Saturday, May 2, 2020

Simpul Kebaikan



Kita berhimpun dalam suatu jama’ah membentu simpul-simpul untuk merapihkan amal-amal kita, melipatgandakan amal kita, dan agar kita berada pada bi’ah yang mampu mengantarkan kita kepada kebaikan-kebaikan. Saat ini mungkin banyak orang shalih diantara kita, tapi semuanya seperti daun yang berhamburan, tidak terhimpun dalam satu wadah yang bernama jama’ah. Mungkin banyak orang yang hebat, tapi kehebatannya hilang diterpa angin zaman. Mungkin banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu, tapi semuanya tersimpan rapi dalam lemari hingga berdebu karena tidak dimanfaatkan. Maka bergabungnya kita ke dalam jama’ah adalah untuk menghimpun daun-daun yang berhamburan tadi itu, menghimpun kehebatan-kehebatan dan potensi dari setiap individu sholih untuk bertemu padu dan berkolaborasi dalam suatu amal jama’i.

Jalan panjang menuju kebangkitan umat ini dimulai dari menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, maka pasca kampus ini, apa yang sudah dihimpun dalam waktu kurang lebih 4 hingga 5 tahun atau bahkan lebih jangan kita hamburkan lagi oleh kesibukan-kesibukan setiap individu di tempat kerjanya, oleh studi lanjut S2 nya, oleh karena mengurus keluarga (anak, suami, istri bagi yang sudah berkeluarga), karena pada hakikatnya kita adalah nahnu du’at qobla kulli sya’in. kita berjalan di muka bumi ini, untuk menebarkan kebermanfaatan, kita bersama menuju keshalihan pribadi dan sosial.

Kata sholih ini juga bergulir di dalam Al-Qur’an, kesholihan ini di dalam bahasa arab istilahnya ash-sholah, orang yang punya kesholihan namanya ash-sholih, orang yang mengimplementasikan kesholihan dalam bentuk tindakan adalah al-muslih. Ust. Hasanna Lawang dalam salah satu kajiannya mengatakan bahwa Ash-sholah adalah percakapan atau kepantasan sesuatu sehingga ia dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan dari keberadaannya. Sebagai ilustrasi kalau kita ingin memotong sesuatu maka kita perlu pisau, pisau ini bisa dikatakan sebagai ash-sholah ketika ia sanggup menjalankan fungsinya untuk memotong apa yang diinginkan, sehingga kalau pisau itu tumpul maka tentu tidak bisa digunakan (Tidak memiliki kesholihan). Pengertian ini juga berlaku untuk manusia, manusia yang memiliki kesholihan atau manusia sholih adalah manusia yang mampu untuk mewujudkan al maqashid (tujuan) diciptakannya dia oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, ditandai dengan kecakapan dan keistiqomahan dalam menjalankan maksud-maksud dari tujuan diciptakannya, apa maksud tujuan diciptakannya manusia?
(1) Ibadah (God-consicious), Wa ma khalaqtul-jinna wal-insa illa liya'budun, tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.
(2) istikhlaf (Excellence drive), sebagai khalifah di muka bumi), wa idz qola robbuka lil-mala ikati inni ja’ilun fil-ardhi kholifah, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Artinya Allah Subhanahu wa ta’ala menghadirkan manusia ke muka bumi ini agar manusia itu bisa menjadi pemimpin, khalifah dalam Al-Qur’an artinya leadership/influencer/changing maker/guru/pembina.
(3) Imarotul ardhi/ar-rahmah (Contribution-oriented, berperan memakmurkan kehidupan di muka Bumi), wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin, dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, rahmat bisa diartikan sebagai cinta, kasih sayang, kontribusi, kebaikan, dan manfaat. Untuk siapa kontribusi dan manfaat kita berikan? Lil alamin, kepada seluruh alam.

Akan tetapi di ayat lain kita juga mendapati bahwa manusia ini oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, wa qath-tha’nahum fil ardhi umaman, dan Kami membagi mereka di Bumi ini menjadi beberapa umat, minhumush sholihun wa minhum duna dzalik, diantara mereka ada orang-orang yang sholeh dan ada juga yang tidak demikian. Sudah menjadi sunnatullah bahwa yang haq dan bathil itu akan selalu ada di Bumi ini hingga akhir zaman, tapi masing-masing dari kita diberi pilihan mau berada di pihak yang mana. Semoga kita menjadi orang-orang yang istiqomah dalam jama’ah ini, tetap tertarbiyah kapanpun dan dimanapun kita berada, bahkan serumit atau sebesar apapun masalah yang kita temui dalam jama’ah maka bersabar dan perbaikilah bersama-sama. Bagaimanapun juga kalau kata Imam Ali bin Abi Thalib RA, kekeruhan dalam jama’ah masih jauh lebih baik daripada kejernihan individu.

Wallahua’lam bisshowab.

0 comments: