Rabu, 15 Februari 2017

Membentuk Karakter Pemenang

Ada begitu banyak kisah dari para nabi yang bisa kita jadikan patron dalam menapaki kehidupan. Peradaban yang ada saat ini tentu merupakan akumulasi dari pemikiran visioner oleh sedikit orang yang ada di masa lalu, dari sedikit orang itulah yang kemudian mampu menggerakkan banyak orang untuk mendesain, merancang, mengelola dan menciptakan suatu peradaban yang bisa kita rasakan saat ini. Ketika Jazirah Arab belum dihuni oleh siapapun, kondisinya yang mungkin bisa dibilang tidak layak untuk dihuni dibandingkan negeri Syam ataupun Yaman pada saat itu, bahkan dilukiskan dalam Al-Qur’an sebagai biwadiin ghoiri dzi zar’in, pada suatu lembah yang tidak ada tumbuhannya. Nabi Ibrahim alaihis salam bersama dengan Hajar dan anaknya Ismail alaihis salam, mereka yang kemudian menjadi penghuni pertama di Jazirah Arab, bisa dibayangkan bagaimana mereka memulai usahanya membangun Ka’bah di daerah yang tak berpenghuni. Tapi bisa kita lihat saat ini, tempat itu kemudian bertransformasi, daerah yang sepi senyap sekarang menjadi daerah yang dikunjungi oleh sekitar 2 juta orang lebih tiap tahunnya, perubahan besar itu dilakukan oleh satu keluarga saja. Contoh lain di sekitar 3000an tahun setelah nabi Ibrahim alaihis salam, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mendirikan negara Madinah, yang ikut hijrah bersama beliau jumlahnya sekitar dua ratusan orang, dari jumlah umat manusia pada saat itu sekitar seratusan juta orang. Jadi kita bisa mengambil hikmah disini, bahwa sejarah lahirnya peradaban besar itu adalah ide dari sedikit orang, bukan oleh banyak orang.
Ukuran sedikit atau banyak nya orang bukan menjadi fokus kita disini, akan tetapi yang menjadi inti permasalahannya adalah apakah kita telah siap mencetak orang-orang dengan pemikiran visioner itu? Realita yang kita hadapi sekarang bahwa jumlah umat Islam dari tahun ke tahun semakin menurun, di Indonesia sendiri kita pernah berada dalam persentase total 95% umat Islam, namun sekarang dari 250an juta jiwa penduduk Indonesia, hanya 85% yang kemudian beragama Islam. Dari persentase itu, coba kita pikirkan, ada berapa persen yang ibadahnya terjaga? Kini kondisi yang kita hadapi ialah seolah-olah umat Islam sendiri tidak berdaya dalam menyikapi problematika yang terjadi di bangsa sendiri, bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Kita ambil contoh dalam konstelasi politik di Indonesia saat ini, ketika beberapa partai Islam akan membesar, ada kekuatan sistematis yang menghancurkannya. Beberapa partai Islam yang lain bahkan tidak terstruktur dan kaderisasi masif sehingga tidak berkembang dan tidak berdaya dalam persaingan politik.

Saya kira persoalan-persoalan ini muncul karena kita melupakan proses pembinaan di dalam internal itu sendiri, kita jauh dari proses pembentukan generasi. Sehingga sebagai  aktivis dakwah kita perlu untuk kembali mengangkat makna-makna dasar yakni ma’ani ikhlash wa shidq wal intima’ ilal fikrah wal manhaj. Sebab hanya dengan menanamkan makna tersebut secara terus menerus maka apa yang kita harapkan akan sampai kepada tashhihul-masar, yakni upaya meluruskan arah perjuangan secara terus menerus dari waktu ke waktu. Inilah yang menjadi langkah pertama untuk memperkokoh qaidah ruhiyah. Kita mesti kembali ke koridor pembentukan manusia-manusia, mencetak generasi yang mampu bersaing secara global, mereka yang memiliki pemikiran yang visioner. Semua ini dapat terlaksana dengan baik jika kita ikhlas dalam mendedikasikan diri di jalan dakwah ini.

0 komentar: