Kamis, 13 Agustus 2015

Menjaga Keseimbangan Aktivitas Dunia dan Akhirat


Tidak bisa dipungkiri dalam menjalani kehidupan setiap manusia pasti ingin meraih kebahagiaan di dunia, ini lumrah untuk dilakukan karena memang sudah menjadi watak dasar atau fitrah dari manusia untuk meraih kebahagiaan itu. Harta, tahta, dan wanita adalah tiga hal yang paling sering membayang-bayangi hawa nafsu laki-laki. Selain itu perilaku hedonis seperti pesta, hura-hura-hura, dan perayaan lainnya pun turut melekat pada diri sebagian manusia baik itu laki-laki maupun perempuan. Sifat ini semua tidaklah salah, karena sejatinya sejak lahir manusia diciptakan dan bergerak sesuai dengan dorongan hawa nafsunya, yang salah apabila perbuatan-perbuatan ini berlebihan dan melupakan aktivitasnya sebagai seorang hamba. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda, “Tiga hal yang mencelakakan: sifat pelit yang diikuti; hawa nafsu yang dituruti, dan rasa bangga terhadap diri sendiri” (HR. Baihaqi. Syaikh Albani menghasankan hadis ini.)1
Menjadi pribadi yang sukses dunia tentulah memiliki kebanggaan tersendiri, akan tetapi jika sekedar sukses di dunia namun melupakan akhiratnya tentulah menjadi kerugian besar nantinya. Keseimbangan dalam menjalankan pekerjaan dunia dan akhirat perlu dijaga, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi...” (QS. Al-Qasas: 77). ini Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan kita untuk mempergunakan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu berupa harta yang melimpah dan kenikmatan yang panjang dalam berbuat taat kepada Rabbmu serta bertaqarrub kepada-Nya dengan berbagai amal-amal yang dapat menghasilkan pahala di dunia dan akhirat.
“... dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77). Jelas sekali bahwa Allah tidak menginginkan kita untuk berbuat kerusakan di bumi ini, sebab hal itu merupakan perkara yang tidak disukai oleh-Nya.
Konsisten dalam beribadah sembari mencari nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada di muka bumi ini sekiranya merupakan kegiatan yang positif dilakukan. Sebagai umat muslim yang menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai panutan tentu kita ingin mengikuti sifat-sifat nya, termasuk kekayaan beliau yang melimpah. Beliau tidak menginginkan satu pun dari umatnya hidup dalam kemiskinan, ia mengharapkan umat Islam rajin dan bekerja keras dalam mencari nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan juga justru kita terlalu fokus dalam bekerja sehingga melupakan kewajiban kita dalam beribadah kepada-Nya. Sebab pada dasarnya manusia tidak mampu memenuhi sendiri keinginan dan kebutuhannya yang tak terbatas, ia secara alamiah perlu merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meminta tolong kepada-Nya, jika seorang manusia hidup sesuai dengan fitrah ini, ia akan memperoleh kepercayaan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan sejati.2
Oleh karena itu, kita dalam menjalani kehidupan ini perlu untuk menjaga keseimbangan dalam melakukan aktivitas dunia dan akhirat. Jangan sampai karena aktivitas dunia hingga kita lalai dari-Nya.
               
1.      Abdillah, A.H., 2015, Agar Dunia Tak Memenjara (1): Carilah Kebahagiaan yang Hakiki, dilihat pada 7 Agustus 2015, dari http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/agar-dunia-tak-memenjara-1.html

2.      Harun, Y., 2001, Mengenal Allah Lewat Akal, Rabbani Press, Jakarta.

                 Iyas Muzani, 13 Agustus 2015


0 komentar: