Minggu, 03 April 2016

Aqidah Islam, Pola Hidup Manusia Beriman


Ketika kita berbicara tentang Islam, maka yang muncul dibenak kita ialah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, ia adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal). Keimanan itu merupakan akidah dan pokok, yang di atasnya berdiri syariat Islam, Kemudian dari pokok itu keluarlah cabang-cabangnya. Perbuatan itu merupakan syari’at dan cabang-cabang yang dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu. Keimanan dan perbuatan, atau dengan kata lain akidah dan syari’at, keduanya itu antara satu dengan yang lain saling sambung-menyambung, hubung-menghubungi dan tidak dapat berpisah yang satu dengan lainnya. Keduanya adalah sebagai buah dengan pohonnya. Sebagai musabbab dengan sebabnya atau sebagai natijah (hasil) dengan mukaddimahnya (pendahuluannya).
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, pemimpin yang menjadi teladan bagi umat Islam adalah sebaik-baik manusia dengan akhlaknya yang sempurna. Beliau membimbing dengan cara memberitahukan kepada umatnya supaya mengarahkan pandangan mereka ke langit dan bumi, mengenang dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah, fitrahnya dibangunkan agar jiwanya dapat menerima tanaman dengan perasaan yang teguh lagi cocok dalam beragama, juga diajak pula untuk merasakan suatu alam lain yang ada dibalik alam semesta yang dapat dilihat ini. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dapat mengubah umat yang asal mulanya sebagai penyembah berhala dan patung, yang dahulunya melakukan syirik dan kufur menjadi umat yang berakidah tauhid, hati mereka dipompa dengan keimanan dan keyakinan. Sementara itu beliau juga dapat membentuk sahabat-sahabatnya menjadi pemimpin-pemimpin yang harus diikuti dalam hal perbaikan budi dan akhlak, bahkan menjadi pembimbing-pembimbing kebaikan dan keutamaan. Bahkan lebih dari itu, beliau telah membentuk generasi dari umatnya sebagai suatu bangsa yang menjadi mulia dengan sebab adanya keimanan dalam dada mereka, berpegang teguh pada hak dan kebenaran. Maka pada saat itu umat yang langsung berada di bawah pimpinannya adalah bagaikan matahari dunia, disamping sebagai pengajak kesejahteraan dan keselamatan pada seluruh umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan membuat kesaksiannya sendiri pada generasi itu bahwa mereka benar-benar memperoleh ketinggian dan keistimewaan yang khusus, sebagaimana firman-Nya:
“… Kamu semua adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh   kebaikan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran:110)
Agama Islam mengajak seluruh umat manusia supaya berpikir dan menggunakan akalnya dan bahkan demikian hebatnya anjurannya ke arah itu. Tetapi yang dikehendaki itu bukanlah pemikiran yang tidak terkendalikan lagi kebebasannya. Semua itu dimaksudkan oleh Islam agar dilakukan dalam batas tertentu yang memang merupakan lapangan bagi manusia dan dapat dicapai oleh akal manusia. Maka yang dianjurkan oleh Islam untuk dipikirkan ialah dalam hal ciptaan-Nya, yakni apa-apa yang ada di langit dan di bumi, dalam dirinya sendiri, dalam masyarakat dan lain-lain. Tidak ada sebuah pemikiran yang dilarang, melainkan memikirkan dzat-Nya, sebab persoalan ini di luar kapasitas kekuatan akal pikiran manusia.
Di dalam diri ini sebenarnya terdapat perasaan-perasaan yang tertanam, perasaan akan adanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perasaan ini adalah sebagai pembawaan sejak manusia itu dilahirkan dan oleh sebab itu dapat disebut sebagai perasaan fithrah. Fithrah adalah keaslian yang di atasnya itulah Allah Ta’ala menciptakan makhluk manusia itu. Ini dapat pula diibaratkan dengan kata lain sebagai gharizah diniah atau pembawaan keagamaan. Gharizah diniah adalah satu-satunya hal yang merupakan batas pemisah antara makhluk Tuhan yang disebut manusia dan yang disebut binatang, sebab binatang pasti tidak memilikinya. Gharizah keagamaan ini adakalanya tertutup atau hilang, sebagian atau seluruhnya, dengan adanya sebab yang mendatang, sehingga manusia yang sedang dihinggapi penyakit ini lalu tidak mengerti sama sekali tentang kewajiban dirinya terhadap Tuhan. Ia tidak terjaga dari kenyenyakan tidurnya dan tidak dapat dibangunkan dari kelalaiannya itu. Kecuali apabila ada penggerak yang menyebabkan ia jaga dan bangun. Setelah kebangungannya ini barulah ia akan meneliti penyakit apa yang sedang dideritanya itu atau bahaya apa yang sedang meliputi tubuhnya dan mengancam keselamatannya. Allah Ta’ala berfirman: “..Dan jikalau manusia itu ditimpa bahaya, maka iapun berdoalah kepada Kami (Allah) diwaktu berbaring, diwaktu duduk atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari padanya, iapun berjalanlah seolah-olah tidak pernah berdoa kepada Kami atas bahaya yang telah menghinggapinya itu.” (QS. Yunus:12).
Melangkah lebih jauh, sebenarnya mengapa Islam sebaik-baik Agama, berdasarkan tulisan oleh Justin Marseir, seorang ahli sejarah Latin pada abad II, menulis:
“Pada zamannya Al-Masih sendiri, dalam gereja itu semua orang mempercayai dan meyakinkan bahwa Isa adalah Al-Masih dan mereka menganggapnya sebagai manusia biasa, sekalipun tentunya lebih tinggi kedudukannya dari golongan manusia lain. Selanjutnya terjadi suatu keadaan yaitu setiap bertambah pemeluk agama Nasrani itu yang berasal dari kaum penyembah berhala, maka timbullah berbagai kepercayaan yang baru pula yang sebelumnya itu tidak ada”. Sekianlah kutipan dari kitab Dairah Ma’arif (Perancis) itu yang termuat dalam kitab Kanzul ‘Ulum wal Lughah. Dari uraian tersebut, dapatlah kita ketahui bahwa kekeliruan kepercayaan tritunggal itu sudah jelas sekali sebagaimana terang benderangnya matahari di siang hari. Namun demikian kita tetap tidak mengerti dan sangat heran sekali, mengapa pemeluk-pemeluk agama Nasrani masih gigih benar mempertahankan paham tersebut. Mereka sangat fanatik dengan cara yang membuta, tanpa landasan sejarah ataupun hujah yang layak diterima oleh akal pikiran. Tepatlah apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala: “..Maka sesungguhnya tidaklah buta penglihatan-penglihatan itu, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada”. (QS. Al-Hajj:46).
Sumber :
Sabiq, Sayid. 1974. Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman. CV Diponegoro. Bandung.




0 komentar: