bapak katakan bahwa tidak ada yang salah dengan UNAS? Ada yang salah, Pak. Ada lubang yang menganga sangat besar tidak hanya pada UNAS tetapi juga pada sistem pendidikan di negeri ini. Siapa yang salah? Barangkali sekolah yang salah, karena telah membiarkan kami untuk menyeberang di jalur yang tak benar. Barangkali kami yang salah, karena kami terlalu pengecut untuk mempertahankan kejujuran. Barangkali joki-joki itu yang salah, karena mereka menjual kecurangan dan melecehkan ilmu untuk mendapat uang.



Tapi tidak salah jugakah pemerintah? Tidak salah jugakah tim penyusun UNAS? Tidak salah jugakah tim pencetak UNAS? Ingat Pak, kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi tugas Bapak selaku yang berwenang untuk memastikan bahwa kesempatan untuk berlaku curang itu tidak ada?


Mungkin Bapak tidak akan percaya pada saya, dan Bapak akan berkata, "Kita lihat saja hasilnya nanti."


Kemudian sebulan lagi ketika hasil yang keluar membahagiakan, ketika angka delapan dan sembilan bertebaran di mana-mana, Bapak akan melupakan semua protes yang saya sampaikan. Bapak akan menganggap ini semua angin lalu. Bapak akan berpesta di atas grafik indah itu, menggelar ucapan selamat kepada mereka yang lulus, kepada tim UNAS, kepada diri Bapak sendiri, dan Bapak akan lupa. Bapak yang saya yakin sudah berkali-kali mendengar pepatah 'don't judge a book by its cover', akan lupa untuk melihat ke balik kover indah itu. Bapak akan melupakan kemungkinan bahwa yang Bapak lihat itu adalah hasil kerja para 'ghost writer UNAS'. Bapak akan lupa untuk bertanya kepada diri Bapak, berapa persen dari grafik itu yang mengerjakan dengan jujur? Kemudian Bapak akan memutuskan bahwa Indonesia sudah siap dengan UNAS berstandard Internasional, padahal kenyataannya belum. Joki-jokinyalah yang sudah siap, bukan kami. Mengerikan bukan, Pak, efek dari tidak terusut tuntasnya joki di negeri ini? Mengerikan bukan, Pak, ketika kebohongan menjelma menjadi kebenaran semu?


Bapak, tiga hari ini, kami yang jujur sudah menelan pil pahit. Pil pahit karena ketika kami berusaha begitu keras, beberapa teman kami dengan nyamannya tertidur pulas karena sudah mendapat wangsit sebelum ulangan. Pil pahit karena ketika kami masih harus berjuang menjawab beberapa soal di waktu yang semakin sempit, beberapa teman kami membuat keributan dengan santai, sedangkan para pengawas terlalu takut untuk menegur karena sudah ada perjanjian antar sekolah. Pil pahit, karena kami tidak tahu hasil apa yang akan kami terima nanti, apakah kami bisa tersenyum, ataukah harus menangis lagi...



Berhentilah bersembunyi di balik kata-kata, "Saya percaya masih ada yang jujur di generasi muda kita". Ya ampun Pak, kalau hanya itu saya juga percaya. Tetapi masalahnya bukan ada atau tidak ada, melainkan berapa, dan banyakan yang mana? Sebab yang akan Bapak lihat di grafik itu adalah grafik mayoritas. Bagaimana jika mayoritas justru yang tidak jujur, Pak? Cobalah, untuk kali ini saja tanyakan ke dalam hati Bapak, berapa persen siswa yang bisa dijamin jujur dalam UNAS, dibandingkan dengan yang hanya jujur di atas kertas?



(Ngomong-ngomong, Pak, banyak dosa bisa menyebabkan negara celaka. Kalau mau membantu mengurangi dosa masyarakat Indonesia, saya punya satu usul efektif. Hapuskan kolom 'saya mengerjakan ujian dengan jujur' dari lembar jawaban UNAS.)



UNAS bukan hal remeh, Pak, sama sekali bukan; terutama ketika hasilnya dijadikan parameter kelulusan siswa, parameter hasil belajar tiga tahun, sekaligus pertimbangan layak tidaknya kami untuk masuk universitas tujuan kami. Jika derajat UNAS diletakkan setinggi itu, mestinya kredibilitas UNAS juga dijunjung tinggi pula. Mestinya tak ada cerita tentang soal bocor, bobot tidak merata, dan tingkat kesulitan luput disosialisasikan ke siswa.



Kejujuran itu awalnya sakit, tapi buahnya manis.



Dan saya tahu itu, Pak.



Tapi bukankah Pengadilan Negeri tetap ada meski kita semua tahu keadilan pasti akan menang?



Bukankah satuan kepolisian masih terus merekrut polisi-polisi baru meski kita semua tahu kebenaran pasti akan menang?


Dan bukankah itu tugas Bapak dan instansi-instansi pendidikan, untuk menunjukkan pada kami, para generasi muda, bahwa kejujuran itu layak untuk dicoba dan tidak mustahil untuk dilakukan?



Kejujuran itu awalnya sakit, buahnya manis.



Tapi itu bukan alasan bagi Bapak untuk menutup mata terhadap kecurangan yang terjadi di wilayah kewenangan Bapak.



Kami yang berusaha jujur masih belum tahu bagaimana nasib nilai UNAS kami, Pak. Tapi barangkali hal itu terlalu remeh jika dibandingkan dengan urusan Bapak Menteri yang bejibun dan jauh lebih berbobot. Maka permintaan saya mewakili teman-teman pelajar cuma satu; tolong, perbaikilah UNAS, perbaikilah sistem pendidikan di negeri ini, dan kembalikan sekolah yang kami kenal. Sekolah yang mengajarkan pada kami bahwa kejujuran itu adalah segalanya. Sekolah yang tidak akan diam saat melihat kadernya melakukan tindak kecurangan. Kami mulai kehilangan arah, Pak. Kami mulai tidak tahu kepada siapa lagi kami harus percaya. Kepada siapa lagi kami harus mencari kejujuran, ketika lembaga yang mengajarkannya justru diam membisu ketika saat untuk mengamalkannya tiba...







Dari anakmu yang meredam sakit,





Dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya, pelajar yang baru saja mengikuti UNAS. 
*Diambil dari Facebook