Minggu, 02 Maret 2014

Neraca Seorang Mukmin


Jangan pernah terkecoh oleh omongan, shalat, puasa, sedekah dan menyendiri yang dilakukan seseorang. Karena, seorang mukmin sejati adalah seseorang yang menghimpun dua hal: Pertama, mematuhi aturan Allah; kedua, ikhlas dalam beramal.
Kita sangat sering melihat seorang abid melanggar hukum Allah dengan menggunjing dan mengerjakan sesuatu yang terlarang karena menuruti keinginan hawa nafsunya. Dan kita sendiri tak jarang menuduh seseorang yang memegang teguh agamanya telah mengerjakan suatu amal bukan karena Allah Ta’ala.
Seorang mukmin sejati adalah seseorang yang melaksanakan perintah-perintah Allah, menolak menuruti keinginan hawa nafsu, mengikhlaskan niat ketika beramal dan berbicara serta tak menginginkan pujian makhluk.
Kadang seseorang memperlihatkan diri sebagai seseorang yang khusyuk agar disebut sebagai seorang abid, ada kalanya seseorang menampakkan diri sebagai seseorang yang diam supaya dijuluki sebagai seorang yang takut, dan tak jarang seseorang memperlihatkan diri sebagai seseorang yang menolak dunia agar disebut sebagai seorang zahid.
Tanda seorang yang ikhlas adalah samanya penampilan saat sendiri dan kala bersama orang lain.
Terkadang ia malah sengaja tersenyum dan tertawa di hadapan orang banyak agar tak dijuluki sebagai seorang zahid. Ibnu Sirin biasa tertawa di siang hari, namun bila malam menghampiri, ia seperti membunuh seluruh penduduk desanya karena tangisannya.
Allah ‘Azza wa Jalla tak menginginkan sekutu, karena itu seorang yang ikhlas hanya meniatkan-Nya, sedang seorang yang riya’ adalah orang melakukan penyekutuan demi memperoleh pujian manusia. Padahal, yang akan terjadi justru sebaliknya, karena hati mereka di tangan Dzat yang disekutukannya. Allah akan menjauhkan mereka darinya dan tak akan mendekatkan kepadanya. Karena itu, orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang menjalin hubungan batin dengan Allah dan mengikhlaskan amalnya hanya untuk-Nya. Orang seperti ini adalah orang yang dicintai orang banyak, sedang orang yang riya’ pasti dibenci oleh mereka sekalipun ia terus-menerus menambah ibadahnya.

Orang yang mendapatkan taufik seperti ini juga tak akan pernah berhenti mengejar kesempurnaan ilmu dan puncak amal. Ia akan selalu memenuhi waktunya dengan berbagai macam kebaikan yang pernah didengarnya, sementara hatinya terus-menerus beramal dengan amalan-amalan hati, hingga akhirnya ia hanya sibuk dengan Allah ‘Azza wa Jalla

0 komentar: