Sabtu, 10 Desember 2016

Penerus Peradaban


Kita harus memahami bahwa wasilah yang kita tempuh dalam berdakwah bukanlah karena jabatan, bukan karena kekuasaan, kita tidak mengejar itu melainkan fokus kita adalah kebermanfaatan. Jabatan berbeda dengan karya, berbeda dengan produktivitas, juga berbeda dengan kapabilitas. Bahkan sering kali, jabatan-jabatan besar hanya menjatuhkan kita, menjatuhkan martabat kita jika jabatan besar itu tidak sepadan dengan kemampuan yang kita miliki. Tanpa jabatan kita pun masih bisa bermanfaat bagi orang lain, menjadi pribadi yang senantiasa menebarkan benih-benih kebaikan. Kita harus meluruskan bahwa orientasi dakwah ini bukanlah pada besarnya jabatan yang diperoleh karena di luar sana ada banyak orang-orang ‘kecil’ yang mampu memberikan manfaat yang besar, yakin, kita bisa melakukakan kerja-kerja besar meski dengan posisi yang ‘kecil’ sekalipun. Kita mesti belajar dari kisah Uwais Al-Qarni, sosok yang meski tidak terkenal di dunia namun sangat terkenal di langit, pemuda yang meski dengan segala keterbatasan serta hidup miskin ia tidak lupa untuk berbagi kepada tetangganya jika mendapat upah berlebih, dalam rapuh ia tetap peduli kepada yang lain, rendah hatinya sehingga tidak nampak amalan-amalannya kepada orang lain, ia tidak ingin dikenal oleh orang banyak. Maka tidak irikah kita kepada beliau?
Sekiranya, kita harus sadar bahwa ketika dakwah telah menembus sentral kekuasaan, dorongan hawa nafsu itu akan semakin kuat. Harta, tahta dan wanita menjadi godaan-godaan yang akan membayang-bayang. Maka tak pelak orientasi kita akan berubah dari apa yang sebelumnya diikhtiarkan. Wa kaana amruhuu furutha, bahwa urusan seseorang menjadi berantakan (al faudhal khaarijiyah) disebabkan oleh kekacauan yang ada di dalam dirinya (al faudhalad-dakhiliyah) yakni ketika ia mengikuti hawa nafsunya dan lalai mengingat Allah. Dorongan hawa nafsu yang diikuti berdampak pada terjadinya disorientasi yang menimbulkan berbagai kekacauan, ketidakteraturan dalam diri memberikan pengaruh pada ketidakharmonisan dalam masyarakat bahkan bisa kepada keluarga. Kita datang dan pergi kepada kekuasaan sebab itu semua hanyalah alat yang akan kita pakai untuk beribadah kepada Allah SWT, Wa quli’malu fasayarallahu ‘amalakum wa rasuluhu wal mu’minun. Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. (QS. At Taubah: 105)
Kita tidak lagi bicara figur, namun bicara ide dan narasi, tidak bicara janji-janji, tapi bicara kinerja. Bekerja untuk satu tim (jama’ah) dengan target capaian menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, menjadi pedoman hidup masyarakat dunia bukan untuk kejayaan pribadi. Bahkan ketika di dalam suatu organisasi kita hanya fokus pada bagaimana agar bisa memperoleh jabatan, fokus pada pencitraan diri, seolah-olah menjadi yang terbaik diantara yang lain, namun lupa akan kemampuan sesungguhnya, maka coba kita kembali kepada niat awal kita, pekerjaan yang diamanahkan oleh orang banyak kepada kita, yang berharap menjadi kontributor peradaban dunia yang baru, bukan perusak peradaban.



0 komentar: