Senin, 30 Desember 2013

Sosok Pemimpin di Jiwa Pemuda Islam

Banyak pemuda yang tidak sadar bahwa sebenarnya di diri mereka semua ada benih seorang pemimpin, tinggal bagaimana mereka dapat merawatnya dan tumbuh dengan baik nantinya. Harus disadari bahwa kepemimpinan yang secara sadar harus kita tumbuhkan sendiri. Masalahnya sekarang adalah anak muda sekarang ternodai dengan Hedonisme/Hura-hura & nafsu syahwat yang bergelora.
Jika kita mengulas sejarah pemuda Islam di masa lalu, banyak di antara mereka yang di usia mudanya sudah diberikan amanah & peran yang begitu besar. Sebut saja:
v  Al Arqaam bin Abil Arqaam (12 thn) => Peran rahasianya dalam menggunakan rumahnya sebagai basecamp Rasulullah SAW untuk berdakwah pada masa dakwah sirri, sembunyi-sembunyi.
v  Mushab bin Umair (24 tahun) => Seorang remaja quraisy terkemuka , seorang yang paling tampan , penuh dengan jiwa dan semangat kepemudaan. Diangkat oleh Rasulullah SAW sebagai duta Islam pertama, utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Disamping itu Mushab juga mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah.
v  Said bin Zaid (20 tahun) => Nama lengkapnya Said bin Zaid bin Amru bin Naufail bin Abduluzza bin Al-Adwa. Di umurnya yang masih tergolong muda itu, beliau diberikan amanah oleh Rasulullah SAW  untuk memata-matai atau mengintai keberadaan khalifah dan kekuatan lawan yang sedang dalam perjalanan dari negeri Syam. Dalam tugas tersebut dia ditemani oleh sahabat Thalhah bin Ubaidillah. Rasulullah biasanya merumuskan taktik dan strategi perang berdasarkan data lapangan dari Said bin Zaid. Taktik dan strategi perang tersebut juga dirumuskan oleh Rasulullah dalam rapat dengan para sahabat.
v  Thalhah bin Ubaidillah (11 tahun) =>  Sahabat Rasulullah dan merupakan prajurit yang handal di medan pertempuran, dia berasal dari suku Quraisy. Thalhah bin Ubaidillah mempunyai nama lengkap Thalhah bin Abdullah bin Utsman bin Kaab bin Said. Dia merupakan konsultan dan salah satu orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah.
v  Ali bin Abi Thalib (8 tahun) => Ia adalah orang kedua yang menerima dakwah Islam, setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Sejak itu ia selalu bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, taat kepadanya, dan banyak menyaksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menerima wahyu. Sebagai anak asuh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, ia banyak menimba ilmu.
v  Umar bin al Khatab (26 tahun) => Beliau dahulunya adalah sosok yang garang, ganas, dan beringas. Menentang Nabi Muhammad SAW dan agama Islam dengan habis-habisan, namun atas hidayah dari Allah SWT beliau kemudian mendadak masuk Islam saat mendengarkan lantunan Al-Qur’an di rumah Siti Fatimah, adiknya. Ia kemudian besar sebagai seorang Khalifah di zamannya.
v  Abdurrahman bin Auf (30 tahun) => Beliau adalah seorang pedagang yang sangat sukses, dan memperoleh keuntungan yang amat besar. Saat Rasulullah SAW membutuhkan dana besar untuk menghadapi tentara Rum dalam perang tabuk, Beliau lah salah satu pelopor dananya. Sosok yang rajin bersedekah.
Dari kisah di atas, patutlah kita ambil hikmahnya bahwa seorang pemuda pun bisa menjadi seorang pemimpin, bisa memegang amanah sekalipun itu besar buat orang seusianya.
Maka timbul lah sebuah pertanyaan, “Mengapa harus ada pemimpin?”
                Karena dengan keberadaan pemimpin lah maka keteraturan dapat tercapai. Pemimpin laksana otak yang kemudian mengirimkan pesan ke anggota badan lain untuk bekerja. Namun tak jarang keputusan yang diambil seorang pemimpin membuat anggota lainnya kecewa alias salah dalam bertindak, justru disitulah seorang anggota harus menutupi/mengatasi dampak buruknya. Agar tercipta keserasian antara pemimpin dan yang dipimpin.
Seorang pemimpin yang muda harus berinisiatif dalam menyikapi problema yang ada, untuk menjadi seorang pemimpin harus punya tanggung jawab yang berasal dari perasaan resah terhadap masalah yang dihadapi di sekitarnya.
                “Ketika kalian menjadi pemimpin, perhatikanlah di sekitar kalian.”
Untuk menjadi seorang pemimpin di usia muda, anda harus mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Anda harus memiliki daya pengaruh (karisma) yang kuat. Karisma tersebut terbentuk dari kekuatan ruh kita sendiri, yakni dalam bentuk shalat, tilawah, dan perwujudan lain yang senantiasa dekat kepada Allah.
Sebagai seorang pemimpin juga harus memiliki akhlak yang baik (Integritas) serta kapasitas (kompetensi). Harus punya pengetahuan yang memadai, tentu pengetahuan itu didapat dari rajin membacara (mempunyai referensi/pemahaman yang luas).
                “Sadarilah, bahwa anda adalah seorang pemimpin.”
Namun, yang juga menjadi masalah saat ini adalah orang cenderung membaca apa yang dia senang/suka untuk baca, novel misalnya. Cara seperti ini juga harus diubah, karena untuk menjadi seorang pemimpin harus memiliki pemahaman yang luas maka saat membaca pun harus dengan bacaan yang dibutuhkan, seperti buku dalam bidang politik, sosial, hukum, dan lain sebagainya meskipun usia anda belum layak untuk itu. Namun karena anda adalah seorang pemimpin di masa yang akan datang kelak, maka anda wajib mempelajarinya mulai dini.
                “Janganlah berkecil hati dengan apa yang anda miliki sekarang, tapi pikir lah apa yang akan anda dapatkan di masa yang akan datang.”
Tugas pemuda Islam kini ialah menjadi penghubung antara realita & idealita tersebut.
Pemuda Islam dalam sebagai pilar kebangkitan umat haruslah memiliki modal keahlian (capital skiil) yang mumpuni guna menghadapi tantangan dan rintangan masa depan, antara lain :
1)      Kekuatan Ruhiyah (Spiritual)-Filtering
2)      Kecerdasan pemikiran (Sciences & Language)
3)      Pengusaan Lapangan (Networking)
4)      Visi yang jelas dan terarah (Visionable)
5)      Siap bekerja sama dalam tim (Tim Working)
Sadarilah bahwa peran pemuda (anda) dalam Islam & Bangsa ini amatlah sangat besar. Jadilah kalian pemuda Islam sebagai khalifah di muka bumi ini, jangan biarkan orang-orang kafir itu menjadi pemimpin.
                “Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersisa.”
Akhir kata, saya tutup dengan kutipan oleh Ibnu Malik dalam Nadzam Al-Fiyyah Ibn Malik:
ومايلى المضاف يأتي خلفا # عنه فى الإعراب إذا ما حذف
“Pemuda itu menjadi generasi penerus bagi perjuangan para pemimpin bangsa saat ini, dikala mereka dipanggil untuk menghadap keharibaan Allah Swt”
                Wallahua’lam bisshawab..


  

0 komentar: