Sabtu, 07 Mei 2016

Al-Qur’an Sumber Kehidupan Umat Manusia


Dalam ber-Islam, ada hal-hal yang memang harus kita yakini, tidak sekedar tauhid rububiyah saja, tapi tauhid uluhiyah dan tauhid asma wa sifat juga perlu karena yang demikian itulah yang membedakan kita dengan agama Nasrani maupun Yahudi. Kita meyakini Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai tuhan bukan hanya sekedar Ia sebagai sang pencipta, tapi juga diyakini dengan bentuk perwujudan beribadah kepada-Nya juga dengan mensucikan sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala dari segala aib.
Bukti keberadaan Allah sendiri terdapat di dalam Al-Qur’an, ada begitu banyak ilmuwan seperti Dr. Keith Moore, Marshall Johnson, Joe Simpson, Maurice Bucaille, dan ilmuwan-ilmuwan lainnya, yang mempelajari Quran untuk sekian lama, dan mereka semua menyimpulkan bahwa kitab dan ayat-ayat di dalamnya tidak mungkin ditulis seorang manusia, ini tentunya dari Sang Pencipta. Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan, contohnya Dr. Keith Moore, dia embriologist yang terkenal.1
Orang ateis selalu mempertanyakan keberadaan Tuhan, tapi mereka sendiri tidak bisa membuktikan ketidakberadaan Tuhan. Dari 6236 ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an, ada sekitar 500an ayat yang berbicara tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, satu per satu dari 500an ayat tersebut telah berhasil dibuktikan oleh para ilmuwan hingga sampai saat ini dan akan terus berlanjut, menandakan bahwa kitab Al-Qur’an sebagai mukjizat yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sekedar tulisan yang biasa-biasa saja, melainkan di dalamnya terdapat begitu banyak pelajaran yang dapat membimbing kita menjalani kehidupan ini.
Di dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 2 dijelaskan bahwa “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Allah pulalah yang menjaga keorisinalitasan Al-Qur’an dari waktu ke waktu, berbeda dengan kitab suci lain yang telah mengalami kontaminasi oleh sentuhan tangan manusia. Mempercayai sesuatu yang belum pernah kita temui, belum pernah kita lihat sosoknya tentu bukan hal yang mudah, tapi itulah yang terjadi pada kita umat Islam, kita meyakini Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai sang pencipta berdasarkan referensi ilmu pengetahuan yang telah ada yang dimulai sejak 15 abad yang lalu. Kita meyakini karena ada sosok teladan yang memberikan kita bukti melalui mukjizat dan sirahnya.
Sayyid Quthb pernah menulis di bukunya yang jika diterjemahkan ke Indonesia judulnya menjadi “Aqidah Islam, Pola Hidup Manusia Beriman”, ia mengatakan bahwa agama Islam mengajak seluruh umat manusia supaya berpikir dan menggunakan akalnya dan bahkan demikian hebatnya anjurannya ke arah itu. Tetapi yang dikehendaki itu bukanlah pemikiran yang tidak terkendalikan lagi kebebasannya. Semua itu dimaksudkan oleh Islam agar dilakukan dalam batas tertentu yang memang merupakan lapangan bagi manusia dan dapat dicapai oleh akal manusia. Maka yang dianjurkan oleh Islam untuk dipikirkan ialah dalam hal ciptaan-Nya, yakni apa-apa yang ada di langit dan di bumi, dalam dirinya sendiri, dalam masyarakat dan lain-lain. Tidak ada sebuah pemikiran yang dilarang, melainkan memikirkan dzat-Nya, sebab persoalan ini di luar kapasitas kekuatan akal pikiran manusia.
Terkadang, ketika ilmu pengetahuan disinggung bersamaan dengan agama, logika menjadi sesuatu hal yang diprioritaskan, realitanya para ateis selalu menganggap jika orang yang beragama seperti halnya agama Islam itu tidak dapat membuktikan secara empiris keberadaan Allah, wujud-Nya, maupun ciptaan-Nya yang berhubungan dengan pembuktian. Meskipun demikian, Al-Qur’an tetaplah kitab pembuktian umat Islam kepada seluruh umat manusia, salah satu contohnya ialah ketika Steven Weinberg, pengarang buku The First Three Minutes, pernah menegaskan bahwa langit tampaknya merupakan suatu “alam tak berubah” yang kokoh. Sesungguhnya, awan-awan berarak-arakan mengejar bulan, kolong langit biru mengelilingi bintang kutub, bulan itu sendiri membesar dan mengecil dalam waktu yang lebih lama, dan bulan serta planet-planet bergerak melalui suatu bidang yang ditentukan oleh bintang-bintang. Akan tetapi, kita paham bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh sistem tata surya.2 Berabad-abad sebelum Steven Weinberg memikirkannya, faktanya kasus ini telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Terdapat banyak ayat yang menggambarkan awan dalam bentuk jamak yakni “samawat” yang berarti langit-langit, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka, lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian, pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (QS. Al-Mulk:3-4)
Dari penjelasan tadi kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam memuat segala pelajaran yang dapat kita dalami agar dapat memperoleh hikmah, percaya atau tidaknya kaum non muslim/ateis terhadap kebenaran Al-Qur’an nyatanya bahwa ayat yang menjelaskan tentang ilmu pengetahuan atau sains yang telah dicatatkan di dalam Al-Qur’an sejak 15 abad yang lalu satu persatu telah terbukti secara ilmiah, tinggal bagaimana hati ini menerimanya.


Referensi:
2. Yahya H. 2001. Mengenal Allah Lewat Akal. Jakarta. Robbani Press.

Sumber gambar:
http://www.wallpaperislami.com/wp-content/uploads/2015/10/Al-Quran-dan-Tasbih.jpg 


0 komentar: