Senin, 15 Agustus 2016

Ilmu Untuk Kebermanfaatan


Lentera di pojok rumah itu belum saja padam di tengah gelap dan sepinya desa kala itu, si kecil di desa yang jauh dari hegemoni kemajuan perkotaan terus bermimpi untuk bisa bersekolah setinggi-tingginya walau keadaannya sekarang yang pas-pasan, selain itu ia juga mesti berhadapan dengan realita yang ia hadapi, bagaimana tidak, satu per satu teman sebayanya di desa itu lebih memilih untuk menjadi kuli, petani hingga pedagang dibanding harus bersekolah, sesuatu yang mereka anggap tidak bisa menjamin kehidupannya nanti. Tapi si kecil itu tetap saja optimis, suatu saat nanti ia bisa mengubah kehidupan keluarga, teman, dan desanya menjadi jauh lebih baik. Cerita ini nyata dan ada di sekeliling kita, mungkin sering dijumpai di beberapa tulisan kisah inspiratif teman-teman kita di jejaring media sosial mereka yang pantang menyerah serta memiliki visi yang jauh ke depan. Perjuangan mereka untuk bisa mengenyam pendidikan memang tidak mudah, bagi mereka pendidikan adalah gerbang yang dapat menyelematkan kehidupan keluarganya, membawa ia ke derajat yang lebih tinggi. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menganggap jika bersekolah itu hanya membuang-buang waktu mereka saja.
Perlu kita ketahui sebelumnya bahwa jumlah pelajar SD di Indonesia tahun akademik 2011/2012 sebanyak 27.583.919 orang,  pelajar SMP sebanyak 9.425.336 orang, pelajar SMA sebanyak 8.215.624 orang dan mahasiswa sebanyak 5.616.670 orang (Indonesia Educational Statistics in Brief, 2012). Meskipun secara keseluruhan anak yang masuk  sekolah dasar cukup tinggi, sebuah kajian tentang Anak Putus Sekolah yang dilakukan bersama oleh Kementerian Pendidikan, UNESCO, dan UNICEF (2011) menunjukkan bahwa 2,5 juta anak usia 7-15 tahun masih tidak bersekolah, dimana kebanyakan dari mereka putus sekolah sewaktu masa transisi dari SD ke SMP.
Keadaaan seperti ini tentunya tidak diinginkan oleh mereka bahkan juga keluarganya, tapi karena keterbatasan yang dimiliki sehingga mimpi untuk bisa bersekolah lebih tinggi menjadi sirna. Bagi mereka sesuap nasi lebih berharga dibanding segudang ilmu, bagi mereka bangun di pagi hari untuk membajak sawah lebih memberikan manfaat ketimbang bangun di pagi hari untuk bersekolah. Kita tidak bisa menyalahkan mereka karena kondisinya, mereka juga ingin seperti kita yang bersekolah, tapi mereka lebih membutuhkan uang untuk bertahan hidup meski dengan pendapatan yang tidak sebanding dengan usaha mereka, there are millions of children who want to learn but lack due to financial problems. Lantas apakah kita yang berkepunyaan tidak berpikir? Tentu harapan mereka dibebankan kepada kita yang sedang menjalani proses belajar di perguruan tinggi, agar kemudian ilmu yang kita peroleh dapat bermanfaat bagi mereka.
Iqra’, lafadz pertama yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menegaskan agar kita senantiasa membaca atau meraih ilmu. Yusuf Al-Qardhawi pernah mengatakan bahwa umat Islam mestinya umat iqra’, tapi kenyataannya umat sekarang lemah dalam menuntut ilmu. Padahal dengan ilmulah kemudian kita bisa menjaga eksistensi agama ini, dengan ilmu kita dapat memakmurkan umat melalui posisi-posisi penting baik itu di organisasi, pemerintahan, ataupun instansi lainnya. Jangan sampai kemudian di tengah masyarakat Islam tidak ada yang meraih ilmu, sebab jika hal demikian terjadi maka pasti yang akan terangkat adalah orang bodoh yang kemudian akan sesat dan menyesatkan (fadollu wa-adollu) yang berdampak kepada kemaslahatan umat. Mencoba untuk berintropeksi diri dan memotivasi diri ini juga teman sekalian agar senantiasa tidak futur dalam meraih ilmu.
Iyas Muzani, Yogyakarta 15 Agustus 2016.



0 komentar: