Senin, 14 Maret 2016

Siapkah Kita Untuk Berhijrah?


Disetiap pertemuan yang berlalu tentu ada rindu yang membekas, sulit memang tapi itulah hidup. Tiap langkah kaki yang kita jalani hanya akan memberikan kenangan. Bagusnya, kita diberikan pilihan akankah menjadikan ia sebagai kenangan manis ataupun kenangan pahit. Mungkin saat ini kita masih dibayang-bayangi oleh begitu gemerlapnya kebiasaan sebelumnya hingga masih sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, belum mampu untuk menyibukkan diri. Mungkin masih sulit bagi sebagian dari kita untuk berhijrah dari aktivitas rutinitas yang sebelumnya tidak ada manfaatnya sama sekali ke aktivitas yang dapat memberikan kebermanfaatan bagi diri, masyarakat, dan agama. Pertanyaan yang kemudian timbul ialah: “bagaimana cara kita melakukan aktivitas yang bermanfaat? Bagaimana cara menyibukkan diri?”
Sebelum menjawab pertanyaannya, satu hal yang perlu untuk kita ketahui bahwa perbuatan yang kita lakukan dinilai benar bukan dari segi kuantitas (jumlahnya), akan tetapi dilandasi oleh apa yang kita percayai saat ini, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika peribahasa latin mengatakan Vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan), maka Al-Qur’an mengingatkan kita, Jika kamu mengikuti ‘kebanyakan’ orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Q.S. Al-An’am:116).1
Hijrah, jika kita artikan menurut bahasa ialah meninggalkan. Sedangkan menurut syariat ialah berpindah dari negeri syirik ke negeri Islam, atau dari negeri kemaksiatan ke negeri istiqamah. Kita mesti sadar bahwa masa lalu yang kelam hanya tinggal kenangan yang jika kita ratapi secara mendalam hanya akan menghambat diri ini untuk berkembang lebih jauh. Apa yang seharusnya kita lakukan saat ini ialah berhijrah, bagaimana perbuatan kita tidak terulang lagi seperti dulu, dan dampak positifnya terasa. Nilai yang perlu untuk ditanamkan bagi diri ini agar menjadi manusia dengan aktivitas yang bermanfaat dapat diperoleh dengan menghadirkan kondisi dimana tujuan utama kita bukanlah di dunia, tetapi di akhirat kelak, sehingga segala aktivitas yang kita lakukan semata-mata hanya atas apa yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bukankah indah jika di usia kita yang cukup muda ini diisi dengan hal-hal yang positif? Masanya telah berlalu, semua temanmu pergi jauh meninggalkanmu, tapi ia pergi bukan berarti melupakan. Namun pergi untuk menebarkan manfaat yang lebih ke penjuru dunia ini. Dulu mungkin kamu terlalu banyak menyusahkannya, tapi suatu saat bisa jadi kamu yang malah memberikan manfaat kepadanya. Dulu mungkin kamu memandang ia terlalu tinggi hingga sulit untuk bisa menyamai, tapi bisa jadi beberapa tahun kedepan kamu lulus dari perguruan tinggi sebagai lulusan cum laude. Mereka di masa lalu belum tentu mereka di masa depannya, sebab tiap orang punya keinginan untuk mengubah masa lalunya. Fokus kita saat ini ialah menumbuhkan sikap optimis, bahwa kita bisa berubah. Tiap manusia punya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, tergantung bagaimana cara diri ini menyikapi kehidupan, mengontrol diri untuk bisa melawan hawa nafsu menuju pribadi penebar manfaat bagi bangsa dan agamanya. Selamat berjuang saudaraku.



___________________________________________________________________________
1.      Dikutip dari Adhim, Mohammad Fauzil. 2012. Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. Yogyakarta. Pro U-Media.

0 komentar: