Jumat, 19 Desember 2014

Kearifan atau Keberakalan Dalam Perspektif Islam


Kearifan, maupun hikmah, juga irfan (dalam bahasa Arab) memiliki persamaan, relatif sama artinya. Sehingga apabila kita mengatakan Al-Arifu atau Al-hakim, maka kira-kira maknanya sama. Juga apabila dengan mengatakan Al-hikmatu wal irfan, kata ini memiliki arti yang sama pula.
Definisi hikmah ada dalam definisi ushul fiqih, “Al-hikmatu hiya Al-Asarulladzi yatarattabu ala fi’li syai autarqi” Hikmah adalah dampak yang timbul dari mengerjakan sesuatu atau meninggalkan sesuatu. Ulama ushul fiqih membedakan antara hikmah dan illat secara termologinya, illat berarti sebab atau alasan kita melakukan sesuatu tanpa harus menunggu adanya syarat. Contohnya seperti, “Inna Sholata tanha anil fakhsyaai wal mungkar...(shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar...)”, hikmahnya adalah apabila kita mengerjakan shalat maka akan berdampak pada tercegahnya kemungkaran. Sedangkan contoh dari illat, biasanya terdapat pada hukum mengapa sesuatu dinyatakan halal atau haram, dan hukum itu ada yang dijelaskan illatnya (Ex: berzakat) dan adapula yang tidak (Ex: larangan memakan babi).
Seseorang yang dikatakan arif atau bijak, yaitu orang yang memikirkan dampak dari perkataan maupun perbuatannya. Dampak itu ada dua jenisnya dari segi waktu. Yang pertama dampak jangka pendek. Yang kedua jangka panjang. Ulama-ulama kita mengatakan, ada kata-kata yang sejenis: hakim, arif dan aqil. Tiga kata itu sejenis, perbedaannya tipis dalam terminologi Arabnya. Ulama-ulama kita mengatakan, siapa yang disebut orang yang berakal: Al-Aqilu, andharun naasu fil awaaqid. Orang yang berakal itu adalah orang yang paling jauh pandangannya tentang akibat-akibat dari segala sesuatu. Jadi yang memikirkan dampak jangka panjang dari setiap tindakannya itu. Jadi kalau kita melakukan ini sekarang, ini akan ada dampaknya begini, begini, begini, dan seterusnya. 
Jadi yang dimaksud dengan kearifan atau hikmah ataupun keberakalan itu bahwa kita mengontrol setiap tindakan yang kita lakukan pertama kali bukan pada tindakannya tapi pada pikirannya. Dengan mengontrol tindakan pada pikiran itu maka kita memikirkan segala tindakan yang akan kita lakukan sebelum kita benar-benar melakukannya.
Di dalam terapannya, acap kali kita tidak pernah memikirkan apakah tindakan itu baik atau buruk, ataukah baik sejenak tetapi setelahnya akan datang keburukan. Kita (manusia seorang diri) itu mengalami pergulatan di dalam dirinya dengan unsur subjektivitas. Misalnya saat ada rasa tertarik terhadap lawan jenis dan berpikir ingin menikahinya hanya karena pandangan kepada fisiknya, biasanya kita jarang memikirkan dampak kedepannya apakah ia menjadi solusi atau justru menjadi problema buat diri sendiri nantinya. Hal ini terjadi karena kita selalu mengalami yang namanya bias, begitu kita secara fisik tertarik maka kita akan mengalami bias subjektivitas itu. Contoh lain apabila kita pernah didzalimi oleh orang lain, suatu waktu kita berada dalam power dan mungkin punya kekuatan untuk membalas orang ini, maka bias dendam itu akan ada dan mungkin kita mendapatkan pembenaran jangka pendek untuk melakukan balas dendam (revenge) tersebut.
Di dalam banyak hal terutama waktu, pilihan-pilihan tindakan dari segala sesuatu maka kita pasti akan mengalami bias. Misalnya saat memilih jurusan, bias subjektivitas itu banyak, saat pilihan-pilihan tindakan itu banyak, biasanya kita punya masalah tentang subjektivitas. Karena efek subjektivitas ini, terkadang pilihan kita atas tindakan-tindakan itu sering kali tidak tepat. Dan karena ketidaktepatan itu maka dampaknya akan muncul kemudian, beberapa waktu selanjutnya baru kita sadar ternyata pilihan ini salah.
Itulah sebabnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menderivasi kembali makna keberakalan, makna kearifan itu di dalam implementasinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Alladziina yastami’uuna qaula fayattabi’uuna ahsana. Ulaa-ika hum ulul albab” Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik dari perkataan itu, mereka itulah yang disebut ulul albab. Orang yang berakal. Jadi faktor utama yang menjadikan kita arif atau berakal yaitu kebiasaan mendengar, bukan kebiasaan bicara. Itulah hikmahnya mengapa telinga kita ada 2, mata kita 2 dan mulut kita 1. Artinya ialah 2 kali mendengar, 1 kali berbicara.
Ada pepatah yang mengatakan “ash shomtu hikmatun waqaliilun fa’iluha”. Diam itu adalah kearifan, tetapi sedikit sekali orang yang bisa melakukannya. Jadi jika Anda ingin menjadi arif, latihan pertamanya adalah kontrol mulut. Biasakan untuk tidak banyak bicara. Dan jika Anda harus bicara, pastikan bahwa yang keluar itu emas. Paling sedikit, perak. Paling sedikit lagi, perunggu. Tapi yang pasti, jangan racun. 

0 komentar: