Monday, July 2, 2018

Ayo, Segera Bangun!



Arya Sandhiyudha dalam bukunya Renovasi Dakwah Kampus (2006) mengatakan bahwa pengalaman yang kami dapat selama ini menunjukkan bahwa yang menjadi sebab seorang disukai atau tidak, diterima atau tidak, alasan dominannya terletak bukan pada apa identitas kita. Kepercayaan dan penerimaan (trust and respect) masyarakat pada umumnya terletak pada kualitas pergaulan yang baik dengan lingkungan sosial kita. Profil semacam ini memang sudah sepatutnya ada dalam diri seorang muslim dan da’i, seperti dalam sebuah hadits shahih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mencampuri (bergaul) dengan manusia dan bersabar terhadap cobaan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak bercampur dengan manusia dan tidak sabar terhadap cobaan mereka.” (H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Banyak orang menganggap Aktivis Dakwah Kampus (ADK) eksklusif karena tidak mau bergaul dengan masyarakat, ia membentuk lingkungan sendiri, membuat pergaulan dengan sesama para ADK. Tentu sikap ini kurang tepat, sebab mereka para da’i sudah semestinya berbaur di tengah-tengah masyarakat untuk mengajak mereka kepada kebaikan, menjadi orang yang mengajak masyarakat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Aktivis Dakwah Kampus (ADK) jangan pernah merasa bahwa dirinya suci sehingga tidak mau bergaul dengan masyarakat, ia tidak boleh menutup diri dari lingkungannya, sebab disanalah tujuan mereka berdakwah. Mengajak mereka yang jauh dari Islam menjadi dekat dengan Islam, mereka yang dekat dengan Islam menjadi ta’at beribadah, mereka yang ta’at beribadah menjadi penggerak dakwah. Aktivis Dakwah Kampus (ADK) harus menjadi matahari yang meskipun sendiri namun senantiasa menyinari lingkungannya, memancarkan nilai-nilai positif, memberikan manfaat bagi sekitarnya. Waktu liburan bagi ADK bukanlah kesempatan untuk berleha-leha, tidak ada kata istirahat dalam menyeru kepada kebaikan. Pulang kampung hanyalah perpindahan tempat saja, tapi aktivitas positif dan bermanfaat tetap dijalankan.

Berdakwah di masyarakat tentu memiliki atmosfir yang cenderung berbeda dalam dunia kampus, ADK jangan sampai bersikap seolah-olah menggurui masyarakat. Pendekatan yang dilakukan sebagaimana apa yang dijelaskan pada awal tulisan ini, penerimaan masyarakat tergantung dari bagaimana pergaulan kita kepada mereka, perlihatkanlah bagaimana karakter seorang muslim sesungguhnya, berakhlak yang baik kepada masyarakat, rajin-rajin dalam memberikan salam dan senyuman kepada masyarakat, karena ini juga bagian dari hablum minannas.

Masjid yang sebelumnya sepi oleh pemuda kita ramaikan, ajak setiap orang yang kita kenal untuk shalat berjama’ah di masjid. Awalnya mungkin masih cenderung berat bagi mereka, tapi jika sering-sering diajak, akhirnya mereka juga menjadi sungkan untuk menolak ajakan. Hidayah tergantung dari Allah Subhanahu wa ta’ala, tugas seorang muslim adalah berikhtiar semaksimal mungkin dalam menyampaikan kebaikan. Ayo, segera bangun lalu wudhu, shaf ini harus segera diluruskan kembali. Jangan sampai liburan ini justru menjadikan kita tidak produktif dalam beramal, ikhwah.
                                                                                                                                                       

0 comments: