Rabu, 12 Februari 2014

Valentine Day? Denaturasi Akhlak Remaja

Valentine Day, lemahnya aqidah remaja
Perlu disadari bersama merayakan Valentine Day merupakan penyimpangan aqidah, karena lahirnya Valentine Day sangat erat hubungannya dengan agama hal ini dipertegas dengan sabda Rasul Sahallallahu ‘alaihi wasallam yang telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. at-Tirmidzi). Aqidah Islam telah sempurna memberikan aturan kehidupan bagi hamba-hambanya tentu saja aturan itu semata-mata Allah turunkan sebagai bentuk petunjuk hidup, namun pada kenyataannya Aqidah remaja kita masih dangkal pemikirannya, sehingga pola sikap yang dibentuknya pun cenderung dibiarkan bebas menuruti hawa nafsunya, tanpa menyadari akibat dari perbuatannya.

Valentine Day, buah negara sekuler
Negara seharusnya menjadi eksekutor pertama yang melindungi segenap umatnya dari bahaya pendangkalan aqidah, tapi kita paham betul Indonesia adalah negara sekuler yang menjauhkan manusia dari aturan agamanya , sehingga wajar kiranya apabila kita melihat negara malah memfasilitasi maksiat, seperti diperbolehkannya mall-mall merayakan Valenbtine Day, tontonan acara di layar kaca begitu kuat mengarahkan remaja kita untuk berperilaku hedonisme termasuk di dalamnya budaya pacaran yang ujung-ujungnya kepada seks bebas yang menghasilkan aborsi dan berbagai penyakit kelamin, di sisi lain semaraknya Velentine Day menguntungkan pihak kapitalis dalam meraup keuntungan. Telah tampak jelas kerusakan akibat diterapkan sistem sekulerisme di Indonesia, apakah kita masih mau berada dalam cengkramanya? Wallahu’Alam

Valentine Day Sebagai Hari Free Sex

Meski Valentines’ Day (14 Februari) masih beberapa hari lagi, remaja muslim dan muslimah sudah ada yang merencanakan dan memboking tempat untuk memperingati hari kasih sayang itu di hotel-hotel, café-café, di Puncak, dan berbagai tempat lainnya. Dari tahun ke tahun, perayaan Valentines’Day telah menelan banyak korban. Diantara mereka, ada yang mati konyol saat pesta miras, hamil di luar nikah, dan kecelakaan setelah menggunakan narkotika pada moment Valentines’ Day.

Siapa yang bisa mengelak, bahwa Valentine’s Day di kalangan remaja yang tumbuh di Kota Besar, identik dengan dunia gemerlap (dugem), pesta miras, perzinahan, dan mengkonsumsi barang-barang terlarang, seperti ekstasi, sabu-sabu dan sejenisnya.

Menurut keterangan saksi korban, peristiwa itu berawal ketika Mawar diajak jalan-jalan oleh pacarnya Her (17) ke daerah Ciater. Waktu itu Her berdalih ingin memanjakan korban pada hari kasih sayang. Selain membawa korban, Her juga mengajak sahabat-sahabat-nya yang lain yang rata-rata masih berusia 17 hingga 18 tahun. Setiba di Subang, mereka tiba-tiba mengurungkan niat untuk pergi ke Ciater, tetapi malah kembali ke Pagaden dan sepakat merayakan valentine dengan cara pesta minuman keras di sebuah gang sempit di Dusun Wanakersa, Pagaden.

Saat itu, korban terus didesak Her untuk mencicipi minuman keras. Beberapa menit setelah meminum minuman keras itu, korban merasakan pusing kepala. Kondisi seperti itu rupanya malah dimanfaatkan Her dan teman-temannya untuk melampiaskan nafsu. Setelah puas mereka langsung pergi dan membiarkan korban tergeletak di pinggir gang.

Di Banjarmasin, Perayaan "valentine`s day" juga  menelan korban. Dilaporkan, pada malam hari kasih sayang itu, seorang remaja tewas overdosis (OD) mengonsumsi ineks (ekstasi) di tempat hiburan malam.


Bukan Tradisi Islam
Patut diketahui, acara Valentine’s Day itu bukan berasal dari tradisi Islam. Dalam Islam, berkasih sayang itu tidak dikhususkan hanya pada tanggal 14 Februari saja. Dan kasih sayang itu tidak ditujukan kepada seorang kekasih, terkait asmara dan jalinan cinta sepasang kekasih yang belum menikah. Islam mengajarkan agar berkasih sayang setiap waktu. Kasih sayang itu bisa kepada ayah-ibu, kakak, adik, saudara, sahabat, kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan sekalipun.

Perlu juga diketahui, bahwa Valentines’Day adalah hari kematian seorang yang bernama Valentine. Adapun Valentine atau Valentinus itu sendiri sesungguhnya adalah seorang yang terbunuh mempertahankan ajaran agamanya. Bahkan, Valentine adalah seorang tokoh beragama Kristen, yang karena kedermawanannya diberi gelar Saint atau Santo. Saint itu sendiri kerap dihubungkan dengan nama seorang penganjur atau pemimpin besar agama Kristen. Disebabkan pertentangannya dengan penguasa Romawi ketika itu, ajal Valentine berakhir dengan pembunuhan atas dirinya pada abad ketiga masehi, tepatnya tanggal 14 Februari tahun 270 M.

Rupanya kematian Valentine tersebut tak dapat dilupakan oleh para pengikutnya. Valentine dijadikan simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan seorang Kristiani menghadapi kenyataan dalam hidupnya. Hari Valentine ini kemudian dihubungkan dengan pesta atau perjamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut Supercalia yang biasanya jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang Romawi itu masuk Kristen, maka pesta Supercalia itu secara religius dikaitkan dengan upacara kematian Santo Valentine. Namun, upacara peringatan yang semula bersifat religius mulai berubah dengan upacara non agamis.

Di Amerika, Valentine ini dipopulerkan dalam bentuk Greeting Card (kartu ucapan selamat), terutama sejak berakhirnya Perang Dunia I. Lama kelamaan, sepasang kekasih diwujudkan dengan saling tukar menukar kado. Ironisnya lagi , Valentines dirayakan dengan pesta miras dan narkoba, bahkan seorang gadis rela kehilangan keperawanannya demi merayakan Valentine yang justru merusak moral generasi muda. Perzinahan pun dianggap menjadi budaya. Jelas ini termasuk dosa besar.

Karena, hendaknya, umat Islam tidak merayakan Hari Valentine, yang notabene berasal dari agama Kristen. Islam sangat tegas melarang pesta miras dan perzinahan. Sebaiknya urungkan saja rencana untuk merayakan Valentines Day di hotel, kafe, villa, dan kost-kostan bahkan di gang sempit sekalipun. Valentine's Day terbukti begitu besar mudharatnya.

*Dari VOA ISLAM


0 komentar: