Minggu, 03 Agustus 2014

Hari Pertama Penuh Inspirasi


Hidup di perkampungan yang terisolasi dan jauh dari kota mungkin dianggap sebagian orang sebagai ketertinggalan di tengah semakin canggihnya teknologi yang ada saat ini. Disaat masyarakat perkotaan sedang asik menyaksikan pertandingan sepak bola di layar kaca, bercanda gurau dengan teman jejaring sosial lewat gadget canggihnya dan menyantap ria makanan modern, tahukah kita bahwa masih ada saudara yang tinggal jauh di daerah terpencil sama sekali tidak tersentuh oleh kecanggihan maupun kemajuan era dan teknologi tersebut? Tapi, bukan permasalahan itu yang akan ana’ angkat pada tulisan kali ini, akan tetapi masalah itulah yang menjadi latar belakang dan In sya Allah dengan keterbelakangan itu pula yang akan menginspirasi kita semua di tulisan berikut ini.

Ada sesuatu yang amatlah mengasyikkan kiranya dapat menjatuhkan kita ke dalam jurang kebathilan, sesuatu yang asyik itu timbul akibat dorongan hawa nafsu dan godaan syaitan. Apa itu? Sesuatu yang asyik itu sebenarnya hanyalah sebuah keasyikan sementara dan fana tak berarti dibanding keasyikan akhirat sana, sudah tahu? Betul, keasyikan duniawi ini seakan menggoyahkan hasrat seseorang yang tak memiliki iman yang kuat. Sehingga apapun kewajibannya sebagai umat Islam dapat ia tinggalkan hanya karena keasyikan ini.

Berbagai macam alasan muncul secara tiba-tiba saat diperhadapkan dengan perkara kebaikan, mulai dari kesibukan hingga keasyikan duniawi. Ya, ana’ bisa katakan bahwa semua ini dikarenakan ulah gadget super modern itu. Banyak yang lebih memilih bersantai di sofa empuk sambil memainkan gadgetnya ketimbang duduk khusyuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pertama kali sejak masuk SMA ana’ mengunjungi kampung halaman tercinta yaitu Desa Banca, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang yang jauh sekali dari keriuhan seperti kota Makassar-Gowa dan tinggi beribu meter di atas permukaan laut ini. Ada satu hal yang terlintas di benak ana’, mata seolah berkaca serta jiwa terasa bergetar saat melihat semangat beribadah penduduk kampung yang begitu tinggi ini mengisi penuh saf-saf masjid di malam terakhir shalat tarawih di bulan suci ramadhan. “Jauhnya masjid dari tempat tinggalnya tak menyurutkan langkah untuk menghadap kepada-Nya” In sya Allah di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala akhlak mereka kan dibalas dengan rahmat-Nya. Disamping itu, meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah satu sama lain tapi hubungan kekeluargaannya begitu kental terasa, ukhuwah mereka amatlah terjaga.

“Daya listrik memang begitu rendah, akan tetapi tak merendahkan semangat beribadahnya kepada Rabb pemilik semesta alam.”

Banyak pelajaran yang dapat ana’ petik pada kunjungan yang penuh rindu ini, satu yang pasti bahwa meski mereka jauh tertinggal dari pesatnya pertumbuhan teknologi tapi In sya Allah mereka jauh lebih unggul pada urusan akhirat, karena mereka sangat yakin bahwa masih ada kehidupan yang akan dijalani setelah ini dan sifatnya abadi. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum:7) Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!


~Ditulis di tengah gelapnya hari dan sejuknya udara di pegunungan. Semoga      menginspirasi J .. Barakalallahu fiik, wassalamu alaikum.

0 komentar: