Selasa, 01 November 2016

Mempersiapkan Para Penakluk


Di dalam Islam, ada suatu kaidah bahwa di balik setiap masalah ada peluang yang sama besarnya dengan masalah yang dihadapi. Tidak terkecuali oleh aktivis dakwah kampus, tantangan dakwah yang dihadapi begitu dinamis, adakalanya mereka dihadapkan oleh persoalan eksternal semisal kristenisasi, LGBT, syiah, paham liberalisme dan isme-isme negatif lainnya hingga persoalan internal seperti minimnya kesadaran mahasiswa dalam menjalankan ibadah wajib, minimnya pencapaian Standar Mutu Kader (SMK), ketidakharmonisan dalam berorganisasi dan kisruh yang terjadi antara harakah itu sendiri. Persoalan-persoalan ini masih silih berganti timbul di era sekarang yang bisa jadi terus memunculkan masalah-masalah baru, perkara yang memang masih menjadi momok yang membayang-bayangi para aktivis dakwah.
Sedikit mungkin penjelasan atas beberapa persoalan di atas, yang jika ditarik benang merahnya maka sebenarnya yang ada di hadapan kita adalah lubang berburai luas, bahwa dengan mudahnya umat ini diinfiltrasi oleh musuh-musuh, bahkan memporak-porandakan akhlak umat ini dari dalam dirinya sendiri dengan fun, food dan fashion. Operasi seperti ini sejatinya telah kita saksikan oleh apa yang terjadi di Palestina, negeri tempat turunnya sebagian besar nabi Allah Subhanahu wa ta’ala dan juga tempat persinggahan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam perjalanan Isra Mi’rajnya. Tempat itu kemudian telah berada di bawah penjajahan Zionis Israel selama lebih dari setengah abad lamanya.
Apa yang terjadi dalam umat ini adalah lebih kepada krisis kepemimpinan, minimnya keteladanan yang diberikan oleh qiyadah karena dominasi figure barat lebih bersarang dalam pola pikir umat. Tidak adanya peran signifikan yang diperlihatkan oleh qiyadah sehingga umat menjadi tidak terorganisir, membuat mereka rapuh, terpecah dan tidak solid. Dampaknya apa yang kita lihat sekarang ini, marak terjadi konflik, umat menjadi tidak produktif, dan tidak adanya semangat dalam amaliyatut tadayyun. Seakan-akan tidak ada fungsi kepemimpinan yang timbul, hanya sekedar sosok pemimpin secara fisik saja. Meskipun kemudian antara qiyadah dengan jundi sering berinteraksi, akan tetapi kejadian tersebut tidak merumuskan apa-apa, tidak melakukan sesuatu, sehingga sulit untuk menyatukan frame dakwah ini, sulit untuk melakukan konsolidasi. Yang pada akhirnya justru membuat aktivitas dakwah yang dijalankan menjadi terhambat dan babak belur dalam menghadapi tantangan yang bersifat tiba-tiba dan mengejutkan.                   
Kedepannya, upaya yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi kejadian tersebut terulang kembali ialah dengan membentuk para da’i yang berafiliasi dengan konsep tarbiyah, sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Quthb yang memberikan landasan filosofi teoritis dari konsep tarbiyah itu, yakni manhajut-tarbiyah Islamiyah. Muhammad Quthb mendefinisikan tarbiyah dalam satu kalimat yang sederhana, namun mewakili mafahim tarbiyah yang benar.
التربية هي فن صناعة الانسان
Tarbiyah adalah seni menciptakan manusia

            Pertanyaan yang timbul kemudian adalah bagaimana kita menciptakan manusia dengan cara Islam? Pertama-tama, kembali kepada definisi Islam, yang kemudian diinterasikan dengan makna tarbiyah itu sendiri. Islam adalah sistem hidup yang diturunkan Allah Subhanahu wa ta’ala bagi manusia dengan bumi sebagai ruang hidupnya dan rentang masa kerja yang disebut sebagai umur dalam skala individu sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati” (QS. Ali-Imran: 185)
Cara-cara seperti di atas tidak hanya berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, akan tetapi juga diimplementasikan dalam lingkungan kampus. Proses pembinaan (amaliyatut takwiin) yang nantinya diterapkan mesti memahami duduk persoalan yang terjadi dan disesuaikan dengan yang terjadi di lapangan, agar kemudian nantinya seseorang mampu berinteraksi dengan ruang dan waktu berdasarkan patokan nilai-nilai agama. Tentu, yang ditemukan di lapangan adalah manusia-manusia yang memiliki kepribadian yang berbeda dengan pemahaman yang berbeda pula, sehingga kemudian perlu diberikan standar output seperti apa yang ingin dicapai melalui proses pembinaan (amaliyatut takwiin) tadi.
Tujuan kaderisasi yang selama ini diharapkan ialah mampu membentuk kafa’ah, syakhsiyah Islamiyah serta syakhsiyah da’iyah. Meskipun kemudian para kader tidak lagi berada dalam lembaga dakwah, namun bisa jadi mereka dialirkan ke wasilah-wasilah dakwah lain untuk mensyiarkan dakwah di sana.
Sehingga, yang menjadi fokus utama kita ke depannya adalah tidak hanya mencetak para da’i dalam ranah da’awi saja, namun juga mempersiapkan mereka ke dalam lingkungan yang lebih kompleks lagi, lingkungan yang lebih majemuk, sebab persoalan sebagian besar terjadi di sana.
Referensi
1.      Anis Matta. 2006. Dari Gerakan ke Negara. Jakarta: Fitrah Rabbani.
2.      Anis Matta. 2014. Spiritualitas Kader. Jakarta: Ylipp.

3.      Majelis Syuro Keluarga Muslim Teknik. 2009. Engineering Plus Rekayasa Pengelolaan Lembaga Da’wah Kampus. Yogyakarta.

0 komentar: