Kamis, 18 Desember 2014

Filosofi Air Dalam Menjalani Aktivitas Dakwah

Antum liat air? Lembut, salah satu ciri air ini tidak pernah berhenti bergerak & gerakan air itu bisa mengambil semua pola, bisa tenang, bisa mengalir terus seperti riang, bisa juga menjadi gelombang dan bisa menciptakan badai. Dia bisa menghancurkan benda keras dan dia juga bisa menjadi tempat mendapatkan inspirasi, itulah air. Dan sekarang kita gunakan filosofi ini untuk bergerak.
Air jika dibendung, ia tidak menabrak bendungan itu tapi ia naik ke atas, kalau ia terus mengalir suatu waktu ia akan melampaui bendungan itu yang membatasi geraknya. Karena dia tidak pernah berhenti bergerak, pada akhirnya orang tidak akan kuat melawan gerakan air itu. Ia adalah paduan antara kelembutan dan kekerasan, dan kalau kita membawa ke kehidupan sehari-hari, di mana Islam sebagai agama kepercayaan mayoritas di Indonesia bahkan acap kali diisukan sebagai agama penuh kekerasan oleh umatnya sendiri. Sebut saja ‘ROHIS’ yang pada beberapa tahun silam diisukan sebagai wadah teroris, sedih kita mendengarnya. Padahal ia, ‘ROHIS’ landasannya cukup jelas, sebagai pembentuk karakter kuat pemuda Islam, melahirkan Agen perubah (Anashirut taghyir) yang diharapkan nantinya bakal menjadi pembela di tengah maraknya tindak dzalim. Dengan permasalahan yang dihadapi ini, ‘ROHIS’ tidak perlu terbawa oleh arus pandangan mereka yang ‘Islamphobia’, sebaliknya ia harus tetap pada arus yang ia buat sendiri, arus yang ada sejak di hulu agar sampai ke hilir dengan hamasah (penuh semangat). Buatlah gebrakan-gebrakan yang menghancurkan bendungan kedzaliman itu.
Ikhwah Fillah, La taqul ful qabla an yashbaha fil makyul. Jangan pernah berhenti berusaha sebelum semuanya berakhir. Maka saudaraku sekalian, ishbiru washobiru warobithu wat-taqullah la'allakum tuflihun. Bersabarlah dan kuatkan kesabaran dan rapatkan barisan dan bertakwalah, agar kamu sekalian beruntung.



0 komentar: